Menculik Calon Istri Orang

Menculik Calon Istri Orang
Bab 45


__ADS_3

Broomm...


Saat hitungan mengudara, tiga joki yang bertanding itu pun melesat berlomba lomba menancap gas dalam dalam seperti sedang kesetanan masing masing.


Jalanan malam di sekitar lokasi Kebayoran, sudah dipenuhi geberan motor meraung raung bising yang membengkakkan telinga. Para jeritan penonton pun tak kalah heboh mendominasi jalanan sepi itu.


Hanya satu yang Vay pikirkan saat ini yaitu menang, menang dan menang. Malam ini, harga dirinyalah adalah taruhan mati. Ia tidak boleh kalah. Titik!


"Woiii...! " pekik para penonton secara kompak meneriaki dua joki pendatang yang tiba tiba masuk ke area drag bike. Keduanya saling berlomba lomba mengejar laju tiga kendaraan yang masih jauh di depan sana.


Entah siapa keduanya? Para penonton itu tidak ada yang tau. Dua motor itu pun masih sangat asing. Rafael dan semuanya hampir hafal corak motor dan pemilik masing masing joki yang sering ikut berpartisipasi tiap malam.


Broomm...


Vay yang curiga kalau Dika dan Gege bekerja sama, sengaja menghadang dan mempersulit jalannya untuk memimpin. Tidak ada trik lain kecuali memakai intrik liciknya. Vay memutuskan untuk mengendurkan sedikit gasnya, hingga berujung ia ketinggalan jarak tiga meter dari dua motor rivalnya yang melesat beriringan bersama.


"Sialan, mereka curang," geram Vay dalam hati. Ia hanya menunggu kedua lawannya berada di tikungan tajam, maka tunggu saja aksinya.


Vay semakin berkonsentrasi. Mata bulenya memicing serius menatap keadaan laju dua rivalnya yang hampir masuk ke pridiksinya.


"I'm react and here we go ..." Vay memulai aksinya. Smirk kegilaannya tersemat di balik helm full face-nya. Kalau Gege dan Dika mengendurkan sedikit gasnya dan lebih fokus untuk berbelok di tikungan super tajam tersebut, justru berbanding terbalik dengan Vay.


Wanita itu menambah dua kali kecepatan kemudinya tanpa terduga oleh Dika dan Gege. Kedua pria itu terpaksa sedikit memisahkan jarak motor masing-masing karena Vay si gadis gila ini, seakan akan tidak takut mati yang sepertinya sengaja mau menambrakkan kuda besinya ke arah motor Dika kalau tidak diberi akses lewat.


"Dasar, ceetah burik ... " Vay mengumpat lirih sembari melirik kedua spionnya bergantian. Lawannya di belakang sana pasti kebakaran jenggot.


Tidak mau kecolongan, Vay kian memacu kecepatan motornya lebih gila dari sebelumnya. Satu putaran lagi, maka ia akan menang.

__ADS_1


Dika dan Gege juga belum ada tanda-tanda mau menyerah. Keduanya sudah tidak berkerja sama. Mereka berlomba lomba mengejar kecepatan Vay yang kira kira jarak mereka empat meter dari roda berputar milik gadis itu.


Tanpa terduga, dua pemotor misterius yang tadi masuk secara tiba tiba tadi, kini melesat ke hadapan Gege. Satu motor trail merah maroon melesat cepat ingin mengejar laju Dika yang masih bersemangat untuk mengalahkan Vay.


Trail maroon itu berhasil mensejajarkan lajunya dengan Dika. Kedua pemotor itu saling melirik dan memicing sengit satu sama lain. Dika yang tidak mau dibuat lama oleh joki asing tersebut, kembali memusatkan targetnya ke depan. Namun sial, trail maroon ini malah memperlambatnya dengan cara selalu menghadang jalannya. Terlihat dari udara, Dika, Gege dan dua pengemudi trail itu seperti seekor ular yang meliuk liuk.


Dua joki asing tersebut terkesan memberi akses Vay untuk juara bebas hambatan. Namun sesaat Vay tinggal beberapa menit lagi memasuki garis finish, si Trail maroon melesat seperti angin badai mendahui Vay. Gadis itu tercengang namun segera menekan kepanikannya. Vay juga melesat lebih cepat, keduanya berujung saling beriringan dan memperjuangkan memasuki garis finish. Keduanya hampir seri satu sama lain. Penonton sempat hening kaget, namun ckiiitt... Si trail tiba tiba me-rem mendadak membuat Vay lah yang masuk ke dalam garis finish. Gadis itu merasa menang dengan cara kurang puas karena ia tahu si Trail mengalah padanya.


Ckiit...


Dika, Si Trail hitam dan Gege berhenti secara bergantian dan penonton langsung membuat barisan membulat. Vay dan semuanya sangat penasaran dengan dua trail yang enggan membuka helm full facenya.


"Kalian siapa, bangsat?" Dika murka sembari membanting helm nya ke aspal, lalu beringsut ke hadapan orang yang berhelm putih itu.


Bugh... Bugh... Bugh...


Tidak ada yang berani ikut campur karena takut diamuk juga oleh Pria yang masih menggunakan helm tersebut.


Gege yang awalnya ingin membantu, berujung dirangkul kuat oleh Pria yang tadinya bermotor trail berwarna hitam.


"Lo pikir bisa merusak dan menginjak injak harga diri istri gue, hah? Langkahi dulu mayat gue."


Deg...


"Petir...!" Vay terkejut setengah mati mendengar suara tak asing itu adalah suaminya. Jaket besar nan asing serta helm yang menutupi wajah suaminya itu mampu mengecoh matanya yang tidak bisa mengenali postur tubuh tertutup Petir.


"Jangaaaan!" Jerit Vay. Demi terhindarnya dari kesalahan fatal yang mungkin bisa saja suaminya ini membunuh Dika dan berakhir hukum lah yang berbicara, Vay pun segera berlari cepat ke arah Petir dan segera memeluk kuat pria itu dari belakang, lantas saja pergerakan Petir yang hampir memukulkan helmnya itu ke kepala Dika yang sudah tidak berdaya di atas aspal.

__ADS_1


"Jangan, ku mohon jangan membunuh seseorang."


Bugh... Petir benar-benar seperti orang kesurupan, dia masih sempat sempatnya mendendang Dika yang tak berdaya itu sampai akhirnya Vay berhasil menjauhkan posisi suaminya.


"Siapa lagi yang mau aku hajar, hah?" Para penonton pun mendapat hardikan Petir yang masih di tahan kuat oleh Vay.


Mata Petir mendominasi merah menyala karena memang dalam kemarahan terhakiki. Tadi, Purnama meneleponnya saat sedang nyenyak nyenyak memeluk guling yang dikiranya Vay dalam selimut terbungkus. Katakan, suami mana yang tidak murka mendengar harga diri istrinya dipinta oleh Pria lain menjadi taruhan? Damn it! Dan istimewa, saat menelepon Lautan untuk dimintai bantuan meminjamkan motor, adiknya yang memakai helm hitam yang bersama Gege sekarang itu kebetulan sedang berkumpul bersama komunitas motor trail yang tidak terlalu jauh dari area kontrakannya, sehingga Lautan bersama teman adik nya yang sekarang motornya ia pinjam berikut jaket dan helmnya datang tepat waktu.


Bukan hanya ke Dika saja kemarahan itu tertuju, tetapi kemurkaannya juga tertuju ke Vay yang entah apa alasan istrinya itu datang ke tempat balapan seperti ini. Awas saja sampai di rumah, Petir akan mengintimidasi istrinya sampai menimbulkan efek jera.


"Hey, apa yang terjadi pada Dika, Vay? Dan Purnama kemana?" Abian yang telat datang, ngeri ngeri sedap melihat keadaan Dika yang meringkuk kesakitan di tengah tengah aspal. Siapa yang melakukannya?


"Wah... Lo masih nguber nguber adik sepupu gue, hah? Gue hajar juga lo seperti Dika." Petir yang masih kesetanan dan masih butuh pelampiasan, berujung menghardik Abian dan ingin sekali menerkam pria itu juga. Tetapi Vay semakin kuat menahan suaminya.


"Ayo pulang, ku mohon!" pinta Vay sembari menarik narik paksa tubuh gaban suaminya. Meski belum puas mengamuk, Petir berujung menurut juga. Ia menumpaki motor trail maroon itu dengan kecepatan tinggi meski ada Vay di boncengannya.


Tinggallah Lautan yang enggan sekali membuka helm full face-nya itu yang sekarang mendekat ke sisi Abian.


"Eh, Ebi udang! Gue peringatkan untuk jangan menggangu Ama!"


"Sayangnya gue nggak mau! Suka suka gue!" Abian tidak muda diancam rupanya.


Lautan berdecak sembari menepuk ejek bahu Abian. "Kalau Ama jadi istri gue, apa lo masih mau gangguin dia, eum?"


Abian terbelalak horor. Dibalas senyum tengil Lautan di balik helm itu. Lalu lanjut memamerkan dua kepalan tinjunya ke Abian sembari berkata, "Jab kanan pintu neraka langsung dan tinju kiri pintu rumah sakit tetapi nanti juga akan mengetuk pintu neraka atas nama lo." Selesai mengancam dengan nada menjengkelkan untuk didengar Abian, Lautan pun berlenggang santai mengambil helm temannya yang sempat dilempar asal asalan kakaknya.


" Bye, semua... Eh, Ciwi-ciwi, cantik. Minggir dari jalan motor gue." Sebelum benar-benar pergi, Don-juan tengil itu masih sempatnya tebar pesona dengan sengaja membuka helm lalu kedipan mata genitnya mampu membuat ciwi ciwi itu histeris mau dibonceng pulang katanya. Lautan hanya terkekeh dan sekali lagi menatap Abian yang wajah pria itu masih memerah menahan kesal padanya.

__ADS_1


__ADS_2