
Setelah di pastikan Doni menghilang dari pandangan nya. Maya segera masuk kedalam. Matanya yang sudah sangat memerah karena menahan air mata.
"Loh... ko kamu masuk kedalam, Doni nya mana?'' Tanya Bu Hesti. ''Sudah pulang." Jawab Maya sambil berjalan menuju ke kamarnya.
Maya merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Air matanya yang sedari tadi Ia tahan. Kini lolos, keluar dari sudut matanya. Entah mengapa rasa sakit itu masih saja terasa. Meskipun Maya sudah mengubur perasaan nya sedalam mungkin. Ingatannya kembali ke masa dimana Dia dan Doni masih bersama.
Dulu, Ia dan Doni sangat lengket. Bagaikan prangko. Kemana-mana selalu bersama. Doni juga termasuk laki-laki paling sweet dan setia.
Pada saat itu, Ia merasa jika dialah wanita yang paling beruntung di dunia ini. Hingga suatu hari, saat di parkiran pusat perbelanjaan. Maya melihat sebuah mobil hitam yang tak asing lagi di matanya. Ia berjalan lebih dekat lagi menuju mobil hitam itu. Dan benar saja itu adalah mobil milik kekasihnya Doni nugeraha. "Sedang apa dia disini?"
Tak lama kemudian, Maya melihat Doni dan Dinda yang baru saja keluar dari pusat perbelanjaan. Mereka berjalan bergandengan tangan menuju mobil tersebut. Dan segera Maya sembunyi di balik mobil sebelahnya.
__ADS_1
"Doni dan Dinda. Mereka...". Tangannya mengepal. Dadanya kembang kempis. Ingin sekali Ia menjambak rambut Dinda.
Doni dan Dinda masuk kedalam mobil. Karena kaca mobil yang setengah terbuka, Sehingga terlihatlah kegiatan mereka di dalam sana. Kegiatan yang tak pernah Doni dan Maya lakukan selama pacaran. Saking asyik nya mereka melakukan kissing. Mereka sampai tidak menyadari keberadaan Maya yang sedari tadi sudah berdiri melihat kegiatan mereka.
Maya pengambil ponselnya. Lalu menghubungi Doni. ''Tut... Tut... ." Suara itu seketika menghentikan kegiatan 2 remaja itu.
''Muuaahhhh. Sorry. Gue harus angkat telepon dulu.'' Ucap Doni. "Hallo. Sayang ada apa?" Dalam telepon. "Kamu di mana?" Suara sendu Maya, karena menangis. "Aku... Aku di rumah.'' Bohong Doni. "Sayang. Kamu menangis. Kenapa?" Tanya Doni.
"Tidak apa-apa. Hanya saja... sedikit kecewa. Ternyata... begini nya, rasanya di hianati orang yang kita cintai." Menangis. "Maksudmu. Ap...?" Doni melihat ke luar jendela. "Ma-Maya!" Doni segera keluar dari mobil, Dan mengejar maya. Sementara Dinda di dalam mobil tersenyum puas.
Maya menghapus air matanya. "Stop menangisi masa lalu. Sekarang Gue harus fokus ke masa depan Gue." Ia mengambil ponselnya. Lalu, Ia mencoba menghubungi nomor Kevin. ''Tut...Tut... .''
__ADS_1
"Hallo." Suara Kevin di dalam telepon. Segera Maya mematikan panggilan tersebut. ''Aaaa... beneran suara pak Kevin." Ucap Maya ke girangan. Ia mulai mengatur napas. Lalu mengirim sebuah pesan singkat. "Pink. Malam Pak.'' Tak lama kemudia Maya mendapat balasan. "Siapa?" Balas Kevin dalam massage. "Maya... ."/ "Maya mana?" Jawab Kevin. Lalu Maya kembali membalas pesan tersebut. "Maya kelas 9E. Murid Bapak yang paling cantik. π€π€... ."
"Oh... ." Balas Kevin. "Gilanya ini Orang. Gue ngetik panjang lebar. Dia cuma balas oh doang." Kesal Maya. Maya pun menaruh ponselnya di sembarang tempat. Beberapa menit kemudian, ponsel Maya kembali bunyi, "PING.'' Maya mengambil ponselnya. Lalu membuka pesan. "Soal-soal yang Saya berikan sudah di isi belum?" Tanya Kevin dalam massage.
"Sumpah ini orang. Gue kira mau bilang apa gitu. Ini pelajaran terus yang di Bahas. Pusing gue jadinya.'' Kesal Maya. Lalu Maya kembali mengirim massage. "Pak. Kenapa nya setiap kali di dekat Bapak. Jantung ku selalu berdebar." Serius. "Ya... itu karena Kamu hidup. Kalau gak berdebar. Berarti mati.'' Balas Kevin.
Maya kembali menggigit guling yang Ia peluk sebagai bentuk pelampiasan kekesalannya. Karena Kevin begitu jutek. Namun, Maya tak menyerah. Ia kembali mengirim massage ke pada Kevin. "Pak. Kenapa Bapak ganteng banget. Aku... jadi berharap Bapak calon suami saya.βΊοΈβΊοΈ... .'' Guling-guling. ''Masih kecil. Belajar dulu yang bener."
"Ikh Bapak jutek benget si. ππ... ." Kesal. "Tuh. 'kan! apa Saya bilang. Kamu itu masih kecil. Buktinya itu kamu nangis." Tersenyum.
"Saya nangis juga karena Bapak. Bapak dingin banget si sama Saya. Tapi... Saya tetap suka ko.ππ" Seyum-seyum sendiri.
__ADS_1
"Dasar bocil. Gak takut apa godain om-om." Cetus Kevin. "Tapi Aku suka om-om.'' Jawab Maya. "Kenapa Pak? ko gak di balas.''
"Pak. ππππ" Karena tak kunjung ada balasan dari sang Guru. Maya pun menaruh ponselnya kembali. Hingga Ia tertidur pulas.