Mengandung Anak Dari Anak Tiriku

Mengandung Anak Dari Anak Tiriku
Kerinduan yang Tersampaikan


__ADS_3

...HAPPY READING β™₯...


πŸƒπŸƒπŸƒ


"Kamu sebenarnya kemana sih, Akkkhhhh" Raka meremat rambutnya kasar merasa frustasi dengan yang terjadi.


"Ku mohon jangan berbuat nekat, ku mohon maafkan aku" lirih Raka. untuk pertama kalinya ia merasa sangat bersalah pada seseorang.


***


"Imelda" Pekik


"Kamu kenapa? kok keliatan berantakan gini habis berantem ?"


"iiishh kamu mah, orang lagi sedih malah di kira berantem. bukanya di suruh masuk dulu kek bikinin minum kek ini malah di biarin berdiri di depan rumah" gerutu imelda sebal pada sahabatnya yang rada lola di antara persahabatan mereka bertiga.


"Maaf - maaf ayo masuk dulu hehe"


"Telat"


"Astagfirullah belum telat kali, satu orang ini kenapa coba"


"Langsung ke kamar aku aja yuk" Sambung gadia itu lagi.


"Ini kamu minum dulu"


"Sudah? "

__ADS_1


Imelda hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Kamu sebenarnya kenapa ? dan dari mana ? Mata kamu keliatan sembab gitu habis nangis? Emir emang belum pulang?"


"Satu satu nanya nya" protes Imelda


"Ya udah tinggal jawab aja kali, lagian kan ini bukan matematika yang kata kebanyakan orang susah."


"Iiiishhh"


Imelda pun akhirnya menceritakan semua dari awal hingga akhir tanpa ada yang terlewat satu pun. meski sahabatnya yang satu ini rada ngeselin plus lola { Loading Lama } tapi jika dalam situasi serius ia masih cukup waras untuk mendengarkan ceritanya.


Amara yang mendengar cerita sahabatnya tanpa terasa meneteskan air matanya dari dulu hingga sekarang kehidupan sahabatnya ini penuh luka, ia ikut terisak dan memeluk tubuh wanita rapuh itu dengar erat membiarkan wanita itu menyalurkan semua rasa sakitnya.


Tak terasa Imelda tertidur dalam pelukan Amara, gadis itu perlahan melepaskan pelukanya, lalu membaringkan wanita itu sepelan mungkin agar tidak terusik tidurnya lalu menyelimutinya dan ia pun ikut berbaring di samping sahabatnya dan memeluknya.


...****************...


Hingga tetiba Emir teringat dengan dua sahabat istrinya yakni Amara juga Ica, tetapi setahunya salah satu dari mereka ada yang menetap di Negara singapore karena di terima di salah satu universitas impianya dan ia tidak ingat yang mana. hingga ia datang ke rumah Ica karena dulu pernah menjemput istrinya saat masih menjadi kekasihnya. dengan ragu ia turun dari mobil, sedikit merapikan jasnya lalu memberanikan diri untuk mengetuk pintu rumah yang terlihat sunyi itu.


Tok tok tok


Hingga ketukan ketiga tak ada sahutan dari dalam, Emir tidak menyerah ia terus mengetuk pintu hingga akhirnya pintu terbuka menampilkan perempuan paruh baya yang mungkin usianya hanya beda beberapa tahun saja.


"Maaf cari siapa ya?" Tanya perempuan paruh baya itu saat merasa tak mengenali pria di depan nya.


"Apa benar ini rumahnya Ica?" Sudah tau tetapi menanyakan lagi, karena ia takut jika salah rumah walaupun ia ingat betul dengan dekor rumah dan warna catnya masih sama.

__ADS_1


"Oh iya benar, tetapi Icanya ada di Singapura" Jelas perempuan itu.


"Ooh begitu, emmm sebenarnya saya mencari istri saya Imelda. Apa dia ada mampir kesini ya soalnya sudah hampir dua minggu dia pergi"


"Ooh anda suami dari nak Imelda, dia tidak ada mampir kesini. mungkin saja di rumahnya Amara. karena jika tidak di sini ia biasanya di sana"


"Benarkah? Apa saya boleh meminta alamat rumahnya Amara"


"Boleh, tunggu saya tuliskan dulu ya"


"Iya terimakasih"


******


Setelah mendapat alamat rumah salah satu sahabat istrinya, ia tak membuang waktu lagi, ia langsung menuju kesana ya lumayan agak jauh dari rumahnya ataupun rumah sahabatnya yang bernama Ica. Hingga ia sampai di rumah minimalis dengan taman berada di samping rumah dan matanya tak sengaja menangkap sosok perempuan mungil yang selama ini ia cari ya, ia melihat Imelda sedang menyiram tanaman karena istrinya ini memang senang dengan hal - hal yang berbau alam salah satunya menanam dan merawat tumbuhan.


Dengan langkah tergesa ia turun lalu menghampiri perempuan itu, di dekapnya perempuan itu dari belakang hingga membuat sang empunya terkejut dan refleks menginjak kakinya.


"Aaakkkkh sakit Imelda" Pekik Emir. ia yang mendengar suara teriakan yang tak asing itu pun menoleh dan kedua netranya berkaca - kaca karena sosok yang di rindukan sejak lama kini berada di depan nya, tanpa menunggu lagi ia langsung memeluk tubuh kekar itu. menangis menumpahkan semua air mata juga kesedihan yang selama ini memenuhi pikiranya. Emir pun sama, rasa sakit di kaki nya yang sebenarnya tidak seberapa itu langsung teralihkan dan memeluk tubuh mungil itu dengan erat menyalurkan semua kerinduan yang selama ini terpendam. keduanya hanyut dalam pelukan yang begitu lama, menyalurkan semua rasa kerinduan yang menbuncah berbulan - bulan lamanya. Emir sadar ia bersalah dalam hal ini karena membiarkan istrinya sendirian.


"Maaf" Ucap Emir setelah lama membisu.


"Maaf karena baru datang"


"Maaf karena membiarkan kamu sendirian selama ini"


"Maaf karena aku yang egois dan tidak memikirkan perasaanmu sama sekali"

__ADS_1


"Maaf sayang, aku tahu beribu maaf yang aku ucapkan tak akan berarti apapun untukmu. Tapi aku mohon pulanglah temani aku kembali, aku janji tidak akan meninggalkan kamu lagi."


...****************...


__ADS_2