
"Ting Tong... ." suara bell pintu. Segera Kevin membukakan pintu. Terlihat seorang pria seumuran dengan nya tengah berdiri di depan pintu rumah nya.
"Mana barang nya?" tanya Kevin. "Sabar dong bro. Nih." menyerah kan benda tersebut. Sementara Kevin menyerahkan beberapa lembar uang kertas pada laki-laki itu. "Thank you bro. Oh ya. Aku tidak menyangka ternyata kamu pemakai juga." ucap Wandi.
"Bukan urusan mu!" jawab Kevin ketus. "Ok. Kalau begitu aku pergi dulu. Jika perlu lagi. Kamu tinggal hubungi ku. Ok." kata Wandi lalu pergi dari hadapan Kevin.
Kevin pun segera menutup pintu rumahnya. Lalu masuk ke dalam kamarnya, dan memberi kan benda tersebut kepada Maya. Dan dengan senang hati Maya menerima benda tersebut. "Thank you... ." ucapnya.
Kemudian Kevin pergi ke ruang tengah. Sementara di dalam kamar, Maya tengah asyik menikmati benda tersebut. Kevin pun duduk termenung. Memikirkan nasib wanita yang sangat di cintai nya itu.
Bahkan, berkali-kali Kevin mengusap kepalanya dengan kasar. "Sial! Sial! Aku laki-laki macam apa. Harusnya tadi aku tidak memberi nya. Harusnya aku membiarkan dia. Tapi... tapi aku tidak tega melihat nya menderita seperti itu. Aaa~ ." lalu memukul kursi dengan tangannya.
Kevin segera bangkit dari tempat duduknya. Masuk ke dalam kamarnya. "Pak Kevin." ucap Maya. Maya pun berdiri menghampiri Kevin yang berdiri di depan pintu.
Mulai terpengaruh obat. Maya pun melingkar kan tangannya di leher Kevin. Menggoda Kevin. Bahkan Kevin semakin heran dengan sikap dan tingkah Maya. "Kenapa dia jadi seperti ini." ucap nya di dalam hati.
Masih melingkar kan tangannya di leher Kevin. Berjalan dan membawa kevin ke tempat tidur. Kini tubuh Maya berada tepat di atas tubuh Kevin. Mengusap lembut bibir Kevin dengan ibu jarinya. "Sayang. kenapa kamu diam saja? Kamu tidak biasanya seperti ini." rengek Maya karena sedikit kecewa.
"Sayank. Apa kamu tidak menginginkannya. Biasanya kamu akan sangat agresif." ucap Maya kemudian. Mendengar perkataan tersebut Kevin semakin penasaran dan curiga.
Kevin pun segera bangkit. Dan kini tubuh Maya tepat di bawah kukungan Kevin. Kedua tangannya memegangi kedua pergelangan tangan Maya. "Maya. Apa maksud dari perkataan mu? Katakan!" tegas Kevin.
"Katakan! selama ini kamu tinggal bersama siapa? Siapa yang sudah mengajarimu seperti ini?" tanya Kevin dengan amarah yang meluap-luap.
Maya pun sedikit menyunggingkan senyuman di bibirnya. "Heh. Jangan pura-pura. Aku tahu, kalian terutama kamu. Kamu sama dengan laki-laki lain. Kamu juga menginginkannya, kan?" ucapnya sedikit merendahkan.
"Kamu menolong ku. Karena kamu juga ingin sesuatu kan dari ku. Karena tak ada orang yang benar-benar mau menolong seseorang. Kecuali, jika orang itu berharap lebih. Aku tahu itu. Jadi, jangan pura-pura seperti itu. Ayolah, aku memang harus membalas kebaikanmu." jelas Maya.
__ADS_1
"Sial! kenapa dia bisa berkata seperti itu. Apa dia pikir aku ini laki-laki seperti apa." ucap Kevin di dalam hati. "Baik. Jika itu yang ada di pikiran mu. Maka, akan aku buktikan seberapa bejadnya aku." ucap Kevin penuh amarah.
Kevin pun mulai menc*mbu bibir Maya dengan kuat. Lalu, Kevin mulai memberikan kec*pan ke setiap inci tubuh Maya. Namun, Kevin melihat ekspresi Maya tak menandakan rasa takut atau pun sebuah perlawanan terhadap nya. Yang terlihat justru Maya tampak seperti biasa saja.
Saat itulah, Kevin benar-benar marah. Di dalam hatinya Kevin bertanya-tanya akan sikap dan tingkah laku Maya. Kevin pun bangkit dan mengepalkan kedua tangannya dengan sempurna.
"Katakan! Apa kamu pernah melakukan nya?" tanya Kevin penasaran yang berdiri di samping tempat tidur. Namun bola matanya menatap tajam ke arah Maya. Maya pun mulai bangkit dan berdiri di hadapan Kevin.
"Untuk apa bertanya seperti itu. Apa itu penting untuk mu?!" ucap Maya. Kemudian Maya membelai lembut wajah tampan Kevin dengan jari-jari lentiknya. "Aku bukan siapa-siapa mu lagi. Jiadi, kamu tidak berhak bertanya seperti itu padaku."
"Oh. Kamu begitu tampan dan gagah. Jika kamu menginginkan nya, Aku berikan free untuk mu. Tapi, jika kamu menolaknya tak masalah. Yang jelas, kamu orang pertama yang aku berikan secara free."
"Heh. Benar-benar gadis liar." ucap Kevin dengan sedikit menyunggingkan senyuman di bibirnya. Kevin segera meraih tangan Maya lalu memeluk tubuh Maya.
"Katakan! Berapa bayaran mu permalam. Aku akan membayar 2 kali lipat." Lalu Kevin membawa tubuh Maya ke atas tempat tidur. "Sayang. Siapa laki-laki pertama yang beruntung itu?" Tanya Kevin intens di telinga Maya.
"Kenapa?" tanya Kevin penasaran. "Ayolah. Bukankah tadi kamu begitu agresif. Kenapa sekarang jadi diam seperti itu?" ucap Kevin. "Tidak! Jangan. Jangan sentuh aku. Jangan sentuh aku!" teriak Maya.
"Heh. Maya. Jangan berlagak polos seperti itu. Tadi kamu begitu lihai. Kenapa sekarang jadi berlagak polos seperti itu. Ayolah sayang, Kamu harus memadamkan api yang kamu buat."
 Memegang kepalanya dan menangis histeris. "Jangan sentuh aku... ." lirihnya. "Maya. Maya. Kamu kenapa? sadarlah. Sadar!" ucap Kevin menenangkan Maya.
Lalu, Kevin memegang wajah Maya dan menatap nya. "Katakan. Apa yang terjadi. Siapa laki-laki yang kamu maksud itu?!" tanya Kevin perlahan.
Setelah cukup tenang. Maya pun mulai menceritakan semua nya ke pada Kevin. Mulai dari dirinya yang di tipu Silvi dan menjualnya ke pada jefrin. Hingga dia menjadi pecandu narkoba karena ulah Doni.
Bahkan, Doni tak hanya sekali meminta Maya untuk memuaskan nafsu bejad nya itu. Dan di saat itulah, Maya benar-benar hidupnya sudah hancur. Dan sudah tak percaya lagi pada siapapun. Karena dalam pikirannya, Semuanya sama saja.
__ADS_1
Kevin memeluk Maya dengan erat. Hatinya benar-benar sakit mendengar penjelasan tersebut. Bahkan terlihat bola mata Kevin yang mulai berkaca-kaca. "Kenapa hidupmu begitu menderita. Aku janji, aku akan membalas semua perderitaanmu. Dan mulai sekarang, akan aku pastikan ini hari terakhir kamu menderita. Detik ini hingga seterusnya, kamu akan mendapatkan kebahagiaan mu yang sesungguhnya." janji Kevin di dalam hatinya.
Sementara tangannya yang sudah gatal ingin sekali menghajar para bajingan itu. Maya yang masih menangis histeris. "Aku sudah kotor. Aku kotor." lirihnya.
"Jangan menangis lagi ya. Dan tinggal lah disini. Hentikan mengatakan bahwa dirimu kotor. Karena aku membenci nya." ucap Kevin kesal.
"Tapi itu kenyataan nya. Aku memang kotor. Aku tak pantas berada di dekat bapak. Aku malu... ." menundukkan kepalanya.
"Aku tidak pernah menganggap mu kotor. Kamu adalah Maya yang dulu aku kenal. Maya yang selalu ceria. Maya yang aku cintai."
"Sudah ya. Jangan menangis lagi. Kamu sudah aman disini." kembali memeluk Maya.
"Terimakasih. Bapak selalu menjadi yang terbaik di hidupku. Aku tidak tahu, harus bagaimana aku membalas kebaikan mu."
"Aku tidak butuh balasan darimu. Cukup kamu berada disisi ku. Dan jadilah ibu dari anak-anakku kelak. Itu sudah cukup bagiku."
Kemudian Maya menengadahkan wajahnya. Menatap wajah Kevin. "Maksud bapak apa?" tanya Maya keheranan. "Apa kamu masih belum paham. Atau mau aku lebih perjelas lagi. Maya. Aku sudah dewasa, Aku bukan anak remaja lagi. Aku serius, Aku ingin kamu jadi calon istri ku. Bagaimana? apa kamu mau?" tanya Kevin pada Maya.
"Itu tidak mungkin. Aku sudah bukan gadis lagi. Jadi, aku tak pantas untuk bapak. Lebih baik, bapak cari wanita lain saja."
Meraih tangan Maya. Dan memegangnya. "Maya. Aku tak perduli kamu gadis atau bukan. Itu sudah tidak penting lagi untuk ku. Aku menerima semua kekurangan dan kelebihan mu. Aku tulus mencintai mu. Jadi, aku mohon kamu menikah lah denganku."
"Deg... ." jantung Maya berdetak kencang. "Bapak... Apa bapak yakin? Bapak tidak sedang bercanda, kan?" tanya Maya yg tak percaya. "Aku serius. Menikahlah denganku. Jadilah ibu dari anak-anakku kelak. Dan untuk menyakinkan mu, Bulan depan kamu ikut denganku ke Surabaya. Kita temui orang tuaku."
Terlihat Maya begitu bahagia dan mengiyakan tawaran tersebut. "Terimakasih pak. Aku janji, aku akan berubah. Aku akan berhenti mengkonsumsi obat-obatan itu lagi. Dan aku akan jadi calon istri mu yang baik. I love you pak Kevin... ." tersenyum.
"Heh. Dasar kelinci kecil yang nakal." mencubit hidung Maya. "Akh. sakit tau." lirihnya. "Iya. Iya. Maaf ya sayang." ucap kevin pada Maya.
__ADS_1