
Maya pun terdiam sejenak. Lalu Kevin mendekat dan menyentil dahi Maya, ''Tak... .'' Kemudian Maya mengusap dahinya. ''Otakmu kotor sekali!''
''Lalu kenapa pakaian saya terlepas? dan kenapa kamar ini begitu berantakan?" penasaran. ''Kamu tidak ingat? ini semua ulah mu!'' Jawab Kevin. ''Saya?!!'' Maya menunjuk dirinya sendiri. Tak lama kemudian, Ana masuk ke dalam kamar Kevin. ''Kenapa mas ribut-ribut? apa dia berulah lagi?'' Tanya Ana ke pada Kevin.
''Heh. Gadis tak tahu malu. Berani-beraninya kamu melakukan hal tak senonoh pada kakakku. Untung kakak ku orang baik-baik. Kalau orang lain, Mungkin kamu sudah habis di makan kucing garong.'' Cerocos Ana yang memang sudah sangat kesal. dan Maya pun berbicara di dalam hatinya sendiri. ''Masa si Gue seperti itu? Kalau iya, malu banget Gue... Eh. Apa maksudnya, Dia bilang Kakak?''
''Sudah-sudah. Maya jika memang sudah merasa lebih baik. Kamu mandi sana. dan Ana pinjamkan pakaianmu padanya. Lagian tubuh kalian sama besarnya'' Ucap kevin. Namun Ana menolaknya. ''Ana... jangan ngebantah! Mas gak suka.''
''Iya. Iya... .'' Ana membalikan badannya, dan berjalan menuju kamarnya sembari menghentak-hentakkan kakinya. ''Anu... Apa Saya tadi tidak salah dengar. Tadi Dia bilang Kakak?'' Tanya Maya karena penasaran. ''Oh iya. Saya lupa. Dia Ana, Adik perempuan saya.'' Jawab Kevin. ''Oh... Apa mungkin, Cewek yang waktu itu Gue lihat... Apa mungkin dia '' dalam hati. ''Kenapa?'' Kevin kembali bertanya. ''Hehe. Tidak.''
Tak lama kemudian, Ana kembali sembari membawa pakaian di tangannya. ''Nih... .'' menyodorkan pakaian. dan Maya mengambilnya. ''Terimakasih... .''
''Handuknya Ana sekalian.'' Ucap Kevin. ''Cih. nyebelin.'' Ana kembali ke kamarnya dan mengambil handuk miliknya. Lalu memberikan handuk tersebut kepada maya. dan Maya pun segera pergi ke kamar mandi.
Waktu pun menunjukkan pukul delapan malam. Dan Kevin segera mengantarkan Maya pulang. Saat di perjalanan, Maya tampak terdiam. Ia sepertinya malu sendiri. dan Kevin mulai membuka percakapan. ''Maya. Saya harap agar kamu menjauhi pacarmu itu. Saya lihat, Dia bukan laki-laki baik-baik.'' Ucap Kevin, namun matanya fokus ke depan.
''..Sebenarnya. Dia itu bukan pacar saya. Dia itu mantan pacar saya.'' jelas Maya sembari kepala menunduk. Lalu Kevin melihat sekilas ke arah Maya, dan kembali fokus ke depan. ''Hah. Mantan pacar? Terus... Kenapa tadi siang kamu begitu mesra dengan nya. Dan memilih pergi dengannya, ketimbang dengan saya.'' Kesal.
''Itu... itu karena... ah. Saya minta maaf soal tadi di rumah Bapak. Seharusnya Saya bisa berpikir lebih jernih dan bertanya terlebih dahulu. Bukanya malah menuduh Bapak yang tidak-tidak.'' Malu. ''Yah. Tidak apa-apa. Tapi, kamu kenapa tidak menjawab pertanyaan dariku?''
__ADS_1
''Haruskah Saya menjawab nya?'' Maya melihat ke arah Kevin. ''Harus. Karena itu sangat penting bagiku.''
''Hmm. Kalau Saya jawab karena Saya cemburu sama bapak. Bagaimana?'' Maya kembali menundukan kepalanya. ''Ceburu dengan saya? cemburu karena apa?''
''Hari Minggu. Saat di pusat alun-alun kota. Saya pernah melihat Bapak bersama seorang gadis. Dan saat di telepon, Saya tak sengaja mendengar percakapan bapak dengan seorang gadis. Lalu, saat di sekolah. Saya sangat tidak suka Bapak dekat-dekat dengan Dinda. apa itu cukup.'' jelas Maya. Kemudian Kevin tertawa. ''Hahaha.''
''Selalu tertawa tak jelas.'' kesal, lalu Maya membuka kaca jendela mobil dan memperhatikan setiap jalanan yang Ia lewati di balik jendela mobil tersebut. Kemudian Kevin mencoba menjelaskan agar Maya tak lagi salah paham padanya.
''Asal kamu tahu, wanita yang bersama Saya saat di alun-alun, itu adik saya. Dan saat di telepon pun itu juga adik saya. Kalau kamu tidak percaya, Kamu cek sendiri saja ponsel saya.'' Kevin menyodorkan ponsel miliknya. Namun Maya menolaknya. ''Tidak perlu. Lagian saya bukan siapa-siapa bapak. Saya hanya seorang murid. untuk apa mengecek ponsel milik gurunya sendiri. Itu tidak sopan.''
''Hmm... ya sudah.'' Kevin memasukan kembali ponselnya kedalam saku bajunya. ''Dan soal Dinda. Bapak mau dekat dengan siapapun, Sekarang terserah Bapak. Saya tidak akan cemburu lagi. Dan Saya tidak akan lagi mengejar-ngejar Bapak. Saya akan melupakan Bapak. Dan untuk hari ini, Saya sangat berterima kasih. Karena Bapak sudah menolong saya.''
Lalu, Kevin melajukan kembali mobilnya. dan tak lama kemudian, Roda empat itu berhenti di depan rumah Maya. Maya pun segera turun dari mobilnya dan masuk ke dalam rumahnya. Sementara itu, Kevin yang berada di dalam mobilnya tersenyum manis dan kembali melajukan mobinya lalu pergi.
Sepanjangan malam, Maya tak dapat tidur. Ia terus membayangkan kejadian saat di dalam mobil. Saat Kevin mencium singkat bibir cantiknya. Hingga waktu hampir memasuki dini hari. Akhirnya, Maya dapat menutup matanya dan tertidur. Untungnya hari itu Ia libur sekolah. Karena tengah melakukan ujian Tengah semester.
...******...
Keesokan paginya, Kevin dan Ana tengah bersiap-siap. Karena mereka akan pulang ke surabaya. Sesuai janji Kevin dulu kepada adiknya.
__ADS_1
Surabaya adalah tempat kelahiran Kevin dan Ana. Seperti biasa, kepulangan Kevin dan ana akan selalu di sambut hangat oleh orang tuanya. Begitu juga Oma dan Agnes. Ana segera turun dari mobilnya. Berlari memeluk Ibunya, Oma dan Agnes. ''Aduh... putri cantikku. Akhirnya sampai juga.''
''Sini duduk dekat Oma. Oma kangen cucu Oma yang cantik ini.'' Ana duduk di samping Omanya. Namun, lain dengan kevin. Ia segera masuk ke dalam kamarnya setelah mencium punggung tangan Ibunya dan Omanya. Ia bahkan tidak menghiraukan keberadaan Agnes yang sudah berdandan cantik dan menunggu nya sedari pagi.
Bahkan, Agnes tersenyum pun Kevin seperti ogah untuk membalasnya. ''Hei. Dasar bocah gendeng.'' Ucap Bu Retno. ''Tidak apa-apa Bu. Mungkin mas Kevin cape. Biarkan Dia istirahat.'' Ucap Agnes yang hati-hati dan lemah lembut. ''Mbak Agnes yang sabarnya. semangat! Aku selalu dukung mbak Agnes.'' full smile. ''Iya. Terimakasih Ana.''
''Padahal kurang apa Agnes ini. sudah baik, lemah lembut, pengertian pula. Oma heran dengan anak itu.''
''Terimakasih Oma. Dan jangan terlalu memuji. Saya takut lupa diri.'' Ucap Agnes. ''Aku juga heran. Kenapa sikap mas Kevin dingin sekali kepada mbak Agnes. Tapi... kemarin melihat sikap mas Kevin kepada gadis itu. Sepertinya kebalikannya. Mas Kevin nampak bahagia dengan gadis itu. Ia bahkan mau repot-repot menolong gadis tidak tahu malu itu. Apa mungkin mas Kevin mencintai gadis itu?'' Ana terus berpikir.
...******...
Disisi lain, Maya dan Ibunya tengah sarapan. Pak Wawan nampak buru-buru. Pagi itu Ia bahkan tidak ikut sarapan bersama istri dan anaknya. Pak Wawan pun pergi setelah mencium kening istrinya. Dan Maya mencium tangan punggung ayahnya.
Bu Hesti sekuat hati menutup kesedihan dan masalah yang tengah menimpa pada dirinya. Ia tidak mau Maya mengetahuinya. Karena takut merusak mental anaknya dan mengganggu sekolah anaknya. Bu Hesti pun segera pergi, mengikuti suaminya. Karena Ia ingin tahu kebenarannya. Apa benar suaminya memiliki wanita lain di belakangnya. Seperti gosip-gosip di luaran sana.
''May. Mamah pergi dulunya. Mamah lupa, Sekarang lagi banyak orderan di toko. Jadi Mamah pergi dulunya sayang.'' Bohong Bu Hesti pada anaknya. ''Iyah. hati-hati ya mah.''
''Iya sayang.''
__ADS_1