Mengejar Cinta Pak Guru Tampan

Mengejar Cinta Pak Guru Tampan
Turut Berduka Cita


__ADS_3

Terisak. Maya berharap semua kejadian hari ini hanyalah mimpi belaka. Wawan beserta istri nya datang. Wawan meminta maaf pada Maya dan mendiang istrinya. "Cukup! tidak perlu meminta maaf. Semua nya sudah terlambat. sekarang, kalian pergi dari sini. pergi!" teriak Maya.


"Maya. Bapak minta maaf. Bapak memang salah. Bapak bukan bapak yang baik untuk mu dan juga ibumu. Bapak menyesal sudah meninggal kan kalian." ucap Wawan penuh penyesalan. "Menyesal pun sudah tak berarti. Karena tidak dapat mengembalikan mamah kembali." kata Maya lirih. "Sekarang, bapak boleh pergi dari sini, Saya tidak mau melihat Bapak lagi" kata Maya.


"Sudahlah mas. kita pergi saja, anakmu memang tidak tahu berterima kasih. Masih untung kita mau datang kesini." kata Silvi kepada Wawan. kemudian Silvi menarik tangan Wawan dengan kuat. Namun, Wawan menepisnya. "Minggir!" teriak Wawan. "Sudah Cukup, selama ini, aku sudah cukup mengikuti semua kemauanmu!" tegas wawan kepada Silvi.


"Apa maksudmu? Jadi kamu mau meninggalkanku. Iya?" tanya Silvi ke pada Wawan. Silvi dan wawan pun beradu cekcok. Mereka saling menyalahkan satu sama lain. "Ini semua gara-gara kamu!" kata Silvi sembari menunjuk ke arah Wawan. "Kenapa? jadi aku yang salah, Bukankah dulu kamu yang selalu mendekatiku." balas Wawan.


Maya mulai geram melihat orang tuanya ribut di depan matanya. Dan orang-orang di sana saling berbisik, membicarakan perihal orang tuanya yang bertengkar di tempat duka. Mengepalkan ke dua tangan nya. "tidak Bisakah mereka diam. Dan kenapa harus ribut di sini? Ini hari terakhir mama, mama harusnya tenang dan bahagia. Bukan, menyaksikan pertengkaran dua orang yang tidak memiliki hati nurani ini." kata Maya di dalam hatinya.


Maya pun berteriak, menghentikan pertengkaran tersebut. "Hentikan!" Triak Maya. "Sudah cukup. Cukup. Tidak bisakah kalian diam. Ini hari terakhir mamah. Tolong, Hargai mamah. Biarkan dia beristirahat dengan tenang." kata Maya pada Wawan dan Silvi.


Kemudian Maya menyuruh seseorang untuk mengusir Wawan dan Silvi. "Pak. Tolong usir mereka. Saya tidak mau melihat mereka disini." kata Maya kecewa. Para tetua adat pun mulai menyuruh Wawan dan silvi untuk pergi dari sana dengan paksa. "Lepaskan! tidak perlu seperti ini. Aku juga akan pergi dari ini." teriak Silvi. Menepiskan tangan-tangan yang memegangi tangan nya.

__ADS_1


"Maya. Kamu dengar kan dulu bapak, Nak. Bapak minta Maat!" teriak Wawan. Maya berdiri menyaksikan kepergian Wawan. "Maya minta Maaf pak... Maya terpaksa melakukan ini." kata Maya di dalam hatinya. "May. Lo yang sabar nya?!" kata Hana menyemangati. "Ya. Lo yang sabar nya may." sambung Pitri.


Acara pemakaman pun telah usai. Orang-orang mulai pergi satu persatu. "May. Kita pulang dulu, nya?" kata Pitri pamit. "Iya. Thank nya. Kalian sudah datang ke sini." ucap Maya lirih. "May. Jika Lo perlu sesuatu jangan sungkan-sungkan hubungi gue." kata Robin ke pada Maya. "Terimakasih bin... ." Jawab Maya. "kita duluan nya may." sambung Roy. "Ya. kalian hati-hati ya." kata Maya


"Bapak. kalau mau pergi, pergi saja." kata Maya pada Kevin. "Tapi, bagaimana denganmu? tanya Kevin. "Bapak tidak perlu khawatir, Saya tidak papa." jawab Maya. "Tidak bisa. Aku harus tetap di sini. Aku khawatir padamu." kata Kevin. "Ana. Kamu bisa pulang sendiri, 'kan? Mas harus tetap di sini." ucap Kevin pada Ana. Karena khawatir pada Maya.


"Baik Mas. Aku pergi dulu ya?!" kata ana. Ana pun mulai berpamitan kepada Kevin dan Maya. Namun, sebelum anak pergi Ana berkata kepada Maya, "Maya, Aku minta maaf ya, selama ini aku sudah jahat kepadamu." kata ana. Maya pun tersenyum, "Yah. Aku sudah memaafkanmu sedari dari dulu. Ana. Terimakasih sudah datang ke sini." ucap Maya.


"Tapi, jika kamu tidak keberatan. Kenapa kamu tidak menginap di sini juga? Temani saya. Bagaimana?" tanya Maya. "Apa?" kata Ana. Lalu, melihat ke arah Kevin. Dan Kevin berkata, "Itu terserah kamu Ana?" kata Kevin pada adiknya. "Yah, mau yah, menginap di sini, please." pinta Maya pada Ana. "Hmm... Baiklah, kalau begitu." jawab Ana.


"Cih. nyebelin! Ayo Maya, kita tinggalkan mas Kevin di luar." Ajak Ana pada Maya. Maya pun sedikit menyunggingkan senyumannya. Seketika, hilang semua ke pedihan yang dia rasakan saat ini. "Hehehe... sudah. sudah. Kalian seperti tom dan jeri. Ayo kita masuk ke dalam, lagi pula hari sudah malam." Ajak Maya pada Ana dan Kevin.


"Jangan perdulikan dia Maya. Biarkan dia tidur di luar saja." Kata Ana. Kemudian Ana menjulurkan lidahnya ke pada Kevin. "Berarti, uang jajan dikurangin ya!" ancam Kevin. Menoleh. "Hah... Mas pelit. Bisa nya cuma ngancam." kata Ana kesal. "Heh. Terserah saya dong! Uang-uang saya." jawab kevin.

__ADS_1


"Cih. menyebalkan." kata ana. Kemudian Ana memohon pada Kevin. Agar Kevin tidak memotong uang jajannya. "Abangku ganteng... baik hati, suka menabung, dan cerewet. Please... jangan di kurangi uang jajan ku." Kata Ana terus memohon. "Lagu lama! Sudah Ketebak, pasti kamu akan berkata seperti itu." kata Kevin.


"Hihihi... Sudah. Sudah. Hentikan drama Korea kalian. Kalian mau masuk atau tidak?" tanya Maya. "Mas sih, cari gara-gara mulu. Maya jadi marah, 'kan?" kata Ana pada Kevin. Mereka pun mulai masuk ke dalam rumah Maya. Namun, baru saja beberapa langkah menginjak kan kaki. Terdengar suara seorang laki-laki memanggil nama Maya.


Dan seketika Maya menghentikan langkahnya. Begitu pun dengan ana dan Kevin. "Maya?" panggil Andrea. "Andrea?" kata Kevin. "Dokter Andrea? ada apa malam-malam kesini?" Tanya Maya. "Kevin. Ana. Kalian ada disini?" Tanya Andrea. "Ya. Rencana nya kami akan menginap di rumah Maya." Jawab Ana.


"Ah. Maya. Saya dengar dari pihak rumah sakit. Mamah mu... ." menghentikan Ucapan nya. "Ya." jawab Maya. Maya mulai teringat kembali akan kepergian ibunya. "Maya. turut berdukacita. Saya minta maaf. Saya tidak bermaksud seperti itu." Kata Andrea.


"Ka Andrea si? Sudah Maya. Kamu jangan sedih lagi. Ibumu, sudah bahagia sekarang. Dia sudah tidak sakit lagi. Kamu yang kuat ya?" kata ana sembari mengusap lembut pundak ana. "Ya. Terimakasih ana." Kata Ana. "Tidak perlu berterima kasih. Dulu, aku juga sama seperti mu. Aku sangat terpukul saat ayah ku, pergi meninggalkan ku untuk selamanya." kata Ana.


"Hmm... jadi, ana dan Kevin sudah tidak memiliki ayah." kata Maya di dalam hatinya. Mereka pun mulai masuk ke dalam rumah Maya. Ana dan Maya masuk ke dalam kamar. Sementara Kevin dan Andrea tinggal di ruang tamu.


"Kapan kamu kembali?" tanya Kevin. "begitu mendem kabar dari pihak rumah sakit. Aku langsung kesini." jawab Andrea. Karena sebelum nya Andrea memang sedang tidak ada di bandung. Dia sedang di jakarta, karena ada hal-hal penting yang harus segera di selesaikan.

__ADS_1


"Kevin? Sejak kapan kamu dan Maya saling kenal?" Tanya Andrea. "Sejak mengajar di sekolah nya!" jawab Kevin. "Apa? jangan bilang, dia gadis yang selalu kamu ceritakan itu?" kata Andrea. "menurut mu. Untuk apa aku menemani nya sekarang." jawab Kevin. "Hmm... ternyata, Maya lah gadis itu. Lalu, bagaimana dengan ku? harus kah aku mundur, atau tetap maju." kata Andrea di dalam hatinya.


__ADS_2