Mengejar Cinta Pak Guru Tampan

Mengejar Cinta Pak Guru Tampan
kalah taruhan


__ADS_3

Bu Hesti terus mengikuti mobil suami nya dari kejauhan. Sementara, Maya pergi bersama teman-temannya, Hana, Pitri, Roy dan Robin. Mereka pergi ke sebuah caffe. ''May. Gimana nih... udah melebihi batas maksimal.'' ucap Robin. ''Apa sih Lo. Gak jelas banget.'' Maya menyeruput minumannya. ''Ya elah may, pake pura-pura pikun segala... .'' Robin mencoba mengingatkan sesuatu pada Maya.


''Tau nih! Lu itu ngomong apa sih, Robin HUD.'' Ucap Pitri. ''Iya. gaje Lu.'' Sabung Hana. ''Dasar Lu pada kolot semua. Belom juga satu abad, masa udah lupa aja.'' Kesal Robin. ''Emangya apaan si Robin? ngomong Lu emang nggak jelas banget!'' Sambung Roy yang kebingungan.


Robin pun mulai menjelaskan semuanya. Dan mereka pun kini mulai mengingatnya. ''Iya... Gue ngaku kalah. Lagian, sekarang Gue udah nggak perduli lagi Ama tu Guru.'' Ucap Maya. ''Hah... Serius Lu Maya?'' Tanya Hana penasaran. Lalu Maya pun mengangguk. ''Tolong dong itu mukanya di kontrol.''


''Hehe... Namanya juga kaget May.'' Ucap Hana. ''Gue serius! Gue bakal tepatin janji Gue. Nih, kunci motor Gue! Dan hari ini, semua makanan kalian Gue yang bayar." Maya menaruh kunci motor nya di atas meja. ''Hehe... asyyiikk... makan gratis lagi.'' Robin terseyum, lalu mengambil kunci motor milik Maya. ''Lo serius may? mau ngasih motor lu ke si Robin HUD?'' Tañya Pitri sembari mengerutkan keningnya .


''Nggak usah nanya lagi! tuh kunci motor Gue udah di ambil sama si Robin. Masa Gue boong.'' jelas Maya. ''Terus... Lu pulang dan berangkat sekolah besok, Bagaimana?'' Pitri kembali bertanya. ''Kan ada kalian, Hehehe... .'' Maya tersenyum. ''Hah, ogah amat Gue. kalau harus antar jemput Lo.'' Pitri melanjutkan makan es krim yang Ia pegang. ''Robin. Lu balikin kunci motor si Maya. Gue ogah kalau harus jadi tukang ojeg gratisannya si Maya!'' Ucap Hana, yang duduknya tidak jauh dari Maya.


''.. Ogah! ini udah jadi milik Gue. Dan buat kalian. selamat jdi tukang ojeg gratis. Haha... .'' Robin tertawa puas. ''Gue bener-bener gak habis pikir sama lu Maya. Tapi... bodo àmat lah. Yang penting sekarang Gue makan gratis. Tis... Tis... Hahaha... .''


...*****...


Disisi lain, Bu Hesti yang tengah sibuk mengikuti suaminya. Dan kali ini, Bu Hesti mendapati suaminya tengah bersama wanita yang sama pada waktu itu. Saat Bu Hesti melihat Wanita tersebut di depan pabrik. Tempat suaminya berkerja. ''Wanita itu lagi! apa mereka benar-benar memiliki hubungan khusus? pantas saja akhir-akhir ini, Dia tampak berubah.''


Tampak Ia sadari, air matanya pun keluar dari sudut matanya. Karena rasa sakit yang teramat dalam dari lubuk hatinya. Sakit, benar-benar sakit. Hingga, Ia merasakan sesak. Ia terus mengikuti kemana suaminya dan wanita itu pergi. Hingga mereka berhenti di sebuah Rumah Sakit.


Karena penasaran. Dan amarah yang memuncak. Ia pun turun dari mobilnya, dan masuk ke dalam rumah sakit tersebut. Dan betapa terkejutnya Hesti. Saat, melihat suaminya dan wanita itu tengah berada di sebuah ruangan. Dimana, tempat para Ibu hamil dan Balita di periksa. ''Bagaimana dok?'' Tanya Wawan pada Dokter yang duduk di depan komputer. Dan ternyata, mereka tengan melakukan USG.

__ADS_1


''Yah, sekarang sudah dapat di pastikan. Kalau Istri Bapak tengah hamil. Dan usia kandungannya memasuki 10 minggu'' Jelas Dokter tersebut. Hesti yang mendengarnya sangat syok. Hatinya semakin sakit, bak di sayat-sayat ribuan mata pisau. Nafasnya mulai sesak. Kepalanya sakit, Penglihatannya mulai kabur. Tak lama kemudian... ''brug.'' Hesti pun pingsan.


''Ada orang pingsan, ada orang pingsan.'' Ucap Seseorang yang saat itu juga ingin memeriksa kandungan. Mendengar suara tersebut, Wawan langsung membalikkan tubuhnya. Dan melihat ke arah Hesti. Yang kini sudah tergelak di lantai. Tepatnya di depan pintu. Dan, segera Ia membawa istrinya untuk di periksa


. ''Mas, mau kemana?'' Teriak Wanita tersebut.


Setelah di periksa. Dan tak lama kemudian Hesti tersadar. Ia memegang kepalanya karena masih sedikit pusing. ''Kamu sudah sadar mah?'' Wawan lalu memegang tangan Hesti. ''Jangan sentuh saya?'' tegas Hesti.


''Maaf... .'' Wawan menarik kembali tangannya. Lalu, Hesti melihat ke arah wanita yang kini tengah berdiri tidak jauh dari suaminya. Hesti melihat wanita tersebut dari ujung kaki hingga ke atas. Dan tersenyum menyeringai.


''Apa dia hamil anak mu?!'' Hesti langsung bertanya pada intinya. Kemudian Wawan menundukkan kepalanya, bak seorang Anak kecil yang tengah di marahi ibunya. ''A-aku minta maaf mah.'' Terbata-bata. ''Aku tidak butuh maaf darimu! Aku hanya ingin tahu, apa dia Anak mu?'' Tanya Hesti dengan tajam. ''Aku minta maaf mah, Aku salah. Dan... di-dia memang Anakku... .''


Kemudian, Ia menghapus air matanya dan kembali bertanya pada wanita yang ada di depannya. ''Apa kamu tahu, jika laki-laki yang ada di sampingmu itu masih memiliki keluarga?'' Tanya Hesti dengan tajam. ''Sa-saya minta maaf... . '' Ucapnya lirih. ''Heh. minta maaf? sudah terlambat!''


Ingin sekali Hesti memukul dua mahkluk tak tahu malu itu. Tapi Ia sadar, jika itu bukanlah tindakan yang benar. Terlebih lagi kini Ia tengah berada di Rumah sakit. Ia pun mulai menarik napas. ''Kalau begitu, Saya mau kita cerai!'' Tegas Hesti. ''Mah, Mah Saya mohon Saya minta maaf... Kita jangan cerainya. kasihan Maya mah.'' Wawan terus memohon.


''Tidak bisa! kita harus cerai.'' Jawab Hesti.


''Ingat, rahasiakan ini dari Maya. Jangan sampai Maya mengetahui nya. Setidaknya hingga Maya lulus sekolah.'' Sambung Hesti. Lalu, Hesti pergi dari ruangan tersebut dan berjalan menuju mobil miliknya. Ia berjalan dengan begitu gontay dan lengan memegang kepala. Di dalam mobil, Hesti menangis sejadi-jadinya.

__ADS_1


...****...


Caffe..


Saat Maya hendak pulang. Robin mengembalikan kunci motor milik nya. ''Nih... . '' Menyodorkan kunci motor. sementara Maya terdiam begitu juga dengan yang lainnya, seperti Hana, Pitri dan Roy. ''Malah bengong, Lo nggak mau? kalau gitu Gue buang yah?'' Robin mengangkat tangan nya. ''Jangan!'' Teriak Maya.''Kalau begitu nih ambil. Lagian Gue tadi cuma bercanda kok.'' Jelas Robin. ''... Lu serius?''


''Dua rius, Makanya nih ambil.'' Maya pun mengambil kunci motor dan memeluk Robin.


''Thank's ya Bin... Lo emang baik.'' Maya memeluk Robin dengan sangat erat. Hingga jantung Robin berdetak sangat kencang. ''Waduh... ada apa dengan jangtung Gue?'' Robin terus berbicara di dalam hatinya. Maya pun mulai melepas kan pelukan nya. ''Gu-gue gitu loh.''


Malam hari...


Maya yang duduk di kursi. Sembari menonton televisi film Drakor kesukaannya. Hesti yang baru saja tiba. ''Baru pulang mah?'' Maya bertanya pada Ibunya yang baru saja tiba. ''Iya, Kamu sudah makan?'' Tanya Hesti. ''Sudah mah, bapak bawa makanan ke sukaan Maya.'' Maya kembali fokus pada televisi. ''Oh, Bapakmu sudah pulang?" Hesti kembali bertanya. ''Sudah. kok tumben sih Mah pulangnya agak malem?''


''Iya, tadi di toko lagi rame. Mama pergi ke kamar dulunya.'' Hesti masuk ke dalam kamarnya. Sementara Maya berpikir apa yang tengah terjadi pada ibunya. Pasalnya, Ia melihat mata Ibunya begitu sembab. Kemudian, Maya melanjutkan menonton TV. Dan tak lama kemudian, ponselnya berdering. Karena sedang asik menonton film kesukaan nya. Ponselnya yang berdering hingga berkali-kali pun tak Ia hiraukan.


''Apa mungkin dia masih marah. Gara-gara waktu itu aku menciumnya?'' Ucap Kevin. Saat Kevin tengah berpikir kenapa dengan Maya. Lalu, dari belakang terdengar suara seorang wanita memanggilnya. ''Mas Kevin!'' Kevin pun menoleh. ''Agnes? ngapain malam-malam begini?" Tanya Kevin kebingungan. ''Lah, Mas Kevini ini bagaimana to. Ini kan malam Minggu! Mas Kevin nggak mau gitu ajak Saya main keluar?"


''Aduh, maaf ya Agnes... Aku sudah ngantuk.'' Kevin pun pergi ke kamar nya. Sementara Agnes menghentak-hentakan kakinya karena kesal kepada Kevin. ''Kenapa si mas Kevin selalu menjauhi Agnes. Memangnya Agnes kurang cantik apa.'' Dengan kecewa Agnes pun pulang ke rumahnya. ''Nak Agnes mau kemana?'' Tanya Ratna ibu Kevin. Dengan ketus Agnes menjawab... ''pulang!''

__ADS_1


__ADS_2