Menculik Calon Istri Orang

Menculik Calon Istri Orang
Bab 11# Diuber


__ADS_3

Bugh bugh...


Tidak mau Vay menjadi tumbal pernikahan yang katanya mereka pembawa sial di suku mereka, jelas Petir mengamuk. Dua pria yang tadinya menggeret geret paksa Vay, Petir beri tendangan bergantian. Membuat dua orang itu tersungkur ke belakang.


Dengan sigap, tangan kanan Vay ia pegang kuat, lalu memutarnya sembari berkata, "Ayunkan tubuhmu, Vay!"


Dan... bagh bugh bugh...


Vay yang memang juga punya keahlian beladiri dari kecil, jelas paham maksud Petir. Ia menurut, tubuhnya melayang ke udara oleh bantuan Petir dan berhasil melumpuhkan empat orang sekaligus yang tadinya hendak mengepungnya.


Ia berkelaborasi bersama Petir dengan baik. Kadang, Petir sendiri yang maju memberi tendangan pada orang yang masih kekeuh mau menangkap mereka, tanpa mau melepaskan genggamannya dari Vay sama sekali.


Tepat Yama dan Dahen hendak turun tangan, Lona berteriak, "Lari, Vay. Lariiii...!" Lona sepertinya ingin menolong mereka. Buktinya saat ini, Lona nekat menahan Dahen dan Yamanya sendiri dengan cara mencengkram sekuat tenaga masing-masing satu dari tangan dua pria itu.


Petir menurut, ia juga tidak ada niatan membunuh seseorang dalam perkelahian tersebut. Ia dengan cepat, menarik tangan Vay untuk berlari bersama ke arah hutan.


"Kejar...!" perintah Yama pada warganya yang meringis ringis sembari memegang dadanya yang sakit karena habis diberi tendangan kuat Vay dan Petir.


Mereka menurut, mengejar Petir dan Vay yang berlari ke arah hutan.


"Tunggu sebentar, Vay!" sejenak Petir berhenti saat helikopternya ada di sampingnya.


"Buruan!" kesal Vay yang entah kenapa Petir malah membuka pintu helikopter. "Astaga, lo hanya mementingkan tas?"


Yaak, Petir memang hanya menarik ransel, membuat Vay marah marah karena orang orang itu sudah dekat.


Petir mengabaikan omelan Vay. Ia segera menarik tangan itu dan berlari kencang bersama, masuk ke hutan. Sebenarnya, Petir ada tujuan mengambil ransel itu, dan itu hanya demi Vay. Katanya, gadis yang dicintainya itu kan lapar. Saking cintanya, Petir sampai mengingat hal sepele tersebut di antara hal besar yang mereka alami.


"Lepas Lona, atau Yama akan menghukummu!" ancamnya ke Lona.


Lona masih kekeuh menahan. Tetapi berujung sia sia saja, dua pria itu terlepas dengan beberapa kali hentakan.

__ADS_1


"Yama, biarkan mereka pergi!" Lona memohon sembari memeluk kuat orang tuanya itu dari belakang.


"Dahen, lumpuhkan mereka!" Orang tua Lona melempar sebuah bambu kecil yang mirip dengan seruling, tetapi itu bukanlah alat musik tradisional melainkan senjata tiup alami hasil buatan khas suku mereka.


Lona yang melihat senjata suku mereka, mendadak ngeri. Ia pun pasrah melepaskan tubuh Yamanya dan segera berlari ke arah hutan menyusul Dahen yang sudah berlari lebih dulu.


"Kamu tidak boleh melukai temanku, Dahen. Mereka itu saling mencintai! Jangan sangkut pautkan mereka dengan orang orang suku kita yang meninggal begitu saja. Itu sudah takdirnya. Mereka itu tamu yang seharusnya di perlakuan baik! Mereka tidak salah!"


Dahen tidak menghiraungkan suara Lona. Ia terus berlari meninggalkan Lona yang kekeuh membela teman barunya.


Lona pun semakin mempercepat larinya.


Sementara Vay dan Petir saat ini, sedang bersembunyi di semak semak untuk mengelabui gerombolan warga suku yang masih semangat mau menangkapnya.


"Pasti lari kesebelah sana!" seru dari mereka.


Selamat! Vay dan Petir saling pandang. Sejurus kemudian, kompak tersenyum lega. Orang-orang itu akhirnya pergi menjauh.


Vay tertegun. Ia baru mengerti kenapa Petir masih sempat sempatnya menarik ransel tadi. Itu semua karena mementingkan dirinya.


"Diam di tempat!" Baru juga merasa lega dari kejaran orang-orang, Dahen sudah menghadangnya. Dan langsung saja meniup senjata kecil itu ke arah Vay.


Namun, Buggh...


Lona yang baru datang dari belakang, segera memukul Dahen pakai kayu lumayan besar. Tapi terlambat, senjata khusus itu sudah keluar anaknya yang berbentuk kecil seperti duri yang masih muda, mengenai Vay... Bukan! Kulit Petir lah yang terkena karena keseimbangan Dahen tadi buyar oleh pukulan kayu dari Lona.


"Vay, kamu tidak apa apa?" Vay menggeleng ke Lona yang bertanya cemas padanya. Gadis suku itu mengira Vay lah yang terkena.


"Syukurlah!" katanya yang menganggap Dahen belum sempat meniup senjata nya sebelum pingsan dipukul kuat olehnya.


Tapi...

__ADS_1


Bugh...


Petir tiba-tiba berlutut ke tanah. Tulang tulangnya melemas seperti agar-agar.


"Astaga... Jadi __" Lona menggantung ucapannya. Ia dan Vay segera berjongkok di depan Petir.


"Gue kenapa Lona?" bingung Petir karena memang ia tadi hanya mengira digigit semut atau serangga apalah yang menggigit lengannya.


"Kena bius dari tumbuhan duri beracun! Vay, bantu aku!"


Vay dan Lona memapah Petir untuk menjauh dari pingsannya Dahen.


Sampai dikira cukup aman dari para warga suku, Lona pun mentitah Vay untuk berhenti.


"Ya ampun, Tir. Lo berat amat, sumpah!" Hanya mulut Vay lah yang mengomel, tetapi percayalah, di dalam hatinya ada perasaan cemas untuk Petir. "Lo belum tanggung jawab bawa gue pulang dengan selamat. So, lo nggak boleh mati."


Petir hanya tersenyum masam ke Vay. Lalu berkata sembari menyadarkan punggungnya ke batang pohon besar. "Gue nggak akan mati sebelum lo jadi milik gue."


"Lo masih sempat sempatnya ngegombal dalam keadaan lo yang letoi begini." Dengus Vay memutar mata malas. Lalu sejurus pandangannya tertuju ke Lona yang setia menjadi pendengar. "Dia nggak akan mati keracunan kan, Lona?" tanyanya dengan suara cemas. Petir kembali tersenyum menyadari Vay sebenarnya khawatir padanya. Tapi, senyum itu tidak lama. Ia serasa lemas dan matanya mengantuk berat. Dan tanpa mencerna lagi percakapan dua wanita di depannya, Petir akhirnya hilang kesadarannya.


***


Malam pun tiba, Vay dan Petir masih di tangah hutan. Sedang Lona sejak senja hari tadi, ia sudah pulang yang katanya akan mempertanggungjawabkan semuanya demi ia dan Petir tidak akan di uber uber lagi.


"Ternyata, Lona tidak bohong. Suhu tubuh Petir semakin panas."


Dengan keselamatan Petir, Vay memeluk Petir dalam rebahannya di depan api unggun yang ia buatnya tadi. Efek dari duri beracun itu , tidak akan sampai mati katanya. Tetapi semalaman akan merasakan demam saja, itulah penjelasan Lona yang tidak usah cemas, karena nanti akan sembuh sendiri tanpa diobati.


"Lo yang nyulik gue, tetapi gue yang repot ngurus lo. Hemm... Dasar! Untung gue__" Vay menggantung ucapannya yang main berucap tanpa berpikir. "Apa iya gue sayang sama pria menyebalkan ini? Nggak, nggak mungkin gue suka sama pria kejam yang begitu tega menyuruh wanita malang itu untuk menggugurkan hasil maksiatnya sendiri."


Itulah alasan sesungguh Vay yang kekeuh setia menutup hati untuk pria yang sedang diberi pelukan hangat agar tidak mati dalam sakit demamnya.

__ADS_1


Petir yang konon cinta mati padanya, tetapi di luar sana suka main celup celup wanita silih berganti. Vay jelas saja jijik dan ogah punya pacar bajingan seperti sifat pecundang Petir itu. Makanya ia akan menahan dirinya sampai kapan pun agar tidak menjadi korban 'habis manis sepah dibuang.'


__ADS_2