
''Mmm... huh." Kevin membuang nafas dengan kasar. Kini, keberadaan Maya sudah tak terlihat lagi dari pandangan nya. Dan ponselnya kembali berdering. ''Iya. Iyah. Ini Mas lagi di jalan." Bohongnya pada orang di balik telepon tersebut. Lalu, Ia pun bergegas menuju mobil hitam milik nya dan segera pergi.
Sementara itu. Disisi lain, Maya yang masih mengendarai kuda besinya. Ia terus teringat ucapan Kevin padanya tadi. ''Maya lupakan Saya. Lupakan saya.'' dalam lamunannya. Air matanya terus mengalir, dari sudut matanya.
''Gue memang bodoh. Gila. Karena sudah suka padanya.'' Cerocos ya
''Bagaimana jika Dia sudah beristri. Dan jika tadi yang menghubungi nya adalah istrinya. Bagaimana? Kamu memang bodoh Maya. Dia kan pria dewasa. Tampan dan gagah. Tidak mungkin jika Dia belum memiliki pasangan. Karena, jika dilihat dari usianya. Memang sudah seharusnya jika pak Kevin Wijaya itu sudah menikah. Masa Gue mau jadi pelakor Guru Gue sendiri.'' Ia terus berbicara sendirian.
Sementara disisi lain, Kevin yang baru saja sampai di sebuah tempat. Ia segera bergegas turun dari mobilnya. ''Maaf nya. Mas telat.'' meminta maaf. ''Iya... Dan Mas pasti bilang. Mas tadi lagi ngajar tambahan.'' Dengan bibir di menyeng -meyengkan. ''Hehehe. Tau aja. Bagaimana pelajaran hari ini? ada yang sulitkah.'' Tanya Kevin. ''Ya lumayan. Mas libur sekolah kita pulang yuk. Aku kangen Ibu dan Oma.''
''Iya. Tapi setelah ujianmu selesainya. Nanti kita pulang ke Surabaya.'' Ucap Kevin. ''Hore... bener ya Mas.'' kegirangan. ''Iya. Ingat! belajar yang bener. Jangan kecewain Mas, Ibu dan yang lainya.'' Memperingati. Mengangkat tangannya, ''Siap bos!''
''Bagus! itu baru adik Mas.'' Kevin mengusap kepala Adiknya. Dwi Ana wijaya, atau biasa di panggil Ana. Ia sekolah di bandung dan tinggal bersama Kevin kakak nya. Dari kecil, Ana sangat dekat dengan kakak nya. Apa lagi setelah kepergian ayahnya 2 tahun lalu. Ana memilih pindah ke bandung dan tinggal bersama Kevin.
Biasanya, Mereka akan pulang ke Surabaya setiap libur nasional dan hari raya. ''Kita beli makanan dulu nya? Kamu mau makan apa?!'' Tanya Kevin pada Ana. Sedangkan Mata nya fokus ke depan. ''Terserah Mas saja.''
__ADS_1
''Hmm... Ya sudah. Kita cari sambil berjalan. Soalnya, Mas juga bingung mau makan apa?'' Ia terus melajukan mobilnya secara perlahan, sembari melihat-lihat dari balik kaca jendela mobilnya. Makanan apa yang ingin Ia santap hari ini. ''Makanya. Cepet cari calon! terus menikah. Biar ada yang masakin mas... ." Ucap Ana. ''Menikah?''
''Iya menikah. Biar Mas tuh ada yang ngurusin. Dan kalau pulang kerja, sudah ada yang masakin. Nggak seperti sekarang. Setiap mau makan harus beli di luar." Cerocos Ana. ''Hmmm. Nanti deh... Mas pikirkan lagi.''
''Hah. Kenapa nggak menikah saja sama mba Agnes. Dia kan cantik, Pintar, Dan berwawasan. Kalau sama Mas, pasti cocok. Dan Aku, Ibu, apa lagi Oma pasti setuju. Lagian mba Agnes juga suka sama Mas. Mas ya aja yang sok jual mahal.'' Kemudian Kevin menghentikan mobilnya. ''Mas itu bukannya jual mahal. Agnes memang baik, cantik. Tapi... Mas rasa, Mas nggak cocok dengannya.'' Ucap Kevin.
''Apa yang membuat Mas nggak cocok dengannya. Aku akan sangat setuju jika Mas dengan nya. Dia calon istri yang baik buat mas. Dan sampai sekarang, Dia masih setia menunggu mas.'' kesal. ''Heh. Sudah lupakan saja. Kamu masih kecil, Kamu tidak akan mengerti.'' Lalu Kevin turun dari mobilnya, dan pergi membeli makanan. Sementara Ana di dalam mobil tampak kesal pada Kevin. ''Apa maksudnya, Aku tidak mengerti.'' ngedumel.
Disisi lain, Maya yang baru sampai di depan rumahnya. ''Doni! ngapain dia disini?'' dalam hati. Kemudian Maya memarkirkan motornya.
''Terus... kenapa Kamu ada di sini?'' Tanya Maya dengan ketus. ''Aku nungguin kamu. Aku pikir, Kamu sudah sampai di rumah. Tapi, begitu Aku sampai di sini. Kamu tidak ada dan baru pulang sekarang.'' Jelas Doni. ''Hah. Lu nungguin Gue disini dari tadi?'' Terkejut. ''Yah... .'' mengangguk. ''Gila!'' Maya membuka kunci pintu dan masuk kedalam.
''May... .'' Doni memanggil Maya dari luar. Sementara Maya yang berada di balik pintu. ''Lo pulang saja sana!'' Teriak. ''Gue nggak akan pulang!''
''Terserah!''
__ADS_1
Tak lama kamudian, Doni mendorong pintu dan masuk kedalam. Lalu menarik tangan Maya dan mengukung tubuh Maya di balik pintu. ''Lo. Lo. Mau ngapain?'' Ketakutan. ''Heh. Menurut Lo? Kita mau ngapain? Kita disini cuma berdua.'' Doni terseyum devil.
''Lo. Lo. Jangan macam-macam yah. Gue bakal teriak.'' Ancam Maya. ''Heh. Teriak saja. Gue nggak takut. Lagian disini sepi, tidak ada siapa-siapa.'' Ucap Doni. Doni memegang bibir Maya dan mengusapnya dengan lembut. Lalu, Ia menatap intens wajah cantik Maya. ''Cantik. Benar-benar cantik. Aku menyesal telah mengkhianati mu dan meninggalkan mu dulu.'' Wajah nya semakin dekat dengan wajah Maya.
''Lepasin! Gue mohon, Lo jangan macam-macam!'' Terus berontak. Namun tenaganya yang kecil, tidak kuat menahan tubuh Doni. Dan semakin Ia berontak, Doni semakin kuat mungukung tubuhnya. Yang akhirnya Ia pun menyerah. ''Semenjak pacaran Kita tidak pernah melakukan hal di luar batas. Dan hari ini, Aku sangat menginginkan nya. Agar Kamu tetap berada di sampingku.''
''Kamu gila!'' Marah. ''Yah. Aku memang gila. Gila karena kamu! mantan terindah ku... Dan hari ini, Kamu akan menjadi milikku. Selamanya. Hehehe... .'' tertawa puas. ''To-tolong... .'' Dan segera Doni menutup mulut Maya dengan bibir. ''Hmmm... .'' berontak.
''Ciuman pertama gue.'' dalam hati. ''Sangat manis. Sayang... .'' Doni kembali mencium bibir cantik Maya, dengan sangat lembut. Hingga lama-lama Ia terbawa permainan Doni. Ia pun menikmati ciuman tersebut. Hingga tangan Doni yang mulai nakal membuka kacing baju milik Maya. Dan masuklah tangan tersebut. Lalu meremasnya
''Aahhhh... .'' keluar lah suara laknat dari mulutnya. Yang membuat Doni tersenyum devil di dalam hatinya.
''Kring... .'' ponsel milik Maya pun berdering. Dan segera Maya mendorong tubuh Doni. Baru saja Ia tersadar, jika apa yang di lakukan nya sudah sangat di luar batas. Ia pun marah dan meminta Doni untuk segera pergi dari hadapannya. ''Ayolah sayang... bukanya Kamu sangat menikmatinya. Kita lanjutkan nya... .'' Pinta Doni. ''Gila. Lo pergi sekarang juga. Tolong... .'' Maya teriak sekeras mungkin.
''Ok. Ok. Jangan teriak lagi. Tadi Gue khilap. Sorry ya. Aku minta maaf.'' Terus meminta maaf. ''Sekarang Lo pergi dari sini. Atau... Gue teriak lagi!" Maya yang tadap menahan amarahnya lagi. ''Ia. Gue pergi. Tapi, Lo mau 'kan maafin Gue. Please... .'' memohon. ''Gue tadi lupa. Gue terbawa situasi.'' Sambung Doni.
__ADS_1
''Gue juga tadi lupa. Dan, hampir saja gue tadi dan Doni... aaa... .'' dalam hatinya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. ''Yah. Gue maafin. Tapi... Lo pergi dari sini sekarang juga.'' Tegas Maya. ''Ok. Ok. Gue pergi. Thanks nya May.'' Doni pun pergi dan segera masuk kedalam mobilnya. ''Bug... .'' memukuk stir mobil. ''Sial. Hampir saja Gue dapetin dia. Gue harus cari cara. Bagaimana pun, Gue harus dapetin dia.'' Tersenyum, Lalu Doni melajukan roda empat miliknya.