
Di ruang tengah. Ana menceritakan semua kisah tentang Maya pada ibu dan Oma nya. Mereka pun cukup terkesima mendengar nya. "Oalah... Kasihan juga nya?" ucap ibunya. "Oma juga kasihan mendengarnya." ucap wanita tua itu.
"Ibu. Oma. Sebenarnya, Maya dan mas Kevin mereka... ." belum juga Ana selesai bicara. Agnes dengan sangat terburu-buru menghampiri orang tua Ana dan mempertanyakan keberadaan Kevin.
"Hallo Bu?! Dengar-dengar mas Kevin pulang? Terus sekarang mana mas Kevin nya?" Tanya Agnes yang baru saja tiba. Sementara bola matanya sibuk mencari keberadaan Kevin. "Iya. Tapi dia sudah kembali lagi." jawabnya. "Lah. Kok gitu sih Bu! Padahal kan Agnes kangen." ucapnya tak semangat.
"Bu. Kapan dong mas Kevin lamar Agnes?" rengeknya. "Kamu yang sabar ya do?" mengusap lembut pundak Agnes. "Kok. Aku jadi gak sukanya sama mba Agnes. Mba Agnes terlalu memaksakan keinginan nya." ucap Ana di dalam hatinya.
Disisi lain, Silvi yang sibuk mencari keberadaan Maya. Karena Beberapa hari lagi. Wawan akan kembali ke rumah. "Sial! Kemana perginya anak sialan itu." kesalnya.
Lalu Silvi kembali melajukan roda empat miliknya. Beberapa meter mobilnya melaju. Silvi tak sengaja melihat Doni yang tengah duduk di atas motor di pinggir jalan. Nampaknya Doni sedang menunggu seseorang.Dan Segera Silvi menghentikan mobilnya. Lalu ia pergi menghampiri Doni.
"Mana Maya?!" tanya Silvi begitu saja. Karena Silvi yakin, jika Maya di sembunyikan Doni. "Apa maksud mu?! Bukankah aku sudah menyerahkan dia padamu!" jawab Doni lantang.
"Dia kabur." ucap Silvi kesal. "Kabur? heh. Jika dia kabur. Lantas, apa hubungannya dengan ku. Apa kamu menuduhku?!" kemudian Doni berdiri lalu memegang tangan Silvi. Mencium punggung tangan Silvi. "Aku kangen kamu sayank... ." ucapnya berbisik ke telinga Silvi.
"Aku sedang tidak mood. Jadi, jangan menggangguku." tolak Silvi. Kemudian Doni meraih pinggang Silvi. "Akh. Sekarang perutmu cukup membesar. Tapi aku menyukainya. Kamu benar-benar cantik hari ini." goda Doni pada Silvi.
"Akh... Kamu memang paling bisa membuatku senang." ucap Silvi tersenyum manis. Lalu Silvi dan Doni pun pergi ke sebuah tempat.
Pagi berikutnya, Maya pergi ke luar hanya sekedar berjalan-jalan santai di taman kota. Menghirup udara segar, kemudian membuangnya secara perlahan.
Lalu, Maya tak sengaja bertemu dengan teman-teman nya. Nyaitu Genk sablenknya dulu. Ternyata mereka tengah melakukan lari pagi. Pitri memanggil Maya. Kemudian Maya melihat kebelakang. Pitri dan Hana melambaikan tangan mereka. Dan dengan seyuman termanis Maya membalas lambaian tangan tersebut.
Namun, Pitri dan Hana tampak heran. Karena sikap Maya nampak berbeda 90 derajat. Bahkan, Maya tampak seperti tengah menghindari Pitri dan Hana. "Sorry nya. Gue harus pergi. Gue lagi buru-buru." bohong Maya pada Pitri dan Hana.
__ADS_1
Kemudian Maya pun segera pergi dari hadapan pitri dan Hana. "Kok. Maya kaya lagi jauhin kita, ya?!" kata pitri yang melihat kepergian Maya. "Iya. Perasaan gue juga gitu. Kenapa, ya?" ucap Hana yang kebingungan atas sikap Maya saat ini.
"Sudahlah! mungkin dia emang lagi sibuk Akhir-akhir ini." ucap pitri memecahkan situasi. "Ayo. Kita lari lagi!" ajak pitri pada Hana.
Maya pun berjalan dengan sedikit berlari, Karena Maya takut pitri dan Hana akan mengejarnya. Berjalan kencang dan sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan bahwa dirinya sudah cukup jauh dari teman-teman nya.
Terus berjalan. "Sepertinya mereka sudah tak terlihat." ucapnya memastikan keberadaan pitri dan Hana. Membalikan tubuhnya, tiba-tiba, "bug... ." tubuhnya menabrak seseorang.
Maya segera meminta maaf pada orang tersebut. "Maaf. Maaf. Saya gak sengaja." ucapnya. Maya pun segera pergi dari hadapan orang tersebut.
Mendengar suara Maya yang meminta maaf padanya. "Maya... ." ucapnya pelan. Karena saat itu Kevin juga tengah melakukan olah raga pagi. Pagi itu Kevin yang tengah melakukan peregangan otot sebelum melakukan lari pagi.
Karena Maya yang tak sengaja menabrak belakang tubuhnya. Kevin pun segera melihat ke belakang badannya untuk memastikan keberadaan Maya.
Namun karena tenaga Kevin lebih besar darinya. Maya tak dapat melepaskan tangan nya. Kevin segera memeluk Maya. Sementara Maya yang masih berontak karena ingin segera pergi dari hadapan Kevin.
Namun, Dia jua tak dapat membohongi diri nya sendiri. Bahwa, dia juga sangat merindukan Kevin. "Diamlah." pintah Kevin. "Biarkan aku memelukmu. Aku sangat merindukan mu." ucap Kevin yang masih memeluk tubuh Maya.
Masih memeluk Maya. Memejamkan bola matanya. Begitu pun dengan Maya. Maya pun membalas pelukan tersebut. "Aku sangat merindukan aroma tubuh ini." ucap Maya di dalam hatinya.
Tak lama kemudian, Maya merasakan adiksi. Bola matanya memerah. Tubuhnya bergetar. Sedang wajahnya tampak pucat. "Maya. Kamu kenapa?" tanya Kevin khawatir. Dengan tubunya yang bergetar. Maya pun meminta bantuan kepada Kevin. "Pak. Bapak bisa bantu saya?!" ucapnya menggigil.
"Katakan! Atau kita ke rumah sakit saja. Wajahmu pucat.sekali." khawatir Kevin semakin bertambah. "Kita masuk mobil dulu saja." ajak Kevin. Lalu Maya pun pergi dan masuk ke dalam mobil Kevin.
Di dalam mobil Maya semakin menggigil. Dan tanpa bertanya Kevin segera melajukan roda empat miliknya. "Kamu yang sabar nya. Kita ke rumah sakit." ucap Kevin. "Tidak. Tidak! Aku tidak mau ke rumah sakit. Aku tidak apa-apa. Aku sehat." tolak Maya.
__ADS_1
"Bapak. Saya mohon hentikan mobilnya. Saya tidak apa-apa. Bapak cukup bantu saya saja. Saya akan baik-baik saja."
Kevin pun segera menghentikan roda empat miliknya. "Apa maksud mu tidak apa-apa. Jelas-jelas wajahmu begitu pucat. Kita harus ke rumah sakit." ucap Kevin.
Kemudian Kevin menghidupkan kembali roda empat miliknya. Namun, dengan tegas Maya menghentikan nya. "Hentikan! Sudah aku bilang aku tidak apa-apa. Aku hanya butuh obat itu. Katakan! bapak mau membantu saya atau tidak!" bentak Maya yang sudah tak sabar.
"Obat? obat apa maksud mu?!" tanya Kevin keheranan. Sedikit berpikir, Kemudian Kevin meluai mempertahankan sikap Maya secara perlahan. "ternyata dia bukan sakit. Tapi... ." segera Kevin meraih pundak Maya dengan kuat.
"Siapa yang memberi mu obat?! Sudah berapa lama kamu mengkonsumsi nya?!" penuh amarah. "Tidak penting. Sekarang, bantu aku. Aku menginginkan nya. Aku menginginkan nya."
"Aku sudah tidak kuat. Mereka menggerogoti tubuh ku. Aku sakit!" lirih Maya. "Bapak. Tolong saya. Tolong bantu saya."
"Aku mohon... Tolong bantu saya. Aku janji, aku akan berhenti setelah ini. please... ." memohon. "Maya. Kenapa kamu jadi seperti ini. Kenapa... Siapa yang sudah merusak mu." ucap Kevin tak tega di dalam hatinya.
Karena kesal. Maya segera maraih kerah baju Kevin. "Brengsek! Kamu brengsek! Katakan. Apa kamu mencintai ku?" tanyanya dengan bola mata yang membulat sempurna.
"Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu." jawab Kevin. "Bohong! jika kamu benar-benar mencintai ku. Kamu tidak akan membiarkan ku menderita seperti ini." ucapnya.
"Justru karena aku sangat mencintaimu. Aku ingin kamu berhenti. Kenapa hidupmu jadi berantakan seperti itu? Siapa yang mengajari mu?!"
"Itu tidak penting! Kamu tidak menyayangi ku. Kamu tidak mencintai ku. Dasar pembohong. Aku harus pergi dari sini. Aku harus menemui nya." ucap Maya hendak membuka pintu mobil. "Kevin. Kenapa kamu menguncinya. Buka. Buka!" teriak Maya. "Buka!"
Karena kasihan, Akhirnya Kevin pun menuruti permintaan Maya. "Baik. Aku akan memberikan nya. Tapi kamu harus janji. Ini yang terakhir kali."
Mendengar ucapan tersebut. Maya tersenyum dan segera memeluk Kevin. "Terimakasih sayang... ." ucapnya. Lalu Kevin pun segera membawa Maya ke rumahnya.
__ADS_1