Mengejar Cinta Pak Guru Tampan

Mengejar Cinta Pak Guru Tampan
lo mau kan balikan lagi


__ADS_3

Karena besok hari libur. Kevin memberikan beberapa tugas rumah. ''Awas! kalau tidak di kerjakan. ''Baru saja Maya membuka mulut, ''Tidak terima protes dalam bentuk apapun!'' Ucap Kevin. ''Dasar Guru killer.'' Ucap Maya, yang kesal pada Guru tersebut. ''Eh... jadi, bagaimana Pak? Bapak mau nya saya traktir. Yah... walaupun cuma makan baso?''


''Hmm... nanti saja traktir nya. Kalau Kamu sudah berhasil melewati masa perbaikan. Dan untuk saat ini, Kamu cukup belajar yang bener. Buktikan kalau Kamu itu bisa. Kamu tidak mau, 'kan? Kalau Saya sampai keluar dari sekolah ini. Cuma gara-gara Kamu Gagal.'' Ucap Kevin. ''Serius Pak! Bapak mau? Kalau begitu Aku akan buktikan. Aku pasti bisa. Biar... Aku bisa makan berdua sama Bapak. Hehehe... .''


''Buktikan saja dulu. Jangan banyak menghayal. Ini nomor hp Saya. Tanyakan saja jika ada soal yang tidak kamu mengerti.'' Kevin memberikan secarik kertas yang berisi tulisan no hpnya. Dengan senang hati, Ia mengambil kertas itu dari tangan Kevin. ''Makasih Pak. Kalau begitu, Saya pulang dulu.''/ ''Ya... hati -hati di jalan.''


Maya terus berjalan menuju parkiran. Ia seyum-seyum sendiri, dan sesekali Ia melihat kertas yang Ia pegang. Lalu, Ia menaruh kertas itu di dadanya. Kemudian, di ciumlah kertas tersebut. Sanip yang melihatnya sampai geleng-geleng kepala. ''Kasian, masih muda udah setr... .'' Ucapan nya tidak Ia lanjutkan. Karena Maya menatap nya dengan tajam.


''Apa liat-liat! terpesona nya dengan kecantikan Ku.'' Maya duduk di atas kuda besinya. ''E-enggak Neng Maya.'' Jawab Sanip terbata-bata. ''Enggak. Enggak apa? maksud pak Sanip Saya nggak cantik gitu!''


''Ca-cantik Neng. Neng Maya mah paling cantik di sekolah ini.'' Bohong Sanip pada Maya. ''Cakep... .'' Maya mengangkat Ibu jarinya. ''Kalau begitu, Saya pulang dulu ya. Dadah pak Sanip.'' Maya melambaikan tangan. ''Selamat. Selamat... .'' sembari mengelus dada.

__ADS_1


Tiba-tiba Kevin datang. Dan mengagetkan Sanip. ''Selamat kenapa pak?'' Tanya Kevin yang baru saja tiba di parkiran. ''Eh. Kagak Pak Kevin.'' Balas Sanip. ''Saya pulang dulu nya pak.'' Kevin masuk ke dalam mobilnya. Dan roda empat itu mulai berjalan. ''Tit... Tit... .'' Bunyi klakson.


...*****...


''Assalamu'alaikum... .'' Maya yang baru saja tiba di depan rumah nya. Lalu, Ia mencium tangan punggung Ibunya. ''Wa'alaikumsalam. Baru pulang?'' Tanya Bu Hesti. ''Iya.'' Maya masuk ke dalam kamarnya.


Malam hari. Maya sedang makan malam bersama orang Tuanya. Tiba-tiba, dari luar terdengar suara pintu di ketuk. ''Tok... Tok... .'' Bu Hesti segera pergi ke ruang tamu. Dan membukakan pintu. ''Assalamualaikum Bu.'' Doni mencium punggung tangan Bu Hesti. ''Wa'alaikumsalam.'' Jawab Bu Hesti. ''Maya nya ada Bu?'' Tanya Doni. ''Ada. Silakan duduk nak Doni.''


''Hei May.'' Tersenyum. ''Lo ngapain kesini? pulang sana! Gue nggak menerima tamu malam ini.'' Cetus Maya. ''Hus. Nggak boleh ngomong gitu. Maaf ya nak Doni. Silakan duduk dulu. Ibu ambilkan minum dulu.''


Wanita itu pun pergi ke dapur untuk mengambil minuman. Maya yang masih saja diam seribu bahasa. Dan tak lama kemudian, Bu Hesti datang membawa namfan berisi minuman dan beberapa cemilan. ''Di minum dulu nak doni. Ibu teh pergi ke dalam dulu.''

__ADS_1


''Iya. Makasih Bu. Jadi ngerepotin.'' Sopan. ''Iya. Tidak apa-apa. Maya temenin nak Doni.''


Bu Hesti pun masuk ke dalam.


''May. Aku minta maaf. Karena... dulu mengkhianati mu.'' Doni memegang punggung tangan Maya. ''Nggak usah pegang -pegang!'' Protes Maya. ''Sorry. Sorry.'' Doni melepaskan pegangannya. ''May... Gue masih sayang sama Lo. Lo mau kan balikan lagi sama gue.''


Doni terus memohon. Namun Maya menolak nya. ''Maaf Don. Gue gak bisa. Gue udah nggak percaya lagi sama omongan busuk Lo. Lebih baik sekarang Lo pulang.'' Cetus Maya.


''Tapi May... Gue sungguh-sungguh. Gue menyesal.'' Ucap Doni. ''Gue gak butuh penyesalan dari Lo. Sekarang Lo pergi dari sini. Karena sampai kapan pun, Gue gak bakal mau balikan lagi sama Lo!'' Jelas Maya.


Karena Doni tak kunjung pergi dari hadapannya. Dan sekali lagi, Maya menyuruh Doni pergi. Namun, kali ini sedikit lebih keras. ''Apa Lo nggak denger! Gue bilang, Lo pergi dari sini!'' Bentak Maya. ''Ok. Ok... Gue pergi dari sini. Tapi, Gue nggak bakalan menyerah. Gue pasti bisa dapetin Lo lagi.'' Mencoba menyakinkan. ''Terserah.'' Maya masuk ke dalam rumahnya.

__ADS_1


__ADS_2