Mengejar Cinta Pak Guru Tampan

Mengejar Cinta Pak Guru Tampan
di beri obat


__ADS_3

Hari ini, Bu Hesti pergi ke tempat kerja suaminya. Pak Wawan yang berkerja di perusahaan textile industry. sebagai supervisor di perusahaan tersebut. Karena sudah dua hari suaminya tak pulang ke rumah. Ia memutuskan untuk pergi menemuinya. Pasalnya, Ia sangat khawatir dan takut jika terjadi apa-apa pada suaminya.


''Hei. Sedang apa kamu disini?'' Tanya Ridwan teman dekat Wawan, sekaligus teman sekolah Hesti dulu saat SMA. ''Ah. Kebetulan sekali. Apa kamu melihat suami saya. aa Wawan?'' Tanya Hesti. ''Sekarang kan jam istirahat. Tapi kenapa saya tidak melihatnya keluar. Apa dia tidak makan siang hari ini?'' Tanya Hesti.


Hesti yang kini berada di depan gerbang. Matanya terus mengamati setiap orang yang keluar dari gedung tersebut. Namun tak lama kemudian, Ia melihat suaminya. Wawan keluar bersama seorang wanita dan masuk kedalam mobil. ''Siapa wanita itu? dan mereka mau kemana?'' penasaran.


''Mampus! Hesti sudah melihatnya. Jangan salahkan aku sebagai temanmu. Jika dulu aku tidak memperingati mu wawan. Mungkin ini saatnya, yang mahakuasa memperlihatkan kelakuan busuk mu. Pada istrimu.'' Ucap Ridwan dalam hati. ''Aku pergi dulu.''


''Yah... hati -hati.''


Hesti pun mengikuti mobil yang di tumpangi Wawan bersama rekan wanitanya dari belakang. Dan tak lama kemudian, mobil tersebut berhenti di sebuah rumah sakit. ''Siapa yang sakit?'' penasaran.


...*****...


Di sisi lain. Kevin yang baru saja tiba di depan rumah Maya. Ia menghubungi Maya dan menyuruh maya untuk keluar dari rumah nya.


Maya pun keluar dan menemui Kevin. ''Ada perlu apa Pak? kenapa Bapak kesini?'' Tanya Maya. ''Kamu tidak menyuruh Saya masuk dulu?" Ucap Kevin yang posisinya masih di dalam mobil.


''Tidak perlu! Jika Bapak ada perlu, segera lah bicara. Saya sedang buru-buru, ada janji dengan seseorang.'' Lalu Kevin keluar dari mobilnya. ''Kemana? dan bersama Siapa?'' tanya Kevin penasaran. ''Bapak tidak perlu tahu siapa dia. Cepat katakanlah, ada perlu apa? dan saya tidak mau bicara lama-lama dengan suami orang!'' Tegas Maya.


''Suami orang? siapa?'' kebingungan. ''Tidak usah pura-pura!'' Ucap Maya. Kevin mulai berpikir sejenak. kemudian Ia tertawa. ''Hahaha... .'' terbahak-bahak. ''Ada yang lucu kah?" tanya Maya pada kevin. Pasalnya, apa yang membuat Kevin tertawa seperti itu. ''Haha. Ada!'' masih tertawa. ''apa?'' penasaran. ''Kamu.''


''Saya?'' Maya menunjuk dirinya sendiri. ''Yah.'' mengangguk. ''Pantas, akhir-akhir ini Dia seperti menjauhi ku. Ternyata... itu masalahnya. Tapi, kenapa dia bisa berpikir jika Saya sudah menikah?" Kevin berbicara di dalam hatinya sendiri. Kevin terus bertanya-tanya.


Tiba-tiba, terdengar suara klakson mobil. ''Tit... Tit... .'' Suara klakson mobil dari belakang mobil Kevin. ''Sopo si? mengganggu saja!'' Kesal Kevin. Seketika, mengundang gelak tawa Maya. ''Haha... Bapak teh ngomong naon?" masih tertawa. ''Naon. Naon. Naon itu apa?"


Karena kesal telah menghalangi jalan nya. Doni pun keluar dari mobilnya dan menghampiri Kevin. ''Woi! Lu budegnya?'' kesal. ''Doni? Dia ngfain kesini?'' dalam hati. Segera Maya mengambil kesempatan dalam kesempitan. Maya memeluk lengan Doni. ''Hei sayang... sudah sampai?'' ucap Maya sembari tersenyum manis. Lalu dia mengedipkan matanya.

__ADS_1


''Sayang?'' ucap Doni kebingungan. aternyata Doni tidak mengerti dengan kode yang Maya berikan padanya. Sementara Kevin nampak kesal melihat Maya memeluk pria lain di depan matanya. Ia pun mengepalkan tangannya. ''Aneh. Ada apa dengan diriku. Kenapa Aku sangat kesal melihat nya, dan ingin sekali memukul laki-laki itu.'' ucap Kevin dalam hati.


''Maaf nya Pak. Saya harus segera pergi. Pacar Saya sudah sampai menjemput saya? Ayo sayang kita pergi.'' Maya menarik lengan Doni. ''Hah... Ayo. '' Ucap Doni kebingungan. Sejujurnya, Doni pun bingung dan tidak mengerti. Tapi, Dia tidak mau melewatkan kesempatan emas ini. Karena, biasanya Ia harus membujuk, mencari cara agar Maya mau jika Doni mengajak nya pergi keluar. Tapi kali ini, Ia tak perlu repot-repot lagi. Karena Maya sendiri lah yang mengajak nya.


Doni pun masuk kedalam mobilnya, dan mulai menghidupkan kendaraan roda empatnya. Lalu pergi dari sana. ''Sial!'' Kevin masuk kedalam mobil nya. Memukul stir mobil. Kemudian Ia pun pergi menuju sebuah tempat. 15 menit telah berlalu. Doni yang tampak bingung kemana Ia harus membawa mobilnya .


''Sayang? sebenarnya kita mau kemana?'' tanya Doni kebingungan. ''Jangan panggil Gue sayang! Kita putar balik.'' kesal. ''Hah. Putar balik?'' tanda tanya. ''Yah. Aku mau pulang!''


''Ayolah May... Jangan bercanda?''


''Aku serius. Aku tidak bercanda.'' Doni pun menghentikan mobilnya. ''Kenapa berhenti? Aku menyuruhmu putar balik. Aku mau pulang!'' Maya makin kesal. ''Ayolah May... Aku ini bukan supir mu... .''


''Ok. Sorry. Kalau begitu, Aku turun disini saja. Thank's atas tumpangannya.'' Maya membuka pintu mobil. ''Don? kenapa di kunci? Aku mau keluar. Aku mau pulang... .'' merengek. ''Ok. Tapi jawab dulu pertanyaan dari ku.''


''Pertanyaan apa?'' penasaran. ''Siapa laki-laki tadi?'' tanya Doni pada Maya .


''Bu-bukan siapa -siapa. Kenapa?'' jawab Maya dengan ketus. ''Siapa laki-laki tadi?'' suara keras. Hingga Maya ketakutan.


"Kamu mencintai nya?" Doni kembali bertanya. "Ti-tidak." jawab spontan. "Sungguh?" mencoba menyakinkan. "Ya. Aku sudah menjawabnya. Jadi biarkan aku pergi.''


...******...


Caffe. Kevin menyenderkan tubuhnya di kursi. Dan beberapa kali terdengar suara membuang nafas ''Hah... .''


''Ayolah bro... Jangan seperti itu. Mana Kevin Wijaya yang dulu Gue kenal.'' Ucap Redinal sahabat Kevin. ''Hah. Gue juga nggak tahu. Gue bingung.'' Ucap Kevin. ''Bingung? Kalau Lu emang suka sama itu Cewek. Yah... tinggal sikat saja. apa susahnya.''


''Masalah ya, itu cewek murid Gue. dan Gue juga ngga tau pasti. Gue suka dia atau tidak? Tapi... Gue nggak suka kalau Dia dekat dengan pria lain.'' masih menyenderkan tubuhnya. ''Tidak di ragukan lagi. Itu namanya Lu jatuh cinta. Sudah... sikat saja.''

__ADS_1


''Tapi, Dia sudah punya pacar. Dan yang lebih parah lagi. Dia mengira kalau Gue sudah menikah... .'' bingung. ''Hahaha. Memang tidak salah si itu cewek nganggep Lo sudah menikah. Karena usia Lo kan mang sudah aki-aki. Hehehe... .'' mengejek. Kevin menatap Redinal dengan tatapan mematikan. ''Mau Gue hajar.'' mata membulat.


''Sorry. Sorry.'' menelan ludah. ''Sudahlah. Gue mau balik dulu. Susah bicara dengan Lu. Nggak ada Titik terang ya.'' Kevin pun bangkit dari tempat duduknya. ''Yey. Lu ya aja yang kebayakan mikir. Vin. Sekalian nya bayarin punya Gue. Hehehe... .''


''Kebiasaan.''


...*****...


''Don? buka. Gue mau pulang?'' Terus menggerakkan pintu mobil. ''Tidak! Biar Gue antar Lo pulang. yah?'' memaksa. ''Nggak usah... Gue mau pulang sendiri saja.''


''Please... maunya?'' memohon. Karena Doni terus memaksa. Akhirnya Maya pun menyerah. ''Ok deh... .''


''Tapi, sebelumnya Gue mau ketemu temen Gue dulu. Tidak apa-apa, 'kan?''


''Terserah.''


''Ok.'' Doni pun mulai menghidupkan mobilnya.dan Melaju menuju sebuah tempat. 20 menit kemudian, mobil tersebut berhenti di sebuah rumah. Namun rumah tersebut tampak jauh dari keramaian. Dan nampak seperti sebuah rumah kosong.


Doni pun pergi menemui temannya. Sementara Maya menunggu nya dari dalam mobil. Cukup lama juga Doni di dalam sana. dan tak lama kemudian, Doni kembali dengan membawa sebuah benda yang terbungkus kertas berwarna coklat. ''Apa itu?'' tanya Maya penasaran. ''Bukan apa-apa. Kamu mau minum?'' tanya Doni sambil menyodorkan sebotol minuman, yang tutupnya sudah di buka .


Karena haus. Maya pun meminumnya ''Glek... Glek... .'' Dan terlihat sebuah senyuman menyungging dari bibir Doni. Doni pun mengambil sebuah benda kecil berbentuk rokok. lalu menghisapnya. ''Sejak kapan kamu merokok?'' tanya Maya. Karena dulu saat mereka pacaran. Doni bukan seorang perokok.


''Sejak putus denganmu.'' Ucap nya yang begitu santai, sembari menikmati sekelinting benda kecil tersebut. ''Aku sangat prustasi saat itu'' Sambungnya. ''Hmm... jadi , kapan kamu akan mengantarkan aku pulang? ini sudah terlalu sore juga. Aku takut Ibuku keburu pulang. Dan mencari-cari ku.'' Ucap Maya seolah sudah mendapat pirasat buruk.


''setelah rokokku habis.''


Selang beberapa menit, Maya seperti merasakan sensasi yang tak pernah Ia rasakan. Kepalanya mulai pusing, dan tubuhnya terasa lemas seperti tak bergairah. Doni yang melihat reaksi tersebut, Ia tersenyum kecil ''Heh... .''

__ADS_1


''Kenapa dengan tubuhku?'' kebingungan. Doni membelai wajah cantik Maya. ''Oh... sudah bereaksi rupanya.'' Terseyum devil. ''Apa maksudmu?'' Maya pun mulai menyadari ada yang tidak beres dengan minumannya. ''Minuman tadi? apa yang kamu masukkan ke dalam minuman tersebut?'' Emosi. ''Bukan apa-apa sayang. Oh... jika sedang seperti ini. Kamu semakin cantik.'' membelai rambut Maya .


Maya berusa pergi dari sana. Ia terus meminta tolong. Namun, Karena pengaruh dari obat tersebut. Kini Maya benar-benar kehilangan kesadaran nya. Dan hampir saja doni... Namun, bak sebuah keajaiban datang menghampiri nya. Kevin yang tiba-tiba muncul dan menolong nya. Kevin menghajar Doni habis-habisan. Lalu membawa Maya dan memasukkan Maya ke dalam mobil miliknya. ''Sial! Rupanya Dia di beri obat.'' segera Kevin membawa Maya pergi.


__ADS_2