Mengejar Cinta Pak Guru Tampan

Mengejar Cinta Pak Guru Tampan
Maya Dan Doni


__ADS_3

Beberapa hari semenjak kejadian malam itu. Maya mengunci dirinya sendiri di dalam kamar. Ia tampak prustasi akibat kejadian malam itu. Bahkan, Sering kali Silvi mengetuk pintu kamarnya dengan sangat keras. Namun Maya tak menghiraukan nya.


Kali ini ia menyesal karena tidak menuruti perkataan Kevin. "Pak Kevin. Harusnya dulu aku percaya padamu. Mungkin ini semua tidak akan pernah terjadi." ucap nya penuh penyesalan. Sementara di luar kamar sana Silvi nampak marah dan masih mengetuk pintu kamar Maya. "Tok! Tok!."


"Dasar anak sialan. Maya buka pintunya! Buka!'' teriak Silvi. Kevin yang baru saja tiba, mendengar suara Silvi dari dalam rumah. segera Kevin menerobos masuk ke dalam rumah Silvi. Lalu menendang pintu kamar Maya dengan sangat kuat. Cukup dengan beberapa tendangan saja. "Brak... ." pintu kamar pun terbuka.


"Pak Kevin... ." ucapnya pelan. Segera Kevin memeluk Maya. Dalam ingatan Maya. terlintas ingatan di mana saat dirinya di jajal laki-laki jahanam itu. Maya mendorong tubuh Kevin. Dan menjerit histeris karena ketakutan. "Jangan. Jangan mendekat." ucapnya berjalan mundur.


"Apa yang terjadi? Ini aku?!" menyakinkan. "aaaa~ jangan. Jangan sentuh aku. Lepaskan!" teriaknya dengan kedua tangannya berada di kepalaku.


Melihat kondisi Maya yang seperti itu, Kevin benar-benar terpukul. Dia Mengepalkan kedua tangannya dengan sempurna. Melihat ke arah Silvi dengan tatapan tajam. "Apa yang kamu lakukan padanya?!" penuh amarah. "Aku tidak melakukan apa-apa padanya." ucapnya Tampa ragu. "Bohong!" teriak Kevin. Hinnga Silvi terperangah.


Mencekik leher Silvi. "Aku tanya sekali lagi. Apa yang kamu lakukan padanya. Jawab!!"


Berusaha melepaskan tangan Kevin dari lehernya. "Le-lepaskan. Lepaskan jika kamu tidak ingin menjadi seorang pembunuh." ucapnya. Kevin pun segera melepaskan tangannya dari leher Silvi. "Uhu... Uhuk... ." ¹


 "aaaa~ ." teriak Kevin. Memukul tembok dengan keras. Karena melampiaskan rasa amarah yang memuncak.


Segera Kevin membawa Maya dengan menggendong tubuh Maya. "Hentikan. Kamu mau membawa dia kemana?!" teriak Silvi. Namun Kevin tak menghiraukan teriakan Silvi. Dia tetap membawa Maya dari sana.


Memasukan Maya ke dalam mobilnya. Lalu Kevin segera melajukan roda empat miliknya. Di tengah-tengah perjalanan. Karena Maya yang terus histeris karena ketakutan. Kevin segera menghentikan mobilnya. Memeluk paksa Maya. Lalu menc*um Maya dengan paksa. Guna menenangkan Maya. "Tes... ." menetes lah air mata Kevin.

__ADS_1


Masih menc*um bibir Maya. Lalu menatap intens wajah Maya. "Maya. Apa yang terjadi. Ini aku, Apa kamu melupakan ku?!" tanya Kevin hati-hati.


Masih menatap wajah Kevin. "Pak Kevin... ." ucapnya lirih. "Ya. ini aku."


''Kenapa bapak menangis?" menghapus air mata Kevin dengan tangannya. "tidak apa-apa." jawabnya. "Mulai sekarang, Kamu tinggal denganku, ya?"


Maya menunduk kan kepalanya. "Maaf pak. Aku rasa, hubungan kita sampai disini saja. Aku rasa, Aku tak pantas untuk bapak. Lebih baik bapak... ." belum selesai Maya menyelesaikan perkataan nya. Segera Kevin meraih pucuk ranum Maya.


"Tidak. Aku tidak mau mendengar nya." ucap Kevin di dalam hatinya. Menyantap rakus mulut Maya. Semakin lama semakin memanas. Mengubah posisi kursi mobil. Menghimpit tubuh Maya di bawah kukungan nya. Semakin memanas. "Tidak. Ini tidak boleh terjadi." ucap Maya di dalam hatinya.


Segera Maya mendorong kuat tubuh Kevin. Lalu menampar pipi Kevin. "Apa yang bapak lakukan?!"


"Aku... ." ucap Kevin termenung. "Aku pertegas. Mulai saat ini, kita putus. Aku tidak mencintaimu. Aku hanya pura-pura mencintaimu." Bohong Maya. Segera Maya keluar dari mobil Kevin.


Tak lama kemudian, sebuah mobil berhenti tak jauh dari tubuh Maya. "naiklah." ajak Doni. Dan segera Maya naik ke dalam mobil Doni. Lalu mobil tersebut melaju dengan kencang nya.


"Aaaa~ ." teriak Kevin, mengusap kepalanya dengan kasar. "Maya... apa salahku. Kenapa kamu menyiksaku seperti ini."


Pagi berikutnya, Ana pergi ke Surabaya untuk tinggal di sana. Sekaligus ingin menenangkan pikiran. Ia benar-benar berharap dapat melupakan Andrea. "Mas kembali ya? Kamu hati-hati di sini." ucap Kevin pada adiknya.


"Dasar bocah gendeng! Kamu pikir adikmu tinggal dengan siapa hah? Ini ibumu." ucap ibu Kevin. "Sekarang. Kapan kamu akan melamar nak Agnes. Ibu sudah tidak sabar ingin menimang cucu." ucapnya kemudian.

__ADS_1


"Kevin belum mau menikah. Kevin kembali dulunya. Ibu dan Oma jaga diri baik-baik disini." ucap Kevin. "Kenapa kamu tidak menginap saja. Kamu kan baru sampai disini. Kembalinya besok saja." pinta Oma Kevin.


"Lain kali saja Oma. Kevin masih banyak kerjaan disana. Kevin kembali dulunya." pamitan. "Mas. Jaga diri baik-baik di sana. Beri kabar jika mas sudah menemukan Maya." pintah ana. "Ya. Mas pergi dulu." segera Kevin masuk ke dalam mobilnya.


"Maya? Maya siapa?" tanya ibu Ana penasaran. "Nanti ana ceritain. Sekarang kita masuk dulu ke dalam." ajak Ana pada ibunya. Lalu mendorong kursi roda yang diduduki oleh Oma nya.


Skip.


Maya tinggal bersama Doni. "Hei. Apa yang kamu pikirkan?!" tanya Doni yang baru masuk ke dalam kamar. Maya terperangah melihat kedatangan Doni. "Hah. Tidak ada. " jawabnya. "Aku tahu kamu pasti sedang memikirkannya." ucap Doni kemudian.


"Huh. Mengapa hidupku seperti ini. Ibuku sudah meninggal kan ku. Ayahku menikah dengan wanita jahat itu. Sampai kapan hidupku akan bahagia seperti orang-orang di luar sana. Rasanya aku ingin mati juga. Menyusul ibuku. Karena hidup pun aku sudah tak pantas." ucapnya berlinang air mata.


Doni memeluk Maya. "Maya. Apa kamu mau melupakan semua permasalahan mu?" tanya Doni. Dan Maya pun mengangguk kan kepalanya. "Aku tahu caranya, Bagaimana agar kamu bisa melupakan semuanya." ucapnya menyakinkan.


Lalu dia mengambil sebuah benda di dalam laci meja. "Cobalah. Kamu akan melupakan semuanya." ucap Kevin menyerahkan sebuah benda berupa alat penghisap. "Ayo. Hisaplah."


Dengan ragu-ragu. Lalu di hisap lah benda tersebut olehnya. Hingga lama-lama Maya menikmati nya. Dan hilanglah semua beban di dalam pikiran nya. Maya tersenyum, seolah ia sedang melayang di udara.


Doni yang melihatnya, nampak menyunggingkan senyuman di bibirnya. Membelai lembut rambut Maya. "Sayang. Apa kamu bahagia sekarang?!" tanya Doni. "Ya. Aku sangat bahagia. Terimakasih Doni." ucapnya.


"Glek... ." Doni menelan slipa nya. "Sial. Jika sedang seperti, Dia benar-benar menggoda." ucapnya. Kemudian Doni segera melahap rakus bibir tipis Maya. Dan Maya pun membalas c"Uman tersebut. Hingga kedua nya benar-benar memanas.

__ADS_1


Dengan penuh gairah Doni segera membuka pakaiannya dan pakaian Maya secara perlahan. "Maya. Siapa aku?!" tanya Doni. "jelas, Kamu mantan kekasih ku. Kenapa?" tanya nya. "Tidak. Apa kamu tahu apa yang kita lakukan saat ini?" tanyanya kembali. "Ya. aku tahu." jawabnya.


Mendengar jawaban tersebut, Doni semakin bersemangat menjajal tubuh Maya. "Aku tidak menyangka aku akan benar-benar mendapatkan nya." ucapnya dalam hati. "Sayang. Kamu begitu mempesona... ." ucap Doni instens. Dan Hingga beberapa kali keluar suara lenguhan dari mulut Maya. "..MMMhh aaakkhh."


__ADS_2