Mengejar Cinta Pak Guru Tampan

Mengejar Cinta Pak Guru Tampan
Aku Tak Pantas Untuk nya


__ADS_3

Pelayan tersebut datang. Menghampiri Maya dan menyerahkan minuman tersebut pada Maya. Karena haus dan tanpa menyimpan rasa curiga. Maya segera meneguk minuman tersebut hingga habis. "Glek... Glek... ."


Beberapa saat kemudian. Obat tersebut mulai bereaksi. Silvi segera datang dan menghampiri Maya. "Sayang. Kamu kenapa?" pura-pura perduli.


Maya memegang kepalanya sendiri karena rasa pusing dan sedikit aneh baginya. "Ini seperti... ." ucapnya dalam hati. Menurut nya rasa pusing yang Maya rasakan saat ini. Hampir sama dengan rasa saat dirinya di beri obat oleh mantan kekasihnya dulu. Dan sekali lagi Silvi bertanya pada Maya. "Sayang. Kamu kenapa? Apa yang terjadi?" tanya Silvi kembali.


Masih memegang kepalanya, Karena rasa pusing yang semakin kuat. Silvi memanggil bawahan nya. Menyuruh bawahan nya, agar segera membawa Maya ke dalam kamar. "Bawa dia ke kamar!" pintah Silvi.


Memapah tubuh Maya. Sementara itu, Maya yang mulai menyadari bahwa ada yang tidak beres pada Silvi. Segera Maya melarikan diri dari sana. Melepaskan high heels miliknya. Berlari dengan tubuh sempoyongan. "Kejar dia!!" teriak Silvi. "Sialan!!" kesal Silvi.


Masih berlari. Terdengar suara ponselnya berdering. Segera Maya menjawab panggilan tersebut. "Ha-hallo. Hallo pak... ." suara Maya dengan Nafas terengah-engah. "Maya. Kamu kenapa? Kamu dimana?" tanya Kevin di balik telepon. "Aaa~ Lepaskan! lepaskan!" teriak Maya, karena dirinya berhasil di tangkap anak buah Silvi.


Sementara itu, Kevin yang mendengar suara teriakan Maya dari balik telepon seluler nya. "Hallo. Maya! Maya?!" teriak Kevin. "Sial!!" ucap Kevin kesal. "Mas! mau kemana?" tanya Ana yang melihat Kevin pergi dengan sangat terburu-buru. "Ana. Mas pergi dulu." ijin Kevin pada adiknya. Namun Kevin tak memberi tahu adiknya perihal kenapa dia pergi dengan sangat buru-buru.


Kevin segera masuk ke dalam mobilnya. Melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. "Apa yang terjadi padamu?" ucapnya khawatir.


Sementara itu, Maya terus berjuang terus melepaskan diri dari genggaman anak buah Silvi. "Lepaskan!" teriak Maya. "Lepaskan dia!" teriak Doni yang baru saja tiba.


Menoleh, "Doni... ." ucap Maya di dalam hatinya. "Apa kalian gak dengar?!" bentak Doni pada anak buah Silvi. "Ta-tapi... ." ucap salah satu dari mereka. Doni segera mengedipkan bola matanya pada anak buah Silvi. Dan mereka pun segera melepaskan Maya. "Sekarang kalian pergi!" pintah Kevin pada anak buah Silvi. "Ba-baik boss... ." kata bawahan Silvi. "Te-terimakasih... ." ucap Maya.


"Kenapa kamu bisa di tangkap mereka?" tanya Doni penasaran. "Ceritanya panjang. Sekarang, bisakah kamu membantu ku? Aku takut Tante Silvi menangkap ku lagi." ucap Maya was-was.

__ADS_1


"Silvi? Oh. Rupanya dia korban wanita itu lagi." ucap Doni di dalam hatinya. "Doni. Aku mohon. Mau kah kamu menolong ku?!" Sembari sesekali melihat ke arah belakang. Karena Posisi Maya saat ini memang tak jauh dari tempat kleb milik Silvi.


"Hmm... baik. Masuk lah!" kata Doni menyuruh Maya untuk segera masuk ke dalam mobilnya. "Masuklah." Dan segera, Maya pun masuk ke dalam mobil Doni.


Skip.


Sementara itu, Kevin yang masih mengendarai kendaraan roda empat miliknya. Segera berhenti di halaman rumah Silvi. Mengetuk pintu. Bahkan, sesekali berteriak memanggil nama Maya. Namun sayang, panggilan dan teriakan dari mulut kevin tak jua ada yang merespon. "Maya! Maya! Buka pintunya!" teriak Kevin.


Kembali menghubungi nomor Maya. "sial!!" marah. Karena panggilannya tak jua ada yang merespon. Karena ponsel Maya terjatuh saat dia di tangkap anak buah Silvi.


Kevin segera memeriksa JPS. Lalu dia segera pergi dari rumah Silvi.


Di dalam mobil Maya yang semakin tak tahan karena pengaruh obat tersebut. "Don. Tolong gue... ." Rintih Maya. Doni menyunggingkan senyuman di bibirnya. "Ya. Gue pasti bantu Lo." jawab Doni. Segera maraih pucuk ranum Maya. Mulai menjajal tubuh Maya secara perlahan. "Maya. Lo yang minta." ucapnya dalam hati.


Merapikan pakaian nya. Dan segera pergi dari sana. Tak lama kemudian, mobil milik Doni berhenti di sebuah tempat. Doni segera turun dari mobilnya dan menemui orang yang sudah menunggu nya. "Dia ada di dalam." kata Doni. "Sekarang, Mana uang nya?!''


"Tapi kamu belum apa-apa kan dia, 'kan?!" tanya Silvi. "Tenang saja. Sekarang mana uang ya?" pinta Doni tak sabar.


Karena Silvi berjanji akan memberikan sejumlah uang pada Doni. Jika Doni mau menyerahkan Maya padanya. "Nih. Itu cukup, 'kan?'' kata Silvi sembari menyerahkan uang tersebut. "Hehe... Ini lebih dari cukup. Sekarang kamu boleh mengambilnya."


Disisi lain, Kevin mengehentikan mobilnya. Karena JPS itu berhenti di sana. Segera turun, lalu kembali menghubungi nomor telepon Maya. "Ring... ." suara tersebut tak jauh darinya. Mencari keberadaan Suara telepon Maya. Tak lama kemudian, Matanya tertuju pada sebuah benda yang tak jauh dari bawah kaki nya. Mengambil benda tersebut. "Ini kan ponselnya."

__ADS_1


"Deg... ." jantung Kevin berdetak tak karuan. Pikirannya kacau. Dia benar-benar takut dan khawatir pada Maya. "Apa yang terjadi pada nya. Maya, kamu dimana?" ucapnya risau.


Skip.


"Hahaha... ." suara tawa dari mulut Doni. Malam itu, Doni bersenang-senang, Minum-minum. Bahkan dia juga bermain wanita. Menghabiskan uang dari pemberian Silvi. Sementara itu, selintas dia teringat bagaimana saat Maya memohon pertolongan padanya. "Don... please. Bantu gue... ."


"Aaaa~ Sial!!" teriak Doni. Sementara disisi lain, Maya tengah menangis. Karena seseorang tengah menggauli tubuhnya. Karena dia yang mulai tersadar. Dan sepertinya efek dari obat tersebut mulai menghilang secara perlahan.


Laki-laki yang hampir seumuran dengan ayahnya itu tertawa puas. Karena ia telah berhasil mendapatkan apa yang dia impikan selama ini.


Laki-laki itu pun segera beranjak dari tempat tidur. Marapikan pakaiannya. Dan pergi ke luar dari dalam kamar itu. Maya menangis sejadi-jadinya.


Di dalam kamar mandi. Dia berdiri di bawas guyuran shower. "Hiks... Hiks... kotor. Aku benar-benar kotor." ucapnya penuh kekecewaan dan amarah yang memuncak.


Disisi lain, Silvi terkekeh. Karena batu saja mendapatkan uang tambahan dari Jefrin. "Thank you... Kalau butuh lagi. Nanti tinggal japri saja. Hehehe... ."


"Ya. Dia benar-benar masih murni. Dan aku sangat menyukai nya." jawab Jefrin. "Nanti aku akan menghubungimu lagi. Sekarang aku pergi dulu." ucapnya pamit.


"Ok... ." Silvi segera masuk ke dalam kamar. "Kemana anak sialan itu?" ucapnya. Lalu mendengar suara tangisan dari dalam kamar mandi. "Heh. Gitu aja nangis. Dasar anak sialan."


Keesokan paginya. Kevin kembali datang ke rumah Silvi. Mempertanyakan kebenaran Maya. "Maya! Maya! Aku tahu kamu ada di dalam. Keluarlah." teriak Kevin di balik pintu.

__ADS_1


"Berisik. Sudah aku katakan, Dia tidak ada di rumah. Sekarang, kamu pergi dari sini!" kata Silvi sedikit tinggi. "Tidak. Aku tidak akan pergi Sebelum dia menemui ku." bersikukuh.


"Terserah." Silvi segera masuk ke dalam dan menutup pintu rumahnya. Sementara itu, Maya yang bersembunyi di dalam kamarnya, Memeluk kakinya sendiri. "Pak Kevin... Aku tak pantas untukmu. Aku tak pantas... ." ucapnya berderai air mata.


__ADS_2