
"Bunda, tolong aku. Roman romannya, Ayah marah lagi kepadaku."
Setelah kepergian sang Dokter yang diantar langsung oleh Kemal, Petir segera meminta perlindungan di belakang tubuh Ibell karena ayah mertuanya itu sudah berdecak galak.
Lantas saja atensi Ibell dan orang tua Petir tertuju ke Nata kompak.
"Marah kenapa lagi, Bang," tanya Ibell.
"Tau, nih. Uda mau dapat cucu juga masih aja uring uringan. Nanti tensi lo kumat, kliyengan tuh pala, baru nyaho," sungut Senja.
Langit dan Yola masih diam. Tetapi mereka juga penasaran apa lagi alasan kekesalan Nata.
"Petir itu melanggar janji__"
"Janji apa?" serga Ibell.
"Maaf, Yah. Aku tau kesalahanku." Petir memberanikan diri mengakuinya. "Saya dan Vay saling mencintai juga sudah halal, tinggal bersama dalam satu kamar pula. Jadi, mana bisa saya menahan diri untuk tidak menyentuh istri sendiri."
Mendengar pengakuan Petir, tiga pasang mata yang awalnya tidak mengerti, sekarang cukup paham kalau Nata dan Petir membuat perjanjian konyol.
" Yaelah, Nat. Ngaca napa." Langit dengan songong memutar paksa tubuh besannya untuk bercermin. "Tidak usah di sembunyikan, semua orang terdekat kita juga tau siapa sosok muda Nata, si 'Penjahat kenikmatan' yang tukang celap--"
"Ah, stop, Kampret. Bisanya lo pada nyekik gue di depan Ibell dengan cara membicarakan aib masa lalu. Iya, iya, gue ngalah dan nggak akan bahas lagi tentang persoalan Petir." Nata langsung kicep mendapat delikan terhoror Ibell. Meski istrinya itu sudah tau betul masa mudanya yang suka celap celup, namun tetap saja Ibell itu sering ngambek kalau mendengar kisah itu kembali.
__ADS_1
"Jadi, Ayah benar nggak marah kan?" Petir dengan wajah cerah, bertanya memastikan.
"Iya, puas lo."
Puas sekali, batin Petir. Detik itu juga, Vay sadar dari pingsannya. Dan semuanya menyerbu Vay dengan perhatian berlebihan.
"Apa kamu butuh rujak, Sayang?" tanya Petir.
Vay menaikkan satu alisnya, bingung.
"Atau butuh buah segar lainnya?" Yola menimpali.
"Martabak atau spaghetti kesukaanmu?" Ibell tak kalah semangat. Dan Vay yang mendengar nama makanan favoritnya, tetiba perutnya terasa mual, tetapi masih bisa ia tahan. Ia hanya menggeleng langsung dalam kebingungannya.
"Mungkin mantu Papa ingin nyubit ayahnya sendiri. Pasti diperbolehkan, iya kan, Nata?"
Mata Vay membulat sempurna. Jadi, karena ia hamil semua orang memperlakukan dirinya sebagai emas.
"Vay, hamil?" tanyanya memastikan dengan suara pelan. Kepala kepala di depannya kompak mengangguk mantap.
Hening...
Petir dan lainnya hanya membisu memperhatikan air muka Vay yang sepertinya mencerna seksama kabar tersebut.
__ADS_1
"Vay, apa kamu tidak bahagia?" Tanya Petir was was. Semuanya ikut cemas. Takut Vay belum siap karena tampang jelita itu datar sekali.
"Arrgh, Vay hamil..." Calon ibu itu sangat mengejutkan semua orang karena tiba tiba jingkrak jingkrak di atas ranjangnya yang empuk saking senangnya akan mendapat bayi.
"Heeeyy..." Sorakan membahana dan juga pergerakan kompak menghentikan Vay yang bertingkah sembarangan dalam keadaan mengandung.
Vay sudah seperti ikan yang diperebutkan oleh burung belibis.
"Hehehe... Maaf, Vay teramat bahagia." Ia hanya mampu cengengesan mendapat ekspresi berbagai macam dari para orang tersayangnya.
Dan petuah demi petuah dari Bundanya, Omanya dan juga mertua perempuannya silih berganti memberi tips menjaga kehamilan. Vay dengan seksama mendengarkan. Bukan hanya Vay, tetapi para laki laki pun mencatat baik baik dalam otak mereka demi kebaikan Vay. Manatau Vay nanti lupa maka ada mereka yang akan berbondong brondong memberi tahukan.
"Jadi, Sayang. Sekarang apa yang kamu inginkan? Makan atau apa?" tanya Petir sangat sangat lembut.
"Mau makan apa? Ayah bisa kok belikan." Nata tak mau kalah perhatian.
"Vay nggak mau makan apa pun. Cuma Vay ngidam ingin melihat Ayah dan Abang saling berpelukan. Itu saja." Percayalah, Vay hanya berbohong tentang rasa ngidamnya, tetapi niatnya baik yaitu benar benar ingin mendamaikan ayah dan suaminya.
"Kenapa tidak? Sini lah Petir. Ayah peluk. Disuruh gendong dan melempar mu ke kawanan serigala pun, Ayah dengan senang hati melakukannya."
"Ayah!" protes Vay cemberut.
Nata terkekeh. Sembari menghampiri Petir, ia pun berkata, "Ayah cuma bercanda."
__ADS_1
Pelukan perdamaian ayah dan suaminya mampu menghangatkan suasana dua keluarga yang bersatu.
Bagi Vay dan Petir, pernikahannya bukan hanya dua insan untuk bersama, tetapi lebih afdol kalau dua keluarganya pun dipersatukan dalam kedamaian satu sama lainnya.