
πππ
...HAPPY READING β₯...
"Maaf nona kamu tidak apa? "
"Handphone saya tadi terjatuh dan hendak mengambilnya maaf saya tidak melihat ke depan" lanjut pria itu lagi.
Imelda tersadar dan dia melepaskan tanganya yang menutupi kepalanya, terlihat seorang pria berdiri tegak di dekatnya dan memegang pundaknya.
"Ah iya maaf salah saya juga yang asal menyebrang tadi"
"Baiklah kita sama-sama bersalah"
"Perkenalkan saya Emir alvaro, panggil saja Emir" Kata pria itu dengan mengulurkan tanganya seraya berkenalan dengan gadis kecil itu.
"Ah iya, Saya imelda" Ucap gadis itu membalas uluran tangan pria itu.
"Hanya imelda saja? "
"Imelda salsabila"
"Oooh, kamu mau kemana biar saya antarkan"
"Saya sedang mencari pekerjaan tuan"
"Jangan sungkan jangan memanggil tuan, panggil nama saja"
"emmm, baiklah emir"
"Nah bukankah kedengaranya lebih enak kan" ucap emir dengan senyuman nya.
"Tapi sepertinya anda.. " imelda tak melanjutkan perkataanya karena ia merasa tak enak hati jika harus mengatakanya walaupun sebenarnya itu adalah fakta.
"Terpaut jauh dari usia kamu"
"Emm iya maaf"
"hahaha, santai aja jangan sungkan sudah ku katakan. Masuklah ke mobilku, aku ada tawaran pekerjaan untukmu jika kau mau"
"Benarkah, terimakasih"
__ADS_1
*
*
Setelah keduanya memasuki mobil suasana sedikit canggung karena mereka hanya berdua saja di dalam mobil di ruangan yang tertutup itu. Emir berdehem untuk menetralkan suasana.
"Kamu baru lulus ?" Tanya Emir pada gadis yang duduk di sampingnya.
"Iya baru 3 hari yang lalu aku lulus SMK" Jawab imelda dengan antusias.
"Apa kamu tidak tertarik masuk ke perkuliahan terlebih dulu, baru bekerja? "
"Aku memang akan berkuliah, berkat beasiswa karena kecerdasaanku bahkan aku sudah di terima tetapi aku juga harus bekerja untuk kebutuhan hidupku" Ucap imelda dengan kepala tertunduk.
"Memangnya kedua orang tuamu kemana ?"
"Mereka sudah tiada, kalau ayah sudah satu tahun yang lalu dan ibu baru 3 hari ini tepatnya saat hari kelulusanku tiba" lirihnya dengan air mata yang sudah berhamburan. Emir merasa tak tega, ia menyerahkan tisu untuk gadis malang itu.
"Maaf aku tidak bermaksud.. dan aku turut berduka cita untuk kedua orang tuamu"
"Sudah jangan menangis, aku akan memberi tawaran pekerjaan untukmu.." emir menjeda ucapan nya tapi dia sangat butuh seorang untuk masak di rumahnya. Karena asisten rumah tangganya yang lama kembali ke kampung halamanya untuk merawat suaminya yang terkena stroke dan tidak akan kembali lagi karena ia memutuskan untuk menetap di kampungnya. Sebenarnya beberapa hari yang lalu ia merekrut seorang asisten rumah tangga tapi masakanya tidak cocok dengan lidahnya. Jadi ia hanya menjadikan asisten rumah tangga tidak dengan memasak. Dan hingga saat ini ia belum mendapatkan juru masak yang cocok dengan lidahnya. Meskipun tak yakin dengan gadis kecil ini bisa memasak atau tidak tapi entah mengapa ia penasaran. "Jika kau bisa memasak dan bersedia jadilah juru masak di rumahku, aku akan memberimu gaji sekelas koki di restoran mewah. Bagaimana? "
"Aku bisa memasak, dimana kita akan menguji masakanku ?" Ucap imelda dengan antusias dan senyum yang menggembang.
"Tapi apa bisa nanti memasaknya menyesuaikan jam kuliahku? "
"Bisa, kau harus memasaknya sebelum kamu berangkat kuliah. Termasuk jika kau akan masuk siang atau sore karena aku makan siang pun di rumah"
"Iya baiklah aku mengerti, terimakasih" Ucap imelda tulus. Meskipun berat menjalankan kehidupan tanpa orang tuanya tetapi ia harus kuat demi mewujudkan keinginan kedua orang tuanya yang sudah tiada.
*****
Tanpa terasa mobil yang mereka kendarani sudah sampai di kediaman emir. Imelda terpengarah melihat rumah yang bak istana sangat besar bahkan mewah. Imelda berdecak kagum hingga tak mendengar emir yang sudah membukakan pintu mobil untuknya dan memanggil namanya berulang kali, sampai entah keberanian dari mana emir mengacak gemas rambut gadis itu hingga menyadarkan gadis itu dari rasa kagumnya. Imelda tersenyum kikuk karena menyadari dirinya yang berlebihan hingga membuat pipinya merona merah karena malu.
"Emm maaf, aku hanya belum pernah melihat rumah sebesar dan semewah ini" ucap imelda dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Hahaha kamu lucu, aku tak masalah. Ayo masuk"
"Baik tuan"
"Kenapa tuan lagi ?"
__ADS_1
"Bukankah sebentar lagi anda akan menjadi bosku yah !?"
"Jangan berlebihan panggil nama saja"
"Jangan seperti itu aku merasa tak enak masak aku memanggil nama bosku dengan nama, apa kata yang lainya nanti"
"Baiklah, terserah dan senyamanya kau saja"
"Hmm terimakasih"
Mereka melangkah bersama memasuki rumah itu, terlihat seorang wanita paruh baya membukakan pintu untuknya. Imelda menyapa ramah wanita itu dan di balas tak kalah ramah oleh wanita paruh baya itu. Lalu mereka berkenalan, setelahnya emir mengajak imelda untuk berkeliling menunjukan setiap ruangan yang ada di rumah itu termasuk kamar pribadinya jika nanti ia akan meminta menu untuk di antarkan ke kamarnya. Kini mereka telah sampai di dapur dan emir menunggu imelda yang sedang memasaknya, di meja makan dengan memperhatikan gadis itu.
"Cantik, dia juga unik" gumam emir dalam hati.
"Aiisssh aku ini kenapa" Ucap emir sambil menggelengkan pelan kepalanya untuk menghilangkan pikiran aneh yang baru muncul. Imelda yang melihat itu di buat heran lalu ia memberanikan diri untuk bertanya.
"Tuan kenapa? Tuan sakit ?" Tanya Imelda yang letak dapurnya tak jauh dari meja makan dan melihat apa yang di lakukan emir.
"eh itu emm say..a tidak apa - apa kok, lanjutkan saja masaknya"
"Iya tuan"
Emir merutuki dirinya bagaimana bisa dia merasa gugup dan salah tingkah ketika gadis itu memperhatikanya. Tak sekalipun ia merasa gugup kecuali pada almarhum istrinya dulu tapi tidak mungkin kan dia menyukai gadis itu. Apalagi itu adalah anak ingusan yang mungkin usianya hampir sama dengan putranya yang saat ini menempuh pendidikan di luar negeri.
Setelah menunggu kini Imelda datang dengan membawa beberapa menu makanan, ada kentang perkedel, sayur asam dan ikan asin masakan khas indonesia yang sederhana namun mampu mengunggah selera. Dengan tak sabaran emir mengambil lauk itu satu persatu ia jadi ingat dengan almarhum istrinya yang dulu juga memasak tiga menu ini dan ia baru menyadari bahwa sudah lama ia tak memakan menu ini persis seperti masakanya istrinya dulu.
"Maaf aku memasak makanan indonesia karena aku tak tau masakan luar negeri"
"Aku tidak masalah, lagian aku sudah lama berada di indonesia meskipun masih sering bolak balik indonesia turki atau negara lain saat aku menjalankan perjalanan bisnis. Dan aku menyukai masakan indonesia, istriku dulu suka sekali masak makanan indonesia karena dia asli orang indonesia"
"Oh iya istri tuan dimana ? sejak keliling tadi aku tak melihatnya" Ucap imelda yang mengedarkan pandanganya ke seluruh ruangan yang terjangkau oleh matanya.
"emmm istri saya sudah meninggal ketika melahirkan bayi kami mungkin 15 tahun yang lalu dan putra kami sedang menempuh pendidikan di luar"
"Maaf" cicit Imelda. Hanya kata itu yang mampu keluar dari mulut kecilnya itu.
"Tidak masalah"
"Masakanmu enak aku sangat menyukainya dan ini cocok di lidahku. Kamu di terima dan kamu harus ikut tinggal di sini"
πππ
__ADS_1
Maaf ya aku up nya satu bab satu bab soalnya aku nggak suka nimbun,jadinya beruntun gimana gitu wkwkkkk
Thanks for reading β₯