
Keesokan paginya. Maya yang tengah berjalan di lapangan sekolah, menuju kelas sembari memegang buku pelajaran. Ia berjalan sembari menghapalkan beberapa mata pelajaran. Karena hari ini ujian sekolah akan di mulai. Sedangkan dari belakang, Hana dan Pitri yang baru saja tiba. ''Woi... .'' Hana memegang lengan Maya. ''Hei... .'' Maya terseyum pada ke dua temannya.
Ketiga sahabat itu masuk kedalam kelas. Dan ujian pun di mulai. Kevin, selaku wali kelas. Ia mulai memberikan lebar ujian pada muridnya. ''Kita berdoa terlebih dahulu. Berdoa menurut kepercayaan masing-masing. Berdoa di mulai... ." / ''Selesai... .''
''Kerjakan soal-soal yang paling mudah terlebih dahulu.'' Ucap kevin. Kevin memberikan arahan pada murid -murid nya terlebih dahulu. Dan semua siswa dengan kompaknya menjawab, ''Iya pak... .''
Semua siswa mulai mengisi lembar jawaban dengan sungguh-sungguh. Begitu juga dengan maya. Ia tampak serius mengisi setiap pertanyaan pada lembar ujian tersebut. ''Ring... .'' Bel sekolah berbunyi, pertanda sekolah telah berakhir. Semua siswa mulai meninggalkan kelas satu persatu. Begitu juga dengan Maya dan kedua sahabatnya, Pitri dan Hana.
Satu Minggu telah berlalu. Ujian pun telah berakhir. Dan hari ini, adalah hari dimana hasil ujian di terbitkan. Semua siswa mulai mengerumuni papan mading. Karena hasil ujian di pampang disana. Maya dan kedua sahabatnya, Hana dan pitri pergi kesana untuk melihat hasil akhir ujian mereka.
''Aaa... lumayan 30 besar.'' Pitri terseyum lebar. ''Gue juga.'' Ucap Hana, kemudian mereka pun tos tanda persahabatan. ''Bagaimana may?'' Tanya Pitri. Masih mencari dan tak lama kemudian, Maya menemukan namanya dalam daftar tersebut. Maya berada tepat di baris 37. ''Yah... Padahal, Gue sudah sangat berusaha semaksimal mungkin. Tapi... aaaa!'' Ia berbicara di dalam hatinya. Lalu Ia pun pergi dari sana.
Dan kemudian, Ia di panggil ke dalam ruangan kepala sekolah. Di sana juga sudah ada Kevin yang tengah duduk di kursi. ''Duduklah.'' Maya pun duduk di kursi. Dan Tampa basa-basi. kepala sekolah tersebut mengatakan, bahwa Maya tak jadi di keluarkan. Karena, akhir-akhir ini Maya setidaknya ada perubahan. Dan dari hasil ujian pun setidaknya ada kemajuan. Walaupun masih jauh jika ingin menjadi siswi berprestasi.
''Berterimakasih lah pada wali kelas mu, Pak Kevin wijaya. Karena beliaulah yang berperan penting dalam semua ini.'' Maya pun menundukan kepalanya dan mengucapkan rasa terima kasih nya pada Kevin. ''Terimakasih pak.''
Saat pulang sekolah. Di tempat parkir. Maya yang hendak menumpangi motornya. Tiba-tiba Kevin menghampiri nya. ''Ada apa pak?'' Tanya Maya penuh tanda tanya. ''Mari kita makan di luar. Saya teraktir kamu. Karena berkat kerja keras mu juga saya tidak jadi kehilangan pekerjaan Saya.''
__ADS_1
''Hah. Saya rasa itu tidak perlu Pak. Saya merasa tidak enak, jika Bapak berterima kasih seperti itu kepada Saya. Karena, menurut Saya. Bapak lah yang telah berkerja keras mengajari Saya. Saya... hanya menjalankan apa yang Bapak ajarkan. Jadi, Saya rasa... Bapak tidak perlu repot-repot seperti itu." Ucap Maya penuh sopan santun.
''Kalau begitu. Kamu saja yang traktir Saya. Dulu Kamu berjanji, mau traktir Saya.'' Seketika Maya teringat akan kata-katanya dulu. Ia berjanji mau mentraktir Kevin. karena Kevin telah menolongnya. Namun, Kevin menolaknya dan mengatakan. Jika Maya berhasil melewati masa perbaikan, baru Kevin akan menerima ajakan tersebut.
Sementara disisi lain, Dinda yang melihat Kevin tengah mengobrol bersama Maya. Ia tampak kesal, dan mengepalkan tangannya. Lalu, Ia pun pergi menghampiri Kevin. ''Hallo Pak Kevin?'' full smile. ''Ah. Yah. Ada apa?'' Tanya Kevin datar. ''Bapak belum pulang?'' Tanya Dinda pada Kevin. ''Belum. kamu sendiri belum pulang?'' Kevin balik bertanya.
''Ah. Itu. Anu. Kalau boleh... Saya ikut Bapak, boleh? Soalnya Ayah Saya tidak bisa jemput Saya sekarang.'' alasan. ''Hmm. Gimana ya. Bukanya Saya tidak mau. Tapi, Saya masih ada kerjaan yang belum di selesaikan.'' Ucap Kevin. ''Oh. Tapi Gpp Pak. Biar Saya tungguin Bapak disini.''
''Aduh... Gimana ya? takut nya masih lama.'' berusaha menyakinkan. ''Lama juga nggak papah Pak. Saya tungguin yah. Hehehe... .'' Dinda terus memaksa. Sementara Maya yang tampak jiji dan kesal melihat tingkah Dinda. ''Cih. Gaya lama!'' Kesal Maya dalam hati. Maya pun mulai menghidupkan kendaraan roda duanya dan pergi begitu saja. ''Maya. Maya. Tunggu!'' Teriak Kevin. Namun Maya tidak menghiraukan teriakan tersebut dan tetap saja pergi.
Karena kesal, Kevin pun mengusap kepalanya dengan kasar ''Aaaa...!'' teriak. ''Gue gak bakal membiarkan Maya mendapatkan kevin.'' Ucap Dinda dalam hati. ''Jadi... bagaimana Pak? Bapak mau, 'kan? anterin saya pulang. Soalnya, Saya nggak berani kalau naik angkutan umum sendirian Pak. Saya takut. takut di culik.''
''Cih. Dingin banget sih. Tapi Gue nggak boleh nyerah. Dan Gue harus bisa mendapatkan hati Pak Kevin apapun caranya. Gue gak boleh kalah sama si Maya.'' Cerocos nya dalam hati. ''Ah. Belok kiri Pak.'' Ucap Dinda. Dan Kevin pun membelokan mobilnya ke arah kiri. ''Stop Pak!'' Kevin menghentikan roda empat miliknya, ''Cekit... .''
Rumah dinda yang berada di kawasan perumahan elit di bandung. Rumah yang cukup besar. ''Ini rumah saya pak.'' Dinda menunjukkan rumahnya. ''Hmm. Bagus juga rumahmu.'' Ucap Kevin sembari melihat-lihat di balik jendela mobil. ''Hehehe. Makasih yah Pak. Oh ya, Bapak mampir saja dulu.''
''Ah. Lain kali saja. Saya sedang buru-buru.'' berusaha menghindar. ''Sebentar... saja. Mau ya pak?'' memaksa. Namun Kevin tetap dengan pendiriannya. ''Maaf. Lain kali sajanya.'' Terus menolak. ''Ok. tidak masalah. Kalau begitu, terimakasih Pak sudah mengantarkan Saya pulang.'' Terseyum. Sedangkan di dalam hatinya menggerutu. ''Ya. Tidak masalah.'' Jawab Kevin.
__ADS_1
Kemudian Dinda pun keluar dari mobil kevin. Dan tampak basa-basi, Kevin pun langsung melajukan kendaraannya. Dan pergi dari hadapan Dinda. Lalu Ia menghubungi Maya lewat telepon seluler milik nya. ''Kamu di mana?'' Tanya Kevin di balik layar ponsel. ''Di rumah. Ada apa?'' belum juga Maya selesai bicara. ''Ok.'' Kevin pun langsung menutup panggilan nya.
''Dasar Guru aneh!'' Ucap Maya sambil melihat layar ponsel. Sementara di tempat lain. Di toko kue. Bu Hesti, Ibu Maya tengah duduk di meja. Ia tengah duduk termenung. ''Hah. Kenapa akhir-akhir ini toko kue ku selalu sepi. Dan pagi ini, kue ku baru laku beberapa biji saja.'' Ucapnya dalam hati.Lalu Ia menarik napas panjang.
Pasalnya, sudah hampir satu Minggu kebelakang ini toko kuenya selalu sepi. Entah apa yang membuat tokonya menjadi sepi. Padahal, Ia tak pernah merubah resepnya atau pun mengurangi bahan-bahannya. Menurutnya, rasa kuenya masih sama seperti awal-awal Ia buka toko kue ini.
''Hah. Semakin hari, omset ku semakin menurun. Kalau begini terus bisa-bisa Saya bangkrut... .'' Ucap nya sembari melihat-lihat buku penghasilan. Lalu Ia memijat keningnya dengan jari-jarinya.
Selain masalah toko kuenya yang sepi, Bu Hesti juga memikirkan sikap suaminya yang akhir -akhir ini nampak berubah. Bahkan jarang pulang ke rumah. Tiba-tiba salah satu karyawan menghampiri nya dan berkata, ''Bagaimana ini Bu? kue-kue masih banyak. Biasanya kita selalu kewalahan orderan. Tapi sekarang... .'' kata salah satu karyawan pada Hesti.
Tarik nafas, '' Tidak apa-apa. Mungkin kita sedang di uji sama yang di atas. Oh ya, jika nanti kue nya masih banyak. Kalian bawa pulang saja. Sayang jika harus di buang.'' Ucap Bu Hesti pada karyawan-karyawa nya. ''Iya Bu... .''
''Kalau begitu, Kalian Saya tinggal dulu ya. Saya masih ada urusan.'' Bu Hesti pun pergi dari tokonya. ''Kasihan nya Bu Hesti. Tokonya sepi terus. Dan akhir-akhir ini, Aku liat dia selalu melamun.'' Ucap salah satu karyawan.
''Iya. Seperti nya dia lagi ada masalah.''
''ya. Sepertinya begitu. Kita berdoa saja. Semoga semuanya baik-baik saja. Semoga toko kuenya kembali ramai dan banyak pembeli ya lagi seperti dulu. Amiin... .''
__ADS_1
''Aamiin... .''