Mengejar Cinta Pak Guru Tampan

Mengejar Cinta Pak Guru Tampan
Gadis Baik


__ADS_3

"Jadi semalam aku... ." Tiba-tiba dia teringat Silvi. Sebab, Maya yakin Silvi akan memarahinya. Karena dia tak kunjung pulang ke rumah. "Ya ampun. Kemarin kan Tante Silvi... ."


Maya segera bangkit dari tempat tidur. Ana masuk ke dalam kamar dengan semangkok bubur buatan nya. Begitu pintu di buka, Maya segera lari ke luar tanpa melihat-lihat. Bahkan, dia hampir saja menabrak Ana. Dan bubur yang di bawa Ana pun hampir tumpah.


"Ya ampun. Maya. Kamu mau kemana?" teriak Ana. Kevin yang baru terlelap segera membuka kembali bola matanya. "Ada apa Ana?" Tanya Kevin. "Maya mas. Maya." kata Ana. "Maya?" ucap Kevin. Kevin segera melihat ke atas tempat tidurnya. "Kosong... Dia di mana sekarang?" tanya Kevin kembali. Segera Kevin lari mengejar Maya. Di susul Ana dari belakang.


"Bagaimana mana mas?" tanya Ana terengah-engah. "Sial!" kesal Kevin. Karena Ternyata Maya sudah pergi dari sana menaiki angkutan kota. "huh... huh... cepat sekali pergi nya." kata Ana. Karena Kevin dan Ana merasa khawatir. Takut terjadi apa-apa pada dirinya. Jika melihat kondisi Maya saat ini yang masih sakit.


Belum lagi Kevin dan Ana yang merasa curiga akan kehidupan nya bersama silvi. Mereka yakin, Bahwa kehidupanyà di sana tidak baik-baik saja. Kevin pun masuk ke dalam mobilnya sendiri. "Mas mau kemana?" tanya ana penasaran. "Mas mau menyusulnya. Mas yakin, pasti ada yang tidak beres dengan nya disana." jawab Kevin. "Kamu mau ikut?" tanya Kevin. "Naiklah." ucapnya demikian.


...*****...


Disisi lain. Maya turun dari mobil yang tadi dia tumpangi. Hendak membayar ongkos. "Ya ampun. Aku lupa, aku tidak punya uang." ucapnya dalam hati. Ia pun meminta maaf pada sopir angkot tersebut. Dan berkata sejujurnya. Dan untung nya si sopir itu baik hati. "Ya. tidak apa-apa." ucap sopir angkot tersebut.


Dengan senang hati, Maya mengucapkan terima kasih pada sopir angkot tersebut. Dia pun segera berlari menuju rumah Silvi. Setibanya di sana, Maya mendapati Silvi tengah mesrah dengan seorang laki-laki. Namun, Itu bukan bapaknya.


"Siapa dia?" tanya laki-laki itu pada Silvi, yang melihat kedatangan Maya. Terlihat mata laki-laki itu, nampak genit melihat Maya. "Ah... dia bukan siapa-siapa. Sayang. Lebih baik kamu pulang dulu, ya?" kata Silvi pada laki-laki itu. Mendorong tubuh laki-laki itu ke luar rumah. "Ok. tak masalah. Aku pergi dulu sayang. bye... ."

__ADS_1


"Dari mana saja kamu. Hah?!" tanya Silvi, dengan bola mata yang membulat sempurna. Dan kedua tangannya berada di atas pinggang. "Ma-maaf Tante. Kemarin Maya pingsang. Beruntung ada Ana dan pak Kevin yang menolong Maya." jawab Maya.


"Halah Alasan! Sekarang, Mana uang yang aku berikan padamu?!" tanya Silvi. "U-uang... ." mencoba mengingat nya. "Ya. Uang yang kemarin aku berikan padamu. Mana?"


"Sudah Maya belikan, sesuai permintaan Tante." jawab Maya. "Lalu, sekarang mana?" tanya Silvi. "Ya ampun... tertinggal di rumah pak Kevin... ." ucapnya dalam hati. "Mana?" bentak silvi. "Dasar tidak tau di untung. Masih untung aku membiarkanmu tinggal di sini. Tidur, makan gratis. Sekarang kamu berbohong padaku. Kata kan kamu apakan uang itu? plak... ." memukul Maya menggunakan gagang sapu. Hingga, Maya meringis kesakitan.


"Ampun Tante... Maya gak bohong." Rintih Maya. Sekali lagi, Silvi memukul Maya. "Plak... ." Kevin dan ana yang baru saja tiba. Dan tak sengaja menyaksikan kejadian tadi di balik kaca. Silvi hedak memukul kembali. Namun segera di hentikan Kevin. "Hentikan. Jika tidak. saya laporkan anda ke pihat yang berwajib."


"Ada apa kalian kesini? jangan ikut campur!" teriak Silvi. "Maya. Kamu tidak apa-apa?" tanya ana. Maya pun menggelengkan kepalanya. "Keluar! keluar kalian dari sini!" teriak Silvi. "Baik. Kami akan pergi dari sini. Maya kamu ikut dengan ku?!" kata Kevin. "Ya. Kamu ikut saja. Lebih baik kamu tinggal bersama ku, dan mas Kevin."


"Tapi Maya. Dia itu sudah jahat padamu. Biarkan saja. Paling dia hanya pura-pura." kata Ana. "Tidak. Aku tidak perduli. Tapi dia, Calon adik ku. Aku tidak mau dia kenapa-napa. Bapak. Bapak tolong bantu saya. Tolong Tante Silvi. Tolng panggil kan dokter kesini." pinta Maya.


"Jangan Mas. Biarkan saja dia. Sekarang kita pulang." kata Ana kesal. Silvi pun semakin merintih kesakitan. "Haduh... sakit... ."


"Ayo mas. Kita pulang." Menarik tangan Kevin. Karena merasa iba. Kevin pun menghubungi Andrea. Dan menyuruh nya untuk segera datang.


setibanya disana. Andrea segera memeriksa keadaan Silvi. Sementara itu, Maya mencoba bicara baik-baik pada ana. Dan mencoba menjelaskan semuanya. Setelah mendengar penjelasan tersebut. Ana memeluk Maya. "Aw... ." Rintih Maya. Mengangkat sedikit pakaian Maya. "Ya ampun... ." kata ana. Yang melihat begitu banyak bekas pukulan di punggung Maya.

__ADS_1


"Maya. Ini harusnya sudah di laporkan. Kenapa kamu tetap saja diam." kata Ana geram. "Dia itu, ibuku ana. Dan sekarang, dia tengah mengandung. Lagi pula, memang aku yang selalu membuat kesalahan." bohong Maya. "Ana. Obati lukanya!" perintah Kevin.


Ana pun mulai mengoles salep pada luka Maya. Hingga tak terasa, Ana menetes kan air mata. "Maya. Begitu berat kehidupan mu. Semoga tuhan segera mengganti nya dengan kebahagiaan yang tiada Tara."


Lalu, Ana memeluk Maya. "Ana. Kamu kenapa?" tanya Maya keheranan. "Mas. Sekarang aku paham kenapa kamu sangat menginginkan nya. Karena dia, Memiliki hati yang bersih." kata Ana pada Kevin. yang tengah duduk di kursi.


"Maya. Saya sangat berharap, kamu dan mas Kevin bisa bersama. Tapi, jika mas Kevin bukan jodoh mu. Semoga kelak kamu bisa mendapatkan pasangan yang benar-benar baik padamu." ucap Ana. "Maya. Jika kamu ada masalah. Jika kamu butuh seseorang untuk menjadi teman curhat mu. Datanglah padaku. Jangan sungkan." ucapnya kembali.


"Ya. Terimakasih kasih ana." ucapnya. Andrea ke luar dari dalam kamar Silvi. "Bagaimana keadaan Tante Silvi?" tanya Maya. "Tidak apa-apa. Tadi itu dia hanya kram perut. Mungkin karena setres, atau karena terlalu kecapean. Maya. Tolong beri tahu dia, Agar jangan terlalu banyak pikiran. Jika kram nya terlalu sering. Bisa-bisa dia akan kehilangan bayinya." Jelas Andrea.


"Ini resep obat nya. Ingat! bilang padanya. kalau marah sedikit di kontrol. Berisik." ucapnya sembari memegang daun telinga nya. "Hahaha... ka Andrea suka ngadi-ngadi." Kata ana. "Ya sudah. Maya kita harus pulang. Kamu beneran tidak mau ikut dengan kami?" tanya Kevin. "Tidak. Terimakasih pak... ." jawab Maya.


"Maya. Cobalah jangan panggil dia bapak terus. Kesannya, Kevin kaya kolot gitu." kata Andrea. Ana segera mencubit lengan Andrea. "Aw. aw. Haduh... ana kamu begitu suka kah memcubit ku." kata Andrea yang kesakitan. "Seenaknya bilang mas Kevin kolot. Kak. Andrea tuh yang kolot."


"Aish... Masa iya aku kolot. Lihat Ana, wajahku begitu mirif oppa-oppa Korea begini." kata Andrea. "Dokter Andrea. Saya bilang bapak, Karena dia itu guru saya." jelas Maya. "Dengar tuh. Karena Maya menghargai profesi kakakku."


"Sudah. Sudah. Kenapa jadi ribut. Maya aku pulang dulu, ya!" kata Kevin pada Maya. "Iya Pak Kevin... ." ledek Andrea. "Cari mati." kata Kevin.

__ADS_1


__ADS_2