Mengejar Cinta Pak Guru Tampan

Mengejar Cinta Pak Guru Tampan
kecewa


__ADS_3

Keesokkan paginya....


Jam 05:30. Maya bangun dari tidur nya. Ia segera mengambil hp yang tak jauh dari nya. Membuka pesan. Mungkin saja semalam guru tersebut membalas pesan darinya. Dan ternyata Kevin tidak membalas pesan tersebut. Namun, bukan Maya dong namanya. Kalau harus kalah sebelum perang.


Ia kembali mengirim massage ke pada Kevin.


''Pagi Pak ganteng?😊 sudah bangun belum?'' Isi dalam massage. Lama Ia menunggu. Namun, Kevin tak jua membalas pesan dari dirinya. Karena sekarang hari Minggu. Jadi Dia tak perlu ke sekolah. Atau bermain bersama teman-temannya. Ia lebih memilih diam di rumah.


Waktu menunjukkan pukul 10 siang. Maya yang sedang berbaring di atas tempat tidur.


''Tumben gak kemana-mana. Biasanya juga keluyuran?'' Ucap Bu Hesti. ''Lagi males.'' Jawab Maya yang terbaring di tempat tidur.

__ADS_1


Selang beberapa menit kemudian. Terdengar suara sebuah kendaraan berhenti di depan rumah nya. Pak Wawan, Bapak Maya saat itu yang sedang duduk di depan rumah. Dan di temani segelas kopi hitam .


''Assalamu'alaikum Pak... .'' Doni mencium punggung tangan pak Wawan. ''Wa'alaikum salam... .'' Jawab Pak Wawan. ''Kemana aja nih. Baru keliatan?'' Sambung Pak Wawan. Dulu, Doni saat masih pacaran dengan Maya. Dia sering datang ke rumah Maya. Jadi Pak Wawan dan Doni sudah saling kenal dan akrab.


''Hehe... ada om. Cuman... kemarin -kemarin sedikit sibuk. Soalnya, bantuin Papah di bengkel.'' Jawab Doni dengan sopan. ''Wah... bagus itu.'' Tersenyum. ''Oh ya om. Maya nya ada?'' Tanya Doni. ''Ada. Ada. Duduk saja dulu. Biar om panggilkan dulu si Maya.'' Perintah pak Wawan. ''Iya om. terimakasih kasih... .''


Doni pun duduk di kursi. Semantara pak Wawan pergi kedalam memanggil Maya. ''Nggak mau akh. Lagian ngapain si Dia kesini?'' Cetus Maya. ''Heh. Gak boleh gitu jadi anak perempuan. Pamali. Sekarang Kamu temuin Dia dulu.'' Maya pun dengan tekpaksa pergi ke luar menemui Doni. Dengan kaki yang di hentak-hentakkan.


''Ngpain sih Lo kesini lagi?'' Tanya Maya dengan ketus. ''Gue kesini mau ajak Lo main keluar.'' Tersenyum. ''Gue nggak mau. Lo pulang aja sana!'' Jawab Maya dengan ketus.


Bu Hesti yang membawa nampan berisi minuman.

__ADS_1


''Hus. Nggak boleh gitu.'' Tangan Bu Hesti menaruh minuman tersebut di atas meja. ''Terimakasih Tante... .'' Ucap Doni. ''Tante. Om. Saya mau minta ijin keluar bersama Maya. Boleh?'' Doni meminta ijin kepada Ibu dan ayah Maya. ''Iya silakan. Tapi pulang nya jangan kemalaman nya.'' Pinta Bu Hesti. ''Iya Tante.'' Jawab Doni.


Karena Bu Hesti terus memberikan tatapan maut. Akhirnya, Maya mengalah dan pergi bersama Doni menggunakan mobil. ''Om. Tante. kita berangkat dulunya?''


''Iya... hati-hati. Jangan ngebut-ngebut.'' Ucap Bu Hesti. ''Iya. Titip anak om.'' Teriak. ''Siap Om.''


Mereka pun mencium punggung tangan Bu Hesti dan pak Wawan secara bergantian. Lalu mereka masuk ke dalam mobil. Sepanjangan perjalanan. Maya hanya terdiam 1000 bahasa. Bahkan, Dia tidak tahu apa yang Doni bicarakan. Karena, Ia tidak begitu merespon ucapan Doni. Matanya terus melihat ke arah jendela mobil.


Selang beberapa menit, penglihatannya menangkap sesosok Pria. Yang tak asing lagi di matanya. Laki-laki itu sedang bersama seorang wanita. Ia tampak tersenyum full pada gadis itu. Seyuman yang tak pernah Maya lihat selama ini. Matanya membulat sempurna. Tangan nya mengepal. ''Pak Kevin...?'' Ucap Maya dalam hati. ''Tapi... siapa wanita itu?'' Penuh tanda tanya. Lalu wajanya menunduk.


''Ternyata... Dia sudah mempunyai pasangan. Pantas saja Ia selalu nampak cuek dan tidak membalas pesan dariku. Gadis itu juga sepertinya masih muda. Mungkin... seumuran dengan ku.'' Kecewa. Maya benar-benar kecewa. ''Kamu kenapa?'' Doni bertanya pada Maya. Namun, Maya tidak menjawabnya. Ia hanya menggeleng-gelengkan kepala nya.

__ADS_1


__ADS_2