
Keesokan paginya. Sebelum kegiatan-kegiatan lainya di mulai. Ketua panitia Menyuruh semua nya untuk berkumpul di lapangan, dan melakukan olahraga pagi. "Untuk semua para peserta,
di harapkan untuk berkumpul di lapangan." lewat pengeras suara.
Semuanya mulai lari mengelilingi lapangan. Termasuk Kevin dan Sanip. ''Sisa semalam aja masih terasa, sekarang udah lari lagi'' keluh Hana. Setelah selesai olahraga pagi. Semuanya kembali ke tenda masing-masing untuk istirahat. Maya yang satu tenda bersama teman-temannya Hana, Pitri, Dinda dan yang lainnya.
Siang hari, Para panitia kembali menyuruh semuanya peserta untuk berkumpul di lapangan. "Siang ini, kita akan melakukan tanda jejak. Di mohon semuanya untuk segera bersiap-siap. Siap kondisi, dan siap mental. Ingat jangan sampai ada yang terpisah. Ikuti arahan dari para ketua masing-masing. ya?" Kata panitia.
"Iya pak... ." Serentak. Saat hendak kembali ke tenda. Hana tak sengaja bertemu dengan Deri, mantan pacar nya. "Hei. Hana? bagaimana kabarmu?" Tanya Deri. "Baik." jawab Hana ketus. "Han. Bisa kita bicara sebentar?" Tanya Deri kembali. "Maaf. tidak ada yang perlu di bicarakan lagi." Segera Hana pergi dari hadapan Deri.
Disisi lain, Syifa menghentakkan kakinya karena kesal melihat Deri menghampiri Hana. "Awas. Lo ya!" kesal. "Lo. Kenapa?" Tanya Ana teman Syifa, sekaligus adiknya Kevin. "Gak apa-apa!" Jawab Syifa ketus.
"Itu tadi si Deri bukan si?" Tanya Pitri.
"Ya... ." Jawab Hana. "Mau ngapain lagi dia?" Tanya Maya. "Tau akh... ." Jawab Hana.
__ADS_1
Saat tanda jejak sedang berlangsung. Tim A, yang di pimpin oleh Dinda. Tim B, Di pimpin Oleh Ana. Dan Tim laki-laki, di pimpin oleh Robin, Deri, dll.
Mereka berjalan menyusuri sungai, ladang, dll. Saat di posko terakhir, mereka semua beristirahat. Robin menghampiri Maya. "Nih minum?" menyodorkan botol minuman. "Terimakasih." jawab Maya. "Masih kuat tidak?" kata Robin. "Tenang saja. Gue gak selemah itu." jawab Maya. "Sudah-sudah. Pacaran Mulu!" kata Dinda sinis.
Ana menghampiri Maya yang sedang duduk. "Heh. Bagusnya? udah deketin kakak gue. Sekarang Lo deketin laki-laki lain? dasar murahan." kata Ana. "Apa maksud dari kata-kata Lo?" Kata Maya.
"Heh. Jangan pura-pura. Lo ingat, bagaimana Lo saat itu di bawa kakak gue dalam keadaan mabuk. Gue pikir... itu cuma akal-akalan Lo aja, biar bisa Deketin kakak gue." jelas Ana. "Apa?" kata Robin dan Dinda secara bersamaan. "May. Dia siapa sih?" kata Pitri. "Iya. siapa si dia? Kenapa dia tiba-tiba datang, dan berkata seperti itu?" tanya Hana.
"Lo jangan sembarangan bicara, ya? Maya gak mungkin seperti itu!" Kata Robin. "Heh. Asal Lo tau. Dia itu sengaja membuat dirinya mabuk, biar bisa tidur bareng kakak gue." kata Ana. Sontak semuanya tercengang, dan melihat ke arah Clara. Maya mengepalkan tangannya, karena menahan amarah.
"Apa Lo sudah puas? Kalau gitu, segera pergi dari sini!!" kata Maya. "Ok. Tapi asal Lo tau, mas Kevin itu sudah punya kekasih. Dan gue harap, agar Lo jauhi dia. Lo itu gak pantas jadi calon kakak ipar gue!" Kata Ana. Lalu pergi dari hadapan Maya.
"Ja-jadi. Dia adiknya pak Kevin?'' kata Pitri. "Ternyata... dia Adiknya, gue harus bisa deketin dia. Dia kunci utama buat bisa dapetin Kevin." kata Dinda dalam hatinya. "May? kenapa diam saja. Itu semua gak benar, 'kan?" Tanya Robin kembali.
Malam hari. Saat acara api unggun. Semua anak-anak menampilkannya berbagai macam jenis kesenian. Robin duduk di samping Maya. "May, Lo gpp, 'kan? Gue percaya Lo, Lo gak mungkin melakukan itu. Sudah jangan terlalu di pikirkan, ya." kata Robin.
__ADS_1
"Terimakasih Bin. Tapi yang di ucapkan Ana memang benar. Waktu itu gue gak sadarkan diri. Tapi, gue bukan sengaja membuat diri gue mabuk. Gue di beri obat sama si Dani. Gue hampir saja... Tapi, untung ada pak Kevin yang menolong gue. Dan gue di bawa ke rumahnya.'' jelas Maya.
"Hmm. Maksud Lo, Dani... Dani mantan Lo itu?" Tanya Robin. "Ya... ." jawab Clara. "Kurang ajar!" ucap Robin dalam hati. "Ya sudah. Lo jangan terlalu di pikirin. Gue percaya kok sama Lo." kata Robin tersenyum. "Thank's ya, Lo emang sahabat terbaik gue." kata Maya. "Please... anggap gue lebih dari sahabat." ucap Robin.
Maya menengadahkan wajahnya, "Hah. Maksud Lo?" penasaran. "Gak ada Maksud!" jawab Robin. Dari kejauhan Kevin diam-diam memperhatikan Clara. "Anak itu lagi, masa gue harus saingan dengan anak didik gue." kata Kevin di dalam hatinya. "Sebentar lagi giliran gue. Lo jangan kemana-mana, ya?" kata Robin. "Lo. Mau kemana?" tanya Maya.
Robin dan Roy maju kedepan. Roy sebagai gitaris. Sedangkan Robin sebagai penyanyi. "Lagu ini, gue persembahkan untuk seseorang yang gue sayang. Maya semoga kamu suka." Kata Robin. "Cie... uhuy to tweet... ." serentak.
"Hah. Apa maksudnya? Kenapa bawa-bawa nama gue." Ucap Maya dalam hatinya. Pitri menyenggol bahu Clara. "Cie... Robin so sweet banget nya." kata Pitri terseyum.
Saat Hana menikmati penampilan dari temannya, Robin dan Roy. Tiba-tiba Deri duduk di sampingnya. "Hei." kata Deri. "Deri? Lo ngapain kesini? Sana Lo pergi!" kata Hana kesal. Saat Hana hendak berdiri, ingin pindah tempat. Deri memegang tangan Hana. "Tetap lah disini. Jangan pergi kemana-mana?" kata Deri.
Terpaksa Hana mengurungkan niatnya untuk pergi, dan dia kembali duduk. "Hana, Gue minta maaf? gue menyesal telah menyia-nyiakan lo.'' sesal Deri. "Udah gue maafin! Sekarang lepasin tangan gue." jawab Hana. "Gak. Gue gak akan lepasin! Hana. Lo mau kan beri gue satu kesempatan lagi. Gue janji, Gue akan perbaiki semuanya." kata Deri lirih.
''Kesempatan tidak datang dua kali. Kenapa dulu kamu menghianatiku?" kata Hana. Namun, Hana tak dapat membohongi diri nya sendiri. Dia memang masih sayang pada Deri. Tapi, dia takut kalau dia akan terluka kembali. Hana mencoba berpikir lebih jauh. Dia bahkan tak dapat membendung air matanya. Deri memeluk nya, "Aku mengerti. Kamu hanya perlu waktu. Tapi aku akan selalu menunggumu. Hingga kamu mau menerima ku kembali." Deri sedikit menenagkan Hana.
__ADS_1
"Sudah, jangan menangis lagi. Aku minta maaf. pergilah ke tendamu. Dan segera lah tidur." kata Deri. Hana pun mengangguk. Lalu pergi ke tendanya, sesui perintah Deri. "Kenapa... kenapa? disaat gue sudah berusaha untuk melupakan nya. Dan itu, hampir saja berhasil. Sekarang... sekarang dia datang kembali." Ucapnya lirih.