
"Hei... ." Dinda menghampiri Ana, yang hendak masuk ke dalam tenda. Seketika Ana menoleh. Dan berkata, "Ada apa nya? apa sebelumya kita saling kenal?" Tanya anak heran. Dinda tersenyum, dan menjulurkan tangannya. "Perkenalkan. Gue Dinda." Begitu juga dengan Ana. "Gue Ana. Ada apa nya?" Tanya Ana kembali.
"Tidak ada. Gue cuma pengen kenal aja sama Lo. Oh ya. Gue denger-denger... Lo adiknya pak Kevin?" Kata Dinda. "Ya. Kenapa memangnya? jangan-jangan... Lo juga suka sama Kakak gue? Sorry ya. Kakak gue udah punya calon." Jawab Ana sinis. "Oh ya. Sorry. Kalau gak ada yang lebih penting, gue mau masuk tenda dulu. Bye... ." Lalu, Ana masuk kedalam tenda. "Cih. Sombong amat... ." Kesal Dinda.
...*******...
Acara Kemping pun telah usai. Maya dan teman-temannya pun kembali ke rumah mereka masing-masing. Satu pekan telah berlalu. Saat itu, Maya hendak pulang ke rumah. Saat di parkiran sekolah. Maya mendapati kabar dari seseorang, kalau ibunya masuk ke rumah sakit.
Tampak pikir panjang, dan Tampa memikirkan keselamatan nya. Maya segera tancap gaz dan pergi menuju rumah sakit dengan kecepatan tinggi. Kevin yang melihatnya, segera mengikuti Maya dari belakang. Dan di ikuti Robin dari belakang kendaraan Kevin.
Kini mereka terlihat seperti sedang melakukan balapan liar. Karena mereka saling kejar-kejaran. Kevin mengejar Maya. Begitu juga dengan Robin.
Sesampainya di rumah sakit. Maya segera lari menuju di mana ibunya di rawat. "Rumah sakit... ." ucap Kevin di dalam hatinya. Segera memarkirkan kendaraan nya. Lalu, Kevin dan Robin masuk kedalam menyusul Maya. "Apa dok? penyakit Uremia?" Tanya Maya. "Iya... ." jawab dokter tersebut.
Maya keluar dari ruangan tersebut dengan gontay nya. Ia duduk di kursi dengan pandangan kosong. "Dari mana uang sebanyak itu... ." kata Maya lirih. Maya mencoba menghubungi Wawan, ayahnya. Namun Wawan tak jua menjawab panggilan dari Maya.
Tiba-tiba, dari arah samping Maya seperti mendengar Suara ayahnya. "Suara itu... ." Maya segera menoleh. Dan betapa terkejutnya Ia mendapati Wawan atau Ayahnya tengah bersama seorang wanita. Dan mereka tampak berbahagia.
Maya segera lari dan menghampiri Wawan. Ia berteriak memanggilnya ayahnya dengan air mata bercucuran. "Pak... Bapak... ." teriak Maya. Sementara Kevin dan Robin hanya berdiam diri menyaksikan Maya.
Wawan menghentikan langkahnya, dan melihat ke arah Maya. "Siapa dia Mas?" Tanya Silvi. "Kamu sedang apa disini?" Tanya Wawan. "Mamah... Mamah pak." Bercucuran air mata. "Mamah? Mamah kenapa?" Tanya Wawan khawatir.
__ADS_1
"Siapa dia mas?" Tanya Silvi kembali. Maya melihat ke arah Silvi. Melihat tangan Silvi yang menggandeng tangan Wawan. "Dia siapa pak?" Tanya Maya. "Heh. Di tanya, malah balik Nanya?" Kata Silvin emosi.
"Sayang... jangan marah-marah." kata Wawan lembut.
"Apa? sayang?" Maya membuka bola matanya lebar-lebar. "Oh. Jadi dia, wanita yang menghancurkan keluarga kita. iya?" bentak Maya. "Pak... Mamah masuk Rumah sakit. Mamah terkena penyakit Uremia." jelas Maya lirih. "Apa? Mamah masuk rumah sakit?" Kata Wawan terkejut.
"Iya... Mamah harus segera di operasi. Dan biaya nya sekitar 100jt." kata Maya. Seketika Silvi membuka matanya lebar-lebar. "Apa seratus juta?" kata Silvi. "Kamu jangan mau mas? Dari mana uang sebanyak itu." ucap Silvi sambil memberi tatapan tajam pada Wawan.
"Lo. Cewek murahan. Dasar gatel. Ini semua pasti gara-gara Lo, orang tua gue jadi berpisah." ucap Maya bercucuran air mata. "Pak... jangan dengarkan wanita ini. Kasihan Mamah pak... ." ucap Maya kembali. "Mas... ." Silvi kembali menatap wajah Wawan dengan tajam.
"Please... Maya mohon pak. Kasihan Mamah." Maya mulai bersujud di bawah kaki Silvi. "Maya apa yang kamu lakukan?" teriak Kevin. Namun Maya tidak menghiraukan nya, dan tetap saja bersujud di bawah kaki Silvi.
"Saya mohon Tante. Tolong tinggalkan Bapak saya... tolong kasihani mamah saya." terus memohon. "Apa kamu bilang? tinggalkan ayah mu? Lalu, bagaimana dengan banyi yang ada di perutku. hah!" Ucap Silvi emosi.
Maya segera bangkit dari duduknya. "Heh. Aku menyesal, memiliki ayah seperti itu. Aku malu. Dan untuk biaya pengobatan mamah, bapak tidak perlu khawatir. Aku pasti bisa membayar semua biaya pengobatan mamah. Dan ingat, mulai saat ini dan seterusnya Jangan pernah berharap untuk bertemu dengan ku lagi. Ini yang terakhir kalinya." tegas Maya.
"Cih. Belum apa-apa sudah sombong. Bagus lah kalau begitu. Ayo Mas... ." ajak Silvi. Namun, Wawan tetap diam mematung. "Mas!!" Teriak Silvi. Dan dengan menyesal Wawan pergi dari rumah sakit. Maya memandang kepergian ayahnya dengan air mata bercucuran.
"Sudah. Tidak apa-apa... ." Ucap Kevin. "Jangan takut May. Ada gue yang selalu ada disisi mu." Kata Robin. "Terimakasih... ."
Keesokan paginya. Maya kembali pergi kesekolah. Karena semalaman Maya menjaga ibunya di rumah sakit. Maya pun tertidur di dalam kelas. "May. May... ." Pitri membangunkan Maya yang sedang tertidur. Karena pelajaran akan segera di mulai. Namun, di rerai oleh Kevin. Dan membiarkan Maya tertidur. Dengan menggunakan bahasa tubuh. "Hah. Aneh... Ada hubungan apa antara pak Kevin dan Maya." kata Pitri di dalam hatinya.
__ADS_1
Setelah pulang sekolah. Maya langsung pergi ke rumah sakit. Setelah itu, ia pergi ke toko kue ibunya. "Maaf neng. Sebenarnya saya mau bilang... ." Kata salah satu karyawan di sana. "Bilang apa?" Tanya Maya. "Sebenarnya... kami... anu. Hmmm. Saya mau bilang. Saya Mau mengundurkan diri." kata Susi. "Iya. Neng. Saya juga... ." ucap Edah. Maya membuka matanya lebar-lebar.
"Apa? Kenapa? apa alasan, ya?" Tanya Maya kembali. "Sebenarnya... Saya. Sudah mau bilang dari kemarin-kemarin. Cuma, Karena melihat kondisi ibu yang belum stabil. Jadi, kami mengurungkan niat kami." Ucap Susi penuh hati-hati. "Sekarang... Mumpung neng Maya ada disini. Jadi Saya dan Susi mau mengundurkan diri saja dari toko kue ini." Kata Edah.
"Kenapa kalian mau keluar? tolong bi... tolong kalian jangan berhenti. Kalian tahu, 'kan? sekarang mamah lagi di rumah sakit. Please... jangan berhenti." ucap Maya lirih dan terus memohon pada karyawan orang tuanya untuk tetap berkerja dengannya. Sebab, Hanya itulah mata pencaharian Maya saat ini. Untuk biaya pengobatan ibunya.
"Maaf. Neng. Neng Maya lihat sendiri. Karyawan di sini semakin hari semakin berkurang. Dan hanya tinggal beberapa orang saja di toko ini. Dan Kami semua tidak yakin, jika toko ini akan kembali berkembang seperti dulu. Apa lagi, sekarang ibu sedang sakit. Dan neng Maya tahu sendiri. Rata-rata karyawan di sini sudah berkeluarga." Ucap Rojak.
"Saya tahu. Kalian tidak perlu takut. Saya pasti akan Bayar gajih kalian. Jangan khawatir. Please... Kalian jangan mengundurkan diri." kata Maya, terus menyakinkan karyawan-karyawan ibunya. "Apa neng yakin? Neng bisa gajih kami. Kalau begitu segera lunasi pembayaran gajih kami yang menunggak sekarang juga. Kami juga butuh makan." Kata Rojak kembali.
"I-iya neng. Akhir-akhir ini ibu selalu membayar gajih kami separo- separo dulu. Dan Gajih bulan kemarin saja belum di bayar. terus sebentar lagi juga, udah mau tanggal gajian." kata Susi. "Hmm... Jadi, selama ini mamah sudah sangat menderita. Lalu, kenapa mamah tidak pernah cerita." ucap Maya di dalam hatinya.
"Bagaimana Neng? sanggup tidak? Kalau sanggup. Kami akan lanjut berkerja. Kalau tidak mulai besok kami tidak lagi berkerja di toko ini." kata Rojak sedikit membentak.
"Bagaimana ini... Aku dari mana dapat uang buat bayar mereka." kata Maya di dalam hatinya. "Maya terus berpikir. Tiba-tiba Kevin muncul. Dan berkata, "Kalian. Tetaplah berkerja disini. Mulai besok, saya akan lunasi gajih kalian." Seketika Maya menatap Kevin, Dia seakan tak percaya dengan ucapan Kevin. "Apa Kamu bilang?"
Seketika semua karyawan di sana terseyum, dan tak henti-hentinya mengucapkan terimakasih. "Terimakasih pak... ." Serentak.
"Boleh saya lihat buku nota toko ini?" Tanya Kevin. "Oh. Boleh-boleh pak." Kata Susi, Orang kepercayaan Hesti. Jika Hesti sedang tidak ke toko.
Segera Susi memberikan buku tersebut. "Ini pak... ." Menyodorkan. "Terimakasih... ." Kevin mulai melihat-lihat isi buku tersebut. "Oh. Ternyata... Sepertinya kita harus sedikit merubah konsep toko ini, Agar lebih menarik. Jika begini terus, bisa-bisa bangkrut." Kata Kevin.
__ADS_1
"Apa kamu bilang bangkrut?" Maya mengangkat sebelah alisnya. "Bapak. Jangan bicara sembarangan nya." kata Maya. Namun Kevin tidak menghiraukan ocehan dari Maya. Dia mulai memberikan sedikit arahan, dan Saran kepada para karyawan. Dan semuanya menyetujui nya.