
''Bener juga kata si Roy.'' Ucap Robin. ''Pak. Nitip motor Maya. yah... .'' Hana menitipkan motor Maya pada Sanip. ''Kebiasaan!'' Ucap Sanip. Mereka pun pulang ke rumah mereka masing-masing.
Kevin terus melajukan mobilnya. Hingga roda empat itu berhenti di sebuah rumah yang lumayan besar. Kevin turun dari mobilnya. Lalu, berjalan menuju pintu rumah Maya. Maya yang tengah menikmati mi instan buatan nya. ''Ting... Tong... .'' Suara bell berbunyi. ''Siapa nya... apa Papah balik lagi. Tapi... masa ke rumah sendiri harus menggunakan bell pintu.''
Yah. Tadi Ayah nya Maya memang ada di rumah. Namun, setelah berbicara dengan seseorang di dalam telepon seluler nya. Ia langsung pergi lagi. ''Ting... Tong... .'' Sekali lagi bell berbunyi. Dan segera Maya menghabiskan mienya. Lalu, pergi ke ke arah pintu.
__ADS_1
''Siapa si mengganggu saja.'' Mulut penuh dengan mie. Lalu, Maya pergi dan membukakan pintu tersebut. Maya pun membukakan pintu. ''Siap... pa...?'' Suaranya seolah terjeda. Lalu menelan sisa-sisa mie di mulutnya. ''Bapak! Bapak ngapain kesini?'' Ucap Maya yang terkejut melihat Gurunya yang tiba-tiba datang ke rumah nya.
Pada saat itu, Maya yang menggunakan celana pendek dan tangtop. Dan sisa-sisa mie yang tertinggal di bibir Maya. Karena, tadi Maya menghabiskan mie nya dengan terburu-buru. Membuat Kevin menelan slipa nya. ''Bapak ngapain kesini?'' Maya kembali bertanya.
Maya meliahat arah mata Kevin yang pokus pada gunung kembarnya. Dua benda itu menyembul sempurna. Karena Maya yang hanya menggunakan tangtop. Kulit putih nya terpampang jelas. Dan segera Maya menutup dua benda itu dengan tangannya. ''Mesum!'' Teriak Maya.
__ADS_1
''Saya tidak mesum. Kamu sendiri yang memakai pakaian seperti itu. Jadi, jangan salahkan Saya. Yang sebagai laki-laki normal, melihat memandangan bagus itu.'' Ucap Kevin tersenyum devil. ''Kok. Kamu ada di rumah. Mana orang tuamu?'' Sambung Kevin. ''Saya dari tadi pagi juga sudah di rumah. Bapak ada perlu apa cari Orang Tua Saya.'' Tanya Maya.
''Kamu tidak sadar. Dengan kesalahan yang kamu buat hari ini?'' Tanya Kevin. ''Tadi pagi itu memang Dinda yang salah Pak. Bukan saya?'' Tetap dengan pendiriannya. ''Kalau itu Saya juga tahu.'' Jawab Kevin spontan. ''Kalau Bapak sudah tahu. Kenapa Bapak masih mencari orang tua saya? Dan mengatakan Saya tidak sadar dengan kesalahan saya. Lantas, apa kesalahan yang telah Saya lakukan?'' Maya balik bertanya.
''Karena kamu sudah membuat semua orang khawatir. Termasuk saya.'' Jelas Kevin. ''Kenapa tidak menjawab panggilan dari temanmu? Atau panggilan dari saya. Apa kamu tahu seberapa khawatirnya temanmu dan Saya!'' Sambung Kevin. ''Hehe. Oh... Jadi Bapak khawatir nih... .'' Ejek Maya. ''Jangan ge,er nya. Saya khawatir juga karena kamu itu murid Saya.'' Ucap Kevin. ''Akh. masa sih... .''
__ADS_1
''Sekarang mana orang tua mu? Saya mau bicara.'' Mengalihkan pembicaraan. ''Nggak ada. Mereka nggak ada di rumah.'' Jawab spontan. ''Jam berapa mereka pulang? Saya akan menunggu nya.'' Melihat jam tangan. ''Jangan dong Pak... kalau Bapak mau menghukum. Hukum saja saya. Tapi please... jangan bicara apapun pada ke dua orang tua saya. Saya mohon. please... .'' Memohon.
''Nggak bisa!'' Tegas Kevin. ''Please... .'' Maya terus memohon. ''Ok. Kalau begitu, Saya tidak akan bicara pada orangtuamu. Berarti kamu harus siap dengan hukumannya.'' Ucap Kevin dengan seyum devilnya. ''Ok. Ok. Saya akan terima apapun hukumannya.'' Tersenyum. ''Kalau begitu tunggu saja besok. Dan hukuman apa yang pantas untukmu.'' Ucap kevin. Setelah Dil satu sama lain. Kevin pun pergi dari rumah Maya.