
Di tengah malam yang sunyi, Maya terbangun dari tidurnya. Melihat gambar sang ibu yang terpajang di atas meja. Mengambil bingkai gambar tersebut. Menciumnya. Lalu memeluk nya. Setelah itu Maya berbica pada mendiang ibunya melalui foto yang ia pegang. Menatap foto sang ibu. "Tes... ." air matanya terjatuh tepat di atas foto sang bunda.
"Mah. Kenapa mamah meninggalkan ku seorang diri. Padahal mimpi ku begitu banyak. Aku ingin sekali membuat mu tersenyum di setiap denyut nadimu. Aku ingin pergi berdua dengan mu. Menyusuri setiap tempat yang kita impikan sejak lama. Tapi, belum juga aku mewujudkan semua impian itu. Mamah sudah pergi lebih dulu." terisak.
"Sekarang aku harus bagaimana menjalani hidup ini. Aku seperti kehilangan separuh nyawaku. Orang yang selalu membuat ku tersenyum dan semangat dalam menjalani hidup ini. Kini telah tiada. Aku bingung ke mana aku harus melangkah. Sekarang sudah tidak ada lagi yang menunjukkan arah jalanku." ucap nya.
Mendengar suara tangis Maya. Ana terbangun dari tidurnya. Masih dalam setengah sadar. Ana membuka bola mata ya secara perlahan. Menggosok bola matanya. Melihat ke samping. Terlihat Maya yang tengah duduk, memeluk foto sang ibu. Ana segera bangkit dari tidurnya. Dan segera memeluk Maya.
Dan tak terasa, Ana pun ikut menangis. Merasa kan apa yang Maya rasakan saat ini. Masih memeluk Maya. Mengusap air matanya sendiri. Mencoba tersenyum dan berkata, "Menangis lah. Jika itu bisa membuat hati mu merasa nyaman." ucapnya.
Keesokan paginya. "Prank... prank... ." suara bising di pagi hari. Ana dan Maya segera membuka bola matanya. "Kenapa berisik sekali... ." kata Ana. "Kamu segera siapkan piring di atas meja." kata Kevin pada Andrea. "Kamu saja. Biarkan aku yang menggoreng ikannya," Andrea mengambil wajan untuk menggoreng ikan. "Ya sudah." Kevin segera menyiapkan piring-piring di atas meja makan.
Menggosok mata. "Maya. Apa kita sedang bermimpi?" tanya Ana pada Maya. "Mereka sangat serasi, ya?" kata Maya. Andrea menjerit, begitu ikan yang dia pegang di masukan ke dalam minyak panas. "aaa~ ." teriak Andrea, lalu berlari memeluk Kevin. "Hihihi... ." Senyum dari dua gadis yang mengintip dari balik tembok.
__ADS_1
Kevin dan Andrea pun menoleh ke pada Ana dan Maya, yang tengah menertawakan Andrea. "Kalian sudah bangun?" tanya Kevin pada ke dua gadis itu, Ana dan Maya. Melihat ke beradaan Ana dan Maya. Andrea segera mengubah sikap nya. Sikap yang tadi seperti seorang gadis, yang takut terkena cipratan minyak panas. Kini menjadi dokter Andrea yang tampan dan berkharisma. "Ekhem... Ekhem... ." suara Andrea.
"Haha... Aw! Minyak nya menyengenai tangan mulus ku." Ledek Ana pada Andrea. Maya dan Kevin hanya bisa tersenyum tipis, melihat Ana yang tak henti hentinya mengejek Andrea. Bahkan Ana memperagakan bagaimana Andrea saat menjerit dan berlari memeluk Kevin. "Haduh... Haduh... perut ku sakit!" kata Ana, memegangi perutnya. "Sudah puas belum?" tanya Andrea pada Ana. "Haduh... sudah. Sudah puas ka." jawab Ana tertawa.
Selang beberapa menit, "Hmmm... Bau apa ini?" kata Maya, mengendus-endus. "Hmmm... iya. Ini seperti bau... ." belum juga Ana selesai bicara. "Ikan... ." Secara bersamaan. Segera berlari untuk memastikan kalau ikan yang Andrea goreng gosong atau tidak. "Gosong... ." kata Andrea, sembari membalikan ikan tersebut. Sekali lagi mereka tertawa. "Hahaha... ." secara bersamaan.
Duduk di meja makan. "Terus, kita makan apa dong?" tanya Ana. "Ka Andrea si... ikannya jadi gosong, 'kan?" sambung Ana. "Ya sorry... itu kan di luar deskripsi." jawab Andrea. "Kruwuk... ." suara perut yang meminta untuk segera di isi. Maya segera bangkit dari duduknya, menuju lemari es. "Masih ada beberapa mie instan dan telor." kata Maya.
"Kalian tunggu nya? buatkan dulu mie rebus." kata Maya kembali. Maya pun segera membuat beberapa mie rebus. "Biar saya bantu!" kata Kevin. Maya dan Kevin pun membuat mie bersama-sama. Bahkan, Kevin sesekali menggoda Maya.
"Dari pada ngoceh gak jelas. Lebih baik kamu temani Andrea. Jomblo abadi." kata Kevin meledek. "Kenapa jadi bawa-bawa nama gue. Gak sadar apa, kalau yang ngomongnya juga jomblo abadi." jawab Andrea kesal. "Sudah. Sudah. Kita Makan sekarang." kata Maya sembari membawa mangkok berisi mie rebus buatan nya.
"Thanks you Maya... ." ucap Ana tersenyum manis. Dan segera melahap rakus mie tersebut. "Pelan-pelan Ana. Nanti kamu keselek." kata Maya. Baru saja Maya menutup mulutnya. Ana sudah batuk-batuk karena tersedak. "uhuk... uhuk... ." menepuk-nepuk dadanya sendiri. Segera Andrea memberikan air minum pada Ana. "Makanya, pelan-pelan." kata Andrea.
__ADS_1
Saat mereka tengah menikmati sarapan di pagi hari. Dari arah luar, terdengar suara seseorang masuk ke dalam rumah Maya. "Bagaimana mana pak? apa bapak menyukainya?" tanya Silvi, pada laki-laki paruh baya itu. "Rumahnya masih cukul bagus. Dan saya menyukainya." kata Laki-laki itu.
"Tante. Maksud Tante apa? Tante mau jual rumah mamah?" kata Maya. "Siapa mereka?" tanya laki-laki itu. "Akh... mereka bukan siapa-siapa. Bapak tenang saja, rumah ini milik saya kok. Bapak kemarin sudah melihat sertifikat rumahnya, 'kan?" kata Silvi tersenyum.
"Tante gak bisa gitu dong! rumah ini masih milik mamah saya. Bapak jangan percaya padanya. Rumah ini milik ibu saya." kata Maya, dengan mata berbinar-binar karena air mata. "Aduh... kok jadi repot begini, ya?" kata laki-laki itu. "Ibu selesai kan dulu semuanya. Setelah itu, baru hubungi saya lagi." kemudian laki-laki paruh baya itu pun pergi dari sana.
"Dasar anak sialan! gara-gara kamu, dia tidak jadi membeli rumah ini!" ucap Silvi kesal. "Tapi rumah ini, masih rumah mamah saya. Tante gak berhak melakukan itu."/ "Heh. Anak sialan. Kamu gak ingat? kamu kira, uang untuk bayar pengobatan ibumu dari mana? kamu kira itu semua gratis!" kata Silvi, dengan tatapan yang membulat sempurna.
"Aku tahu itu Tante. Tapi, mamah itu baru meninggal. Bahkan, kuburan nya pun masih basah. Setidak nya, beri saya waktu. Saya janji. Saya akan kembali kan semua uang Tante. Tapi, Maya mohon jangan pernah menjual rumah ini. Maya mohon... ." berderai air mata.
"Mau sampai kapan? Sampai ibumu bangun lagi. iya? Maya. Kamu jangan pernah bermimpi bisa membayar semua utang ibumu. Karena sekarang saja kamu belum berkerja." kata Silvi merendah kan. "Begini saja deh. Kamu tinggal di rumah ku. Dan ikuti kemauan ku. bagaimana? aku janji, aku tidak akan menjual rumah busuk ini." ucap Silvi demikian.
"Jangan mau Maya. Dia itu bisa saja berbuat jahat padamu." kata Ana mengingat kan. "Ya. Biar utang ibumu, aku yang bayar." kata Kevin. Andrea menatap Kevin. "Sebesar itu kah, cinta nya pada Maya? seperti nya aku memang harus mundur." kata Andrea di dalam hatinya.
__ADS_1
"Tidak. Tidak bisa. Pak Kevin sudah cukup banyak membantu ku." ucap Maya di dalam hatinya. "Baik. Aku akan ikut dengan mu." jawab Maya.