
Saat di dalam kelas. "Akhirnya, ujian Nasional selesai juga." ucap Pitri merasa lega. "May. Lo mau masuk universitas mana?" tanya pitri pada Maya. "Entahlah." Jawab nya.
Lalu Maya memalingkan wajahnya. Melihat ke sisi jendela. "Kalau mamah masih ada. Mungkin saat ini mamah akan terus berkata pendidikan itu penting. Dia akan paling cerewet menyuruhku untuk segera mendaftar kuliah. Seperti dulu, saat pertama kali aku mesuk SMA ini." ucap nya di dalam hati.
Ia pun tersenyum-senyum sendiri saat mengingat dia pertama kali masuk SMA. Hesti sangat sibuk menyiapkan segalanya. Saat itu, Maya sangat susah sekali di bangunkan. "Ya ampun... Si cantik nya mamah teh meni susah pisan di bangunin." ucap Hesti yang hampir ke habisan ide. Bagaimana agar anaknya itu mau bangun tidur.
Lalu Hesti mengambil son sistem. Memutar musik sekencang-kencangnya. "Seperti mati lampu ya sayang. Seperti mati lampu~ Cintaku padamu ya sayang. Bagai malam tiada berlalu~ ." suara pales Hesti. Maya segera mengusap daun telinganya. Karena berisik mendengar suara pales sang ibunda. Dan segera bangun. "Iya. Iya. Maya bangun. Mamah berenti nyanyi nya. Suara Mamah kaya panci lagi di pukul." ucap Maya Tampa ragu.
"Dasar. pikasebeleun." ucap Hesti kesal. Lalu mengejar Maya. Namun dengan sigap Maya segera lari dan masuk ke dalam kamar mandi. "Maya lebih suka Suara panci di pukul. Dari pada Suara mamah." teriak Maya dari dalam kamar mandi.
back to topic...
Maya tersenyum mengingat kejadian tersebut. Lalu air matanya menetes. "Mah. Kini semua momen itu hanya tinggal sebuah kenangan. Yang tak mungkin dapat Maya rasakan kembali. Semoga mamah di sana bahagia." ucapnya dalam hati. Lalu dia mengusap air matanya sendiri.
skip
Sebelum pulang ke rumahnya. Maya mampir ke tempat terakhir ibunya. "Mah. Mamah sedang apa di sana? Maya kangen mamah. Oh ya mah. Sepekan lagi, Maya lulus sekolah. Dan... seperti nya, Maya gak lanjut kuliah. Maya mau cari kerjaan saja. Maaf mah. Kalau Maya tidak bisa seperti yang mamah inginkan. Maya pulang dulu ya mah." ucapnya. Dan segera beranjak dari sana, lalu pergi.
__ADS_1
Sesampainya di rumah. Begitu Maya masuk ke dalam rumah. Maya mendapati kembali laki-laki yang saat itu bersama Silvi. Laki-laki tersebut tengah duduk di kursi sembari menonton televisi. Namun, Maya tak melihat ke beradaan Silvi di sekitar sana. "Dia lagi. Tapi kemana Tante Silvi?" ucap nya dalam hati.
"Om. Tante Silvi nya mana?" tanya Maya pada laki-laki itu. Dan laki-laki tersebut menatap Maya dari atas hingga kebawah. Karena takut, Maya segera masuk ke dalam kamarnya. Namun sayang, Laki-laki tersebut ikut masuk ke dalam kamar Maya. Menutup pintu. "Om. Apa yang om lakukan?" tanya Maya ke takutan.
Dan terlihat dari wajahnya. Dia seperti seseorang yang tengah ke laparan. Laki-laki itu pun segera meraih tubuh Maya. Mendorong nya ke atas tempat tidur. Sekuat tenaga Maya berontak agar laki-laki tersebut mau melepaskan nya. Namun sayang, Semua nya sia-sia.
Maya menangis meminta tolong. "Diam!" ucap laki-laki itu. Segera meraih pucuk ranum Maya. Sementara tangan satunya mengerayam masuk ke dalam rok yang di kenakan Maya. Karena saat itu, Maya memang masih mengenakan seragam sekolah.
Masuk lah satu jari ke dalam miliknya. Bermain di sana. "Tidak. Tidak... Hmmm... ." lenguh nya. "Tuhan tolong... tolong saya." ucap di dalam hati. Maya terus menangis. Bahkan dia tidak tahu kalau doni ayahnya terus menghubungi nya. Dan saat sebuah benda itu hendak di masukan. "Brug... ." pintu di tendang.
Menarik laki-laki tersebut dari atas tempat tidur. "Sialan! bug... ." Sebuah pukulan mendarat di wajah laki-laki itu. Sekali lagi Kevin melayangkan pukulan pada laki-laki itu. "Ampuun... ." laki-laki itu memohon ampun. Namun Kevin tak menghiraukannya. Setelah di rasa puas menghajar laki-laki tersebut. Karena laki-laki itu pun sedikit tak berdaya. Lalu laki-laki tersebut pergi dari sana. Kevin segera menghampiri Maya. Dan memeluknya.
"Untuk apa? Saya sudah melihatnya kok." ucap Kevin. "Bapak... ." teriak Maya. "Iya. Iya. Bercanda kok." Kevin segera membelakangi Maya. "Tahan-tahan... ." ucap Kevin di dalam hati.
Disisi lain. Jefrin menghampiri Silvi yang tengah berpesta bersama teman-temannya di sebuah kleb malam dengan penuh amarah. Dan tanpa basa-basi, Jefrin segera mencekik leher Silvi. Melihat wajah jefrin penuh memar karena telah di hajar habis oleh Kevin.
"Le-lepaskan dulu." ucap Silvi. Jefrin pun segera melepaskan tangannya dari leher Silvi. "Uhuk... Uhuk... Apa yang terjadi? kenapa wajahmu penuh memar?" tanya Silvi keheranan. "Kembali kan uang ku!" ucap Jefrin penuh amarah.
__ADS_1
"U-uang? uang apa?" tanya Silvi. "Jangan pura-pura. Uang yang kuberikan padamu. Gadis itu, aku tidak berhasil mendapatkan nya. Jadi, kembali kan uang itu!" pinta nya.
"Kenapa bisa gagal? Masa gadis kecil seperti itu saja kamu tidak becus." ucap Silvi. "Apa kamu bilang? tidak becus! aku hampir mendapatkan nya. Tapi, Siapa laki-laki yang menolong nya." ucap nya. "Laki-laki? siapa?" Silvi berpikir. "Aku tidak mau tahu. Aku mau uang ku kembali. Kalau tidak, Kamu akan tahu akibatnya." ancam jefrin.
"Kamu duduk lah dulu. Hanaya? temani dia. Buat hati nya tenang." Kata Silvi. Lalu Silvi, berbisik pada telinga jefrin. "Kamu tenang saja. Aku akan urus semuanya. Tapi jika kamu masih tidak bisa mendapatkan nya. Itu berarti kamu yang tidak becus!" ucapnya.
"Terserah. Aku bayar 3 x lipat. Asal aku bisa mendapatkan gadis itu." kata Jefrin. "Ok. kalau begitu, aku pergi dulu. Kamu tunggu kabar baik dariku." ucapnya. Silvi pun menepuk-nepuk tangan nya. "Anak-anak. Mami pergi dulu, ya? kalian baik-baik disini." ucap Silvi. segera pergi dari sana.
Dua puluh menit kemudian. Silvi turun dari mobilnya. Berjalan terburu-buru. "Dasar anak sialan!" ucapnya kesal. Lalu Doni menghubungi Silvi. "Hah. Apa lagi ini. Anak sama bapak gak jauh beda." Cerocos nya.
Silvi segera mengangkat panggilan nya. "Hem... Hem... Hallo sayang? Ada apa?" tanya Silvi. "Maya ke mana ya mah? kok dari tadi di hubungi gak di angkat-angkat." ucap Doni di balik telepon. "Hmm... dia ada kok pah. Dia sedang tidur. Mungkin dia cape habis pulang sekolah." jelas Silvi. "Oh... Ya sudah. Kalian baik-baik saja kan di sana?" tanya Doni kembali.
"Iya sayang. Kamu jangan khawatir. Kita disini baik-baik saja kok." jawab Silvi. "Oh syukur lah. Mah. Papah belum bisa pulang. Kalian di sana baik-baik nya. Titip Maya sama calon anak kita." ucap Doni. "Iya. pah. kamu jangan khawatir. Sudah dulu nya sayang. Muach... ."
...*******...
"Tapi kenapa perasaan ku tidak enak sekali. Semoga kalian benar-benar baik-baik saja." ucap Doni.
__ADS_1
Karena Saat ini Doni di pindahkan tugas ke luar kota. Ia kembali ke rumah paling cepat satu Minggu sekali. Tapi kali ini, Ia tak bisa pulang. Karena masih sangat banyak pekerjaan yang belum selesai.