Mengejar Cinta Pak Guru Tampan

Mengejar Cinta Pak Guru Tampan
Hesti Pingsan


__ADS_3

Satu Minggu kemudian. Libur sekolah pun telah usai. Maya dan teman-temannya kembali masuk sekolah.


Saat di luar kelas. Maya yang hendak masuk ke kelas. Tiba-tiba Robin memanggil nya. ''Syut. Syut. May? '' Celingak-celinguk. Maya menoleh ke belakang. ''Ada apa?" Tanya Maya. ''pulang sekolah nanti. kita jalan yuk?" ajak Robin. ''Jalan? bukanya kemarin kita jalannya?''


Memang, akhir-akhir ini Robin tampak berbeda. Mulai dari sikap dan perlakuan nya pun sangat berbeda. Tidak seperti Biasanya. Kali ini, Robin tampak lebih perhatian ke pada Maya. Bahkan, akhir-akhir ini Robin lebih sering menghubungi Maya.


''Iya sih. Maksud Gue... Kali ini kita cuma berdua aja. Kalau kemarin-kemarin kan kita selalu bayakan. Kali ini cuma Lo dan gue aja. Bagaimana?'' Robin terseyum. ''Gimana nya...?" Maya pun kebingungan. Dan Tampa mereka sadari. jika Kevin ternyata sudah berada di belakang mereka. Dan mendengar obrolan mereka berdua.


''Maya. pulang sekolah nanti kita Lanjut dengan belajar tambahan.'' Ucap Kevin. seketika Maya dan Robin pun Menoleh kebelakang. ''Ba-bapak?'' secara bersamaan. "Ada apa?" Tanya Kevin.


''Tidak mau! bukanya masa perbaikannya sudah selesai. Kenapa Masih ada belajar tambahan.'' protes Maya. ''Meskipun, masa perbaikan sudah selesai. Belajar tambahan tetap harus di lanjutkan! Titik tidak pake koma.'' Kevin pun segera masuk ke dalam kelas. ''Maaf. Ya Robin... Lo tadi denger sendiri, 'kan?''


"Gak apa-apa kok, May. Gue ngerti kok. Kan, masih ada lain waktu. Ayo kita ke kelas.'' Robin dan Maya pun pergi kekelas. Saat pelajaran sedang berlangsung. Dan, pada saat itu. Kevin yang sedang menjelaskan di depan Kelas. Lewat sebuah catatan, Pitri memberi tahu Maya. Bahwa, Doni di tangkap polisi. Atas Kasus Narkoba dan kekerasan. Spontan Maya berkata, ''Hah. serius!" Sangat keras.

__ADS_1


''Ups... '' Maya segera menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Sementara Pitri menutupi mukanya dengan buku. ''Maya... Lo benar-benar nya." Ucap Pitri dalam Hati. Semua orang disana sontak melihat ke arah Maya. ''Dasar gak tahu sopan santun!'' Ucap Dinda sinis. Begitu juga dengan Kevin. Tampa basa-basi Kevin segera menyuruh Maya berdiri di depan kelas hingga bell berbunyi. Sementara di dalam hatinya, Pitri terus meminta maaf. ''Sorry May. Sorry... .''


Robin berdiri. ''Maaf Pak. Biar Saya saja yang berdiri di depan. Maya Lu duduk aja.'' Sontak semua orang disana melihat ke arah Robin. ''Cie... .'' Ucap orang-orang disana secara bersamaan. Begitu juga dengan Roy, ''Hah, Lu serius? Lu tadi pagi sarapan apa?" Tanya Roy keheranan. ''Ulet bulu! puas Lo?'' Jawab Robin spontan. '''Puft... Pantes."


''Kamu. Duduk!" Perintah Kevin. Namun, Robin tidak menghiraukannya. Ia tetap saja berdiri. ''Duh... Si Robin ngapain si? Nambah-nambah masalah aja." Maya menundukan kepalanya. ''Robin! Duduk!'' Ucap Kevin dengan tegas. Lagi-lagi Robin membantahnya, ''Saya tidak akan duduk. Maya kamu duduk saja. Biar saya yang berdiri di sana.''


''Uchh... So sweet... .'' ucap semua orang di sana, Begitu juga dengan Pitri. ''Maya apa dia pacarmu? Suruh dia duduk.'' Ucap Kevin sedikit kesal. Akhirnya, Maya mengikuti perintah Kevin. Dengan mata yang sedikit melebar. Maya segera menyuruh Robin untuk duduk. Dan dengan menyesal Robin pun Duduk. ''Sejak kapan lu jadi perhatian sama si Maya? Atau, jangan-jangan bener kata pak Kevin barusan. Lo pacaran sama si Maya?'' Taya Roy penasaran. ''Kepo lu!'' kesal. ''Cih... ." Roy pun sedikit menggeser kan kursinya.


Sementara, di parkiran. Robin di tarik Pitri. Lalu, dia di interogasi teman-temannya. Pitri menyilangkan tangannya, ''Sejak kapan Lo suka sama si Maya?'' Lalu, Hana mengambil kerah baju si Robin. ''Lu, serius suka sama si Maya? atau... barusan cuma akting aja." Tanya Hana. Kali ini, giliran Roy yang bertanya, Roy menepuk pundak Robin. Hingga Robin pun terperangah. ''Besty. Gue salut sama Lu... Lu benar-benar brave man. Gue salut. Gue salut.'' Roy tepuk tangan.


Sementara, Maya yang masih berada di dalam kelas. ''Bagaimana besok gue kesekolah. Gue benar-benar Malu... .'' ucap nya di dalam hati. ''Ini semua gara-gara Pak Kevin?'' Kevin melihat ke arah Maya. ''Gara-gara saya? apa maksudnya gara-gara Saya?'' Kevin keheranan. ''Kenapa tadi Bapak bilang Kalau dia pacar saya? Saya,' kan jadi malu. Satu kelas jadi membicarakan saya. Terus bagaimana besok saya ke sekolah.''


''Dia memang pacar kamu, 'kan? Kalau bukan ngapain dia bela-belain kamu. Kalau besok kamu malu ke sekolah, tutup saja kepalamu dengan kantong plastik." Ledek Kevin. Lalu, Kevin berjalan ke arah meja Maya sembari membawa selembar kertas. ''Cepat kerjakan!" menaruh kertas tersebut di meja Maya. ''Akh. Bapak! bisa gak si Pak. besok saja belajarnya?'' Protes Maya.

__ADS_1


Kevin Terseyum. Lalu dia membereskan beberapa buku yang ada di mejanya dan pergi. ''Bapak mau kemana?'' Tanya Maya. ''Pulang! Kenapa?'' Kevin balik bertanya. ''Kok, Pulang?'' Maya kebingungan. ''Mau pulang atau tidak? sebelum Saya berubah pikiran!" Tegas Kevin. ''Hah, Dasar Guru aneh.'' Gerutu Maya. Namun, Kevin mendengarnya. ''Siapa yang aneh?'' sontak Maya melihat ke arah Kevin dan tersenyum, ''Hehehe... Saya yang aneh.'' Jawab Maya. ''Hmm. Iya sih. Kamu memang aneh.'' sedikit meledek. ''Bapak... .'' Teriak Maya.


Sesungguhnya, tadi itu cuma akal-akalan Kevin saja. Membohongi Maya mengadakan belajar tambahan. Agar Maya, tidak bermain dengan Robin. Karena, Dia tidak suka jika Maya berdekatan dengan laki-laki lain. Meskipun, Robin muridnya sendiri.


...*******...


Hesti yang terus kepikiran masalah suaminya. Bahkan, akhir-akhir ini kesehatan Hesti semakin hari semakin menurun. Dan saat di toko. Saat Hesti sedang melayani seorang pembeli. Tiba-tiba, Ia merasakan Sakit kepala yang amat sakit. Dan, ''Brug... .'' Tubuh Hesti tergeletak di lantai. Sontak membuat Pembeli dan para karyawan di sana panik. ''Bu. Bu. Sadar Bu?"


Segera, Hesti di bawa kerumah sakit. Maya yang baru saja tiba di rumah sakit. Saat di depan pintu. Maya tak sengaja mendengar perbicaraan orang tuannya. ''Mah. Saya mohon... kita jangan bercerainya. Kasihan Maya mah.'' Terus memohon. ''Tidak bisa. Kita harus tetap bercerai. Biar Maya ikut denganku ke jakarta.'' Ucap Hesti sendu. ''Tidak. Aku tidak akan mengijinkan nya. Aku tidak akan pernah menandatangani nya. Keluarga kita harus tetap utuh.''


''Apa Kamu bilang? utuh? ingat! Siapa yang telah menghancurkan rumah tangga kita. Siapa yang sudah merusak kepercayaan ini. Apa kamu tidak ingat? Kamu memiliki keluarga yang lain. Dan aku tidak bisa menerima nya... .'' Hesti pun tak dapat membendung air matanya.


sementara itu, di balik pintu. Maya yang masih berdiri di sana, ''Tidak. tidak mungkin... Aku pasti salah dengar.'' Tiba-tiba ponselnya berdering. Dan menghentikan pembicaraan orang tuanya. ''Maya... .'' ucap Hesti.

__ADS_1


__ADS_2