Menculik Calon Istri Orang

Menculik Calon Istri Orang
Bab 17# Tergoda Tapi Enggan Merusak


__ADS_3

Setelah bekerja keras sampai kaki langit bagian barat sana sudah membentang warna jingga yang sedap dipandang mata, Turbin yang Petir kerjakan pun sudah berdiri tegak. Harap harap cemas, Petir dan Vay menunggu hasilnya.


Dan saat rotor bekas helikopter itu berputar, beberapa menit kemudian hasil yang mereka nanti terlihat nyata. Turbin itu menghalirkan listrik dan berhasil membuat lampu menyala.


Vay berjingkrak bahagia, ia tidak sadar kalau saat ini sudah memeluk Petir begitu erat di depan pasang-pasang mata para warga suku. Petir sendiri sampai sesak dibuatnya. Tapi ia suka dipeluk kekasihnya itu.


"Ehem..." Lona berdeham menggoda. Vay pun tersadar. Seulas senyum canggung terpatri di bibirnya sembari menjauh dari tubuh Petir.


"Maaf." Katanya tidak enak hati karena Yama, Dahen dan warga lainnya menatapnya intens.


"Ini sudah mau malam. Kita harus bergegas membentang kabel kabel ini dari rumah ke rumah." Petir sengaja mengalihkan perhatian semua orang dengan segera menarik gulungan kabel putih. Ia ingin segera menyelesaikan pekerjaannya hari ini juga agar kehadiranya bisa diterima lebih baik lagi oleh para warga.


"Aku capek, Tir. Apa boleh aku istirahat di dalam heli?"


Petir tertahan oleh suara lemas Vay. Wajah kekasihnya itu memang sangat letih. "Eum, istirahatlah. Selesai ini semua, aku akan menyusulmu!"


Vay mengangguk. Kendati kemudian ia pun beringsut ke arah heli yang tidak jauh dari turbin. Vay butuh kursi empuk heli milik Petir untuk memanjakan tubuhnya yang benar-benar lelah.


"Istirahatlah di rumahku, Vay!"


Suara Lona dari belakang yang ternyata mengikutinya, membuat Vay berhenti melangkah. Ia pun berbalik lalu berkata, "Tidak, Lona. Aku di sini saja. Tatapan mata Yama mu sangat menyeramkan." Jujur Vay apa adanya.


Lona tersenyum lebar. "Kamu benar, Yamaku memang kejam orangnya. Ya sudah kalau begitu, aku akan menyusul mereka. Kamu hati hati di sini ya!"


"Eum...pergilah!" Vay mengangguk.

__ADS_1


Lona pun berlari kecil menyusul gerombolan Petir dan lainnya.


Sedang Vay naik ke helikopter. Menutup pintu itu rapat rapat lalu merebahkan tubuhnya di kursi setelah selesai mengatur posisi kursi khusus itu layaknya sebuah kasur kecil.


***


Selesai membentang kabel kabel dan memasang lampu dari rumah ke rumah yang jumlahnya tidak seberapa, Petir pun kembali ke pesisir pantai di antar oleh Dahen dan Yama yang membawa obor sebagai penerang mereka di hari yang sudah malam itu.


"Terimakasih atas pemberianmu yang sangat berharga bagi suku kami!" ucap Yama di sela langkah mereka.


Petir tersenyum di balik sinar obor yang ada di tangan Dahen. "Semoga kalian bisa menjaganya."


"Itu tandanya, kamu ingin pergi dari sini?" tebak Dahen.


"Eum, aku dan Vay butuh bantuan kalian," ungkap Petir.


"Beri tau kami, cara keluar dari pulau ini!" Petir berharap Yama atau Dahen bisa membantunya.


"Dua mingguan lagi kami kedatangan kapal. Mereka datang untuk menukar makanan pokoknya dengan hasil laut yang kami tangkap. Kamu bisa minta tumpangan pada pemilik kapal," terang Yama.


Meski kecewa mendengar waktu yang masih terbilang lama itu, Petir tetap berterima kasih. Hanya menunggu waktu maka ia bisa pulang. Ia sudah tidak sabar ingin melangsungkan pernikahannya dengan Vay.


" Apa benar kalian akan tinggal di pesisir pantai? Di sini sangat dingin. Kalian boleh tinggal bersama ku!" tawar Yama saat mereka sudah sampai di sisi helikopter.


"Tidak! Vay dan aku di sini saja. Kapan lagi kami bisa piknik di pantai indah ini." tolak halus Petir.

__ADS_1


"Baiklah! Kalau begitu, kami pergi dulu. Sekali lagi terima kasih pemberiannya dan maaf juga karena kami pernah menjadikan kalian musuh kami!" Yama membungkuk takzim sejenak.


"Tidak masalah!"


Kepergian Yama dan Dahen. Petir pun membuka pintu heli dengan pelan agar tidak menggangu tidur Vay.


Dan terlihatlah Vay tidur dengan posisi meringkuk seperti orang kedinginan. Petir membuang nafas pendek pendek, kekasihnya ini sangat menguji imannya yang hanya setipis helai rambut itu.


Semakin Petir berusaha menepis niat nakalnya, maka di bawa pusarnya pun semakin sesak saja. Bagaimana ia tidak on, Vay tidur hanya menggunakan hot paint dipadu tantop hitam yang sangat kontras dari kulit putih Vay. Sedang celana jeans serta baju yang tadi siang Vay pakai, saat ini sudah teronggok di sisi kursi. Sepertinya kekasihnya ini tidak betah memakai pakaian sesak saat tidur.


Glekk...


"Uda, jangan kelamaan. Cicip saja!" Tepat ia menelan ludah mupengnya, tiba-tiba terdengar bisikan sesat untuk mendorongnya melakukan hal yang tidak tidak.


"Kan saling cinta, Vay pasti nggak nolak kok." Otak jahatnya kian memprovokasinya. Membuat Petir semakin stres. Ia pria normal loh. Jelas saja membuat hasrat mudanya meronta ronta, wong belahan kenyal Vay nyaris tumpah karena posisi itu miring meringkuk. Apalagi paha putih Vay saat ini sangat menyilaukan mata.


"Ayo cepat minum susunya. DP aja dulu. Kan mau nikah ini kan?" bisik tuh setan lagi.


"Benar juga!" Petir menyahut lirih, tergoda oleh bisikan demi bisikan sesak dari setan penggoda iman.


Pikiran jernih Petir sudah diselimuti kabut hasrat. Setan yang sedari tadi menggodanya, kini sudah berjingkrak jingrak tatkala melihat korbannya itu beringsut untuk lebih mendekat lagi ke wajah Vay.


Petir terpaku di depan wajah Vay yang tinggal beberapa senti lagi. Sejurus kemudian, ia kembali menarik kepalanya untuk menjauh.


"Meski kepala atas bawah ku sudah sakit, tetap aku akan menjagamu, Vay. Aku akan bersabar sampai kamu berhak aku sentuh," batin Petir dengan hasrat ia tahan mati matian.

__ADS_1


Ia hanya menyelimuti kulit Vay yang menggoda imannya itu menggunakan baju bersih yang baru ia tarik dari ransel. Petir memang sangat mencintai wanitanya, oleh sebab itu ia akan menjaga kesucian gadis tersebut. Bukan malah merusaknya dengan dalih 'nanti akan menikah dan menjadi miliknya.' itu sudah lain lagi ceritanya. Amit amit nanti mereka tidak berjodoh. Walaupun imannya itu masih sangaaaaat jauh dari kata sholeh, tapi Petir punya prinsip sendiri untuk tidak melakukan hal yang belum saatnya ia lewati.


"Yeak... Gagal deh!" Setan bertanduk itu mendumel kecewa tatkala Petir malah berbaring membelakangi Vay.


__ADS_2