
Jam istirahat. Maya dan geng sableng nya pergi ke kantin. Maya yang terus cemburut.
''Lu kenapa si? Gue perhatiin dari tadi, moyongggg aja tuh bibir.'' Ucap Pitri. Tarik nafas, ''Au akh. Gue lagi males se... gala-galanya.'' Maya membaringkan tubuhnya di atas meja kantin. ''Woy!!!'' Robin dan Roy yang baru saja tiba. ''Eh, Maya. Lo tadi pagi kenapa? Kok tiba-tiba Lo di panggil kepala sekolah?'' Ucap Roy penasaran. Begitu juga yang lainya.
''Wah... jangan-jangan... Lo nyolong nya?'' sambung Robi. ''Lama-lama Gue tabok juga tu mulut.'' Kesal Maya. ''Eh. Tapi, Gue juga penasaran. Kenapa Lo bisa di panggil ke pala sekolah?'' Jiwa kepo Pitri semakin meronta-ronta. Sedangkan Hana yang masih berkabum. Karena penghianatan Deri kepadanya.
''Sebenarnya Gue males ngebahas masalah ini. Tapi... Gue penasaran, Siapa yang sudah nyebarin video itu.'' Berpikir. ''Maksud Lo! video apa?'' Tanya Pitri semakin penasaran.
''Itu, video keributan kemarin. Yang di caffe. Tapi, video itu sudah di edit sedemikian rupa. Sehingga Gue lah dalangnya. Dan tadi pagi, Gue hampir saja di keluarkan dari sekolah ini.''
__ADS_1
''Prutt... .'' Semua minuman yang ada di mulut Robin keluar. ''Robin... iwh menjijikkan!'' Pitri mengambil tisu. ''Sorry Pitri. Gue nggak sengaja.'' Ucap Robin. ''Ini semua gara-gara Gue. Gue minta màaf may... .'' Hana meminta maaf. Air matanya lolos dari sudut matanya. ''Ini bukan salah Lo Hana. Tapi, sepertinya memang ada orang yang tidak suka sama Gue. Lalu dia merubah video itu. Agar Gue di tendang dari sekolah ini.''
Kemudian Maya tersenyum, ''Tapi... untungnya ada pak Kevin. Hehehe... .'' Kini mereka makin penasaran. ''Pak Kevin?'' Tanya Roy dan yang lainnya secara bersamaan. Maya mengangguk. ''Yups. Dia... bahkan menaruh kan harga dirinya demi Gue.'' Pitri semakin mendekat kan wajahnya. ''Cius May?'' Maya mengangguk. ''Wah... kayanya kita bakal jadi nih traktir si Maya.'' Ucap Robin.
Tapi senyum manis yang menghiasi wajah cantik Maya seketika menghilang. berubah menjadi gumpalan awan hitam. ''Tapi Gue kesel sama pak Kevin.'' Cemberut. Ke empat sahabat itu kini saling lempar pandangan. ''Gue kesel. Padahal, niat Gue baik. Gue mau neraktir pak Kevin, sebagai tanda terima kasih Gue. Karena Dia telah membantu Gue.''
Pitri mulai bingung, ''Terus... .'' Wajahnya semakin dekat dengan Maya. ''Ahk... Dia malah menolaknya. Dan berkata, memang Kamu punya uang? padahal... Gue sudah membayangkan makan berdua bareng pangeran Gue... .'' Maya menyenderkan tubuhnya di kursi. ''Hahaha.'' Robin dan Roy tertawa. ''Pufh... Gue kira Dia mau bilang ayo Maya. Ternyata... Hahaha... UPS sorry.'' Pitri menutup mulutnya.
Jam pelajaran telah berakhir. Pertanda waktunya pulang sekolah. ''Lo gak pulang?'' Tanya Pitri. ''Lo duluan aja.'' Jawab Maya yang masih duduk di kursi nya. ''Ok. Kalau gitu Gue duluan ya. Bye... .''
__ADS_1
Semua murid mulai keluar satu persatu. Kini tinggal Maya dan Kevin yang ada di dalam kelas itu. ''Maya. Buka buku mu!'' Perintah Kevin. Maya mulai membuka buku dan mengerjakan soal -soal yang di berikan Kevin.
''Salah. Kerjakan lagi.'' Maya kembali mengejar kan soal tersebut. ''Masih banyak yang salah. Ulangi!'' Tampa banyak protes, Maya kembali mengerjakan soal tersebut. ''Salah! Ulangi lagi!''
''Aahhhh... Bapak sengaja nya. Kenapa dari tadi salah terus!'' Kesal Maya. ''Jangan banyak protes. Cepat kerja kan. Kalau mau cepat-cepat pulang.'' Jawab Kevin. ''Bapak... .'' Maya menggaruk kepalanya dengan kasar.
Sementara Kevin hanya tersenyum. Entah mengapa Dia sangat suka melihat Maya cemberut. Di matanya, Maya terlihat sangat imut jika sedang cemberut seperti itu. Kevin berjalan menuju meja yang Maya tempati.
Maya yang sedang pokus mengerjakan soal -soal itu. Ia tidak tahu jika Kevin sudah berada di dekatnya. ''Aaah... kenapa susah sekali.'' Cerocos Maya. ''Ini begini, yang ini di kali kesini.'' Kevin menjelaskan cara kerja soal tersebut. kini tubuh Kevin dekat sekali dengan Maya. Kemudian, diam-diam Maya melihat wajah tampan Kevin. ''Deg... deg... .'' Jantung Maya berdebar kencang. Semua soal yang Kevin jelaskan tidak ada yang masuk ke kepala nya satupun. Semua penjelasan tersebut berjatuhan saat mengenai kepala Maya.
__ADS_1
''Takk... .'' Sebuah ujung bolpoin mendarat di kepala Maya. Dan menghancurkan semua khayalan Maya. ''Aw... .'' Memegang keningnya yang sakit. Karena benda keras itu. ''Cepat kerjakan!'' Kevin kembali ke kursi nya dan tersenyum.