Mengejar Cinta Pak Guru Tampan

Mengejar Cinta Pak Guru Tampan
Ana Dan Andrea


__ADS_3

"Sial." kesal Kevin memukul pintu rumah Silvi. Kemudian Kevin pergi dari rumah Silvi dengan penuh kekecewaan.


Disisi lain. Ana pergi ke rumah sakit, membawa makanan di tangannya. Berjalan menuju ruangan Andrea. Di depan pintu, Ana mendapati Andrea tengah bersama seorang perempuan. Dan perempuan tersebut nampaknya satu perkerjaan dengannya.


Perempuan dengan wajah yang cantik. Dan dengan balutan seragam kerja nampak semakin Cantik bila dilihat nya. Bola mata yang sedikit besar, bibir tipis dan kulit putih bersih. Laki-laki yang melihatnya akan langsung jatuh hati padanya.


Di dalam sana Andrea dan wanita tersebut tampak saling berpelukan. Dan terlihat senyum bahagia di wajah wanita itu.


Ana menghentikan langkah kakinya. Berdiam diri dan terjatuh lah makanan yang di tenteng Ana ke atas lantai. Seketika, Andrea melepaskan pelukannya. "Ana... ." ucap Andrea pelan. "Siapa dia?" tanya Yuni pada Andrea.


Ana segera berlari pergi dari hadapan Andrea dengan gontay dan berderai air mata. Andrea pun segera mengejar Ana dan tak menghiraukan pertanyaan yang keluar dari mulut Yuni.


"Ana. Tunggu!" teriak Andrea. Namun Ana tetap berlari dan tak menghiraukan teriakan dari Andrea. Sekali lagi, Andrea menghentikan langkah ana dengan menyurunya untuk menghentikan langkahnya. "Ana. berhenti. Dengarkan penjelasan ku." ucap Andrea sedikit bertenaga.


"Segera Ana menghentikan langkahnya. Andrea menghampiri Ana, meraih tangan ana. "Ana. Dengarkan aku. Kamu jangan salah paham. Aku hanya menganggap mu sebagai adikku. Jadi, Aku harap kamu jangan berharap lebih." jelas Andrea pada Ana.


Menghempas tangan Andrea dari tangannya. "Ya. Memang seharusnya aku tidak mengharap lebih pada kakak. Tapi, tidak bisa kah kak Andrea membuka hati kakak sedikit saja untuk ku?!" lirihnya.


"Maaf ana. Aku tidak bisa. Sampai kapan pun kamu adalah adik perempuan ku. Jadi, aku mohon buang perasaan itu. Karena kita tidak mungkin bersama." jelasnya kembali.


"Kenapa? apa karena wanita itu?!" ucap ana menunjuk pada Yuni yang berdiri tak jauh di belakang Andrea. Andrea melihat ke belakang sejenak. "Ya." jawabnya sedikit berat.

__ADS_1


"Baik. Baik... Aku akan buang semua perasaan itu. Dan ingat! Anggap kita itu tidak pernah saling mengenal satu sama lain." ucapnya lirih. Kemudian Ana pergi dari hadapan Andrea. Dengan sedikit berlari dan berderai air. "Apa salah ku. Hingga dia tak mau menerima ku. Padahal, selama ini perasaan ku kepadanya begitu tulus dan suci." terisak.


Sementara itu, Andrea yang berdiam diri. Menatap kepergian Ana. "Ana. Tolong maafkan aku. Aku tau, kamu tulus padaku. Tapi, aku tak mau menyakiti mu. Karena sampai saat ini, aku pun masih tak mengerti dengan perasaan ku. Karena dalam pikiran ku masih terbayang wajahnya." ucapnya dalam hati.


Yuni datang lalu menghampiri Andrea. "Maaf. Karena ku dia jadi marah padamu." ucapnya penuh penyesalan. "Tidak apa-apa." jawab Andrea. Lalu meninggal kan Yuni begitu saja.


Karena sebelum ana datang. Yuni masuk ke dalam ruangan Andrea dengan gontay nya. Dia menangis di hadapan Andrea karena orang tuanya ingin menjodohkan nya pada laki-laki yang menurut nya laki-laki itu tidak pantas untuknya.


Dan Tampa Andrea sadari. Bahwa sahabat kecilnya itu, sudah menyukainya sejak dulu. Sebelum nya Yuni pernah mengucapkan perasaan nya pada Andrea. Namun, Andrea selalu menolaknya. Dan semenjak itu, Yuni memendam perasaan nya sendiri.


Sebelum masuk ke ruangan Andrea. Saat Yuni tengah menceritakan semua permasalahan nya pada Andrea. Saat itu, Andrea ijin untuk ke kamar kecil terlebih dahulu. Dan saat itulah, Yuni mendapati sebuah pesan masuk pada ponsel Andrea. Yang tergeletak di atas meja.


Pintu kamar mandi terbuka. Yuni segera menghapus pesan tersebut. Lalu dia segera menaruh kembali ponsel Andrea dengan sedikit terburu-buru.


Skip.


Ana baru saja tiba di rumah nya. Melihat Kevin yang tengah duduk termenung di ruang tengah. Segera Ana menghapus air matanya, dan masuk ke dalam kamarnya.


Karena merasa heran. Karena tak biasanya Ana bersikap dingin seperti itu. Segera Kevin berdiri lalu mengetuk pintu kamar ana tiga kali. Dan mempertanyakan ke adaan adiknya. "Ana. Apa yang terjadi?!" tanya Kevin di balik pintu ana.


"Aku tidak apa-apa mas." bohongnya. "Kamu jangan bohong ana. Katakan apa yang terjadi?" tanya Kevin kembali. Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka. Segera Ana memeluk Kevin dan menangis di pelukan sang kakak.

__ADS_1


"Ana. Ada apa? apa yang terjadi?!" tanya Kevin kebingungan. Masih menangi, "Mas. Aku mau pulang saja. Aku mau kuliah di sana. Aku rindu mamah." bohong ana. Karena jika ana bicara jujur. Ana takut jika kakaknya itu akan marah pada Andrea.


"Hah. Kenapa tiba-tiba kamu ingin pulang?'' tanya Kevin penasaran. "Gak tau. Aku ingin pulang. Aku rindu mamah, rindu Oma juga. Menurutku, aku lebih baik kuliah disana saja." jelasnya.


"Hmmm... Kamu yakin kamu ingin pulang karena rindu mamah dan Oma? bukan karena masalah lain?" ucapnya sedikit curiga. "Atau, ini karena Andrea?" tanya Kevin kembali.


Karena menurut nya. Ana tidak mungkin mendadak ingin pulang. Jika hanya rindu pada orang tuanya. Jika hanya karena rindu, biasanya ana akan langsung melakukan video call dengan ibunya. Tapi kali ini, Ana ingin pulang dan kuliah disana. Seperti sedang ingin menjauhi seseorang.


"Jawab Ana. Apa ini karena Andrea. Iya?!" tanya Kevin sedikit memaksa. "Bu-bukan." terbata-bata. "Bohong! Mas bisa lihat dari sudut pandang mu. Kalau kamu sedang berbohong." ucapnya.


Dan tak dapat di pungkiri bahwa ana memang tak pandai berbohong, apa lagi depan kakak laki-laki ya itu. Dan dengan terpaksa ana pun berkata jujur.


"Saya mohon. Mas jangan marah padanya. Karena ini memang salahku. Aku yang terlalu berharap banyak pada nya." ucapnya penuh permohonan. Membuang nafas dengan kasar. "Huh. Baiklah. Mas tidak akan ikut campur urusan kalian. Karena ini adalah masalah kalian berdua. Tapi, Apa kamu yakin ingin tinggal di sana?!" ucapnya.


"Karena mas takut. Ini hanya karena emosi mu sesaat saja. Kamu boleh pulang ke rumah. Kamu tenangkan pikiranmu di sana. Dan jika kamu ingin kembali, Kembalilah. Pintu rumah mas terbuka lebar-lebar untuk mu." tersenyum.


"Baik mas. Dan terimakasih atas semua kebaikan mas." Jawab Ana tersenyum kecil. Mengusap halus kepala ana. "Sudahlah. Jangan bersedih lagi. Mas yakin, Jika kamu tulus padanya. Dia pasti akan datang menemui mu. Pecaya itu." menyemangati.


"Ya. Terimakasih mas." ucapnya. "Oh ya mas. Bagaimana dengan Maya. Apakah sudah ada kabar?!" tanya ana penasaran.Dan dengan berat hati, Kevin menggeleng-gelengkan kepalanya. "Mas yang sabar, ya?"


"Ya. Mas selalu sabar dan senantiasa berusaha untuk menunggu nya." jawab Kevin dengan lapang dada. "Hehe... semangat!" kata ana penuh semangat. "Heh. Ya. Semangat."

__ADS_1


__ADS_2