Mengejar Cinta Pak Guru Tampan

Mengejar Cinta Pak Guru Tampan
Maya Pingsan.


__ADS_3

Dengan air mata yang mengalir di pipi Maya. "May! Lo. mau kemana?" Teriak Robin. Seketika, Maya menghentikan langkah kakinya. "May. Lo kenapa? Lo nangis?" tanya Robin. "Gue gak apa-apa. Gue cuma ingat ibu gue. Gue mau pulang bin." bohong Maya pada Robin. "Gue antar nya?" kata Robin. "Gak usah. Gue bawa motor. Gue pulang dulu nya!" kata Maya sendu. "Ya udah. Lo hati-hati nya! biar nanti gue bilangin ke Dinda." kata Robin kembali.


"Gak usah! gue duluan, ya!" Maya pun segera menancapkan gas. Dan pergi dari hadapan Robin. Tak lama kemudian, Kevin datang. Dan di ikuti Dinda dari belakang. "Pak. Bapak mau kemana? acaranya belum selesai." Teriak Dinda pada Kevin. "Robin. Maya mana?" Tanya Kevin buru-buru. "Pu-pulang... ." jawab Robin sedikit terbata-bata.


Segera Kevin masuk kedalam mobilnya. Dan mengejar Maya. Sementara itu, Dinda menghentakkan kakinya karena kesal. Dan kedua orang tua Dinda pun menghampiri Dinda. "Kamu sudah buat papah malu Dinda! papah kecewa sama kamu." ucap Bambang kesal. "Mamah juga malu Dinda." Kata Bu Maria. Lalu mereka pun pergi dari hadapan Dinda.


"Pah. Mah. Dinda minta maaf... ." kata Dinda dengan berderai air mata. Semua tamu disana saling membicaran Dinda. Dinda segera bangkit. Dan mengusir semua tamu undangan di sana. "Pergi!! pergi kalian semua." teriak Dinda. "Hih. Makanya jangan sok kepedean jadi cewek " kata Pitri. "Apa Lo bilang? pergi Lo!" teriak Dinda pada Pitri.


Dinda pun mengepalkan tangannya. "Maya. Gue akan balas semua perlakuan Lo. Dan akan gue pastikan hidup Lo gak akan pernah bahagia.'' kata Dinda penuh amarah.


Sementara itu, disisi lain. Kevin terus mengejar roda dua milik Maya dengan mobilnya. "Tit... Tit... ." bunyi klakson mobil Kevin. Kevin sedikit meningkat kan kecepatan mobilnya. Dan menghalangi jalan Maya. "Kit... ." Maya pun menghentikan roda dua miliknya. Dan berdiri terdiam karena kaget.


Kevin segera turun dari mobilnya. Dan memeluk Maya. "Kamu tidak apa-apa. Saya minta maaf." ucap Kevin masih memeluk Maya.


Maya mendorong tubuh Kevin dengan kuat. "Apa yang bapak lakukan? Bapak mau membunuh saya?" tanya Maya kesal. Kevin menghapus air mata Maya. "Sudah jangan menangis. Saya minta maaf." ucap Kevin lembut.

__ADS_1


Sekali lagi Kevin memeluk Maya. "Kenapa bapak malah kesini? Dinda pasti sangat marah." Kata Maya pada Kevin. "Kenapa bapak tidak pernah menghubungi saya? Bapak marah pada saya?" Tanya Maya sembari menangis. Karena, Semenjak Maya marah pada Kevin saat di toko ibunya. Dan saat itu, Kevin tak pernah datang atau mengabari maya. Bahkan, saat di sekolah pun Kevin seperti nampak cuek pada Maya. Kevin pun tersenyum.


"Hehe... Saya tidak marah. Saya akhir-akhir ini sedikit sibuk. Jadi tidak sempat mengabarimu. Dan berkunjung ke toko." ucap Kevin. "Sudah nya. Kamu jangan menangis." kata Kevin sedikit membujuk. "Sungguh? bapak tidak marah padaku. Terus, Bagaimana dengan Dinda? Bukankah Dinda pacar bapak?" ucap Maya kembali.


"Kamu percaya! Padahal Saya sudah memiliki seseorang di hati saya." Ucap Kevin. Lalu Kevin duduk di kursi mobilnya. "Hah. Lalu tadi, saat di pesta ulang tahun Dinda. Bukankah Dinda bilang bapak adalah pacarnya! Tapi, saya rasa Dinda memang cocok untuk bapak." kata Maya. "Sudah aku bilang. Apa kamu percaya dengan kejadian tadi." Kevin membuang nafas dengan kasar.


"Aku tidak mengerti." kata Maya. "Memang lebih baik kamu tidak usah mengerti." jawab Kevin. "Ikh. Bapak pelit." Kata Maya. Lalu pergi menuju kuda besinya. "Kamu mau kemana?" Tanya Kevin pada Maya. "Pulang.'' jawab Maya ketus.


"Maya?" panggil Kevin. Maya pun menoleh. "Apa lagi?" tanya Maya. "Jangan dulu pulang. Bisa kah kita bicara dulu sebentar." kata Kevin. "Bapak mau bicara apa lagi? Dari tadi bapak sudah bicara." jawab Maya. "Ini serius Maya." kata Kevin. "Apa? cepat katakan!" ucap Maya. "Matikan dulu Motor nya." pinta Kevin. Maya pun mematikan motornya. Dan berdiri di hadapan Kevin. "Cepat katakan?"


"Hmm... Lalu, Bagaimana kalau laki-laki itu ternyata menyukai mu?" ucap Kevin sedikit ragu. "Hah. Maksudnya? laki-laki siapa?" tanya Maya penasaran. Kevin pun terdiam sejenak. "Ayolah pak! Maksud bapak apa?" sekali lagi Maya bertanya. Dan Kevin pun mulai menjawabnya. "Jika laki-laki itu adalah aku. Bagaimana? apa kamu akan menerima nya? Atau menolaknya?" ucap Kevin.


"Apa? Bapak serius? bapak pasti bercanda. Iya, 'kan?" kata Maya sedikit tidak percaya. "Tapi, kalau kamu menolak pun, aku tidak apa-apa. Aku sadar diri, Aku tidak pantas untukmu." kata Kevin menyerah sebelum perang. "Akh... Haha... Bapak lucu! bercandanya kelewatan. Sudah akh. aku harus segera pulang." Kata Maya. "Saya tidak bercanda Maya. Saya serius!"


"Sungguh!" Ucap Maya. Namun, saat Maaf hendak menjawab pertanyaan tersebut. Tiba-tiba ponselnya berdering. Maya segera menerima panggilan tersebut. "Apa? ya. Saya segera kesana." Jawab Maya. Maya segera naik ke atas kuda besinya, dan meninggalkan Kevin begitu saja. "Maya?!!" Teriak Kevin. Namun, Maya tak menghiraukan panggilan tersebut dan tetap saja melajukan roda dua miliknya.

__ADS_1


Karena kesal. Kevin menendang sesuatu yang ada di hadapan nya. Lalu ia berteriak dan mengusap wajahnya dengan kasar. "Aaa~ Gila. Ini benar-benar gila. Tak seharusnya aku memiliki perasaan pada gadis kecil itu." ucap Kevin emosi.


Sementara itu, di sisi lain. Maya yang sedang mengendarai roda dua milik nya. di sepanjang perjalanan, Maya terus kepikiran ibunya. "Semoga tidak terjadi apa-apa. Semoga mamah baik-baik saja." Kata Maya di dalam hatinya dengan air mata yang berderai.


...*****...


Kevin menghubungi Andrea temannya. Untuk mengajaknya ke Caffe. "Maaf Kevin. Aku tidak bisa. Hari ini ada pasien yang harus ku tangani." Ucap Andrea di balik telepon. "Oh. Ok." jawab Kevin. Lalu, Kevin menutup panggilan tersebut.


Disisi lain. Begitu Maya tiba di rumah sakit. Ia segera turun dari motornya, berlari menuju ruangan di mana ibunya di rawat. Maya segera menemui dokter yang menangani penyakit ibunya selama ini. Mengatur nafas. "Huh... Huh..." Maya terengah-engah. "Maaf. Dok. Ibu saya kenapa?" Tanya Maya pada dokter Andrea.


Seorang Dokter spesialis muda yang memiliki predikat tertinggi. Bukan hanya ketampanan nya. Dan dia merupakan seorang Dokter ternama di kota tersebut. Bahkan, Dalam keahlian nya di bidang ke dokteran. Andrea sudah berkali-kali di hubungi pihak luar negri untuk bekerja di rumah sakit sana. Namun, Andrea menolaknya. Dan ia lebih memilih berkerja di rumah sakit yang saat ini ia bekerja.


"Pelan-palan. Atur nafas mu terlebih dahulu." Kata Andrea pada Maya. Maya pun mengikuti saran dari Andrea. Setelah di rasa tenang. Andrea mulai memberi tahu Maya. Bahwa, Kondisi ibunya sudah sangat buruk. Dan harus segera di operasi. Kalau tidak mungkin nyawa ibunya tidak dapat di tolong lagi.


"Deg... ." jantung Maya berdetak sangat kencang. Tubuh Maya bergetar. Dan air mata bercucuran. Karena mendengar berita buruk tersebut. Maya pun Keluar dari ruangan Andrea dengan gontay. Seakan kakinya tak berpijak. Dan penglihatannya pun mulai memudar. "Brug... ." tubuh Maya pun tergeletak di lantai.

__ADS_1


__ADS_2