
...HAPPY READING β₯...
πππ
"Imah kamu di suruh menemui Tuan Emir di kamarnya"
Ucap Asih saat Imah sudah berada di dapur.
"Tuan Emir sudah kembali ?" Tanya Imah dengan keterkejutanya.
"Iya kamu pasti kaget kan. aku pun sama, aku lihat tuan sudah ada di dapur tadi"
"Ya sudah lebih baik kamu langsung temui tuan di kamarnya, Tuan sudah menunggu sedari tadi. seperti nya tuan ingin menanyakan mengenai nyonya Imelda"
"Baiklah, aku akan kesana sekarang"
"Iya sana"
Bi Imah langsung menaiki tangga menuju lantai dua setelah menata belanjaanya di dapur. dengan perasaan gugup ia terus menapaki setiap anak tangga. ia bingung bagaimana nanti menjawab pertanyaan Tuan nya. karena hingga sekarang Nyonya nya belum terlihat begitu pun dengan den Raka anak majikanya. ada rasa khawatir dan kecemasaan jika terjadi sesuatu padanya. Apalagi ia tanpa sengaja pernah melihat anak majikanya yang menatap dengan intens istri majikanya, seperti seseorang yang sedang jatuh hati. namun ia mana berani menegur atau mengatakan sepatah kata pun. Namun ia selalu menepis setiap pikiran nya dan berharap apa yang ia takutkan tak terjadi.
Tok tok tok ..
"Masuk" terdengar suara dari dalam. ia pun memberanikan untuk memegang ganggang pintu dengan tangan yang gemetar. saat ia masuk ia melihat tuan Emir sedang melihat ke ponselnya seperti sedang menghubungi seseorang. Seketika Emir menoleh saat bi Imah sudah berdiri tepat di hadapanya.
"Aku tidak ingin basa basi bi, aku memintamu kesini karena aku ingin menanyakan kemana keberadaaan istriku?" Tegas Emir yang sudah merasa gelisah sedari tadi. Apalagi ia sudah berulang kali menghubungi Handphone istrinya tetapi tidak di angkat.
"Semalam memang Nyonya dan den Raka pamit untuk pergi bersama ke Pameran Seni tuan. Tapi bibi juga tidak tau kenapa sampai hampir siang begini belum pulang. Nyonya juga tidak ada mengabari bibi lagi" Akhirnya ia bisa berbicara dengan lancar setelah diam untuk beberapa saat, untuk mengatur detak jantungnya jika salah berbicara nantinya.
"Apa bibi yakin yang mereka katakan hanya itu? atau ada lain nya bi ? "
"Tidak ada tuan, hanya itu"
"Coba bibi telepon Imelda karena sedari tadi aku menelponya tapi tidak di angkat begitu pun juga dengan Raka"
__ADS_1
"Baik tuan"
Tut Tut tut
"Tidak di angkat juga tuan"
"Huffft, baiklah kalau begitu bibi bisa lanjutkan bekerja. aku akan coba ke Toko Kuenya siapa tau dia langsung kesana"
"Baik tuan, semoga saja nyonya memang berada di sana. Saya permisi tuan"
"Hmm makasih bi"
"Baik tuan"
***
Raka dalam perjalanan pulang, niatnya ingin berkeluh kesah dengan sahabatnya malah ia di usir sebelum berucap satu kalimat pun. memang dasar sahabat yang durjana. Pikirnya.
Di saat seperti ini ia ingin di dampingi oleh dua sahabat gesreknya. Tetapi keduanya sedang sibuk dengan urusan masing-masing dan sebagai sahabat yang cukup pengertian ia pun mengalah dan membiarkan mereka dengan urusanya.
Dan di sinilah ia berada di sebuah rumah yang sudah membesarkan nya. dengan langkah gontai ia berjalan, perasaan gugup mulai menyerangnya dan ia berusaha untuk menguasai itu semua. Hingga saat sudah sampai di ambang pintu ia mendengar suara yang tak asing karena sedari tadi ia berjalan dengan kepala tertunduk hingga tak menyadari ada seseorang yang berdiri dengan garis lurus tepat di depanya.
" Dari mana ?" Suara datar itu seperti terdengar mengerikan di telinga Raka.
Deg
Suara itu, kenapa seperti suara ayah.
gumam Raka dalam hati. sampai ia mengangkat kepalanya dan pandangan nya langsung bertemu dengan kedua netra milik Emir.
"A---ayah kenapa pulang tak memberi kabar?" Gugup. yah Raka sangat gugup ia mati - matian mengatur nafas tapi gagal, yah kali ini bahkan tenggorakanya terasa tercekat. Bagimana jika ayahnya tau dengan apa yang sudah ia lakukan pada wanita yang masih menjadi istrinya.
"Dari mana ?" Ulang Emir dengan sorot mata yang tajam.
__ADS_1
"Hmm, i--tu ak.. aku dari Apartemen Gio yah" dia tidak berbohong kan memang ia baru saja dari sana.
"Kamu tidak berbohong kan" Selidik Emir.
"Untuk apa aku berbohong yah, jika tidak percaya tanyakan langsung saja pada Gio. mumpung dia belum berangkat ke Bogor karena dia akan meninjau langsung Hotelnya di sana"
"Hmm ayah percaya, lalu mengapa kau terlihat gugup? "
"Hah? tidak aku tidak gugup aku biasa saja yah"
"Lalu kemana mama mu ?"
Kening Raka berkerut, ia bingung.
pasalnya ia sudah memastikan wanita itu menaiki taksi. tapi kenapa ayahnya malah balik bertanya padanya.
"Bukan nya sudah pulang yah ?"
"Jika sudah pulang ayah tak mungkin bertanya padamu"
"Kata bi Imah semalam kalian pergi melihat pameran Seni"
"Kami memang pergi ke pameran yah. Setelah selesai kami pulangnya berpisah" Bohong, ini pertama kali nya Raka membohongi sang Ayah.
Lalu kemana dia??
"Harusnya tadi aku mengikutinya bukan malah ke Apartemen Gio, bagaimana jika ia bunuh diri karena kejadian semalam." gumam Raka dengan raut kekhawatiram yang kentara.
......................
gugup nggak tuh π
Slow update π
__ADS_1