
"Oh. Tapi Maya lihat ke sana GPP, kan?" tanya Maya pada Silvi. Dan Silvi pun mengiyakan permintaan Maya. "Nanti malam kita kesana." ucap Silvi demikian. Lalu Maya pergi ke sekolah.
Acara pensi pun berlangsung. Mulai pengambilan gambar. Maya beserta geng sablenknya berfoto bersama. "Boleh, kan? Gue dan Maya aja sekarang. Loe gak keberatan kan may?" tanya Robin pada Maya. Robin dan Maya pun berfoto bersama. Robin memberikan sebuah kalung pada Maya, sebagai hadiah dan untuk kenang-kenangan. Robin pun memakai kan kalung tersebut.
Melihat adegan tersebut kevin nampak cemburu. Pitri yang melihat keberadaan Kevin. Segera pitri mengajak Kevin untuk berfoto bersama. "Ayo may. Lo juga ikut?" kata pitri. Namun Maya menolaknya. Dan sepertinya Maya masih marah pada Kevin. Karena waktu itu Kevin sudah menuduh Silvi yang tidak-tidak.
"Aish. Lo susah sekali." ucap Pitri kesal. Kamudian pitri menarik paksa tangan Maya. "Gue gak mau pitri."
"Gak bisa. Lo harus ikut!"
Berkat paksaan dari pitri. Akhirnya, Maya pun mau berfoto bersama. Maya berdiri di samping Kevin. Sedikit menajuh. "Maya. Lo geseran. Jauh menjauh dari pak Kevin. Biar kita semuanya masuk ke kamera." protes Hana.
Dan dengan berat hati. Maya pun mengikuti kemauan Hana. "Labih Deket." kata pitri. "Iya. Iya."jawab Maya. Kini posisi Maya begitu dekat sekali dengan Kevin. Dan terlihat sebuah senyuman manis di bibir Kevin. Lalu Kevin memegang tangan Maya. Sontak Maya pun melihat ke arah Kevin.
"Aku tunggu kamu di mobil." bisik Kevin ke telinga Maya. Maya ingin sekali menolak. Namun Kevin kembali berbisik ke telinga Maya. "Tidak menerima protes dalam bentuk apapun." bisiknya. Karena kesal Maya segera menginjak kaki Kevin. Namun, bukanya Kevin menjerit kesakitan. Dia justru malah tersenyum manis pada Maya. " Cih. Menyebalkan kan!" kata Maya di dalam hatinya.
Melihat dari hasil tangkapan camera Pitri. Dari foto tersebut, Terlihat Kevin seperti sedang mencium pipi Maya. Padahal itu adalah di mana saat Kevin tengan berbisik pada Maya. "Oh my god." ucap Pitri menutup mulutnya.
"Ada apa?" tanya Hana penasaran. Segera pitri menyerahkan kamera nya. Dan ternyata, Hana pun memberikan respon yang sama. "Kalau sudah. Saya pergi dulu, ya?" ucap Kevin lalu pergi dari sana. "Kalian kenapa?" tanya Maya ikut penasaran. "Gak. Gak ada." ucap Hana.
"Sini kameranya. Gue mau lihat." pinta Maya. "Li-lihat apa?" terbata-bata. "Lo kenapa si Hana?" Maya semakin penasaran. "Gak kenapa-kenapa." jawab Hana. "Aneh. Sini kameranya. Gue mau lihat." pinta Maya. Lalu Hana pun menyerahkan kamera itu ke pada Maya.
__ADS_1
"Maya. Lo dan pak Kevin... ." ucap Pitri ragu. "Gak. Kalian salah paham."Jawab Maya. Kemudian Maya mendapati sebuah pesan dari ponsel nya. Dan ternyata itu dari Kevin. "Saya hitung sampai 10. Segera kesini." isi pesan tersebut.
"Ada apa si?" ucap Maya kesal di dalam hatinya. "Gue pergi dulu, ya? bye." ucap Maya lalu pergi menuju Kevin.
Masih berjalan. Maya kembali mendapi pesan dari Kevin. "5." isi pesan tersebut. Maya pun segera mempercepat langkahnya. Sesampainya di sana. Kevin yang tengah berdiri di samping mobilnya. "Ada apa?" tanya Maya dengan nafas tersengal-sengal. Segera Kevin memeluk Maya. "Aku minta maaf." kata Kevin.
"Bapak... ." ucap Maya tercengang. "Aku minta maaf atas ucapanku kemarin malam. Kamu jangan marah lagi ya?" Lalu Kevin melepaskan pelukannya. "Oh ya. Kamu ikut denganku! Ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan."
"Jadi. Dia menyuruhku kesini. Karena ini?" ucap Maya di dalam hatinya. "Maya. Kenapa jadi melamun. Cepat naik mobil." kata Kevin.
"Memang nya mau kemana?" tanya Maya. Kevin membukakan pintu mobil. "Masuk dulu." pintah ya.
"Pak. Kita mau kemana si?'' tanya Maya penasaran. "Nanti juga kamu akan tahu." jawab Kevin. Lalu Kevin melajukan mobilnya. Membawa Maya ke sebuah tempat.
"Cepat tutup."
"Iya. Iya. Galak banget si."
Maya pun menutup bola matanya. Lalu Ana dan Andrea muncul. Memberikan sebuah buket bunga pada Kevin. Sementara ana memegang cake ulang tahun. Karena hari itu adalah hari ulang tahun Maya. "Sudah boleh buka mata belum?" kata Maya yang masih memejamkan matanya.
Lalu Kevin, Ana dan Andrea pun menyanyikan lagu ulang tahun. Segera Maya membuka bola matanya. "Selamat ulang tahun Maya." ucap Ana pada Maya. Dengan Mata yang berkaca-kaca, Maya segera meniup lili tersebut. "Yeay... ." teriak Ana. "Terimakasih. Terimakasih. Aku. Aku benar-benar terharu." ucap Maya berderai air mata.
__ADS_1
"Ini Semua mas Kevin yang mempersiapkan Maya. Aku juga baru tahu tadi pagi." kata Ana. "Selamat ulang tahun Maya." ucap Kevin sembari menyerahkan buket tersebut. Sontak Maya segera memeluk Kevin. "Terimakasih bapak... ." ucap Maya. "Iya... Sudah jangan menangis lagi, ya?" mengusap air mata Maya.
"Cie. Cie... tembak mas. Tembak." teriak Ana. Kevin pun mulai berjongkok. "Maya. Sebelum nya aku meminta maaf atas perkataan kasarku padamu. Dan selamat atas kelulusan mu. Ingat, Sekarang kamu sudah bukan muridku lagi. Jadi stop panggil ku dengan sebutan bapak." kata Kevin. Lalu Andrea menjawab. "Iya bapak... ." ledek Andrea. Segera Ana memukul Andrea. "Sakit ana." kata Andrea.
"Lanjut mas!" kata ana. Dan Kevin pun melanjutkan perkataan nya. "Ekhem... Ekhem... Aku malu Maya. Tapi ana menyuruh ku seperti ini." ucap Andrea seketika mengundang gelak tawa mereka. Mulai mengatur nafas.
"Huh. Maya. Jujur. Sudah lama aku ingin mengakui perasaan ku padamu. Namun waktu tidak pernah memberiku kesempatan. Dan mungkin, Ini adalah hari yang tepat untuk ku mengakui semua perasaan ku padamu. Jujur, Aku sangat menyayangi mu Maya. Aku sudah tak bisa menunggu lagi." berhenti sejenak.
"Maya you Merry me?" ucap Kevin. Seketika Maya dan yang lainnya terbelalak mendengar ucapan tersebut. "Benar-benar di luar prediksi BMKG." ucap Andrea. "plak... ." Ana kembali memukul lengan Andrea. "Ampun Ana! Suka banget ya mukul orang." ucap Andrea sembari mengusap lengannya. "Hehe. Maaf. Habis nya KA Andrea si. Pake bawa-bawa BMKG segala. Emang nya sunami pake BMKG segala." / "Ini lebih dari sunami Ana."
"Haha. Trus, kapan dong kak Andrea lamar ana?" ucap Ana tanpa ragu. "Hah. Lamar?" tanya Andrea keheranan. Dan Ana pun mengangguk kan kepalanya. "Tak... ." Andrea menyentil kening Ana. "Sekolah yang bener!" kata Andrea kemudian. "Ka Andrea... ih nyebelin." cemberut. Andrea segera merangkul pundak Ana. "Hehe... Jangan marah dong." membujuk. "Tau akh."
"Bagaimana mana Maya? Mau tidak?" tanya Kevin tak sabaran. "Udah. Terima aja Maya!" teriak Ana. "Jangan kebanyakan mikir Maya. Terima aja. Kasihan Kevin, Nanti keburu kolot " kata Andrea. "Cari mati!" ucap Kevin pada Andrea. "Haha... Canda vin."
"Bagaimana?" tanya Kevin kembali. Lama Maya tak jua memberi jawaban, dan Kevin pun hampir putus asa. Kevin bangkit, "Sudahlah. Mungkin Aku yang terlalu berharap lebih." ucap Kevin kecewa. "Sudahlah Maya. Lupakan saja. Anggap saja kejadian hari ini tidak pernah terjadi." ucap Kevin kemudian Kevin berbalik dan berjalan. "Maya... ." kata Ana.
Lalu Maya segera lari dan memeluk Kevin dari belakang. "Maya. Apa yang kamu lakukan?" tanya Kevin. "Jangan pergi." ucap Maya yang masih memeluk Kevin. "Aku tidak pergi. Aku hanya butuh waktu." ucapnya. "Waktu apa? Bapak harus tanggung jawab. Karena bapak sudah menganbil hatiku.Yes, I want to marry you."
Seketika Kevin terpelongo tak percaya. "Kamu jangan bercanda Maya. Saya tidak suka." ucap Kevin. Maya segera melepaskan pelukannya. "Lihat aku!" pintah Maya. "Apa aku terlihat berbohong." ucap Maya demikian. "Jadi kamu sungguh mau denganku?" tanya Kevin. Maya berjalan, mendekat, Lalu "Muach... ." Maya menc*um singkat bibir Kevin. Dan segera berlari. "Dasar nakal!" ucap Kevin. Lalu mengejar Maya.
Disisi lain. Karena Ana begitu bahagia melihat Maya dan kakaknya. Ana memeluk Andrea. "Ups... Maaf kak Andrea." Kata Ana malu. Lalu melepaskan pelukannya. Andrea tersenyum manis, kemudia dia menarik lengan Ana. Dan dalam sekejap mata kini Ana sudah ada dalam dekapan Andrea. "Kak Andrea... ." ucap Ana.
__ADS_1
"Haha... ampun pak. Ampun." ucap Maya. Karena Kevin menggelitik tubuh Maya. "Ampun sayankkkk... ." Lalu Maya melingkarkan tangannya di leher Kevin. Kevin segera meraih panggul Maya. Saling menatap satu sama lain. Lalu Kevin meraih pucuk ranum Maya. Segera Andrea menutup mata Ana. "Gak boleh lihat. Masih di bawah umur." ucap Andrea.
"Maya. Melihatmu bahagia seperti itu. Aku juga ikut bahagia." ucap Andrea di dalam hatinya. Lalu Andrea membawa Ana pergi dari sana.