
Sekali lagi Kevin bertanya pada Maya, perihal luka yang ada di tangan Maya. Namun, Maya tak jua mau jujur. Dia lebih memilih bungkam. Ketimbang bicara jujur. "Ya sudah. Ayo kita ke dalam." ajak Kevin pada Maya.
Mereka pun mulai masuk ke dalam pasar malam. Andrea dan Ana yang memimpin jalan Maya dan Kevin. Menikmati suasana di pasar malam. Dan hampir semua wahana Ana dan Andrea naiki. Begitu pun dengan Kevin dan Maya.
Malam itu Maya benar-benar happy di buat nya. "Makasih ya pak!" kata Maya. "Hah. Makasih? makasih karena apa?" Kevin balik bertanya. "Karena malam ini, saya benar-benar happy." jawab Maya. "Hmm... tidak perlu berterima kasih seperti itu. Lagi pula, saya cuma bawa kamu ke tempat seperti ini." Kata Kevin.
"Heh. Memang nya kenapa? Tapi saya lebih suka ke tempat seperti ini. Bukan hanya terjangkau, Juga menyimpan banyak kenangan." Kata Maya. "Dulu, Jika ada pasar malam. Aku dan mamah pasti selalu datang, walau hanya sekedar melihat-lihat." ucapnya demikian.
"Tapi sekarang... Mamah sudah tidak ada. Semuanya hanya tinggal kenangan." ucap nya. "Hmm... Maaf ya. Bukan maksud nya aku ingin mengingatkan mu pada ibu mu!" ucap Kevin, merasa tidak enak hati. Maya tersenyum pada Kevin.
"Hehe... kenapa bapak meminta maaf? Bapak tidak perlu meminta maaf seperti itu. Justru saya sangat senang sekali." kata Maya.
Maya dan Kevin berjalan santai melihat- lihat di sekitar pasar malam itu. Tiba-tiba mata Kevin tertuju pada pedagang kembang gula. "Kamu mau?" tanya Kevin. "Apa?" tanya Maya. "kembang gula." kata Kevin, menunjuk ke pedagang kembang gula. Maya terseyum, lalu menganggukan képala nya.
Maya yang tengah menikmati mati kembang gula. Otak jahil Kevin mulai keluar. "Maya. Coba lihat sebelah sana!" ucap Kevin menunjuk ke sebelah kiri. Dan Maya pun menoleh. Lalu, "Hap... ." Kevin melahap kembang gula yang sedang di pegang Maya.
"Apa? Gak ada ap... Bapak!" kesal Maya, yang mendapati Kevin sedang melahap kembang gula milik nya. "Haha... jangan marah dong!" bujuk Kevin. "Tau akh... ." kesal Maya memalingkan wajahnya. Kevin terus membujuk Maya agar tidak marah lagi.
__ADS_1
Disisi lain, Andrea dan Ana yang terheran-heran melihat Kevin yang sedang membujuk Maya. "Ka Andrea, tolong cubit hidung ku!" kata Ana. "untuk apa?" tanya Andrea. "Cepetan. Cubit hidungku." ucapnya kembali. Dan Andrea pun menuruti perintah Ana. Andrea mencubit hidung Ana. Dan Ana pun menjerit kesakitan. "Aw... Sakit kak Andrea." Memcubit kembali Andrea dengan sekuat tenaga, Hingga Andrea merintih kesakitan.
Mengusap lengan nya yang tadi di cubit ana. "Aw. Sakit ana." Kata Andrea. Ana pun menjulurkan lidahnya. "Rasain. Wee... ."
"Dasar aneh. Tadi kamu bilang cubit hidung mu. Giliran di cubit. Kamu malah nyubit balik." jelas Andrea. "Hehe... Iya si. Kalau begitu, Berarti aku lagi gak mimpi dong." ucap ana. "Ya emang lagi gak mimpi. Emang kenapa si?" tanya Andrea. "Tuh. liat mas Kevin. Sejak kapan dia jadi lemah lembut seperti itu. Aku saja, yang jadi adiknya gak pernah di perlakukan seperti itu." kata Ana cemburu.
"Iya si. Aku juga baru liat sekarang. Ternyata Kevin ada sisi lemah nya juga." ucap Andrea. "Udah dong. Jangan cemberut terus. Kita beli lagi, Kali bisa kita borong tukang dagangannya sekalian. Udah nya... ." Masih membujuk. "Gak mau!" tolak Maya. "Ya sudah. Bilang saja, kamu mau apa? Nanti saya belikan." kata Kevin.
"Aku mau di gendong." kata Maya. Seketika mata Kevin terbelalak. "Hah. Gendong? apa hubungannya?" kata Kevin heran. "Ya sudah kalau gak mau. Aku mau pulang saja." kata Maya. "Haduh... ya sudah." Kevin berjongkok. Dan dengan senang hati Maya segera menunggangi punggung Kevin. Ana Dan Andrea tercengang dan saling menatap satu sama lain.
"Kak Andrea?" menarik baju lengan Andrea. "Apa?" Tanya Andrea. "Aku juga mau dong. di gendong... ." kata Ana memelas. "Tidak. Malu-maluin aja." tolak Andrea. Lalu Andrea berjalan menuju mobilnya. "Ka Andrea... ." rengek ana. "Tidak!" tolak Andrea. "Aaa... ka Andrea!" Ana berlari. Dan segera Menunggangi punggung Andrea.
Skip.
"Maya kenapa gak nginep saja di rumah ku!" pinta Ana. "Lain kali saja Ana. Sekarang gak bisa." kata Maya. "Yah... Ya sudah deh. Tapi janjinya? Nanti kamu nginap di rumah ku?" ucap ana. Maya terseyum dan mengiyakan ajakan ana.
"Aku masuk ke rumah dulu, ya? Pak Kevin. Ana. Terimakasih, ya?" ucap Maya. "Ya. Kita pulang dulu. Bye... ." Mereka pun pergi. Sementara Maya yang masih berdiri di depan pintu. "Tante buka pintunya. Ini Maya." teriak Maya.
__ADS_1
Lama Maya memanggil Nama Silvi. Namun Silvi tak juga membuka pintunya. Hingga akhirnya, Maya pun tidur di luar.
Keesokan paginya. "Byur... ." Silvi menyiram kan air ke wajah Maya. Segera Maya terbangun. "Ada apa Tante?" tanya ana. "Ada apa? Ada apa? Kamu gak liat, Ini sudah siang. Molor aja bisa nya." bentak silvi. "Cepat pergi ke pasar. Beli bahan-bahan dapur." suruh Silvi.
"Maaf Tante. Maya bukanya gak mau. Maya gak enak badan. Kayak nya Maya masuk angin." Tolak Maya. Tubuhnya menggigil. Wajahnya pucat. "Halah. Alasan saja." kata Silvi. "Maya gak Bojong Tante. Maya beneran gak enak badan." ucap nya.
"Mungkin karena semalam Maya tidur di luar Tante." ucap nya kembali. "Siapa suruh, main gak tahu waktu." kata Silvi. "Semalam Maya main cuma sampai jam 10." Kata Maya. "Itu sama saja. Sudah lah. Jangan banyak ngomong. Cepetan pergi ke pasar. Beli bahan-bahan. Karena hari ini saya akan kedatangan tamu." ucap nya memaksa.
Dan dengan terpaksa. Maya pun pergi ke pasar, untuk membeli bahan-bahan seperti yang Silvi pinta. "Hah. Sisa 2000. Mana cukup untuk banyar angkot." ucapnya. "Kalau jalan kaki, Bisa satu jam baru sampai di rumah." kata Maya yang kebingungan.
Berdiri di pinggir jalan. Dan di Tangannya penuh dengan belanjaan. Hendak menyebrang. "Tit... ." suara klakson mobil. Maya pun mengurungkan niatnya untuk menyebrang. "Maya? Kamu mau kemana?" Tanya Ana. "Hmmm... Aku mau pulang." jawab Maya.
Kevin mengambil belanjaan dari tangan Maya. Lalu menaruhnya ke dalam mobil. Melihat pakaian Pakaian Maya. "Pakaian semalam. Kenapa pakaian basah... ." Kata Kevin di dalam hatinya. "Semalam kamu tidur di mana?" tanya Kevin. "Aku tidur di rumah." jawab Maya. "Maya? kenapa wajahmu pucat sekali? Kamu sakit?" tanya Ana. "Ti-tidak... ." bohong Maya.
Lalu ana menempel kan punggung tangan nya ke kening Maya. "Panas... ." ucap Ana. "Brug... ." Maya pun tergeletak di bawah. "Maya. Maya." teriak Ana. Segera Kevin membawa Maya masuk ke dalam mobilnya. Dan di bawalah Maya ke rumahnya.
Kevin segera menidurkan Maya di kamar nya. Mengompres kening Maya. Tak lama kemudian, Kevin menempelkan punggung tangan nya ke kening Maya. "Kenapa panasnya gak turun-turun." Kata Kevin semakin khawatir.
__ADS_1
"Bagaimana mas?" Tanya ana yang baru masuk ke dalam kamar Kevin. "Masih panas." Jawab Kevin. "Ya sudah. Mas, mandi dulu gih! Lalu makan. Biar Maya aku yang jaga." Kata ana.
Hingga tengah malam, Kevin terus berjaga. Dan sesekali mengecek suhu tubuh Maya. Waktu hampir pagi. Kevin tertidur. Sementara Maya bangun dari tidurnya. Membuka matanya secara perlahan. Melihat Kevin tertidur di samping nya. Dan di tangannya masih memegang sapu tangan bekas mengompres kening Maya. "Pak Kevin... ."