
''Sepertinya Gue harus melupakan pak Kevin.'' Ucap Maya dalam hati. Tak lama kemudian, roda empat itu berhenti di sebuah tempat. ''Sudah sampai.'' Ucap Doni. Doni turun dari mobilnya. Lalu, Ia membuka kan pintu mobil untuk Maya. ''Kita dimana?'' Tañya Maya. Karena, dari tadi Maya sibuk memikirkan Kevin. Sehingga, Ia tidak tahu Doni membawanya kemana.
''Kamu melamunnya?'' Doni balik bertanya.
''Kamu mikirin apa si? hmm... Aku perhatikan, Kamu dari tadi nampak murung?'' Sambung Doni. ''May. please... beri Aku kesempatan lagi. Aku akan memperbaiki semuanya. Aku janji.'' Doni memegang tangan Maya. ''Kamu ingat nggak tempat ini?'' Tanya Doni, coba mengingat kan Maya.
Maya melihat ke sekeliling tempat itu. ''Alun-alun kota.'' Tempat yang tak asing lagi baginya. Tempat dimana Ia dan Doni pertama kali bertemu. Pada saat itu, Maya dan ke dua temannya Hana dan Pitri sedang melihat festival. Ia tengah asyik mengobrol dengan kedua temannya. Karena saking asyiknya, Ia tak begitu memperlihatkan orang di sekitarnya. Hingga, Ia tak sengaja tubuhnya menyenggol seseorang.
Seorang anak laki-laki berparas tampan dan memiliki lesung Pipit di pipi kanan kirinya. Siapa lagi kalau bukan Doni Nugraha. Anak dari pemilik bengkel motor terbesar di Bandung. ''Yah... Aku ingat.'' Ucap Maya.
__ADS_1
...*****...
Keesokan paginya. Seperti biasa, Ia pergi ke sekolah. Sesampainya di sekolah. Dinda tampak heran melihat Maya. ''Loh... kok Dia... .'' Terus menatap Maya. Maya memarkirkan kuda besinya. Kemudian Ia turun dari motornya. ''Loh. kok Lo masuk sekolah. harusnya. 'kan...?'' Dinda menutup mulutnya.
''Sorry. Bisa diperjelas. Maksud Lo apa nya? ini kan hari Senin. Ya jelas lah Gue masuk sekolah.'' Ucap Maya lalu pergi melewati Dinda. Namun, baru saja beberapa langkah. Maya menghentikan langkahnya. Lalu berbalik dan berjalan ke arah Dinda. ''Tunggu. Tunggu... .'' Maya mencoba mencerna kembali pertanyaan dari Dinda.
Tubuh Dinda sedikit gemetar. Keringat panas dingin mulai keluar. Anak-anak mulai bergerumul, mengelilingi Maya dan Dinda. Tak ketinggalan juga Hana, Pitri, Roy dan Robin. ''Ada apa ini. Ada apa ini?'' Itulah yang orang-orang di sana katakan.
Kali ini, kesabaran Maya sudah benar-benar habis. Wajah putihnya mulai berubah ke merah-merahan. Karena amarah. Matanya yang membulat sempurna. Dadanya yang kembang-kempis. Dan tangan nya yang mengepal sempurna.
__ADS_1
''Oh... Jadi Lo yang nyebarin video itu?'' Tanya Maya. ''Video... video apa?'' Pura-pura tidak tahu. ''Lo jangan pura-pura. Gue tahu itu perbuatan Lo!'' Amarah nya kian memuncak.
''Belum cukup dulu Lo ambil Doni dari gu! apa salah Gue sama Lo Dinda! plak... .'' Maya menampar wajah dinda. Kevin yang baru saja tiba. ''Maya! apa yang kamu lakukan?'' Bentak Kevin.
''Maya. kamu harus ingat. Kamu dalam perbaikan. Kenapa kamu melakukan itu!'' Ucap Kevin. ''Huhu... Pak. Aku tidak tahu salah ku apa. Kenapa Maya tiba-tiba menampar saya! Huhuhu... .'' Dinda berakting seolah-olah dia paling teraniaya. ''Kamu harusnya tahu Maya. Jika kamu terus berbuat masalah. Kamu akan di keluarkan dari sekolah ini. Kamu harus di beri hukuman.'' Tegas kevin.maya mengusap air matanya.
''Aku sudah tidak perduli lagi. jika memang mau di keluarkan. Tinggal keluarkan saja! Dan asal Bapak tahu. Apa yang Bapak lihat barusan itu. Tidak seperti yang Bapak pikirkan.'' Tegas Maya. Ia pun pergi dengan air mata yang terus mengalir. Sementara Dinda tersenyum puas. ''Hehehe... .''
''May. Lo mau kemana?'' Tanya Hana. ''Lo puas sekarang hah. Apa Doni belum cukup untuk Lo. Dasar ulet bulu.'' Marah Pitri pada Dinda. Kemudian, Hana dan Pitri mengejar Maya. ''May tunggu.'' Mengejar. ''Jangan ikuti Gue!'' Tegas Maya. Mereka saling lempar pandangan. Dan memutuskan untuk tidak mengikuti Maya .
__ADS_1