Mengejar Cinta Pak Guru Tampan

Mengejar Cinta Pak Guru Tampan
Pesta Ulang Tahun Dinda


__ADS_3

"Mah... Maya pergi sekolah dulu ya. Mama cepet sembuh. Maya kangen mamah, kangen masakan mamah, Maya kangen semuanya." Kata Maya.


Tampa banyak bicara, Hesti mengedipkan bola matanya. Dan suara sayup Hesti berkata, "Maafin mamah ya may... ." kata Hesti lemah. "Mamah tidak perlu minta maaf. Maya cuma mau mamah cepat sembuh." kemudian Maya mencium pipi Hesti. "Muach... Maya. Pergi dulu ya mah. Maya sayang mamah." kata Maya. Dan dengan berat hati Maya meninggalkan kan ibunya yang terbaring sendirian di rumah sakit.


Dengan air mata yang mengalir di pipi Hesti. Ia memalingkan wajahnya, untuk melihat sang anak pergi ke sekolah. Untuk menimba ilmu. Dan sebelum pergi ke sekolah. Maya selalu menitipkan ibunya pada seorang perawat yang Maya percaya di rumah sakit sana. Namanya suste Nia. "Tolong ya sus. Titip ibu saya." kata Maya pada seorang Nia.


Bahkan, Akhir-akhir ini. Tubuh Maya terlihat kurus. Mungkin karena ia terlalu sibuk memikirkan sang ibu yang masih terbaring di rumah sakit. Belum lagi biaya pengobatan ibunya. Dan ia juga harus bolak-balik antara rumah sakit, rumahnya, dan toko kue milik ibunya. Belum lagi ia harus ke sekolah. Rasanya ia ingin sekali menyerah. Tapi, Maya sadar. Ia harus kuat, karena ada sang ibu yang membutuhkan nya.


Bahkan, Maya sudah mengenyampingkan dirinya sendiri. Dia sudah tidak lagi bermain, nongkrong-nongkrong, dll. Seperti yang dulu ia sering lakukan bersama teman-temannya. Bahkan, Maya menenggelamkan cita-cita yang selama ini ia impikan sejak kecil. Nyaitu menjadi seorang guru. Dan yang Maya pikirkan saat ini adalah mencari uang yang banyak untuk biaya pengobatan ibunya, dan kesehatan Ibunya.


Dengan air mata yang bercucuran. Maya yang sedang mengemudi kan Roda duanya. Ia terus kepikiran kondisi ibunya. dan bapaknya yang tega terhadap dirinya dan ibunya. Karena, sejak hari itu hingga saat ini, Wawan tak jua datang untuk menemui nya. Atau hanya sekedar singgah untuk melihat ke adaan ibunya. Bahkan, Maya hampir saja terjatuh dari kendaraan roda dua milik nya. Karena melamun. "Huh... Hampir saja."


Menarik nafas panjang. Lalu, Maya kembali melajukan roda dua miliknya. Sesampainya di sekolah. "Nih. Undangan buat Lo!" Dinda memberikan surat undangan pada Maya. "Sebenarnya, Gue malesnya ngundang Lo. Tapi, Karena ini hari ulang tahun gue. Dan cukup spesial juga bagi gue. Jadi, gue terpaksa gue undang Lo. Ok! ingat!! nanti malam jam 7." kata Dinda dengan gaya centil nya. "Gue gak janji. Bakal Dateng atau nggak." jawab Maya. "Ok. Terserah Lo." Kata Dinda.


Melihat Kevin yang baru saja tiba. Segera Dinda memanggil Kevin. Hingga Kevin menghentikan langkahnya kakinya, dan menoleh ke arah Dinda. "Ya. Ada apa?" jawab Kevin. Kemudian melihat ke arah Maya sekilas. Dinda segera menghampiri Kevin, dan memberi kan undangan tersebut. "Bapak. Jangan lupa datang, ya?" kata Dinda. "Ya. Nanti saya usahakan." jawab Kevin.

__ADS_1


Sebelum pergi ke acara ulang tahun Dinda. Maya pergi menemui ibunya terlebih dahulu. "Mah. Maya pergi dulu nya. Mamah disini baik-baik. Nanti, setelah dari pesta ulang tahun Dinda. Maya langsung kesini." ijin Maya pada Hesti.


Skip.


Sesampainya di sana. Maya segera menghampiri Dinda. Mengucapkan selamat ulang tahun. Dan memeberikan kado tersebut.


"Dinda. Selamat ulang tahunnya. Ini kado untuk mu." ucap Maya pada Dinda. Segera Dinda mengambil kado tersebut. Dan membuka kado tersebut. "Hah. Boneka? heh. Lo pikir gue anak TK apa. Ngasih gue kado boneka." Kata Dinda, sedikit mempermalukan Maya.


"Oh... gue lupa. Lo. 'kan cuma anak tukang kue. Mana mampu beli kado mahal. ups... Sorry. Keceplosan." kata Dinda. Karena Malu, Maya menundukan kepalanya. Dan mengepalkan tangannya dengan sangat kuat. "Heh. Harusnya dari awal aku sudah tahu akan seperti ini jadinya. Seharusnya dia tidak harus berkata seperti itu. Aku datang kemari tulus, karena menghargai undangan dari nya." kata Maya di dalam hatinya.


"Heh. Lo gak liat. Ini juga gue menghargai pemberian dari Lo." Dinda menarus boneka tersebut sedikit membanting. Sehingga boneka tersebut jatuh kebawah. Lalu dia pergi dari hadapan Maya. "May. Lo gak apa-apa, 'kan?" tanya Pitri pada Maya. "Memang gak tau etika tu manusia. Lo, yang sabar nya?" kata Hana. "Tenang aja. Gue gak apa-apa kok." jawab Maya. "Ada apa?" tanya Robin yang baru saja tiba. "Tidak ada." jawab Maya.


Tak lama kemudian, Kevin muncul dengan modisnya. Membuat semua para tamu undangan, terutama para wanita terpanah akan ketampanan nya. "Wah... siapa tuh. Ganteng bangetz. Wih... pangeran dari mana tuh... Akh. mealting me... ." kata para undangan di sana. Saat melihat Kevin berjalan tegak menghampiri Dinda.


"Wih... pak Kevin ganteng banget nya!" kata Pitri. "Gue juga gak kalah gantengnya sama pak Kevin." kata Roy yang baru saja tiba. Seketika Pitri melihat ke arah Roy. "Ganteng apa nya? baju nya?" jawab Pitri. "Akh... patah sudah harapan gue." ucap Roy sok sedih. "Lebay. Lo!" kata Hana pada Roy.

__ADS_1


Maya menatap Kevin dari kejauhan. "Apa pak kevin masih marah padaku!" kata Maya di dalam hatinya. Karena semenjak kajadian hari itu. Kevin benar-benar tidak datang lagi ke toko kue milik ibunya. Bahkan mengirim pesan pun tidak ada.


"Selamat ulang tahun nya Dinda." kata Kevin. lalu memberikan sebuah kado pada Dinda. Dan dengan senang hati Dinda menerima kado tersebut. "Akh. Terimakasih... Bapak sudah menyempatkan waktu untuk datang ke acara saya." kata Dinda sumeringah.


"Akh. Mari pak, Saya perkenalkan bapak pada orang tua saya." kata Dinda. kemudian, Dinda menggandeng tangan Kevin. Dan memperkenalkan Kevin pada orang tuanya. "Mah. Pah. perkenalkan, Ini pak Kevin." kata Dinda. Dan dengan senang hati orang tua Dinda menyambut kehadiran Kevin. Karena, sebelum pesta ulang tahun di mulai. Dinda mengatakan pada orang tuanya. Bahwa, hari ini kekasih nya akan datang. Dan namanya adalah Kevin.


"Hallo. Saya papah nya Dinda. Dan ini instri saya." Kata Bambang ayah Dinda. "Halo. om. Tante." Sapa Kevin penuh sopan. "Akh. Tenyata Dinda memang gak salah pilih ya pah. Calon menantu kita memang tampan." Kata Mariam ibunya Dinda, pada Bambang suaminya. "Iya. Mah. Anak siapa dulu dong?" jawab Bambang.


Seketika Kevin menatap tajam pada Dinda. "Apa maksudnya, Dinda?" bisik Kevin pada Dinda. "Maaf. Pak. Seperti nya ini ada kesalah pahaman." kata Kevin pada ke dua orang tua Dinda. "Lo. Maksudnya? kesalah pahaman apa nya nak Kevin?" tanya Bambang pada Kevin.


"Sebentar ya pah. Ada yang mau Dinda bicarakan dulu sama pak Kevin." Dinda membawa Kevin sedikit menjauh dari orang tuanya. "Maksud kamu apa Dinda? kenapa kamu bilang pada orang tua kamu. Kalau saya, pacar kamu!" kata Kevin kesal. "Saya minta maaf pak. Sebelum nya, saya tidak bicarakan dulu dengan bapak masalah ini. Tapi, tolong! Bapak mau kan bantu saya pura-pura jadi pacar saya." kata Dinda. sedikit memelas.


"Tidak bisa. Kamu ngaco Dinda." jawab Kevin. "Saya datang kesini. Karena menghargai undangan dari kamu. Bukan untuk Pura-pura menjadi pacar kamu. Saya tidak mau membuat masalah." kata Kevin kembali.


Saat itu Maya tak sengaja melihat Kevin dan Dinda yang sedang bicara berdua. "Heh. Ternyata mereka ada apa-apanya." kata Maya di dalam hatinya. "Maya?" teriak Robin memanggil Maya. Seketika Kevin menoleh. Karena mendengar Suara Robin yang memanggil Maya.

__ADS_1


__ADS_2