Mengejar Cinta Pak Guru Tampan

Mengejar Cinta Pak Guru Tampan
Gak Boleh Bawa Duit Banyak-banyak.


__ADS_3

"Bagus! kalau begitu hari ini juga kamu harus ikut dengan ku!" ucap Silvi. "Maya... ." panggil Ana. Maya pun tersenyum, menandakan jika dia tidak apa-apa. "Kamu tenang saja... ." kata Maya, menyakinkan.


Sesampainya di ke Diaman Silvi. Wawan yang tengah duduk, seketika berdiri. lalu memeluk Maya. "Akhirnya, kamu mau juga tinggal disini." kata Wawan. "Bapak jangan kegeeran. Maya mau tinggal disini bukan karena bapak. Tapi, ini semua demi mamah." tegas Maya. "Tidak masalah. Asalkan kamu mau tinggal disini saja. Bapak sudah sangat bahagia. Bapak khawatir, jika kamu harus tinggal di rumah itu sendirian." ucap Wawan was-was.


"Heh. Dia bilang khawatir? lantas, dulu dia kemana saja?" ucap nya di dalam hati. "Sudah-sudah. Jangan kebanyakan drama. Maya? kamar mu di belakang nya? dekat dapur. Besok. Pagi-pagi kamu harus sudah bangun. Beres-beres. Kalau bisa, buat sarapan pagi sekalian!" ucap Silvi.


"Apa maksudnya... ." kata Maya di dalam hatinya. "Mah. Apa maksud mu? Maya tinggal di kamar belakang? Di rumah ini kan, masih ada 3 kamar kosong? Kenapa tidak tinggal di salah satu kamar itu saja?" protes Wawan. Karena tak terima anak semata wayangnya, di perlakukan seperti seorang pembantu oleh istrinya.


Silvi duduk di kursi. "Terserah saya dong! rumah-rumah saya. Kamu tidak berhak protes seperti itu! lagi pula, pembantu di rumah ini kan sudah lama berenti. Jadi, apa salahnya, dia membantu sedikit pekerjaan rumah ini." kata Silvi. "Lagi pula, punya anak sudah sebesar itu. Masa tidak bisa bantu-bantu orang tuanya si." ucap Silvi demikian.


"Tidak papa Tante. Saya tidak masalah." kata Maya. "Maya. Kamu itu apa-apaan? tidak. Bapak tidak terima!" kesal Wawan. "Kenapa? Kenapa bapak tidak terima? Toh, semua penderitaan yang ku alami saat ini. Semuanya, itu bapak yang buat." tegas Maya. "Permisi Tante. Saya mau ke kamar dulu." kata Maya, berjalan melewati Wawan begitu saja.


Wawan pun menundukan kepalanya. Menyesali semua perbuatannya dulu. Namun, itu semua sudah terlambat. "Kamu benar Maya. Bapak lah penyebab dari semua ini. Bapak minta maaf Maya." ucap dalam hati, dan dengan penuh penyesalan.

__ADS_1


Di dalam kamar itu. Maya mengambil foto sang ibu dari dalam tasnya. "Mah. Maya hari ini tinggal di rumah Tante Silvi. Mamah di sana sedang apa sekarang? Maya sangat rindu mamah. Muach... ." mencium foto Hesti.


Karena lelah, Maya merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Matanya tertutup, karena ngantuk. Baru saja ia memejamkan matanya. Dari luar sana, Hesti sudah memanggil namanya dengan sangat keras. "Maya!!" teriak Silvi.


Segera Maya membuka kembali bola matanya. Dan sekali lagi, Terdengar suara Silvi memanggil namanya dengan sangat keras. Maya pun segera bangkit dari tidurnya, dan menemui Silvi. "Ada apa Tante?" tanya Maya. "Ada apa? Ada apa? Kamu itu budeg nya. Dari tadi saya panggil kamu. Kenapa diam saja?!" kata Silvi emosi, dengan kedua tangannya di atas pinggang.


"Maaf Tante. Maya tadi ketiduran... ." jelas Maya. "Apa. ketiduran? Jam berapa sekarang? kamu lihat, piring-piring kotor di dapur. Terus cucian juga numpuk. Kamu malah enak-enakan tidur?" ucap Silvi. "Maaf Tante. Maya tidak tahu... ." jawab Maya. "Maaf. Maaf. Sekarang juga kamu kerjakan!" suruh Silvi. "Baik... ." jawab Maya.


"Mah. Kenapa si, harus se keras itu pada Maya? Kasihan dia mah! Dia belum pernah bekerja seberat itu?" kata Wawan. "Halah. Kasihan-kasihan. Aku melakukan ini juga demi kebaikan anakmu. Biar dia itu terbiasa, dan jangan jadi anak manja. Sudah lah, Aku ngantuk. Aku mau tidur siang dulu." ucapnya.


Wawan pun segera pergi ke luar. Menunggangi kuda besi nya. Lalu pergi dari sana. "Sudah pergi!" kata Maya yang melihat kepergian Wawan dari balik kaca jendela. Maya kembali ke dapur, untuk melanjutkan kembali pekerjaan nya yang sempat terhenti itu.


Silvi yang tengah menikmati tidur siangnya. "Prank... ." Suara piring pecah. Segera Silvi membuka bola matanya. Dan bergegas pergi ke dapur. "Ya ampuuuunnnn... Maya!! Kamu itu apa-apaan? kerja gitu aja gak becus!" Teriak Silvi kesal. "Ma-maaf Tante. Maya gak sengaja!" ucapnya. Segera Maya membersihkan sisa-sisa piring pecah itu. "Aw... ." lirihnya. Karena tangannya terluka, karena terkena pecahan piring.

__ADS_1


Keesokan paginya. Silvi masuk ke dalam kamar Maya. Lalu menyiramkan air pada Maya yang masih tertidur. "Byur... ."


"Bangun! Liat. Jam berapa sekarang? Cepat bangun! buatkan saya teh manis." ucap nya. "Dasar anak sialan. Pagi-pagi sudah buat darah ku naik. Aku jadi kasihan sama anakku yang ada di dalam perut." ucap nya, sambil berjalan ke luar kamar Maya.


Maya segera ke dapur. Membuatkan teh manis dan mengerjakan pekerjaan rumah. Lalu, dia segera siap-siap untuk pergi ke sekolah. "Tante. Maya pergi ke sekolah dulu, ya?" ijin Maya pada Silvi. "Jam berapa sekarang?" tanya Silvi. "Jam 06.20 menit." jawab Maya.


"Oh. Tolong dong. Belikan bubur di depan sana. Kayak nya, adikmu lagi pengen makan bubur." kata silvi, sembari memegangi perutnya yang mulai membesar itu. "Tapi, Tante... ." tolak Maya. "Tapi apa. Hah? cuma minta di belikan bubur sebentar gak mau?" Cerocos Silvi. "Ba-baik deh. Tapi, Maya boleh minta uang kan Tante? Soalnya, Maya takut habis bengsing, belum lagi Maya tidak sarapan dulu."


Silvi pun mengeluarkan uang dari dompet nya, sebesar 20 ribu rupiah. "Nih. Kamu belikan dulu." ucap Silvi. Segera Maya berlari ke depan rumah untuk membeli bubur. Beberapa menit kemudian, Maya kembali membawa bubur di tangannya. Tak lupa. juga dia menyerahkan uang kembaliannya.


"Gak usah. Kembaliannya buat kamu aja." kata Silvi. "Terimakasih. Tante." Ucap Maya. "Tapi, boleh Maya minta tambahan uang, ya?" kata Maya. "Untuk apa bawa duit gede-gede. Itu 10 ribu masa gak cukup. Kamu itu mau sekolah, atau mau jajan?"


Wawan keluar dari dalam kamar nya. Lalu mengeluarkan uang dari kantong celananya. Sekitar 50 RB. Karena dulu, Wawan sering memberi uang bekal sekolah Maya sekitar 50 RB rupiah. Silvi merebut uang tersebut dari tangan Wawan. "Mah. kamu itu apa-apaan sih? Kenapa kamu ambil uang, ya? tanya Wawan. "Sekolah itu gak boleh bawa uang banyak-banyak. Nanti gak pintar-pintar. Nih. aku tambahin 5rb. Cukup, 'kan?

__ADS_1


Dengan berat hati, Maya menerima uang tersebut. Dan segera pergi dari rumah Silvi. untuk ke sekolah.


__ADS_2