
"Om Nata, saya meminta maaf atas kesalahan saya yang sangat sangat pecundang itu. Tetapi ketahuilah, saya melakukannya hanya dasar cinta besar saya ke anak kesayangan, Om. Saya tidak mau cinta besar saya jatuh ke pelukan pria lain. Cinta memang kadang kala melumpuhkan logika, pasti semua orang dewasa yang pernah merasakan jatuh cinta itu pernah mengalaminya. Jangankan menggagalkan pernikahan, di luar sana malahan ada yang lebih kejam dengan cara membunuh, menggunai gunai atau hal picik lainnya. Jadi, Om dan seluruh keluarga yang sudah saya rugikan, dengan segenap hati, saya meminta maaf atas kesalahan besar saya. Sungguh, saya sangat mencintai Vay."
Sebelum Nata atau keluarga Vay lainnya mengutarakan jawabannya, Petir pun mengatakan kesalahannya di depan media dengan pilihan untaian kata yang amat amat formal. Ia tidak mau membuang buang kesempatan bagus itu yang memang langsung di liput media.
Petir ingin bertanggung jawab dengan cara merendahkan diri atau meminta maaf di muka publik yang memang seharusnya begitu. Pernikahan gagal Vay dan Abian waktu tersebut, memang ada pewarta. Jadi, Petir sangat paham betapa tercorengnya nama dua keluarga yang sudah ia permainkan waktu itu.
"Dan terkhusus untuk keluarga Abian di mana pun berada, saya di sini dengan segenap hati meminta maaf juga kepada kelian. Maafkan saya!" Sambung Petir yang tidak melupakan keluarga tersebut.
"Pak Nata, bagaimana jawaban Anda?"
"Sabar, Bang. Jangan permalukan diri dan keluarga lagi dengan cara mengamuk di depan semua orang," bisik Ibell yang terlebih dahulu mewanti - wanti suaminya, tatkala para pewarta kembali menyorot ke arah suaminya yang sudah menahan emosi sedari tadi. Ibell hanya takut kalau Nata kehilangan kendali dan kembali menghajar Petir.
Nata hanya diam mendapat bisik sang istri tercinta, ia mengakui kepintaran Senja dan Langit yang mengundang pewarta. Mungkin mereka mereka itu pikir, kalau ia akan mati kutu dengan adanya penyorot media tersebut? Cih ... baiklah, kalau pun semuanya mau melawan dirinya, ia pun bisa menghadapinya secara halus, seperti cara Petir dan lainnya.
Sementara, para keluarga Vay yang lain hanya menyerahkan keputusan pada Nata. Yola dan Kemal sebagai Opa dan Oma Vay, menghargai Nata sebagai Ayah Vay, jadi biarkan lah Nata sendiri yang menyelesaikannya. Sebagai orang tua, sekarang cukup menjadi penonton saja untuk saat ini, kalau pun ada tanda tanda kesalahan nantinya, mereka baru akan menegurnya.
"Jujur, memaafkan itu harus dari hati yang paling dalam. Benarkan, Adrian?" Nata bertanya pada wartawan yang mempunyai tag name di barkot kerjanya yang melingkar terkalung di leher pemberita tersebut.
"Betul, Pak Nata."
__ADS_1
Bagus! Pancingan dan jawaban yang tepat.
"Nah, sebagai orang yang dirugikan banyak hal di sini, baik itu dari nama baik keluarga, saya pun rugi finansial yang jumlahnya tidak sedikit__"
"Saya akan menggantinya, Om. Tetapi ku mohon, Om. Beri restu pada cinta kami." Petir menserga Nata.
Cukup sudah! Nata muak menjadi sorotan media. Petir sudah menguji kesabarannya sedari awal sampai saat ini. Dan puncaknya hari ini.
"Baiklah, saya akan merestuimu dan juga memaafkanmu."
Hening... Petir dan semua orang tercengang mendengar pernyataan enteng Nata.
"Kenapa hanya diam? Hei, kalian para pewarta, sudah jelas kan. Dan ah, tidak ada tanya jawaba ini dan itu karena saya sedang sibuk. Toh, kalian semua sudah mendapat jawaban ku, jadi ku mohon yang tidak berkepentingan segera angkat kaki dari rumah ku."
Tidak ada yang bergeming meski sudah di usir. Membuat Nata jadi kehilangan kesabaran nya dengan cara berteriak memanggil penjaga.
"Usir mereka kecuali keluarga inti Petir, masuklah."
Itu tandanya, para sahabat dan kerabat jauh Petir pun mendapat usiran seperti pemburu berita itu.
__ADS_1
Para pewarta ada yang melawan dan kekeuh ingin ikut masuk ke dalam rumah. Tetapi para bodyguard Nata tentu saja mencegahnya.
"Jadi, kita bubar sekarang nih?" tanya Badai dan di angguki para sahabatnya yang lain karena mereka pun di usir.
"Apa boleh buat, Ayah bunda saja di usir halus!" sahut Angkasa dan akhirnya mereka pada bubar meninggalkan pelataran rumah tersebut.
Sementara di dalam ruang tamu Nata, kini keadaan nampak gerah yang di rasakan oleh Petir. Entah apa lagi yang akan di berbuat oleh Nata, ia merasa tidak tenang. Begitupun yang lainnya, karena sikap santai Nata ini sangat mencurigakan.
"Vay, cepat keluar dari tempat persembunyian mu!" gelegar Nata sembari melirik ke arah guci tinggi. Benar, ada Vay di sebelahnya. Gadis itu bersembunyi karena ia kira tidak diperbolehkan ikut serta mengeluarkan suaranya.
"Sini, duduk sama Ayah!" Nata menepuk sofa kosong sebelahnya. "Ayolah, kalian kenapa hanya bengong di depan ku. Silakan duduk semuanya, bukannya kalian semua datang kemari mau meminta maaf bukan? Jadi, mari kita duduk serius dan mari bahas tentang pernikahan Petir dan Vay sekarang juga!"
Deg...
Vay dan Petir saling lirik. Meski mendengar akan dipersatukan, tetapi keduanya, bahkan seluruh orang di depan Nata itu merasa ada yang ganjil.
" Ayah, benarkah ini?" tanya Vay memastikan.
" Benar, tetapi setelah Ayah dan Petir berbicara empat mata. Ayo Petir, ikut dengan ku."
__ADS_1