
"Berani kamu nya ledek saya!" kata Kevin. Kemudian Kevin berjalan, mendekat ke arah Maya. Hingga Maya terdiam mematung. "Coba kamu katakan sekali lagi?" ucap Kevin sedikit memaksa. "Ti-tidak." kata Maya terbata-bata. Lalu Kevin mendekat kan wajahnya ke wajah Maya.
"Ba-bapak. mau ngapain?" tanya Maya gugup. "Sudah saya bilang. Saya bukan bapak mu." jelas Kevin. Semakin mendekat kan wajahnya. "Ba-bapak. Jangan begini dong! ini di rumah sakit." kata Maya. "Hmm... Aku juga tahu. Ini di rumah sakit." ucap Kevin menatap wajah cantik Maya. "Jika kamu panggil saya bapak lagi. Jangan salahkan saya, jika saya melakukan sesuatu padamu." tegas Kevin.
"Ba-baik pak! ups... ." Maya segera menutup mulutnya dengan kedua tangannya. "Ampun om... Jangan sakiti saya." kata Maya. "Hah. Kamu!!" kesal Kevin pada Maya. kemudian Kevin duduk. "Om... kamu marah?" tanya Maya. Kevin terus terdiam, tak menghiraukan perkataan dari Maya. "Cih. Di panggil bapak, salah. Di panggil om juga salah. Mau nya di panggil apa sih!" Cerocos Maya. sembari memangku ke dua tangan nya.
"Sayang." kata Kevin spontan. Maya menoleh. Membuka matanya lebar-lebar. "Apa?" tanya Maya. "Budeg!" jawab Kevin. "Cih. Menyebalkan." kata Maya kesal.
Satu Minggu telah berlalu. Dan kondisi ibu Maya semakin hari semakin membaik. Maya pun akan pergi ke sekolah seperti biasa. Dan Kevin pun masuk ke dalam kelas tersebut. "Kumpulkan tugas kalian sekarang juga." kata Kevin pada semua muridnya.
"Tugas? tugas apa?" tanya Maya pada Pitri. "Itu. Tugas yang kemarin! Akh... jangan bilang. Lo gak ngerjain tugas nya." jawab Pitri. Dari depan kelas. Kevin yang sedang duduk di kursi nya. "Yang merasa tidak mengerjakan tugas nya. Segera Maju kedepan." Kata Kevin dengan tegasnya. "Cih. Menyebalkan sekali. Dasar guru killer." kata Maya di dalam hatinya. "Jangan suka mengopel di dalam hati. Cepat maju ke depan. Dan berdiri di samping papan tulis." kata Kevin.
Orang-orang di sana saling bertanya dan menoleh satu sama lain. "Siapa nya? siapa?" kata salah satu murid di kelas tersebut. "Saya hitung sampai tiga. Jika masih tidak maju ke depan. Saya tambah hukuman nya!" jelas Kevin dengan suara lantang.
"May. Udah berdiri aja. Dari pada makin ribet urusannya." Kata Hana pada Maya. Dan dengan terpaksa, Maya berdiri dan maju ke depan. "Huuu... ." kata orang-orang di sana secara bersamaan.
__ADS_1
Maya pun berdiri di depan kelas. "Jadi, saya sarankan untuk kalian semua nya. Jangan pernah malas dalam berlajar. Karena belajar adalah jambatan ilmu." Kata Kevin. "Paham?" tanya Kevin. "Paham pak... ." kompak. "Cih. menyebalkan Dan membosankan!" Ucap Maya di dalam hatinya. "Maya. Pulang nanti. Kamu ke ruangan saya dulu." Kata Kevin pada Maya. ''Iya pak." jawab Maya.
Jam pelajaran pun telah usai. Maya pun segera pergi menemui Kevin yang sudah menunggu nya. Di ruangan nya. Maya mengetuk pintu terlebih dahulu. "Tok... tok... ."
"Masuk." kata Kevin di dalam ruangan itu. Dengan hati-hati, Maya pun masuk ke dalam ruangan tersebut. "Duduk!" suruh Kevin. Dan Maya pun duduk di kursi depan Kevin. "Ada apa pak? Kenapa bapak manyuruh saya kesini ?" tanya Maya.
"Tidak ada. Saya cuma mau kamu temani saya saja disini!" kata Kevin. Maya membuka mulutnya. "Hah. Dasar gila!" ucap Maya keceplosan. Maya pun menutup mulutnya sendiri. Lalu meminta maaf kepada Kevin. "Ups... Ma-maaf pak... Sa-saya gak bermaksud seperti itu!" kata Maya.
"Lalu. Kamu mau bicara seperti apa?" tanya Kevin sedikit menyunggingkan senyuman itu. "Ti-tidak ada pak... Sumpah saya gak sengaja. Saya keceplosan." Jawab Maya. "Hmm... Keceplosan?" tanya Kevin. "I... iya." jawab Maya.
"Apa?" menatap Kevin. "Bapak menyuruh saya kesini. Karena ini? Terimakasih pak. Bapak sudah sangat baik sekali ke pada saya." kata Maya terharu. "Sudah. Cepetan makan. Jangan kebanyakan drama. Saya gak suka liat badan kamu. Ceking begitu!" kata Kevin meledek.
"Apa? apa? Apa bapak bilang, ceking? Bapak gak liat tubuh saya sexy, langsing seperti artis Korea." kata Maya berdiri memperlihatkan tubuh rampingnya. "Haha... apa kamu bilang? langsing? itu namanya Ceking. Bukan Langsing." ledek Kevin tertawa puas.
"Dari pada bapak. Aki-aki!" kata Maya kesal. "haha... Biar aki-aki. Tapi masih kuat, Keren, ganteng. Kamu saja, sampai terpesona." jawab Kevin bangga. "Cih. pede banget jadi orang. Maaf ya! Saya gak suka bapak!" bohong Maya. "Oh ya?" kata Kevin. "III... tau akh. Bapak rese. Saya pulang nih!" ancam Maya pada Kevin.
__ADS_1
"Ok. Ok. Saya minta maaf. Kamu lanjutkan makan. Saya akan menyelesaikan beberapa tugas dulu. Setelah itu kita pulang bersama." kata Kevin. Dan Maya pun mengikuti perkataan dari Kevin.
Disisi lain. Dirumah sakit. Silvi datang ke rumah sakit seorang diri. Untuk melihat keadaan Hesti. Masuk ke dalam ruangan. "Saya dengar dari Maya. Kamu sudah cukup membaik. Jadi, saya putuskan untuk datang kesini dan melihat langsung kondisi mu. Mantan istri tertua ku... ." kata Silvi sedikit meledek.
"Terimakasih. Tapi itu tidak perlu repot-repot." jawab hesti. " Dan segera pergi dari sini. Saya tidak ingin melihatmu." kata Hesti pada Silvi. "Ok. Tapi, sebelum saya pergi. Saya hanya ingin memberi tahu mu. Bahwa, Untuk pengobatan biaya rumah sakit mu itu tidaklah sedikit." kata Silvi.
Kemudian Silvi melanjutkan perkataan nya lagi. "Dan, apa kamu tahu? dari mana anakmu mendapatkan uang sebanyak itu. Untuk mambayar biaya pengobatan mu." kata Silvi. "Aku sudah tahu." Jawab Hesti. "Maya sudah mengatakan semuanya!" jelas Hesti.
"Oh ya... Apa yang dia katakan kepadamu? Apa dia mengatakan. Kalau uang yang dia dapatkan hasil dari menjual rumah. Mobil. toko busuk itu? atau... jangan-jangan, hasil dari jual diri. Ups... ." Silvi menghentikan ucapan nya.
"Kamu jangan bicara sembarangan. Saya tahu Anak Saya. Maya tidak mungkin berbohong. Maya bukan anak yang seperti itu." kata Hesti. "Hesti mengeluarkan sertifikat rumah dan surat-surat yang lainnya. Dan sebuah surat perjanjian. Jika dalam satu bulan Maya tidak mengembalikan uang tersebut. Maka semua harta pihak B akan menjadi milik pihak A (Silvi). Tapi, Jika seluruh asetnya ingin kembali. Maka, Pihak B harus segera mengembalikan uang tersebut, Beserta bunganya ke pada pihak A.
"Tidak. Ini tidak mungkin. Ini pasti hanya akal-akalan mu saja." bantah Hesti. "Heh. Jadi, bagaimana? Apa kamu akan mengembalikan uang tersebut. Atau semua harta mu menjadi milikku."
"Aku beri waktu satu pekan. Jika tidak bisa mengembalikan uang tersebut. Rumah, beserta yang lainnya. Menjadi milikku." jelas Silvi. "Ok. aku pergi dulu. Bye... ."
__ADS_1