
Petir terlihat berusaha membuka matanya yang bengkak bengkak terasa pada kelopak mata itu. Hidungnya yang mencium aroma obat yang kental, menyadarkan dirinya kalau ia pasti berada di rumah sakit saat ini, bukan di neraka apalagi di surga. Alhamdulilah, ia masih hidup ternyata, meski sekujur tubuhnya kembali lagi babak belur seperti beberapa hari lalu di mana digebukin oleh orang pedalaman. Remuk remuk badane.
"Selamat datang kembali, Petir. Akhirnya, dompet kami pun pasti akan segera balik lagi!"
Petir segera mendelik heran pada Angkasa yang berceletuk. Bukan hanya si Twins saja yang ada di dalam ruangan putih tersebut, ada Topan, Guruh serta Lautan. Kurang Badai, Pelangi dan Purnama dan... "Vay nggak ada di sini, ya?" tanyanya sembari menoleh pelan ke sana dan kemari mencari sosok sang kekasih. Namun semua kepala di depannya kompak menggeleng.
"Dua hari lo nggak sadar, Vay sama sekali nggak ada kabar. Kami aja dilarang keras berhubungan dengan Vay saat ini oleh Om Nata," terang Guruh apa adanya.
"Hah..." Petir menganga. Ternyata ia tak sadarkan diri sampai dua hari? Astaga... Vay apa kabar ya? batinnya bersedih dengan wajah terlihat murung.
Ceklek...
Derit suara pintu terbuka menarik atensi orang orang yang ada di dalam ruangan, termasuk Petir. Langit dan Senja, orang tua Petir dan Lautan yang baru datang itu.
"Ma, Pa... Kan Abang sudah ada nih, jadi dompet berikut kartu kartu berharga serta kunci mobil aku bisa dibalikin dong." Lautan sudah gerah menjadi pemuda miskin, oleh sebab itu ia segera meminta fasilitas mewahnya ke orang tuanya langsung, tanpa mau berlama lama lagi. Cukup sepuluh hari saja menjadi orang miskin sudah membuatnya kurang up to date. Kalau nggak nyari Petir, yaaak... Ia hanya menghabiskan waktunya di rumahnya saja sembari dihibur goyangan berikut nyanyian ala ala pak Karman-si tukang kebun rumah orangtuanya.
Dalam diam Petir, menebak nebak kalau adik dan mungkin seluruh sahabat yang membantunya ini membawa kabur waktu itu, menjadi miskin dadakan karena semua fasilitas ditarik sebagai hukumannya. Ada sesal di hatinya karena sikap pecundangnya itu berimbas pada orang-orang sekitarnya.
"Percayalah, Utan. Bukan kamu saja yang akan kehilangan kemewahanmu, kita satu keluarga akan mengalaminya kalau kalau kakak pecundang mu ini masih kekeuh berbuat konyol!" Tatapan dingin Langit menghardik lekat lekat kedua bola mata Petir yang langsung saja tertunduk.
" Kami semua permisi, ya, Tir! Cepat sembuh! Om, Tante, kami permisi!" Topan menyela Langit yang hendak berkata pedas lagi. Ia sadar diri kalau ia, Twins dan Guruh tidak pantas dan merasa tidak sopan menjadi pendengar dan penonton permasalahan satu keluarga di depannya. Petir sudah dewasa, jadi Topan sangat percaya pada sahabatnya itu, kalau masalah yang ia perbuat bisa diurainya sendiri.
__ADS_1
Dan sekarang, tinggallah empat orang di ruangan VIP no satu itu.
Langit kembali mengomeli kesalahan anak sulungnya yang sangat banci menurutnya, sedang Senja masih diam diam mencermati keadaan yang panas sebelah. Anak sulungnya ini hanya bergeming mendapat kemarahan mulut Suaminya.
Jangankan Petir, Lautan aja yang bukan sasaran sang Papa mendadak ngeri dalam diamnya. Kakaknya memang salah, tetapi ia juga mendukung kalau cinta itu harus diperjuangkan. Entahlah, Lautan nggak ada niat membela siapapun di ruangan itu. Ia dan Mamanya cukup menjadi pendengar saja dulu untuk saat ini.
"Jawab Papa, Petir! Kalau kamu akan berjanji untuk melupakan Vay!"
"Tapi, Pa. Petir sangat mencintai Vay. Kenapa kalian tidak mau sama sekali memikirkan perasaan ku?" Petir tentu saja tidak mau berjanji. Semua orang yang menantangnya itu serasa orang yang paling egois. Apakah Papa Mamanya serta keluarga Vay itu tidak pernah muda dan tidak pernah berada di posisi hatinya. Lagi cinta cintanya plus saling mencintai pula, tetapi harus dipaksa melupakan! Itu sungguh sangat sakit dan susah buat hatinya.
"Aku sudah banyak berkorban sedari abg, Pa, Ma. Aku dari dulu sangat mencintainya. Tetapi kalian begitu mudah dan tega hati ingin memaksaku melupakan Vay. Ibarat kata, Papa dan semua orang memaksa hati ku cabut dari tubuhku," imbuhnya geram.
"Papa dan Mama jelas dulu saling mencintai, kan? Kalian bersatu dan bahagia! Tetapi, kenapa aku tidak bisa seperti kalian?" Mata Petir panas dan sudah berkaca kaca.
"Kamu salah, Petir!" kali ini, Senja-lah yang ikut bersuara sembari menaruh pinggulnya di tepi brankar Petir yang saat ini memaksa mau duduk. "Mama dan Papa menikah tanpa cinta, Nak." ungkapnya jujur. Lautan dalam diamnya, jadi bersemangat ingin mendengar kisah Mama Papanya yang sepertinya menarik. Tanpa cinta tapi bisa menikah? Wah... Itu tandanya, apakah ia dan kakaknya lahir tanpa cinta pula. Tapi tapi, melihat kebucinan Papanya itu sangat meragukan juga. Ah... Dengar sajalah.
"Asal kalian tau, Mama mengorbankan diri demi kebahagiaan adik Mama!"
Itu tandanya, Tante Mentari - nya yang tak lain adalah Ibunda Topan dan empat saudara lainnya, batin Petir. Tetapi, apa hubungannya dengan kisahnya bersama Vay?
"Mama berulah waktu itu demi kebahagian Tante Mentari dan Om Biru-mu saat memasuki pengantin baru waktu itu." Sorot mata Langit menatap penuh arti pada Senja, seperti berkata, 'Jangan diceritakan'. Tetapi, Istrinya ini tidak mengerti atau pura pura bodoh saja. Istrinya kembali bercerita masa lalunya yang jauh dari kata baik.
__ADS_1
"Papa mu itu bersaing cinta sama Om Biru kalian untuk menperebutkan Tante Mantari mu. Papa mu kalah dan menaruh dendam ingin menghancurkan rumah tangga mereka. Sebagai Kakak, Mama tidak terima kalau ada pria jahat yang berniat buruk pada pernikahan bahagia adik satu satu Mama. Mama beralibi lalu memfitnah Papamu ingin menodai Mama."
Petir tersenyum tipis tanpa sadar, karena merasa Mamanya ini punya sifat nekat sepertinya. Picik dan licik. Segala cara apapun akan dihalalkan demi kebahagiaan orang tersayang atau pun untuk kebahagiaan diri sendiri.
"Singkat cerita, Mama dan Papa kalian dinikahkan karena fitnah Mama. Dengan berpikir, kalau Papamu menjadi suami Mama, maka Mama bisa mencegah niat buruk Papamu yang terus menaruh dendam pada Om Biru kalian__"
"Tapi, Ma, apa hubungan cerita Mama dengan diri ku?" Potong Petir belum mengerti apa pun. Senja spontan menjentikkan jarinya pada putranya yang tidak ada kata sabar ini.
"Pengorbanan!" Lautan berceletuk mengungkapkan analisanya pada cerita orang tuanya. "Benar kan, Ma?"
Senja mengangguk. "Benar!" sahutnya. Lalu pandangannya itu jatuh tepat ke bola mata Petir sembari menggegam satu tangan anaknya. Ia ingin berbicara dari hati ke hati pada putra sulungnya ini.
"Tir, Mama sangat tau arti sebuah perjuangan cinta, Nak. Mama pun pernah ada di posisi mu!" Langit seketika berbalik mendengar ucapan Senja, malu pada sifat masalalunya yang bajingan maksimal. Bahkan ia masih ingat betul, kalau tempo dulu ia pernah memperkosa istrinya sendiri.
" Tapi, bisakah kamu berkorban seperti Mama? Percayalah, Nak. Kalau kamu dan Vay itu berjodoh, maka takdir akan membawa kalian pada satu titik kebahagiaan seperti Mama dan Papa mu saat ini, bisa?"
"Ma-maksud, Mama?"Petir tergagap. Perasaannya sudah mengatakan kalau mamanya ini sedang merayunya lembut.
" Lepaskan Vay, Nak!"
***
__ADS_1