
...HAPPY READING♥...
🍀🍀🍀
"eeeuuchhh"
"Aku ketiduran di Sofa" gumam perempuan itu dengan suara serak khas bangun tidur. Semalam ia menunggu Gio pulang di sofa ruang tengah sampai ia ketiduran.
"Apa mas Gio sudah pulang ya?"
"Tapi Apartemen nya masih kelihatan sepi, apa aku cek ke kamar sekalian aku mandi"
"emmm ternyata mas Gio belum pulang. kamu kemana sih mas?" lirih perempuan itu. entah mengapa ia akhir - akhir ini menjadi cengeng.
Setelah membersihkan diri Adel membuang makanan yang sudah ia masak semalam rasanya sayang tapi ia tak mungkin memakanya sendirian. ia memutuskan untuk langsung berangkat kuliah tanpa sarapan yang sudah menjadi kebiasaanya. hari ini ia membawa mobil sendiri. Adelia mengambil kunci mobil, Handphone juga tas slempang miliknya. dengan mengenakan sebuah midi dress berwarna biru laut dengan motif floral, rambut yang sengaja ia gerai dan sedikit memoleskan lips balm di bibirnya yang tipis. karena setelah pulang kuliah ia akan mampir ke Perusahaan milik suaminya berbekal informasi dari ayahnya dulu saat mengenalkan siapa Gio juga pekerjaan serta keluarganya.
***
"Menurutmu apa Samuel akan berangkat hari ini?" Tanya Gio. setelah menghabiskan sarapan nya dan kini berjalan beriringan dengan sahabatnya, Raka dan tentu saja dengan mobil masing - masing.
"Mungkin tidak"
"Kenapa begitu ? apa kau juga berpikiran sama dengan ku ?"
"Hmm, aku merasa dia tidak baik - baik saja"
"Hmm"
"btw nyokap tiri lo cantik juga, boleh nih buat gue aja hahahha" ucap Gio begitu saja dan langsung masuk ke dalam mobil, melajukanya dengan kencang.
"Awas saja kau" geram Raka dengan kelakuan sahabatnya yang selalu absurd dan tidak penting tapi walaupun begitu ia yang selalu menghidupkan dunianya, memberikan warna dalam kegelapan hingga ia tak merasa bahwa selama ini ia tak ada figur seorang ibu di sisinya sedari kecil. ia tak merasakan kesepian karena adanya dua sahabat absurdnya. Seketika Raka tersenyum, ia tak menyangka sudah 18 tahun dan selama usia itu ia tak pernah merasakan,melihat sosok mama nya. karena mama nya tiada saat melahirkan dirinya. ia menitikan air matanya lalu menghapusnya dengan cepat dan tersenyum kembali..
.
__ADS_1
.
.
.
"Hallo dit, lo jam makan siang yang kesini aja gimana? Laporan gue banyak meski gue selesain cepet jadi gue nggak bisa ketemu lo" Ujar Gio saat panggilanya ke Radit langsung terhubung. ya satu jam lagi jam makan siang, ia memberitahu Radit dulu dari pada nanti malah ia tak bisa datang.
"Sok sibuk lo, bilang aja lo mager karena pasti macet kan di jalan"
"Nah itu salah satunya, dah buruan jalan ntar lo telat lagi dateng kesini"
"Bawel lo"
Setelah menutup panggilan Telepon nya Gio langsung menaruh handphone nya di laci dan kembali fokus ke berkas yang saat ini berjejer di atas mejanya. tak terasa satu jam pun berlalu ia melihat jam arloji yang melingkar di tangan kirinya, bersamaan dengan itu suara ketukan pintu terdengar, ia pun mempersilakan masuk karena ia berfikir bahwa itu Radit sahabatnya yang akan membantu melacak keberadaan Samuel.
Tok tok
"Masuk"
"Kenapa masih berdiri di...... " Ucapan Gio terhenti kala ia terkejut yang datang ternyata bukan Radit melainkan istrinya, Adelia.
"Kamu ngapain kesini?"
"Hei aku tanya kenapa kamu kesini?"
"Jangan menunduk dan diam saja, jawab pertanyaanku!!" Kesal Gio dengan Adelia yang sedari tadi hanya diam dan menunduk ke bawah melihat kaki nya sendiri padahal yang berbicara ada di depan nya.
"Apa nggak boleh seorang istri datang ke kantor suami nya?" Tanya Adelia dengan mengangkat wajahnya, terlihat air mata yang sudah berlinangan di pipinya.
"Kamu apa - apain sih, pakai nangis lagi"
Tok tok tok
__ADS_1
"Mati gue"
"gimana ini ?"
"Ikut aku" Gio menarik tangan Adelia dan membawa nya masuk ke ruang istirahatnya.
"Kamu di sini dulu, jangan keluar sebelum aku yang menghampirimu kesini paham kan!!"
"Hei dengar kan aku bilang apa?!" Gio meraup wajahnya kasar. lalu menutup pintu dan menguncinya. masa bodo dengan istrinya yang sedang merajuk, ia sudah pusing dengan banyak nya berkas, Kepergian Samuel yang entah kemana, belum ia juga harus ke kota Bogor untuk meninjau langsung pembangunan Hotelnya.
"Perempuan memang meresahkan" gerutunya dalam hati.
"Lama banget sih buka pintu doang" gerutu Radit kesal dan langsung merebahkan dirinya di sofa panjang di ruangan Gio.
"Sorry tadi gue lagi di kamar mandi, lagian tumben lo ketuk pintu dulu biasanya main nyelonong aja"
"Lo nggak lupa kan yang waktu itu ngelempar gue pakai sepatu gegara gue nyelonong masuk, untung waktu itu gue gesit jadi nggak kena nih kepala gue"
"Jadi gimana lo udah dapet lokasi Samuel berada?"
"Singapura" singkat Radit.
"Singapura? "Ulang Gio lagi dan seketika ia menepuk jidatnya baru ingat jika keluarga Samuel juga mempunyai rumah di sana bahkan nyaris lebih sering tinggal di sana dari pada di indonesia. Tapi Samuel ? ia baru dua kali kesana dan itu pun jika bukan karena hal yang urgent, itu artinya? lalu mengapa nomernya tak aktif bahkan tak menghubungi dirinya atau pun Raka padahal ini sudah hari keempat Samuel tak terlihat itu menurut Raka sahabatnya.
"Gue baru ingat kalau ada keluarganya yang tinggal di sana, nyoka bokapnya kan sering di sana hehe" nyengir Gio tanpa dosa.
"Astaga Gio, lo bener - bener buang waktu gue tau nggak?"
"Sorry gue lu....."
Belum juga Gio menyelesikan ucapanya terdengar suara tangisan perempuan yang begitu lirih tepat di ruang istirahat Gio.
hiks hiks hiks...
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...