
Di kantin, Sanip menemui pujaan hatinya Mae Munah. Sanip pun berpamitan dengan punjaan hatinya. Karena Sanip di ajak Kevin untuk ikut ke acara kemping, yang di adakan sekolah tersebut.
''Neng Mae yang cantik! aa pergi dulu, ya? tunggu aa kembali.'' ucap Sanip pada Mae Munah penjaga kantin. ''Iya aa Sanip... Hati-hati di sana. Neng pasti setia menunggu aa Sanip.'' jawab Mae Munah. Seketika Maya yang mendengar nya ingin muntah. ''Hoeks... ."
''Inget umur woy!!!" teriak Maya. "Syirik ni yeh... Iya gak neng Mae sayang." ledek Sanip, sambil mencolek dagu Mae Munah. ''Hehehe. Ikh aa Sanip mah genit.'' Mae Munah mencolek pinggang sanip. Maya yang melihatnya bergidik, ''Pait... pait... ." ucap Maya sembari berjalan.
pasalnya, Sanip da Mae Munah bukalah pasangan ABG pada umumnya. Melainkan pasangan yang sudah berumur. Sanip Yang sudah memasuki kepala 5. sedangkan Mae Munah sekitar 45 tahunan. Jadi, pantas saja jika Maya merasa geli melihatnya.
''hiii... tubuh gue sampe merinding garagara lihat kelakuan si Sanip.'' Cerocos Maya. ''May, Lo dari Mana aja? cepetan naik!" Teriak Hana. Segera Maya naik ke dalam bus. dan duduk di kursi paling depan. kemudian, Kevin masuk dan duduk di sebelah Maya.
Maya menatap sinis. ''Kenapa?'' Tanya Kevin. "Kenapa Bapak duduk disini?" Maya balik bertanya. ''Terserah Saya dong!" jawab Kevin. Maya berdiri. ''Mau kemana?'' tanya Kevin. ''Pindah kursi'' jawab Maya sinis.
Saat Maya hendak melangkahkan kakinya. Tiba-tiba, bus tersebut melaju. Dan, ''syutt... .'' Maya terjatuh tepat di atas pangkuan Kevin. kini, wajah mereka begitu dekat, dan saling menatap satu sama lain. ''deg... deg... ." jantung keduanya saling berdekub satu sama lain.
beberapa detik kemudian, Maya tersadar dan bangkit dari pangkuan Kevin. Lalu, duduk di sebelahnya. Kini Maya terdiam tak lagi berontak. Bus terus saja melaju dengan rata-rata. Sementara murid-murid yang lain saling bernyanyi satu sama lain. Menikmati perjalan tersebut. Beda dengan Dinda yang terus melihat ke arah Kevin karena Cemburu.
Beberapa jam kemudian, bus yang mereka tumpangi sampai di puncak. Di mana mereka akan melakukan camping. Orang-orang mulai keluar dari bus secara bergantian. Namun tidak dengan Kevin, dia masih saja duduk di kursinya.
__ADS_1
Begitu juga dengan Maya, karena tempat duduknya berada di pinggir jendela mobil. Dan jika ingin keluar pun, harus melewati Kevin terlebih dahulu. Akhirnya, Maya memilih diam. Dan menunggu Kevin bangkit dari tempat duduknya terlebih dahulu. ''Kenapa sih, harus duduk sebangku dengan makhluk ini?'' kesal Maya.
''Tumben diam dan gak protes!" Ucap Kevin. ''Mau protes juga percuma, gak akan di dengar.'' Jawab Maya kesal. Kevin tersenyum, ''tumben pintar.'' ledek Kevin. ''Dari orok juga udah pinter kali!'' ucap Maya. ''Heh, pinter apa? pinter Bohong." Jawab Kevin spontan.
Kevin bangkit dari tempat duduknya. Lalu, mempersilahkan Maya untuk keluar lebih dulu. Maya pun turun dari bus tersebut. Mereka mulai mendirikan tenda mereka masing-masing.
Saat malam hari. Pitri meminta Maya untuk mengantarnya ke toilet. ''Gue ikut!" teriak Hana. Saat di toilet, Pitri melihat Dinda dan temannya masuk ke dalam toilet satu lagi. Seketika otak jahil Pitri langsung berpungsi. "Dinda? Hehehe.'' Pitri terseyum devil.
''Lo. kenapa?'' tanya Maya penasaran. ''Iya. kenapa, si?'' sambung Hana. ''Syutt... Kalian diem aja.'' kata Pitri serius. Pitri pun mulai melancarkan aksinya. Sementara Maya hanya memperhatikan apa yang di lakukan temannya itu.
Karena kesal, dirinya telah di kerjai. Dinda pura-pura pingsang. ''Bug... .'' tubuhnya tergeletak di lantai. ''Akh. paling juga pura-pura!" kata Pitri tak percaya. ''Ini semua gara-gara kalian, Dinda jadi begini!" kata teman Dinda. Sementara, Dinda di dalam hatinya terseyum, ''Hehe... mampus! gue di lawan.''
''Pitri bagaimana mana kalau dia pingsang beneran?'' tanya Hana khawatir. ''Lo. si Pitri pake nakut-nakutin segala!'' kata Maya. ''Alahhh. paling ini cuma akal-akalan dia doang.'' Pitri masih tidak percaya.
Dinda mengedip-ngedipkan mata pada temannya. Aisah, teman Dinda pun mengerti. Dan dia pulang melancarkan aktingnya. Dia pura-pura menangis, ''Din. bangun Din!"
Akhirnya, Pitri pun terbawa situasi. Dia pikir kalau Dinda pingsang sungguhan, bukan pura-pura seperti yang ada di pikirannya. ''Maya. Hana. bantuin? kita bawa Dinda keluar.''
__ADS_1
''Apa yang terjadi?'' tanya Kevin. Aisah pun mulai menceritakan kejadiannya. ''Saya minta maaf pak! saya pikir Dinda cuma pingsan boongan... .'' merasa bersalah. ''Makanya, kalau bercanda itu jangan keterlaluan! dan sebagai hukumannya. Kamu lari di lapangan ini selama 20 putara!" jelas Kevin. ''Rasain!'' kata Dinda di dalam hatinya.
''Ini semua ide Saya Pak! Saya yang menyuruh Pitri untuk menakut-nakuti Dinda.'' ucap Maya. Kemudian, di ikuti Hana, ''Saya juga Pak!'' seketika Pitri merasa tersentuh. Dia seakan tak mempercayainya. ''Tapi Maya, Hana....''
''Oh. kalau begitu. kalian juga harus dihukum.'' kata Kevin. ''Baik pak.'' kata Maya. Lalu Maya melihat ke arah Pitri. Maya dan Hana tersenyum kepada Pitri. Dan kini, mereka mulai berlari mengelilingi lapangan. Sementara itu, Dinda langsung pura-pura tersadar dan menyaksikan ketiga sahabat yang sedang di hukum itu.
Dinda tersenyum, dia menjulurkan lidahnya. dan berkata, "Kasihan deh Lo. Enakkan 10 keliling. Hahaha~ gue di lawan.'' puas. ''Kayaknya dia itu tadi cuma Pura-pura deh!" teriak Hana. Dan Maya pun berpikir seperti itu. ''gue rasa, juga seperti itu.'' sambung Maya sambil berlari.
Kini tinggal putara terakhir. Maya dan teman-temannya mulai kelelahan. ''Semangat sedikit lagi!'' Teriak Maya pada ke dua temannya. Setelah selesai. Kini Maya, Hana, dan pitri duduk karena lelah. Pitri meminta maaf. karena gara-gara dia, teman-temannya jadi ikut di hukum. ''Gak usah minta maaf. kita, kan sahabat." kata Maya. ''thanks you... .''
Tak lama kemudian, Kevin datang sembari membawa beberapa botol minuman, semperti dulu saat mereka di hukum membersihkan halaman sekolah. Tak lama kemudian Robin juga datang, membawa sebotol minuman di tangan nya.
Kedua sahabatnya mulai mengambil minuman di tangan Kevin, dan meminumnya. ''Terimakasih Pak." kata Hana dan Pitri secara bersamaan. ''Nih, ambil!" Kevin menyodorkan botol minuman tersebut. Namun, Maya tidak mengambilnya. Dia berdiri. Menghampiri Robin. Dan mengambil botol minuman di tangan Robin, lalu meminumnya. ''Thank ya Bin.''
Putri dan Hana yang melihatnya merasa tidak enak hati kepada Kevin, begitu juga dengan Robin. Pitri meminta maaf, ''Ma-maaf pak. Maya bukan bermaksud seperti itu.'' Kevin sedikit menyunggingkan senyuman di bibirnya, ''Heh. Tidak apa-apa.'' Namun, terlihat jelas. Jika Kevin memegang botol minuman tersebut dengan sangat kuat.
''Kalian semua istirahat lah. Karena besok, masih banyak kegiatan yang harus di lakukan.'' jelas Kevin. ''baik pak!'' serentak.
__ADS_1