
"Sudah belum?" tanya Kevin pada Maya yang sedang berganti pakaian. "Sudah. Terimakasih. Kalau tidak ada bapak, mungkin saya sudah... ." Maya menghentikan ucapannya. "Tapi dia benar-benar belum melakukan nya, 'kan?" tanya Kevin kembali. "Kan sudah saya bilang. Untung bapak keburu datang." jawab Maya sedikit sensitif. "Oh iya. Kok tiba-tiba bapak datang ke rumah ku. Ada apa?" tanya Maya penasaran.
"Orang tua mu menghubungi ku. Dia bilang, dia terus menghubungi mu. Tapi kamu tidak jua menjawab panggilan nya. Dia khawatir, lalu dia memintaku untuk datang kesini. Dan memastikan keadaan mu." jelas Kevin.
Karena Belakang ini Wawan memang sedikit curiga pada istrinya. Belum lagi selama ada di rumah, Wawan kerap melihat istrinya sering memarahi anaknya. Maka dari itu, tampa sepengatahuan Silvi. Wawan mempercayakan Maya pada Kevin. Karena Wawan percaya, Kevin adalah orang yang tepat untuk anaknya. Kevin mampu menjaga Maya di kala dirinya tengah berada jauh di sana.
"Tapi... begitu aku sampai kesini, Aku benar-benar khawatir, saat aku mendengar suara rintihan mu. Aku segera bergegas masuk ke dalam." ucap Kevin demikian.
"Oh... rupanya begitu." kata Maya di dalam hatinya. "Maya. Apa kamu tahu. Siapa laki-laki tadi?" tanya Kevin. "Aku tidak tahu siapa dia. Tapi, Aku sudah beberapa kali melihat nya. Karena dia sering kemari. Kata Tante silvi si dia rekan bisnisnya." jelas maya. "Tapi... Dari awal aku melihat nya. Aku memang merasa sedikit aneh dengan sikapnya. Dia sering menatap ku."
"Hmmm... begitu rupanya.Ya sudah. Ayo kita pergi." ajak Kevin. Di balik pintu kamar Maya, Silvi mendengar kan percakapan Kevin dan Maya. "Sial! ternyata laki-laki tua itu yang menggagalkan rencana ku." kesal Silvi.
Silvi segera memasang wajah sedih. Lalu masuk ke dalam kamar maya. Dan memeluk Maya. "Aduh sayang... Kamu tidak apa-apa, 'kan? Mama minta maaf, ya. Mama tidak tahu, kalau laki-laki itu akan berbuat jahat padamu. Huhuhu... ." ucap Silvi pura-pura menangis. "Apa? Mama? sejak kapan Tante Silvi mengatakan dirinya sebagai mamaku." dalam batin Maya keheranan.
Kevin menggemgam tangan Maya. Dan berkata, "Ayo Maya. Kita pergi!" ucapnya. "Apa maksudnya? jadi dia mau membawa anak itu pergi. Gak bisa. Ini gak bisa di biarkan. Kalau anak itu pergi, Bisa gagal semua rencana ku." ucap Silvi di dalam hatinya.
Lalu Silvi berkata, "Tunggu! Apa maksudnya? Maya. Kamu mau pergi ke mana? Apa kamu tega. Jadi kamu mau meninggalkan mamah sendirian di sini. Bagaimana jika ayahmu pulang dan menanyakan keberadaanmu. Aku harus jawab apa? jika kamu tidak ada disini." ucap Silvi pada Maya.
__ADS_1
Silvi mulai memelas. Air matanya berderai. "Jangan pergi ya sayang. Mama mohon. Jangan pergi. Tetaplah di sini. Tetaplah tinggal disini bersama mama. Hiks... Hiks... ." bohong Silvi.
Maya terdiam. Dan sesekali melihat ke arah Kevin. Dan terlihat di wajah Maya yang kebingungan. Lalu Kevin berkata, "Jangan dengarkan dia Maya. Kita pergi dari sini. Dia hanya pura-pura saja, agar kamu tidak meninggalkannya. Aku yakin, Pasti ada sesuatu di balik ini semua. Percayalah! Ayo kita pergi!" tegas Kevin, karena kevin sudah sangat muak melihat semua sandiwara yang silvi buat.
Kevin kembali menarik tangan Maya. Namun Maya menahannya. "Ada apa?" tanya Kevin pada Maya. Karena melihat sikap perduli Silvi padanya. Maya berpikir jika Silvi telah berubah. Maya pun mengurungkan niatnya untuk pergi bersama Kevin. Dan memilih tetap tinggal di sana. Kevin memegang ke due pundak Maya dengan kuat. Kevin mencoba menyakinkan Maya. Dan bola matanya membulat sempurna.
"Maya. Sadar. Sadar lah. Dia itu hanya pura-pura. Aku yakin. Jika laki-laki tadi adalah perintah nya. Sekarang kamu ikut denganku. Jangan hiraukan dia." ucap Kevin menyakinkan.
Bola matanya terbelalak, begitu mendengar ucapan Kevin barusan. "Apa? Maksud bapak apa? Aku tahu. Bapak perduli padaku. Tapi, Jangan pernah menuduh Tante Silvi seperti itu. Tante Silvi tidak mungkin melakukan itu padaku. Apa bapak tadi tidak dengar. Kalau Tante Silvi berkata dia tidak menyangka laki-laki itu akan berbuat jahat padaku. Itu Berarti Tante Silvi bukan dalang dari masalah ini." ucap Maya sedikit kesal.
Dan lagi-lagi Maya tetap pada pendiriannya. Dia lebih memilih Silvi ketimbang Kevin. "Maaf. Aku tidak bisa ikut dengan orang yang sudah sembarangan menuduh Tante Silvi." jawab Maya tampa ragu. "Ok. Ok. Jika kamu bersikukuh. Aku tidak akan memaksa." ucap Kevin kecewa pada sikap Maya.
Melihat perdebatan tersebut. Silvi tertawa bahagia di dalam hatinya. "Dasar bego. Mau saja di kibulin." ucapnya di dalam hati. "Maya. Kamu akan menyesal. Karena tidak mempercayai ku."
Kevin mengusap kepalanya dengan kasar. Lalu pergi dari hadapan Maya dengan penuh amarah dan rasa kecewa. Silvi mengusap lembut pundak Maya. Memeluk Maya. "Terimakasih sayang. Kamu sudah percaya pada mamah." ucapnya. Dan tersenyum di balik pelukan tersebut. "Iya mah." kata Maya yang masih menatap pada pintu yang terbuka.
Kevin masuk ke dalam mobil miliknya. Memukul stir mobil. "bug... ." mengusap kasar wajahnya. Dan berteriak. Kemudian sebuah panggilan masuk. "Hallo. Iya om. Aku yakin, ini adalah ulahnya. Ya. Om tenang saja. Saya akan memantau nya dari kejauhan." ucap Kevin pada Doni di balik telepon seluler nya. "Ya. Terimakasih. Dan maaf, jika om merepotkan mu." kata Doni. "Ya. Tidak apa-apa." jawab Kevin. Lalu dia menutup telepon nya.
__ADS_1
Skip.
Semenjak hari itu. Silvi benar-benar berubah. Dia tidak lagi marah-marah dan menyuruh-nyuruh Maya. Bahkan beberapa hari ini, Silvi selalu bangun pagi. Dan menyiapkan sarapan untuk nya dan Maya.
Bahkan di dalam benak Maya. Tak sedikit pun Maya menaruh rasa curiga pada Silvi. Atas sikap baik Silvi padanya. Padahal di balik kebaikan nya itu, tersimpan maksud lain.
Menyiapkan makanan di meja makan. "Uh... kalau bukan karena uang itu. Aku malas harus melakukan ini." Cerocos nya. Jefrin menghubungi Silvi. Mempertanyakan rencana Silvi. Karena hampir satu Minggu ini, Silvi tak jua memberinya kabar. "Iya. Iya. Hari ini, aku akan membawanya untuk. Tapi sesuai perjanjian. Jika hari ini kamu masih tidak bisa mendapatkannya. Uang tersebut tetap jadi milikku." jawab Silvi di balik telepon seluler nya.
Setelah mendengar rencana tersebut. Jefrin segera menutup teleponnya. Silvi memanggil Maya. "Sayang... sudah belum? Kita sarapan." teriak Silvi. Maya keluar dari kamarnya dan duduk di meja makan. Lalu mereka pun sarapan bersama-sama.
"Sayang. Hari ini adalah hari kelulusan mu. Dan Tara... ." Silvi memberikan sebuah hadiah berupa tas pada Maya. Maya memeluk Silvi sebagai rasa terima kasih nya. "Makasih Tan... mah." ucap Maya. "Jangan berterima kasih pada mamah. Sebenarnya, itu adalah pemberian dari ayahmu. Dan sebagai permintaan maaf karena tidak bisa hadir dalam acara kelulusan mu." jelas Silvi.
"Hmm... memang si Maya sedikit kecewa pada bapak. Tapi, disini lain Maya ngerti. Bapak tidak bisa hadir karena pekerjaan nya." kata Maya. "Hmm... Anak baik." kata Silvi. "Ya sudah. Sekarang kita makan. Nanti keburu dingin." kata Silvi demikian.
"Mah." panggil Maya pada Silvi. "Ya. Ada apa?" tanya Silvi. "Boleh tidak. Maya pergi ke toko kue. Maya sudah lama tidak kesana." ucap Maya meminta ijin pada Silvi. "Hmm... sebenarnya, Mamah mau jujur padamu."
"Apa?" tanya Maya penasaran. "Sebenarnya, Toko kue ibu mu sudah lama tidak beroperasi. Tapi, Toko itu mamah alih profesi jadi kafe. Ya kafe." bohong Silvi. Padahal Toko tersebut Silvi ubah jadi sebuah tempat hiburan.
__ADS_1