
"Eh, Neng Bule mau beli apa?"
Vay tersenyum mendapat sambutan ramah dari pemilik warung sayuran yang kebetulan Ibu kontrakan pemiliknya.
"Saya mau beli..." Vay menjeda. Mata amber khas bule itu menatap satu persatu rak sayuran yang tidak penuh lagi karena hari memang sudah siang.
Apa yang ia harus masak? Ini pertama kali akan berkutat di dapur. Sebagai anak konglomerat, ia memang selalu di layani. Jadinya, saat susah begini, Vay hanya bisa garuk kepala.
"Neng mau masak?" tanya Ibu Juleha.
Vay mengangguk kepala sembari tersenyum kikuk.
"Masak apa, Neng?" ulang si Ibu.
Ia tidak mungkin menjawab, masak daging bukan? Secara, uangnya hanya pas pasan.
Tempe, tahu, oseng kangkung? Vay meringis. Kehidupan suaminya yang sama saja dari kelas atas, pasti akan aneh di suguhkan menu sederhana itu.
" Neng... "
Vay terjungkit dari lamunanya mendapat tepukan pelan di bahunya itu dari ibu Juleha.
"Jangan melamun atuh. Eneng mau beli apa? Kalau siang begini, dagangan ibu memang tinggal sedikit. Lain kali, datangnya pagi, Neng. Tetapi di kulkas ada ikan. Mau?"
Ikan? Nah, itu lumayan bergizi bagi suaminya.
"Saya mau ikannya, Bu. Dua ekor saja. Sama kangkung satu ikat deh. Terus, bumbunya apa ya?" Vay seperti bertanya pada dirinya sendiri tentang perbumbuhan.
Ibu Juleha tersenyum kecil. Gerak gerik wanita cantik ini memang sangat terbaca kalau masih asing hal hal berbau dapur. Karena kasihan, Ibu Juleha membantunya memberi tahu bumbu apa saja yang perlu disiapkan untuk ikan goreng sesuai perkataan Vay yang akan digoreng saja ikannya. Tak lupa, oseng kangkung saus tiram pun, si Ibu jelaskan dengan detail. Vay mencatatnya baik baik di secarik kertas yang pinta di ibu Juleha.
Alhamdulillah ... Dapat ibu kontrakan yang ramah dan tidak pelit ilmu. Vay bersyukur dalam hati.
"Apalagi yang mau ditanyakan, Neng?"
"Nggak ada, Bu."
"Yakin bisa?" Ibu Juleha masih ragu.
Vay tersenyum malu malu. Jujur, ia sedikit bingung. Bagi sebagian orang, memasak itu memang mudah. Tetapi bagi yang biasa melakukannya. Baginya...? Hah ... kalau ia tahu akan nasibnya yang pahit, ia lebih dahulu berguru di Bi Tina - asisten setia keluarganya.
"Setelah ibu kelar beberes di warung, Ibu ke kontrakan mu deh. Ngajarin masak. Itu pun kalau Eneng ijinin ibu."
"Mau, mau Bu." Vay menjawab antusias. "Hehehe... Maafin Vay, Bu. Ngerepotin." Vay berujung cengengesan karena tidak enak hati.
__ADS_1
"Santai saja."
"Oke, saya balik duluan ya, Bu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam salam."
Sampai di kontrakannya, Vay bergegas mencuci kangkung dan bumbu yang akan ia iris nanti. Sembari menunggu Ibu Juleha, Vay memetik sayuran tersebut. Biar nanti, si ibu tinggal ngajarin cara masaknya. Kalau ikan, mencium bau amisnya saja, ia enggan sekali menyentuhnya. Hari ini, ia benar benar akan merepotkan ibu Juleha karena berniat si ibu mengajarinya membersihkan ikan yang tepat agar rasa amisnya benar-benar hilang.
Tok tok...
Alhamdulillah, itu pasti si Ibu. Gegas Vay membuka pintu, dan terlihatlah ibu Juleha yang sedang tersenyum padanya.
"Duh, Neng. Maafin ibu ya, saya kesini mau ngasih tau kalau ibu nggak jadi ngajarin Neng Bule masak hari ini. Cucu ibu lagi sakit dan rewel Neng. Mamanya juga lagi sakit, jadi ibu di suruh ke sana. Maafin ya, Neng?"
Ibu Juleha berkata penuh rasa tidak enak hati.
" Tak apa, Bu. Saya paham kok." Demi membuat hati Ibu Juleha tidak bersalah karena mengingkari janji, Vay pun melebarkan senyum manisnya. "Semoga anak dan cucu ibu segera sembuh."
"Amin." Ibu Juleha segera menyahut doa Vay yang baik. "Gini deh, sembari ibu nungguin ojol pesanan datang, Ibu bantu sebentar."
Vay pun setuju. Kompor segera dinyalakan oleh Vay. Untungnya, ia sudah terlebih dahulu memotong motong kangkung dan bumbunya pun sudah diiris, jadi tinggal oseng saja. Vay sangat mencermati acara belajar memasaknya. Saat ini, oseng pun jadi yang menurut Vay rasanya lumayan karena ajaran tepat si Ibu yang katanya jangan terlalu Over memasaknya.
"Eh, Vay. Ojolnya sudah di depan. Ibu pergi ya. Tinggal ikannya tuh. Pasti kamu bisa. Assalamualaikum."
Selesai menyahut salam ibu Juleha dan wanita berhijab kurus itu sudah pergi, Vay meringis sembari menatap ikan yang masih di dalam plastik.
Toturial pun ia tonton sembari mempraktekkannya, tetapi apa yang ia lihat ternyata susah untuk diperagakan oleh tangan bodoh nya yang baru pertama mengeksikuisi ikan tersebut. Alhasil, tangan mulus itu terluka karena tajamnya sirip.
Meski butuh perjuangan, akhirnya ia selesai membersihkannya. Rasa perih yang tertusuk sirip tajam plus mendapat plesetan tajamnya pisau, tak dihiraukan oleh Vay. Hampir satu jam, ia membersihkan ikan itu dan ia tidak mau, Petir pulang tanpa disambut makanan. Makanya ia pun buru buru membumbuinya.
"Kata cerita simpan siur yang pernah terdengar, kalau masak itu jangan manyun, biar rasanya sedap. Begitupun sebaliknya. Jadi, mari nyanyi sambil masak Vay. Asyikkk..."
Setelah menurunkan ikan ke wajan, Vay pun berdendang dengan spatula penggorengan ia gunakan sebagai micnya.
Kala ku pandang kerlip bintang nun jauh di sana
Sayup kudengar melodi cinta yang menggema
Terasa kembali gelora jiwa mudaku
Karena tersentuh alunan lagu semerdu ikan goreng. Eh, semerdu kopi dangdut.
Vay menepuk kepalanya karena salah lirik di akhir kalimatnya. Mengingat hari ini ia tidak mendapat pekerjaan, Vay pun menghibur dirinya sendiri dengan caranya. Ayahnya pikir, ia akan bersedih dan menyerah gitu? Tidak akan! Selama Petir menomer satukan sebagai ratu hatinya, ia akan setia tinggal di tempat ini. Biarkan ia dikatai-katai sama orang orang di luaran sana dengan contoh kalimat provokasi, 'Emang lo kenyang makan cinta?' Memang tidak kenyang, tetapi mempunyai cinta dan rasa syukur yang tak ada batasannya adalah kebanggaannya tersendiri. Hidup adalah pilihan bukan?
__ADS_1
"Alamak, ini kok hancur?"
Plecikk...
"Aww..." Vay mengadu sembari menjauh dari kompor. Tadi, saat ia membalik ikannya yang lengket itu, percikan minyak panas mengenai punggung tangannya. Namun seperkian detik, ia tidak mempedulikan lagi rasa panas itu. Yang ia cemaskan adalah bentuk ikannya yang hancur. Mana gosong sebelah lagi.
Vay kecewa. Ia cemberut bete karena merasa menjadi istri yang tidak becus.
"Assalamualaikum...!"
Duh, bagaimana ini? Suara suaminya mulai terdengar memberi salam.
Bahkan langkah kakinya sudah mendekat. Vay makin kecewa. Pasti, suaminya ini lapar, sedang dirinya tidak bisa menyuguhkan makanan yang sedap dilihat.
"Uum... Harum, Vay." Petir mengendus seperti kucing. Tubuhnya yang terasa pegal menguap tergantikan perut keroncongan mencium sedapnya ikan goreng.
"Abang mandi dulu, ya. Nanti makan bersama." Petir sampai lupa kalau penampilan dirinya yang kotor, tidak boleh Vay lihat dulu. Untung istrinya ini masih sibuk membelakanginya sehingga ia bisa kabur cepat masuk ke kamar mandi yang kebetulan dekat dengan dapur. Petir tidak mau membuat Vay sedih kalau ijazah S2nya tidak guna saat ini.
"Apa ini layak disuguhkan?" monolognya sembari menatap nanar ikan goreng yang hancur.
Ceklek... Saking sibuknya melamun, suara pintu kamar mandi terbuka diiringi aroma sabun mandi. Suaminya sudah selesai mandi rupanya.
"Aku merindukanmu!" Petir memeluk Vay dari belakang. "Ayo kita makan!"
"Tapi..." Vay menunjuk masakannya yang hancur. Dan Petir baru menyadari kalau istrinya ini sedang bersedih. Ia langsung paham saat melihat ikan di piring itu.
Sejurus, mata Petir juga di suguhkan tangan Vay yang lecet lecet. Istrinya ternyata sudah bekerja keras belajar memasak rupanya. Tidak! Ia tidak akan membuat wajah penyemangatnya ini tertekuk dalam. Setiap kerja keras memang harus dihargai. Oleh sebab itu, Petir segera menarik satu piring yang sudah berisi nasi. Tak lupa dua menu lauk ia masukkan.
Vay mengangkat wajah sedihnya, suaminya begitu lahap memakan masakannya. Apakah enak? Jelas tidak! Hancur dan sedikit gosong separuh kok.
"Maaf__"
"Aaaa... buka mulutmu!"
Vay terjeda. Suaminya ingin menyuapinya.
"Meski ikannya hancur, tetapi rasanya enak kok, Vay. Cobalah...!"
Vay menurut. Matanya berkaca kaca haru sembari menerima suapan dari Petir. Suaminya ini sangat menghargai usahanya.
"Enak kan? Loh... Kok nangis?" Petir kebingungan. Istrinya malah meneteskan air mata tanpa ada isak tangis.
"Ini air mata haru, Bang. Selama hidup mewah kemarin, tidak ada makanan yang terasa enak selain suapan pertama mu."
__ADS_1
"Kalau begitu, mari makan lagi." Petir tersenyum. Dan kembali makan bersama dalam satu piring berdua.
Pasutri baru ini paham satu sama lain telah menguatkan tanpa ada cuat keluh di bibir masing-masing.