Mengejar Cinta Pak Guru Tampan

Mengejar Cinta Pak Guru Tampan
kita bawa ke rumah sakit


__ADS_3

Kevin pergi menemui Silvi. Di sebuah tempat. Membelai rambut Silvi. "Kamu begitu cantik. Aku sangat menyukainya." Goda Kevin pada silvi.


"Sayang. Katakan! berapa bayaran mu. Aku akan membayar nya 3 kali lipat." ucap Kevin ke telinga Silvi. Kemudian, Kevin duduk tak jauh dari Silvi.


Namun sayangnya, Silvi tak menaruh curiga sedikit pun pada Kevin. Mengapa Kevin tiba-tiba baik padanya. Dan berlagak seolah Kevin sudah belanggan padanya. Dan Yang ada di pikirannya hanyalah uang dan kepuasan. Dia tak perduli dengan perut buncitnya. Yang paling terpenting adalah uang yang banyak.


"Apa aku tidak salah dengar. Tapi, perutku buncit. Apa itu tidak masalah bagimu?" tanya Silvi pada Kevin. "Tak masalah. Aku justru sangat penasaran." jawab Kevin.


"Justru, apa kamu tak masalah. Aku begitu agresif dan aku tak puas hanya sekali permainan saja. Apa kamu sanggup?" tanya Kevin menyakinkan.


Silvi segera bangkit. Mengambil gelas di tangan kevin. Menaruh gelas tersebut di atas meja. Kemudian dia duduk di pangkuan Kevin. Membelai wajah tampan Kevin. Sementara tangan yang satunya lagi mengusap lembut dada bidang Kevin. "Tak masalah." ucapnya. "Justru aku sangat menyukai pria seperti mu. Kamu begitu tampan dan gagah." kata Silvi intens.


"Oh ya. Kalau begitu minumlah." Memberikan gelas minuman yang sudah di beri nya obat. "puas kan aku." ucap Kevin. Sementara di dalam hatinya, Kevin tampak mual dan ingin segera muntah saat itu juga. "Tahan. Tahan." ucapnya di dalam hati.


Segera Silvi naik ke atas ranjang. Bergaya layaknya semenarik mungkin. Lalu Silvi mengangkat tangannya. Dengan jari telunjuknya, Silvi menyuruh Kevin agar naik ke atas ranjang.


Kevin yang paham akan sebuah isyarat yang Silvi berikan. Segera Kevin naik ke atas ranjang. Membaringkan tubuh Silvi di atas tempat ranjang. kemudian, mengikat kedua tangan Silvi menggunakan tali yang sudah ia persiapkan sebelumnya. "Akh. Sayang kamu sangat suka dengan permainan, kah?" tanya Silvi. "Ya. Aku sangat suka." jawabnya yang sibuk mengikat tangan Silvi.


Kemudian Kevin menutup bola mata Silvi menggunakan dasinya. "Akh. Aku sangat penasaran. Permainan apa yang akan kamu lakukan." ucap Silvi kegirangan. "Kamu akan tahu nanti." jawab Kevin.


Setelah itu, Kevin beranjak dari atas tempat tidurnya. "Kalian masuk!" pintah Kevin. Tak lama kemudian, Masuk lah beberapa orang bertubuh besar ke dalam kamar tersebut. Jika di hitung ada sekitar 5 orang. "Aku berikan wanita itu untuk kalian." ucap Kevin pada pria-pria itu.


Silvi tercengang begitu mendengar ucapan tersebut. "Apa? Apa maksud mu Kevin?!" tanya Silvi penasaran. "Kamu tidak mengerti. Aku bilang, kamu puaskan aku. Dan sekarang, Lakukan lah." kata Kevin pada Silvi.

__ADS_1


"Cepat lakukan!" peintah Kevin. "Baik." jawab mereka secara bersamaan. Mereka mulai naik ke atas tempat tidur. "Lepaskan! siapa kalian?! Jangan sentuh aku. Aku akan laporkan kalian." ancam Silvi. "Sayang. Cepat puaskan kami." ucap salah satu pria itu.


"Tidak. Tidak. Kevin! kamu akan tahu akibatnya. Tidak... tolong... ." teriak Silvi lirih. Sementara itu, Kevin menunggu di luar ruangan. Sesekali terdengar suara teriakan dari mulut Silvi. "Cukup. Hentikan. Hentikan!" teriaknya. "Itu adalah balasan atas apa yang kamu buat pada Maya. Kemudian, Kevin segera pergi dari sana.


Skip


Disisi lain. Di dalam kamar. Ana terbaring di atas tempat tidurnya. Dan di tangannya terdapat sebuah gawai milik nya. Bahkan, sesekali Ana menatap ke layar ponsel tersebut. "Kok. Kak Andrea gak menghubungi ku nya." ucapnya gelisah.


"Akh. Tidak. Tidak. Aku tidak boleh mengingatnya. Lupakan! Lupakan dia Ana." ucapnya pada dirinya sendiri.


Memang semenjak hari itu. Dan semenjak Ana kembali ke Surabaya. Andrea memang tidak pernah menghubungi Ana. Ana menaruh ponselnya ke sembarang tempat. "Kak Andrea... Apa kamu benar-benar melupakan ku. Apa kamu tidak merindukan ku." ucapnya.


Segera Ana mengambil kembali ponselnya. Membuka menu layar ponselnya. Dan terlihat kontak atas nama Kak Andrea sayangnya Ana. "Telepon. Jangan! telepon. Jangan!" ucap Ana bimbang. "Akh~ ." teriak Ana. Menaruh kembali ponselnya.


"Akh~ Apa yang aku lakukan." ucapnya bimbang. "Sudahlah. Lupakan." ucapnya kembali. Segera Ana menarik selimutnya. Tak lama kemudian ponselnya berdering. Mengambil ponsel tersebut. Menatap layar Ponselnya. Dan terlihat Andrea yang menghubungi nya. "Apa! Apa! Apa aku tidak salah lihat." ucapnya tak percaya.


Lama Ana berpikir. "Angkat. Jangan. Angkat. Jangan." bimbang. "Tut... Tut... Tut... ." sambungan terputus. "Yah. Kok terputus." ucap ana kecewa. "Ikh. Sebel deh. Belum juga aku angkat teleponnya. Udah di matiin aja." kecewa. "Sudahlah. Lebih baik aku tidur saja." ucap nya lagi.


Menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Baru saja Beberapa detik ana memejamkan bola matanya. Ponsel miliknya kembali berdering. Dan dengan senang hati, Ana kembali membuka bola matanya. Dan mengambil kembali ponselnya.


Namun, Begitu melihat nama panggilan tersebut. Ana tampak kecewa. Dan ternyata itu adalah Kevin yang menghubungi nya. "Mas Kevin rupanya."


"Hallo mas. Ada apa?!" tanyanya ketus. "Kamu kenapa? kok gitu jawabnya?" tanya Kevin di balik telepon seluler. "Gak. Gak apa-apa." jawab Ana. "Kamu kenapa si? Kamu lagi datang bulan?" tanya Kevin kembali. "Bukan datang bulan. Tapi datang Pluto." jawabnya ana kembali.

__ADS_1


"Aish. Ini anak kenapa si? Di sini Maya juga seperti itu. Tiba-tiba marah-marah gak jelas. Sekarang, Adikku sendiri juga seperti itu. Huh. aku benar-benar tidak mengerti para gadis seperti kalian. Sudahlah, Mas tutup aja telepon nya." kata Kevin yang tak paham.


"Jangan dulu di tutup." cegah Ana. "Hah. Kenapa?" kebingungan. "Hmmm... Mas Kevin. Sedang di mana? sama siapa?" ucap ana penuh pertanyaan.


"Kenapa emangnya?"


"Jawab aja. Apa susahnya si?"


"Mas lagi bersama Andrea. puas!"


Mendengar jawaba Kevin. Bola mata ana tampak melebar sempurna. Wajahnya sedikit memerah. "Sungguh!" tanya ana memastikan. "Apa si ana. Gak jelas banget, tadi aja marah-marah gak jelas. Sekarang kegirangan. Sudah ah, Mas tutup teleponnya, ya? bye."


"tung... ." belum juga Ana selesai bicara. Kevin sudah memutus panggilannya. "Dasar nyebelin!" gerutu ana. "Belum juga Aku selesai bicara. Sudah main putus saja panggilannya." kesal ya.


Disisi lain. Di dalam kamar itu. Silvi yang terbaring tak berdaya. Terdengar suara tawa dari mulut-mulut lelaki hidung belang itu. "Haha... Aku benar-benar puas." ucap laki-laki itu. "Tapi bro. Bagaimana jika dia kenapa-kenapa?" ucap salah satu laki-laki itu. "Biarkan saja. Uang penting tugas kita sudah selesai. Sekarang, kita tinggal lapor saja. Dan meminta uang padanya."


Sementara itu, Silvi yang tak berdaya. Bola matanya berkaca-kaca. Dan terasa lah rasa sakit yang amat sangat di perutnya. Memegang perutnya, dan telihat dahar yang keluar dari sana. "Ah. Sakit... ." lirihnya. "Sakit... ."


"Bro. Bro. Bagaimana ini? Bagaimana jika dia kenapa-kenapa?!" ucap salah satu pria itu. "Diam! Gue coba hubungi dia dulu." Segera laki-laki itu pun menghubungi Kevin, dan memberi tahu Kevin ke adaan Silvi saat ini. "Hallo bos. Baik bos."


"Bagaimana?"


"Kita bawa ke rumah sakit."

__ADS_1


__ADS_2