
Dua bulan telah berlalu. Berkat ide dari Kevin. Kini toko milik ibu Maya mulai ramai kembali. Bahkan, kini teman-temannya pun ikut membantu Maya di toko tersebut. walau hanya 1 sampai 2 jam saja mereka berada disana. Mereka saling berbagi tugas. Hana, Pitri, Robin, dan Roy, mereka bertugas sebagai pelayan. Sedangkan Maya bertugas sebagai kasir. Dan Kevin sebagai pengawas, atau sebagai pengelola.
Sejujurnya, Maya tidak setuju jika Kevin yang mengelola toko ibunya. Namun, karena ini adalah permintaan dari para karyawan ibunya. Bahkan, mereka seperti mengancam pada Maya. Mereka berkata, bahwa mereka akan tetap berkerja di sana. Asalkan, Kevin yang mengelola toko tersebut. Dan terpaksa Maya pun menyetujui nya. Meskipun, selama Kevin memegang toko tersebut, Kevin tidak pernah mengambil uang sepeser pun dari toko itu. Karena Kevin melakukan itu secara sukarela.
Biasanya, Kevin akan pergi ke toko tersebut saat setelah selesai ia mengajar. Begitu juga dengan Maya. Ia akan pergi ke toko ibunya. Saat Maya setelah selesai dari sekolah dan dari rumah sakit.
Saat itu, keadaan toko yang cukup ramai. Maya sibuk melayani para pembeli. Begitu juga dengan teman-temannya. "Selamat datang di toko Maya Cake... ." Kata Hana dan Roy kepada para pengunjung. "Saya. Mau black Florence. Dan tolong pakai tulisan Happy birthday. Ok!" kata salah satu pengunjung laki-laki pada Pitri.
Melihat pengunjung laki-laki itu. Pitri terperangah, bak seperti melihat pangeran yang baru turun dari kanyangan. "Ah... Ya ampyuunn. Aduh gustiiiiii. Ada pangeran dari mana?" kata Pitri di dalam hatinya. Sembari terus menatap pada pemuda tersebut.
Seorang pemuda, berambut ikal, Kulit sawo matang, dan bertubuh tinggi. Jika dilihat, mungkin dia lebih tua 1 atau 2 tahun dari usia Pitri saat ini. Bahkan, Pitri tak mengedipkan mata nya sedikit pun. Pemuda tersebut pun melambai-lambaikan tangannya di depan wajah pitri. "Hello. Bak... ." terus melambai-lambaikan tangan nya.
Robin, melihat Pitri yang terus tersenyum menatap laki-laki tersebut. "Syut... Syut... Pitri kur Pitri?." kata Robin pada Pitri. "Mas. Mas. Cepetan dong. Saya mau yang Stroberi moca, and Cappucino. Tolong di bungkus, ya?" kata salah satu pembeli pada Robin. "Ah. Iya mba." kata Robin.
"Mba... Hello... ." masih dengan laki-laki tadi, yang memesan black Florence pada Pitri. "Sebentar ya mas... ." kata Maya, ke pada seseorang yang hendak membayar. Maya segera pergi menghampiri Pitri yang terus tersenyum pada laki-laki tersebut. "bener-bener nya. Gak bisa liat yang bening dikit." kata Maya kesal. Maya tersenyum pada laki-laki tersebut, lalu meminta maaf. Dan kemudian Maya menginjak kaki Pitri. "Puk... ." seketika Pitri menjerit kesakitan. "Aaaa~ copot. kucing terbang, Cicak berenang." kata Pitri yang kesakitan plus kaget.
__ADS_1
Kemudian Maya kembali ke tempat kasir sembari tersenyum. "Hihihi... Rasain Lo!" kata Maya sembari berjalan menuju meja kasir. "Maya~ kampret lu!" kesal Pitri. "Mba. Mba. Tidak apa-apa?" tanya laki-laki tersebut pada pitri yang mengjinjit kan kaki nya karena sakit di injak Maya. "Mba. Mba. Emang gue mba, Lo?" jawab Pitri kesal. Seketika Hana dan Roy tertawa sejadi-jadinya. Begitu juga dengan Maya dan Robin. Dan para pengunjung yang melihatnya juga ikut tertawa.
"Tenyata... Pangeran kodok gue, sudah punya pasangan. Huhu... ." kata Pitri sembari membungkus kue tersebut. Lalu Pitri memberikan kue tersebut pada laki-laki itu. "Terimakasih mba... Lain kali jangan melamun ya. Bahaya!" ucap laki-laki itu pada Pitri. "Terserah. Dan ingat! gue. bukan mba Lo. you understand?" tegas Pitri. "Yes. Mba." jawab laki-laki tersebut. Seketika jawaban tersebut mengundang gelak tawa Maya, dan semua orang di sana.
"Hahaha... Hadeuh. Perut gue sakit." kata Maya yang terus tertawa. "Ada apa?" tanya Kevin yang baru saja tiba. "kenapa ketawa-ketawa? kerja yang benar!" tegas Kevin. Hari ini Kevin datang agak terlambat ke toko itu. Karena, ia ada rapat guru di sekolah nya. "Cih. Belagu banget. Disini yang anak bos siapa? yang ngatur-ngatur siapa?" kata Maya pelan. Namun, tetap saja Kevin mendengarnya. "Apa kamu bilang?" tanya Kevin pada Maya.
Karena kesal. Maya menatap tajam Kevin. Dan berkata, " Saya bilang. Kalau saya pemilik toko ini. Kenapa bapak selalu ikut capur!" teriak Maya pada Kevin. "Itu tidak perlu kamu jelaskan. Saya juga tahu." jawab Kevin santay. Orang-orang di sana melihat dan mulai berkerumun. Mereka penasaran dengan apa yang terjadi di sana. Tak luput jua para pegawai yang bertugas di dapur. Mereka lari keluar untuk melihat apa yang terjadi. Karena Suara Maya yang begitu lantang.
"Kalau Bapak tahu? kenapa bapak masih di sini? Toko ini milik saya. Bukan milik bapak. Saya tidak suka, Bapak yang mengatur toko ini." Kata Maya kesal. "May. udah. Malu banyak orang." kata Robin. "Iya neng Maya. Udah... ." lerai Susi pada Maya. "Iya May. Udah. Lagian... toko ini ramai juga berkat pak Kevin. Udah ya... malu." Kata Pitri Tampa ragu.
"Gak. Kenapa si, kalian semua terus membelanya. Dari awal saya gak suka bapak ikut campur. Dan Tampa bantuan dari bapak pun, Saya juga bisa mengelola toko ini sendiri." kata Maya.
"Jadi, jangan pernah menginjakan kaki bapak di toko ini lagi. Mengerti?" kata Maya. "Dasar, tidak tahu berterima kasih." Kata Ana sambil berjalan menuju Maya. Seketika mereka semua menoleh ke arah sumber suara itu. "Ana?" kata Kevin. "Kamu ngapain kesini?" tanya Kevin. Ana berdiri, di depan Maya. "Lo. jadi cewek gak tau rasa terimakasih banget. Udah di bantu secara sukarela. Sekarang, Lo marah-marahi kak Kevin. Lo itu persis, Kaya orang gak makan bangku sekolah." kata Ana marah pada Maya.
"Terserah. Yang jelas, Gue dari awal gak pernah meminta pak Kevin untuk ikut campur. Dia sendiri yang bersikukuh untuk tetap disini. Sekarang bapak boleh pergi dari sini!" kata Maya. Seketika Ana mengingat kembali kata-kata Kevin, saat di rumah mereka.
__ADS_1
flashback.
Malam itu, Kevin baru saja kembali ke rumah nya setelah selesai dari toko Maya. Ana yang sedang menonton televisi, melihat wajah Kevin Nampak pucat pasih. "Mas? mas kok wajanya pucat sekali? mas sakit?" tanya Ana gelisah. "Mas tidak apa-apa." jawab Kevin lesu. Kemudian, Kevin merebahkan tubuhnya di sopa. Ana mencoba menempelkan punggung tangan nya di kening Kevin. "Ya ampun... mas. Panas sekali!" kata Ana.
Segera Anak mengompres kening Kevin. Dan memberi obat pada Kevin, dengan air mata bercucuran. Karena, Ana tidak tega melihat ke adaan Kevin. "Kan sudah saya bilang. Mas cukup, jangan ke toko itu lagi. Sudah biarkan saja, toh itu bukan toko mas." kata Ana, sambil memijat lengan Kevin.
"Mas, kasihan pada Maya. Ayah nya tidak bisa berbuat apa-apa, karena ayahnya punya istri lagi. Dan Maya sangat membutuhkan uang untuk biaya pengobatan ibunya. Mas yakin, Maya belum mengerti tentang cara pengelolaan toko tersebut. Jika dia yang pegang, Mas yakin tokonya akan bangkrut dalam sekejap." kata Kevin sambil menggigil.
"Ya biar kan saja, kalau bangkrut juga. Toh, itu bukan toko milik mas. Memang mas di bayar berapa?" kata Ana kembali. "Mas, melakukan itu secara sukarela. Karena Mas kasihan padanya." jelas Kevin. "Apa? sukarela? Mas pasti sudah gila. Atau... jangan-jangan, mas suka pada gadis itu? iya?" kata Ana.
Kevin pun terdiam, "Kenapa diam? benar kan dengan apa yang aku katakan. Mas jatuh cinta pada gadis itu." ucap Ana penasaran. "Entah lah. Mas juga bingung. Yang pasti... mas merasa, mas tidak bisa membencinya. Meskipun mas tau, Jika dia membenci mas." jelas Kevin.
"Itu namanya mas jatuh cinta. Mas? Mas yang benar saja, Mas suka sama gadis yang seumuran denganku. Bagaimana pendapat orang-orang. Kalau mereka tahu, Mas mencintai gadis yang seumuran denganku?" kata Ana. "Mas gak perduli... Ana? Mas sebelumnya, belum pernah merasakan perasaan yang seperti ini. Ini Pertama kalinya, Mas benar-benar merasakan perasaan ini. Dari sekian wanita yang mas kencani. Mas merasa nyaman dengannya. Mas merasa, mas bahagia jika di dekatnya. Jadi, mas mohon. Tolong jangan benci dia, ya."
Dengan berat hati Ana pun mengangguk, menyetujui permintaan kakaknya. "Baik Mas. Jika itu memang keinginan mas. Ana akan selalu dukung mas." kata Ana.
__ADS_1
back on topic.
Setelah Ana menjelaskan semuanya. "Apa? itu tidak mungkin." kata Maya. "Ana? Kenapa kamu mengatakan nya." Kevin sedikit membulat kan bola matanya pada adiknya. "Maya. Lo akan menyesal! Karena sudah menyia-nyiakan laki-laki yang benar-benar mencintai mu." Kata Ana dengan air mata bercucuran. "Ayo mas, kita pulang!" Ana menarik tangan Kevin keluar.