
Setelah dari kamar mandi. Kevin kembali ke ruang tamu sembari membawa gitar di tangannya. Lalu, Ia duduk di kursi, ''Treng... .'' gitar mulai di petik. Ia pun mulai menyanyikan sebuah lagu, ''DIA'' Milik salah satu penyanyi dari Indonesia. Maya yang tengah pokus belajar. Kini malah fokus ke pada Kevin yang kini tengah bermain gitar. Ia menatap wajah tampan Kevin dengan senyum manis di bibir Maya. Sedangkan tangannya, menahan wajah cantik nya.
''Wow. Ternyata, suaranya Tak kalah enak dengan penyanyi aslinya.'' Ucap Maya dalam hati. Ia mulai membayangkan bagaimana saat itu, Ia sedang menikah dengan Kevin.
''Hihihi... .'' Lalu Ia pun tertawa. Tampa Maya sadari, jika Kevin tengah memperhatikan nya. Lalu, Ia menghentikan permainan gitarnya.
Tapi Maya tetap dalam lamunannya. ''Hihihi ðŸ¤ðŸ¤... .'' Ia terus tertawa kecil. Hingga, membuat Kevin bingung. Apa yang Maya bayangkan. Lalu, Kevin menggeprak meja
''Bug... .'' Seketika Maya tersadar dari lamunannya. ''Eh copot!'' Ucap nya, dan sedikit terperangah. ''Hahaha. Apanya yang copot?'' Tanya Kevin, sembari tersenyum karena melihat Maya yang kaget karena ulahnya.
''Akh Bapak. Ngagetin saja... .'' Kecewa. ''Anak kecil nggak boleh ngelamun. Belajar yang bener.'' Ucap Kevin. ''Siapa yang ngelamun!'' Ngeles Maya. ''Oh... nggak ngelamun. Terus... tadi apa seyum-seyum sendiri. Jangan-jangan... .'' Kevin menggoda Maya. ''Iangan-jangan apa? maksud Bapak saya gila?''
__ADS_1
''Mungkin. Hahaha... .'' Tertawa puas. ''Ah bapak... Saya, gila juga karena Bapak.'' Ucap Maya, dengan bibir sedikit monyong karena kesal. ''Kok gara-gara saya?'' Pura tidak mengerti. ''Iyalah, Karena bapak sudah membuat hati Saya kembang-kempis. Seperti mau meledak.''
''Oh ya... .'' Meledek. Jawaban Kevin yang begitu singkat membuat Maya semakin kesal. Dan kembali memonyongkan bibir cantiknya. Kini, suasana di dalam sana tampak sepi. Dan Maya kembali membuka mulutnya. ''Pak..
.''
''Hmm... sudah selesai tugasnya? Kalau sudah. Sini Saya mau lihat.'' Ucap Kevin, dengan mata yang fokus pada buku yang Ia pegang. ''Belum... .''
''Saya serius Pak. Saya suka sama Bapak. Saya cinta sama bapak. Dan... hati Saya selalu berdebar kencang jika di dekat Bapak. Rasanya... seperti mau meledak. Saya tidak bisa membohongi diri Saya sendiri. Saya selalu terbayang wajah tampan Bapak. Saya seperti orang gila Jika sehari saja tidak melihat Bapak. Saya serius, Saya cinta Bapak. Bapak mau tidak, menerima cinta saya?'' Meremas tangannya sendiri.
Panjang lebar Maya bercerita. Tiba -tiba, ''Ring... .'' Ponsel milik Kevin berdering. ''Maaf nya. Saya angkat telepon dulu.'' Lalu Kevin pun mengangkat telepon nya. Dan sedikit menjauh. ''Iya. Iyah Mas jemput sekarang. Sudah jangan marahnya... .''
__ADS_1
Dari kejauhan. Maya yang mendengar pembicaraan Kevin dengan orang yang ada di dalam telepon. ''Apa. Mas. Jangan marah. ''Seketika tubuh Maya tak berdaya. Hatinya sakit. Dan tak terasa butiran butiran putih lolos dari sudut matanya. Kevin setelah selesai berbicara dengan orang di baik telepon seluler milik nya. Ia bergegas kembali ke dalam. ''Maya. Saya minta maaf. Saya harus pergi dulu. Kita lanjutkan besok saja nya.'' Sibuk memakai jaket.
''Ia... Tidak apa-apa Pak.'' Jawab Maya yang begitu sendu. Lalu tangan nya mengusap buliran putih yang terus keluar dari sudut matanya, yang membuat buram penglihatan nya. ''Kamu kenapa?'' Kevin melihat wajah Maya. Lalu Ia kembali bertanya, ''Kamu menangis?'' Kevin mengusap air mata Maya.
''Tidak. Saya hanya kelilipan.'' Bohong Maya pada Kevin.
''Oh nya Pak. Soal yang tadi Saya katakan. Bapak jangan di pikirkannya. Saya... hanya bercanda kok.'' Membereskan buku. Lalu memasukkan nya ke dalam tas. ''Saya permisi pulang dulu.'' Lalu Ia berjalan keluar. Baru saja beberapa langkah. Kevin menghentikan langkah Maya. ''Tunggu dulu!''
Maya pun menghentikan langkah nya. Dan Tampa menoleh kebelakang. ''Maya. Saya minta maaf. Saya harap... agar Kamu membuang perasaan mu kepada Saya. Karena Saya, sudah memiliki tunangan.'' Ucap Kevin pada Maya.
Namun aneh nya, ucapannya itu justru tidak hanya membuat hati Maya sakit. Tapi, hatinya sendiri pun ikut terasa sakit. Kemudian, Maya melihat ke arah Kevin dan tersenyum. ''Bapak tenang saja. Saya tidak mencintai Bapak kok. Saya tadi hanya bercanda.'' Kemudian Maya melanjutkan langkahnya. Dan menunggangi kuda besinya. lalu pergi dari hadapan Kevin.
__ADS_1