
HAPPY READING♥
🍀🍀🍀
"Pah bangunlah"
"Aku sudah memberi pelajaran untuk pengkhianat itu"
"Aku mohon buka matamu, aku memang benci dengan papah karena tak pernah meluangkan waktu untuk ku. tetapi aku juga menyayangimu pah"
"Ayo buka mata mu"
"Tuan muda"
"Tuan muda" panggilnya lagi.
"Hmm"
"Tuan muda lebih baik kembali ke rumah dan beristirahat, Tuan muda juga belum makan beberapa hari ini. tuan muda bisa sakit"
"Biarkan saja aku sakit, aku tak akan makan jika dia tak bangun"
"Tuan muda jangan seperti itu, Tuan besar pasti sedih jika tahu tuan muda tidak mau makan"
"Sudah ku katakan bukan!! aku tak akan makan jika dia tak bangun juga" teriak Samuel lantang.
"Baiklah tuan muda, saya permisi"
Samuel, ya pria itu sekarang berada di Singapura tepatnya di Boon Lay, di negara singapura. Sudah hampir seminggu ia berada di sini, awalnya ia ingin datang diam diam memberi kejutan papahnya yang berulang tahun namun justru ayah dan dirinya juga yang di beri kejutan oleh wanita yang sangat dia sayangi. Pengkhianatan bertahun - tahun yang di lakukan oleh Salma mamah dari Samuel hingga menghasilkan seorang anak yang berusia Remaja, usianya hanya terpaut 2 tahun dengan Samuell. mengingat semua itu Emosinya kembali membuncah ia meninju dinding yang ada di depan nya. hingga tanganya terluka, sekarang ia tak lagi phobia darah semenjak ia memberanikan diri untuk bermain darah.
...----------------...
__ADS_1
"Ayolah aku mohon jangan seperti anak kecil"
"Aku janji akan pulang lebih cepat, ya adelku sayang" Rayu Gio dengan senyuman manisnya.
"Janji?"
"Iya aku janji"
"Jadi kau tak akan ikut kan?"
"Tidak, tapi aku ingin setelah pulang kau harus mengajak ku pergi ke luar kota"
"Eh iya" Gio menggaruk tengkuknya yang tak gatal sambil berdecak dalam hati.
"Ck Dasar perempuan di kasih hati malah minta empedu, Aaiiishhh"
***
"Jelas saja pulang, untuk apa aku di sini. dengan seseorang yang sudah merenggut paksa yang paling berharga dariku" ketus Imelda.
"Maaf aku tidak tau jika kau masih Virgin, aku kira ayahku sudah mengambilnya lebih dulu"
"Omong kosong."
"Cepat buka pintunya" kesal Imelda.
"Biar ku antar ya, gimana pun pasti kau akan kesulitan jika berjalan jauh dan kau kan memang dari awal bersama ku jadi pulang pun bersamaku"
"Tidak, aku tidak sudi"
"Jangan keras kepala."
__ADS_1
"Jangan mengaturku"
"Oke oke baiklah, tapi ijinkan aku mengantarmu hingga mendapatkan taksi ya?"
"Kamu itu tuli atau bagaimana ? aku sudah bilang tidak ya berarti tidak." lantang Imelda.
"Aku heran dengan mu, kau masih punya muka saat kau sudah melakukan itu padaku. hiks hiks"
"Maaf" lirihnya, perasaan bersalah kini terus menyeruak masuk ke relung hatinya saat tahu bahwa pujaan hatinya belum tersentuh sama sekali oleh ayahnya. maaf seperti apalagi, ia sama sekali tak pantas menerima nya mungkin.
"Tolong izinkan aku pergi, ku mohon" lirih Imelda dengan suara seraknya. tubuhnya merosot jatuh ke lantai ia menangis begitu memilukan di pendengaran Raka, ingin rasanya memeluk wanita itu, menenangkan dan memberinya usapan lembut, tetapi itu tidak mungkin karena akan semakin menambahi lara hati wanita itu. mungkin kata maaf tak pantas untuk pria sepertinya.
"Baiklah aku akan membiarkanmu sendiri, baik - baik dan jaga dirimu"
"Pergilah dulu, aku ingin sendiri dulu di sini"
"Baiklah aku akan membayar semuanya dulu, nanti kau tinggal kembalikan saja kunci kamarnya"
Imelda tak. langsung beranjak, ia masih menangis tersedu -sedu. meratapi nasibnya sendiri, kini semua impian yang akan ia bangun bersama sang suami hancur sudah. apa yang harus ia katakan pada suaminya nanti jika saat melakukan hubungan suami dirinya sudah.. aah semua itu tak bisa di jelaskan dengan kata - kata dan semua itu sungguh menyakiti batin nya sekarang.
"Kenapa Tuhan tak pernah berhenti memberikan air mata kesedihan untuk ku"
"Kenapa selalu aku dan harus aku"
"Kenapa tak membiarkan aku bahagia walau sebentara saja kenapa"
"Aku lelah Tuhan, aku lelah, sangat lelah mengapa takdir ini seolah mempermainkan aku" lirihnya dengan air mata yang tak berhenti mengalir, justru malah kian deras saja.
Imelda terus memukuli dadanya, merasakan sesak di sana, runtuh semua harapan nya. hancur semua impian yang pernah akan ia bangun dengan sosok pria yang sangat mencintai dan juga ia cintai. Tanpa Imelda sadari ada seorang pria yang menyaksikan semua itu, betapa rapuhnya wanita itu bahkan saat mendengarkan semua rintihanya. Hatinya sakit sungguh sakit menyaksikan semua itu. tapi ia sudah terlanjur melakukanya dan akan bertanggung jawab atas semua yang ia lakukan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1