
"Ok. Mulai sekarang, rumah, mobil, beserta tokonya menjadi milikku. Dan ini, uang sisa yang ku janjikan. Ingat! Jangan beri tahu siapapun. Jika tidak, kamu akan tahu akibatnya." kata Silvi sedikit mengancam. "Baik. Aku janji tidak akan memberitahu siapa pun." jawab Maya.
Kemudian Silvi pun pergi dari rumah Maya. Dan setelah itu. Maya segera pergi ke rumah sakit. Karena hari ini, jadwal ibunya di operasi.
skip.
operasi pun telah berhasil. Maya duduk seorang diri menunggu kabar baik dari sang dokter. Bahkan, sesekali Maya berdiri. Berjalan bolak-balik sembari menggigit ujung kukunya. Dan air mata yang terus keluar dari sudut matanya. Karena Maya merasa dirinya bagai sebatang kara. Yang paling Maya membuat sakit hati ialah ayahnya sendiri tidak datang walaupun hanya sekedar menemani Maya sebentar.
Disisi lain. "Ada yang tau? hari ini Maya kemana?" Tanya Kevin pada murid-muridnya. Namun, mereka tidak ada yang menjawab pertanyaan tersebut. "Hana? pitri? apa kamu tau, Maya kemana?" tanya Kevin. Dan kedua gadis itu pun menggeleng-gelengkan kepalanya secara bersamaan. "Kemana dia? Apa jangan-jangan, penyakit ibunya semakin parah?" kata Kevin di dalam hatinya.
Setelah selesai mengajar. Kevin bergegas pergi ke rumah sakit. Sesampainya di sana, Kevin melihat Maya yang tengah duduk sendirian. Bahkan, wajahnya begitu sembab. Mungkin karena Maya sudah terlalu lama menangis.
Berjalan mendekat ke arah Maya. "Apa yang terjadi?" tanya Kevin. Menoleh, kemudian memeluk tubuh Kevin. "Pak. Mamah Pak... ." kata Maya sendu. "Kamu yang tenang nya. Kenapa dengan ibumu?" tanya Kevin kembali. "Penyakit Mamah semakin parah. Dan hari ini, mamah sedang di tindak langsung oleh dokter." jawab Maya terisak.
"Kamu yang sabar nya. Mana ayah mu?" tanya Kevin. Maya pun menggelengkan kepalanya. Kevin membuang nafas dengan kasar. Bahkan, Kevin melihat wajah Maya tampak pucat. Dan tubuhnya begitu dingin. Dan kevin pun membalas pelukan Maya. "Apa kamu sudah makan?" Tanya Kevin. Dan Maya pun menggelengkan kepalanya. "Saya tidak lapar. Saya hanya ingin ibu saya pak." jawab Kevin.
__ADS_1
Saat itu Maya sudah tidak begitu takut lagi. Ia seperti menemukan sosok seorang ayah pada diri Kevin. Dan kini, Hatinya mulai sedikit tenang. "Bapak. Mau kan menemani saya disini. Saya takut kalau sendirian." kata Maya pada Kevin. "Ya. Kamu jangan takut. Saya akan temani kamu disini." jawab Kevin.
Kemudian Hana, Pitri, Robin, Dan Roy pun tiba disana. Bahkan, mereka sedikit tercengang melihat Maya yang sedang berdiri dan memeluk tubuh Kevin. Roy pun menepuk pundak Robin. "Sabar bro." Kata Roy menyemangati.
Melihat ke datangan sahabat-sahabat nya. Maya segera melepaskan pelukannya. "Oh. Kalian duduk lah." kata Kevin pada keempat anak itu. "Terimakasih pak.'' jawab pitri. "May. yang sabar nya. Gue ikut sedih mendengarnya." Kata Hana pada Maya. "Semoga Tante Hesti dapat melewati nya. Dan sehat seperti sedia kala." kata Pitri.
"Thanks ya... Kalian sahabat-sahabat terbaik gue." ucap Maya tersenyum. "May. Gue yakin Tante Hesti orang yang kuat." kata Roy. "Ya. Semoga Saja." kata Maya. Kemudian, Robin memberikan makanan kepada Maya. "May. Lo pasti belum makan. Nih, gue bawakan makanan ke sukaan Lo. juz alpukat dan roti bakar isi keju." kata Robin. Lalu memberikan makanan tersebut pada Maya. "Makasih ya bin. Lo selalu perhatian seperti itu."
"Ekhem... Ekhem... ." Kata Pitri dan kawan-kawan nya. "Apaan sih kalian." Kata Maya. "Sikat bin... Nanti keduluan orang." kata Roy. Seketika Pitri melempar kan tatapan tajam pada Roy. "Apa si Lo. Lo mau nerkam gue?" tanya Roy pada Pitri. "Makan dulu May. Nanti keburu dingin." Kata Robin pada Maya.
"Bapak apa-apaan? kenapa makannya di ambil. Dan di berikan ke Roy." kesal Maya pada Kevin. "Saya belikan yang baru. Makanan itu sudah dingin. Nanti kamu sakit perut." kata Kevin. "Dingin dari mana? itu masih sedikit hangat ko!" kata Maya kesal. Sebab, Maya merasa tidak enak hati pada Robin.
"Tetap saja itu hampir dingin. Saya pergi beli yang baru." Kevin segera pergi dari sana untuk membeli makan seperti yang tadi. Sementara Robin mengepalkan tangannya karena kesal pada Kevin. Kemudian Robin mengambil makanan tersebut dari tangan Roy. Dan memberi kan makanan tersebut ke cleaner yang tengah menyapu lantai di sana.
"Bu. Ini untuk ibu." Robin memberikan makanan tersebut. "Terimakasih... ." kata wanita paruh baya itu. "Bin. Lo teganya. Padahal perut gue juga masih nampung." kata Roy. "Lo mau?" tanya Robin. dan Roy pun mengangguk sembari tersenyum. "Beli sendiri." jawab Robin. "Fuph... ." Pitri dan Hana sedikit menahan tawa.
__ADS_1
Tak lama kemudian. Dokter yang menangani operasi Hesti pun ke luar dari ruangan tersebut. Dan segera Maya berdiri dan bertanya. "Bagaimana keadaan mamah saya dok?" Tanya Maya. "Operasi nya lancar. Semoga pasien cepat membaik." kata Andrea. "Kalau begitu, saya permisi dulu." kata Andrea kembali. "Ya. terimakasih dok." kata Maya. Sementara Pitri terpelongo melihat wajah Tampan Andrea.
"Ya ampun... Kok gue baru liat kalau ada dokter seganteng ini, di rumah sakit ini. Kalau dokternya seganteng itu. Gue rela kok harus sakit." Kata Pitri pelan. "Mata Lo gak bisa liat yang bening-bening ya Pitri." balas Hana.
Sementara itu, disisi lain. Silvi yang baru saja kembali ke rumahnya. "Kamu dari mana saja?" Tanya Kevin. Melihat mobil yang di pakai Silvi. "Itu bukanya mobil... ." kata Wawan terhenti. " Memang nya kenapa? Lagi pula mobil ini sekarang sudah menjadi Milik ku. "Kata Silvi Lalu berjalan masuk ke dalam rumahnya.
"Maksud mu apa?" Tanya Wawan. Silvi pun menghentikan langkah nya. "Kemarin malam anakmu datang kesini. Dia bialang kamu bukan orang tua yang baik. Dia membencimu. Bahkan, dia akan menjual semua Harta ibunya ke lintah darat. Tapi aku melarangnya. Karena kasihan, aku berinisiatif membantu nya. Dan dia berkata, kalau kamu tak sebaik dirirku. Kemudian dia memberikan kunci mobil ibunya. Aku sudah menolaknya. Tapi dia tetap saja memaksa." bohong Silvi pada Wawan.
"Apa kamu bilang. Anakku tidak akan berkata seperti itu. Anakku adalah gadis baik-baik." kata Wawan. "Ya sudah. Aku pergi kerja dulu." kata Wawan berpamitan pada Silvi. Dan Wawan pun segera pergi dari hadapan Silvi.
Sementara itu. Hana, Pitri, Dan Roy berpamitan pada Maya. Karena mereka harus segera kembali ke rumah mereka. "May. Kita pulang dulu, ya?" ijin Hana pada Maya. "Iya. kalian hati-hati nya. Terimakasih sudah menyempatkan datang ke sini." kata Maya pada teman-temannya.
"Bin. Ayo!" ajak Roy. "Lo. duluan aja. Gue mau disini saja. Temani Maya." jawab Robin. "Gak usah. Lebih baik kalian pulang saja. Biar Maya saya yang temani." kata Kevin. "Tapi pak... ." kata Robin. Segera Roy menarik tangan Robin. "Udah... kita pulang. Kebetulan, ada jaipongan di alun-alun. Kita nonton jaipongan saja." kata Roy menarik tangan Robin.
Maya menatap tajam pada Kevin yang sedang duduk. "Apa maksud dari tatapan mu?" tanya Kevin. "Bapak gak liat. Saya sedang marah." jawab Maya ketus. "Oh... gitu." jawab Kevin begitu menyebalkan. "Bapak kenapa si jahat sekali sama Robin. Memang dia salah apa ke bapak?" tanya Maya kesal. "Tidak ada." jawab Kevin singakt. "Hah. Lalu tadi apa? tiba-tiba memberikan makanan nya ke Roy. Terus tadi, menyuruh dia pulang."
__ADS_1
"Kalau saya bilang. Saya tidak suka kamu dekat-dekat dengan laki-laki lain. Apa kamu puas?" kata Kevin. "Hah. Maksud bapak apa?" Maya belik bertanya. "Bapak. Bapak. Saya bukan bapak kamu! Nama saya Kevin Wijaya." jelas Kevin. "Tapi, Bapak. Memang sudah bapak-bapak, 'kan?" kata Maya sedikit meledek.