Mengejar Cinta Pak Guru Tampan

Mengejar Cinta Pak Guru Tampan
kampret


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul 12.00 siang. Pertanda jam pelajaran telah usai. Pitri dan Hana sangat khawatir. Karena Maya tak jua kembali kesekolah. Bahkan, hingga berakhir nya jam pelajaran. Hana menghubungi Maya dengan telepon selulernya. ''Bagaimana?'' Tanya Pitri pada Hana. Hana menengadahkan wajah nya pada Fitri. ''Dia tidak menjawab panggilan nya.'' Ucap Hana.


Kali ini, giliran Pitri yang menghubungi Maya. Berharap Maya mau menerima panggilan tersebut. 1, 2, Hingga 3 kali Pitri menghubungi Maya. Namun, tetap saja Maya tidak mau menerima panggilan tersebut. Dan, ke khawatiran mereka pun semakin menyeruak. ''Bagaimana dong. Gue takut Dia ke napa-napa... .'' khawatir Pitri pada Maya.


Pasalnya, Maya belum pernah seperti ini sebelumnya. ''Kita hubungi Ibunya saja. Barangkali Dia pulang ke rumah nya.'' Ucap Robin. ''Hmm... Jangan. Syukur-syukur kalau Maya ada di sana. Kalau tidak? Bagaimana? Nanti, Ibunya bakal ikut khawatir.'' Berpikir. ''Terus... kita harus bilang apa ke Ibunya nanti. Kalau si Maya gak pulang-pulang... .'' khawatir Hana.


''Tapi... benar juga. Terus, gimana dong?'' Tanya Pitri pada ke tiga sahabat nya. ''Kalian belum pulang?'' Tanya Kevin pada ke empat orang itu. Suara itu seolah memberi penerangan pada sebuah jalan yang gelap. Empat orang yang sedang kebingungan itu kini telah mendapatkan sebuah ide. Secara bersamaan, keempat orang itu tersenyum devil. Menatap pada sang Guru. ''Heh...😏''.


''Kalian kenapa?'' Tanya Kevin yang kebingungan. Kini keempat orang itu mulai berakting. Mengeluarkan jurus jitu nya. ''Huhu... .'' Secara serentak pura-pura menangis. ''Pak. Maya sampai saat ini belum ada kabar. Saya sudah mencoba menghubungi nya beberapa kali. Tapi... handphone nya tidak dapat di hubungi.'' Cetus Hana.

__ADS_1


''I-Iya Pak. Saya sangat khawatir Pak. Bagaimana kalau dia di culik. Terus... di-di anu. Hmm... di perk*rsa. Lalu. Lalu di bunuh. Huhuhu... .'' Sambung Pitri. ''Iya Pak. Tolong cari Dia Pak. please... pasalnya, Maya kalau marah suka nekat Pak. Kemarin aja, Dia nyemplung ke got tetangga Pak.'' Ucap Robin.


''Iya Pak.'' Sambung Roy. ''Hmm... Coba Saya bubungi Dia.'' Kevin mengambil ponselnya di kantung celananya. Lalu, menghubungi Maya. ''Tut... Tut... .''


Disisi lain, Maya yang tengah tertidur di dalam kamarnya sendiri. Karena perutnya mulai terasa lapar. Maya pun terbangun dari tempat tidurnya. ''Kruwukk... .'' Suara panggilan dari perut nya bahkan mengalahkan suara panggilan dari ponselnya yang sedari tadi sudah berdering.


Ia pergi ke dapur untuk mencari makanan apa yang bisa Ia makan. Namun, sebelum Ia sampai ke dapur. Ia, tak sengaja mendengar percakapan Ayahnya dengan seseorang. Dan sepertinya itu suara seseorang Wanita. ''Ia sayang... nanti kita ketemu.'' Itulah yang Maya dengar. ''Sayang... Papah bicara dengan siapa?'' Ucap Maya dalam hati.


Selang beberapa menit. Rasa lapar kembali menyerang perutnya. ''Aduh... lapar.'' Memegang perut nya yang rata. Kemudian, Ia mengambil ponselnya. Dan betapa terkejutnya Ia, melihat begitu banyak panggilan. Terutama dari Kevin. ''Hah. Pak Kevin menghubungi saya. Ada apa?'' Kemudian Ia melihat sebuah pesan dari temannya nyaitu Hana.

__ADS_1


''May. Lo di mana? Lo nggak bunuh diri kan?'' Isi dalam massage. ''Gue masih punya iman.'' Jawab Maya. ''Sorry. Gue baru bales pesan dari Lo. Soalnya, Gue tadi ketiduran di rumah.'' Sambung Maya.


Melihat isi pesan tersebut. ke-empat sahabat itu saling menatap satu sama lain. ''Kampret... .'' Secara bersamaan. ''Dia enak-enakan tidur di rumah nya. sedangkan kita di sini dari tadi menghawatirkan Dia. Benar-benar laknat itu anak.'' Ucap Robin.


Karena tak ada jawaban. Kevin pun menghentikan panggilannya. Lalu, Ia memutuskan untuk datang ke rumah orangtua Maya. ''Boleh Bapak minta alamat rumah Maya. Bapak mau membicarakan masalah ini kepada orang tuanya.'' Ucap Kevin pada keempat orang itu. ''Biar kita aja Pak yang kerumah Maya.'' Ucap Pitri.


''Kalian pulang saja. Masalah ini, biar Bapak saja yang bicara langsung ke pada orang tuanya. Karena, Dia kan murid Bapak. Jadi, Bapak yang harus bertanggung jawab.'' Ucap Kevin. ''Ah... betul itu pak.'' Ucap Roy. ''Apaan si Lo. Tapi kan Maya... .'' Belum selesai Hana bicara Robin sudah memotong nya. ''Syutt... .'' Roy mengedipkan mata pada Hana.


''Ini Pak alamat rumahnya.'' Roy pun memberikan alamat rumah Maya pada Kevin.

__ADS_1


''Terimakasih. Kalian pulanglah. Bapak ke rumah Maya dulu.'' Ucap Kevin. Kevin pun masuk kedalam mobilnya. Lalu, melajukan mobilnya. ''Tit... .'' Bunyi klakson. ''Lo apa-apaan si. Kan Lo tau sendiri, si Maya ada di rumah nya.'' Ucap Hana. ''Justru itu. Karena si Maya ada di rumah nya. Jadi, biarkan Pak Kevin datang ke rumahnya.'' Ucap Roy. ''Gue nggak ngerti?''


''Lo nggak ngerti? Haduh... .'' Roy menepuk jidat. ''Kita beri pelajaran tu si Maya lewat Pak kevin. Kita, dari tadi mengkhawatirkan Dia. lah... Dia enak-enakan ngorok di rumahnya.'' Ucap Roy. Roy pun menunggangi kuda besinya. ''Gue cabut nya.''


__ADS_2