
''May, kantin yuk?'' ajak Hana dan Pitri. ''Kalian duluan aja. Gue lagi males.'' Jawab Maya. ''Hmm. Yaudah deh, kita ke kantin dulunya.'' Hana dan Pitri pun pergi ke kantin.
Sementara Maya diam di dalam kelas. Dan bahkan, Hari-hari nya tampak tidak bersemangat. Maya terus memikirkan perihal orang tuanya. Ia tak percaya, Orang Tua nya akan berpisah. Maya bingung, Ia harus ikut siapa. Karena, Mereka berdua adalah orang tuanya.
Saat di kantin. ''Kalian ngerasa gak sih? Kalau akhir-akhir ini, Maya seperti menjauhi kita. Sepertinya, dia bukan Maya yang dulu kita kenal. Maya yang bar-bar, Ceria, dan jahil.'' kata Pitri. ''Iya. Gue juga merasa seperti itu.'' Ucap Hana. ''Bin? mungkin Lo tau, Akhir-akhir ini Maya kenapa? Mungkin Dia cerita ke Lo?'' Sambung Hana.
Robin mulai menghela nafas, ''Hah. Gue sendiri juga bingung. Gue selalu hubungin Dia. Tapi, gak pernah di angkat... ." Ucap Robin tak berdaya. ''Kayaknya, si Maya masih Marah deh sama elu, Bin? gara-gara waktu itu, Lu sok jadi penyelamat dia.'' Ucap Roy, dengan mulut penuh makanan. ''Apa mungkin Ia? Maya marah sama gue gara-gara waktu itu?" Ucap Robin dalam hati.
Robin segera bangkit dari tempat duduknya. ''Bin! Lo mau kemana?" Tanya Pitri. Namun, Robin tidak menghiraukannya. Ia tetap pergi dari sana dan menemui Maya. ''Lu tuhnya! punya mulut lemes banget! Maya itu gak mungkin marah cuma gara-gara hal sepele.'' Ucap Hana kesal. ''Ya Sorry... Gue, kan cuma mengutarakan apa yang ada di pikiran Gue.''
''Pikiran. Pikiran apaan! Emang Lo punya pikiran?'' Ucap Pitri. ''Yaelah Pit... Lo Kalau ngomongnya, Suka bikin hati Gue hancur.'' Roy mengelus dada ya sendiri. Pitri mengehentikan suapannya, ''Lebay!'' kemudian Pitri melanjutkan makannya. ''Sudah. Sudah. Gak usah kebayakan drama!" Ucap Hana.
Dalam kelas. Maya yang sedang duduk di kelas sendirian. Pikirannya kacau. Dia bahkan tidak bisa fokus saat belajar. Ia terus mengingat kedua orangtuanya, yang akhir-akhir ini sering sekali bertengkar. Ia tak pernah mendapatkan ketenangan, jika sedang berada di rumahnya. Bahkan, Maya selalu berpikir untuk pergi dari rumahnya.
__ADS_1
''Aaaa~ Kenapa jadi seperti ini. Aku harus mencari tahu siapa wanita itu. Aku harus bicara dengannya. Harus!'' Maya berbicara sendirian.
Saat Maya sedang bertarung dengan pikirannya. Tiba-tiba Robin sudah duduk di depannya. ''May, Lo masih marah? gara-gara kemarin, gue... .'' belum juga Robin selesai bicara. Dinda dan teman-temannya Masuk. ''Ini sekolah untuk belajar! bukan untuk pacaran.'' Ucap Dinda sinis. ''Maklum Din. Masih anget-angetnya.'' Ucap salah satu teman Dinda.
''Heh, Ya maklum sih. Kalau pacaran gak bermodal ya kaya gitu.'' Ucap Dinda. Mendengar ucapan Dinda seperti itu. Membuat Robin Marah. Ia mengepalkan tangannya, Lalu berdiri. ''Bin. Bin. Udah. Jangan dengarkan mereka. Mereka emang gitu, Bisanya cuma cari masalah.'' Maya menahan tangan Robin.
''Gak bisa May. Dia itu harus di kasih pelajaran sekali-kali. Biar mulutnya gak sembarangan bicara.'' Ucap Robin kesal. ''Gue gak sembarangan bicara. Tapi Gue, bicara pakta! Yuk. guys kita keluar. Disini... hawanya panas. '' Dinda dan teman-temannya keluar dari kelas tersebut sembari mengibas-ngibaskan tangan.
''Kalau bukan cewek, udah pasti gue kasih pelajaran.'' kesal Robin. ''Sudah. Sudah. Lo tadi ngomong apa?'' Tanya Maya. ''Gue, mau minta maaf sama Lo?'' Ucap Robin serius. ''Minta maaf? kenapa?'' Maya mulai bingung. ''Maaf. Gue kemarin udah bikin malu Lo satu kelas. Harusnya, kemarin gue gak ngelakuin itu. Tapi jujur, gue ngelakuin itu bukan semata-mata untuk caper dari Lo, atau sengaja buat Lo malu. Tapi itu real, dari perasaan gue. Gue gak tega kalau Lo ada yang yakitin. Sekali lagi, gue minta maaf.''
Kemudia Maya melihat ke arah Robin. ''Makasih ya Bin? Lo emang sahabat gue yang paling baik.'' Ucap Maya. ''Padahal, Gue maunya kita itu lebih dari sekedar sahabat May.'' Ucap Robin dalam hati. Kemudian, 3 mahkluk geng sableng datang. Dan duduk di bangku Maya saling berdempetan. Sementara Roy, duduk di sebelah Robin. Kini mereka saling bercanda satu sama lain.
''Ring... .'' tanda bell sekolah berdering. ''Ok semuanya. pelajaran hari ini, cukup sampai disini. Sampai ketemu besok pagi. Dan, untuk Minggu depan. Sekolah akan mengadakan Camping. Untuk ketua kelas, silakan di data, siapa saja yang mau ikut. Cukup sekian, dan terimakasih.'' Kevin membereskan buku-bukunya. Sementara, semua orang di dalam kelas, tampak antusias mendengar kabar tersebut.
__ADS_1
''Yey, Camping.'' Teriak Pitri. ''May? Lo ikut, 'kan?'' Tanya Hana. ''Gue pikir-pikir dulu.'' Jawab Maya singkat. ''Ya udah deh. Kita duluan ya?'' Ucap Hana. ''Iya. Kalian hati-hati di jalan.'' Hana dan Pitri mengangkat tangan mereka masing-masing, dan membentuk ok, 👌. ''May, Gue tungguin di luar.'' Ucap Robin. ''Gak usah. Lo pulang aja. Lagian gue bukan anak TK.'' Cetus Maya. ''Hmm. Ya udah deh. Gue duluan ya? Lo hati-hati.''
Kemudian, Robin menghampiri Kevin yang masih duduk di bangku nya. ''Pak. Titip Maya nya. Jangan sampai pulangnya ke sorean.'' Ucap Robin dengan Tampa ragu. ''Kamu tenang saja. Saya tahu kok.'' jawab Kevin.
Setelah, Robin keluar dari kelas. Maya segera lari ke arah pintu, untuk memastikan kalau teman-temannya Sudan benar-benar pergi. ''So sweet sekali. Harus banget Nya, di lihatin seperti itu?'' ucap Kevin cemburu. ''Bukan Urusan Bapak!" Jawab Maya.
''Hmm... .'' Kevin bangkit dari tempat duduknya. Dan berjalan ke arah Maya. Lalu, Kevin berdiri di samping Maya, dengan posisi punggungnya menempel ke dinding tembok. ''Iya sih. Bukan urusan Saya. Tapi, itu dulu.'' ucap Kevin. Seketika Maya membalikan badannya, dan melihat ke arah Kevin. ''Maksud Bapak apa, ya?'' Maya mengerutkan dahinya.
''Tidak ada maksud apa-apa." Jawab Kevin. ''Cih. Gajelas banget!'' kesal Maya. Saat Maya hendak pergi menuju bangkunya. Tangan Maya di tahan Kevin. ''Deg... .'' Hati Maya berdetak sangat kencang. ''Bapak apa-apa sih? Lepasin tangan Saya!'' Maya terus berusa ha melepaskan tangannya dari genggaman tangan Kevin.
Namun, semakin Maya berontak. Kevin semakin erat menggenggam tangan nya. ''Apa sih mau Bapak? Lepasin? atau Saya teriak!'' tegas Maya. ''Saya mau kamu?'' Ucap Kevin. ''A-apa? Ba-bapak jangan macam-macam yah?" Maya ketakutan.
Melihat ekspresi wajah Maya yang panik karena ketakutan. Kevin tertawa, ''Hahaha... kamu lucu.'' Kevin melepaskan pegangannya dan duduk di bangkunya. ''Akh~ tidak ku sangka. Aku akan tertarik pada gadis kecil. Maya? kamu punya megic apa sih?'' tanya Kevin. ''..maksud Bapak. Bapak suka sama Saya? Iya?'' Maya berjalan ke arah Kevin. ''Sudah lah. Lupakan saja. kita pulang saja.''
__ADS_1
Karena penasaran Maya terus mengikuti Kevin. ''Bapak? Jawab?'' Ucap Maya. Terus berjalan di depan Kevin sembari berjalan mundur. Namun, hingga kini mereka sampai di parkiran Kevin tak jua menjawabnya. ''Aduh. Sungguh kasihan neng Maya. Cintanya bertepuk sebelah tangan.'' Ucap si Sanip. Kemudian dia menyeruput kopi hitam yang ada di depannya ''Seruput.... ah... .''