
πππ
...HAPPY READING β₯...
"Nah gini dong, kan gue jadi suka nih" Kata Samuel yang melihat banyak makanan di meja makan.
"Lo mana ada nggak suka kalau liat makanan" timpal Gio yang baru saja menyelesaikan ritual mandinya. Gio berjalan ke arah meja makan lalu mengambil satu burger dan ikut duduk di samping Raka.
"Kayak lo kagak aja" Jawab Samuel.
"Nah emang kagak, gue mah biasa aja. Tapi juga nggak nolak" Ucap Gio sambil cengengesan.
"Kalian berdua tu sama aja, gak jauh beda"
"Ya sudah selamat makan"
"Apaan lo, udah makan dulu baru ngomong begitu" ucap Samuel lagi.
"lo tu cowok jangan cerewet kayak perempuan"
"Udah kalian ribut mulu, gue buang nih makanan kalau masih ribut"
"Yah jangan dong, mubazir tau" gerutu Samuel
"Ya makanya diam"
"Lo kagak makan? " Tanya Samuel saat melihat Raka hanya sibuk memainkan Hanphonenya saja.
"Gue udah makan tadi sama temen"
"Cewek di sini cantik cantik nggak, kenalin satu gitu. Gue pingin tau rasanya punya cewek bule" Ucap Gio
"eh si salsa mau lo kemana in jangan ngadi ngadi lo, gue aduin baru tau rasa lo"
"Apaan sih lo sam, jangan macam macam lo"
"iih sapa yang macam macam, gue cuma satu macam"
"Serah lo, awas aja sampai Salsa tau gue lempar ke Afrika sana"
"idihh kayak berani aja"
"Stoppp"
"Kalian bisa nggak sih kalau lagi makan jangan pada ribut"
"Nggak bisa" Jawab Gio dan samuel serempak.
"Ooh oke makananya gue buang"
"Eh jangan dong, iya iya gue diam. Lo diam jangan mulai lagi"
"Hmm"
πππ
__ADS_1
"Kamu yakin setelah ini kita mau pergi nonton"
"Memangnya kenapa kak? "
"Sepertinya menonton itu hanya cocok untuk anak muda, aku sudah tak cocok"
"Kata siapa? "
"Kataku"
"Usia kakak boleh nggak muda lagi, tapi dari wajah kakak kan nggak keliatan. Lagian menonton itu untuk semua usia kak"
"Iya memang tapi kamu pasti menontonya film romantis kan. Di sana pasti akan ada banyak anak muda yang berpacaran"
"Kakak sok tau sekali sih"
"Memang begitu kan "
"Tapi aku tak ingin menonton film romantis kak, aku ingin nonton film horor. Seru tau"
"ya kita nonton yuk, aku sudah lama nggak pergi nonton" Lanjut imelda lagi dengan menunjukan wajah imutnya yang membuat emir mencubit kedua pipi imelda.
"iih kak sakit tau"
"Maaf habisnya kamu bikin gemas"
"Gombal, bilang aja nyari kesempatan dalam kesempitan iya kan"
"eh kok tau sih, hahaha. Lagian modus sama calon istri sendiri nggak masalah kan"
"ayok"
"Tapi beneran ya film horor"
"Iya kak beneran"
***
Setelah menempuh perjalanan selama 10 menit mereka pun sampai di parkiran mall terbesar di kota itu. Jarak antara hotel tempat mereka makan malam dengan mall itu tidaklah jauh. hanya perlu keluar dari gang sedikit mereka sudah sampai. Emir turun, berjalan memutari mobilnya dan membukakan pintu untuk Imelda. imelda yang di perlakukan seperti itu merasa sangat bahagia, hal sederhana namun sangat membuatnya merasa berharga.
Setelah naik ke lantai 3 mereka sampai di studio pemutaran film. Emir meminta imelda untuk duduk menunggu dan dirinya yang akan membeli tiket juga makananya. namun imelda menolak ia yang akan membeli makanan nya dan Emirlah yang akan membeli tiketnya. Emir pun menurut lalu ia memberikan tiga lembar uang seratus ribuan dan mereka berpisah untuk tugas masing masing.
Imelda sudah selesai duluan, ia duduk di kursi tunggu yang sudah di sediakan. karena di stand food makanan tak begitu ramai jadi hanya perlu waktu beberapa menit saja. sedangkan emir masih antri di nomer empat sesekali pria itu menoleh ke arahnya sambil tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya. membuat ia tertawa. tanpa di sadari imelda ada seorang pria yang sedang memperhatikanya. pria itu pun berjalan mendekati imelda dan menghalangi pandangan emir pada calon istrinya.
"Siapa sih pria itu, mengganggu saja" gerutu pria itu dalam hati sambil matanya terus menatap ke arah imelda.
Imelda pun sama pandanganya jadi terhalang karena seorang pria yang berdiri di hadapanya. dan membuatnya terkejut pria itu mengenalinya juga mengetahui namanya ia pun mengalihkan atensinya untuk melihat pria di hadapanya itu.
"Kamu imelda kan? " Tanya seorang pria yang berdiri di hadapanya.
"Ya ? " Imelda bingung pasalnya ia tak merasa mengenali wajah pria itu.
"Kamu sendirian? "
"Maaf kamu siapa? "
__ADS_1
"Aku Bagas apa kamu lupa, bolehkah aku duduk di sampingmu"
"Iya silakan"
"Kamu apa kabarnya ? lama kita tidak bertemu kamu makin cantik aja"
"Apa kita saling mengenal ?"
"Kamu beneran nggak mengingatku? "
"Tidak, maaf"
"Aku teman SMP mu, ya memang sih kita beda kelas mungkin itu juga yang membuatmu tak ingat aku" ucap pria itu dengan senyumanya.
"Oh iya ? maaf tapi aku sama sekali tak ingat"
"it's oke santai aja, aku bagas yang pernah menjadi pengagum rahasiamu lalu aku juga orang yang menyatakan cinta padamu di taman belakang sekolah"
"Oh itu ya aku ingat sekarang"
"Baguslah jika kau ingat. hahaha hanya aku pria yang berani menyatakam cinta padamu, mengingat kamu yang begitu cuek membuat semua nyali pria menciut. tapi nggak dengan aku, tapi sayang kamu menolaku kala itu"
"ehm maaf"
"Apa kamu sudah punya kekasih? "
"Aku bahkan sudah di lamar" Jawab imelda tegas dengan menunjukan tangan kirinya yang tersemat sebuah cincin di jari manisnya"
"Ah, begitu aku tidak ada kesempatan dong"
.
.
ehmmm ehmmm
tiba tiba ada suara deheman dari seseorang membuat keduanya menoleh ke sumber suara dan imelda langsung berdiri dan berpamitan pada Bagas namun langkahnya terhenti ketika tanganya di cekal oleh seorang pria yang tadi duduk di sampingnya.
"Maaf imel apa pria ini kekasihmu ?"
"Iya, perkenalkan nama nya Emir Dan emir perkenalkan ini temanku sewaktu SMP nama nya Bagas"
"Emir, kekasihnya Imelda" emir mengulurkan tanganya dan menatap tegas pria di hadapanya.
"Bagas" Jawab pria itu singkat.
"Kalau begitu aku duluan ya imel, Semoga kamu bahagia selalu" Ucap Bagas dengan tersenyum kecut.
"Iya terimakasih"
πππ
Jangan lupa buat ninggalin jejak ya gaess, biar author makin semangat π
Thanks for reading gaess, Salam hangatβ₯
__ADS_1
SUNC π